Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 67


"Renata, kemarin Bern membawamu kemana?" tanya Nandira seraya memperhatikan dengan seksama ke arah putrinya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Dia membawaku pulang ke rumahnya, Bu. Bern mengenalkan aku dan Justin pada keluarganya," jawab Renata jujur. Dia kemudian menoleh. "Bu, kenapa ya aku merasa ada yang aneh dengan keluarga Bern. Semua orang di sana begitu menyambut Justin seolah Justin adalah bagian dari mereka. Padahal itukan kali pertama kami datang ke sana. Tapi perlakuan mereka membuatku bingung. Kenapa bisa begitu ya, Bu?"


Itu karena mereka tahu kau adalah Amora dan Justin adalah putra kandungnya Bern. Kau bagian dari mereka, Nak.


"Sebenarnya kau tidak perlu bingung memikirkan hal ini, Ren. Wajarlah. Siapa sih yang tidak jatuh cinta pada Justin? Ibu rasa karena sebab inilah mereka begitu welcome terhadap kalian,"


"Masa hanya karena Justin, Bu? Aku rasa penyebabnya tidak sesederhana itu. Apa jangan-jangan mereka sama seperti Bern yang beranggapan kalau aku ini adalah Amora?"


"Jangan berprasangka buruk dulu. Mungkin jika hanya Bern yang berpikiran seperti itu Ibu masih bisa memaklumi. Akan tetapi jika semua keluarganya memikirkanmu hal yang sama, Ibu rasa itu tidak masuk akal. Mustahil mereka sama-sama mengira kalau kau adalah Amora," ucap Nandira dengan suara sedikit tercekat. Dia kini tengah membodohi dirinya sendiri.


Renata menghela nafas. Semalaman dia terus saja memikirkan hal ini. Perlakuan keluarga Bern terasa sangat amat mengganjal di hatinya. Seolah ada sesuatu yang pernah terjadi dengan mereka di masa lalu. Tapi apa? Ini yang terus memenuhi benak Renata sampai detik ini.


Ceklek


"Hikssss, Ibu," ....


Mendengar suara tangisan Justin membuat Nandira bergegas pergi menghampiri. Segera dia menggendong cucunya yang tengah berdiri menyender ke daun pintu.


"Aduuhh cucu Nenek yang paling tampan. Kenapa menangis, hm?" tanya Nandira sembari merapihkan rambut Justin yang berantakan.


"Nek, Ayah kemana?"


"Emm tadi pagi Ayah ada urusan. Karena Justin masih tidur, jadi Ayah tidak berpamitan. Tapi sebentar lagi Ayah juga kembali kok. Kan Ayah mau mengantarkan Justin pergi ke sekolah. Iya, kan?"


"Jadi Ayah hanya pergi sebentar ya, Nek?"


"Iya, sayang. Ayahmu hanya pergi sebentar."


Justin mengangguk paham. Dia panik sekali saat membuka mata tak mendapati sang ayah di sisinya. Namun setelah sang nenek menjelaskan penyebab mengapa ayahnya bisa tidak ada, tangisan Justin langsung berhenti. Justin lalu menyenderkan kepalanya ke bahu sang nenek sambil dia menggosok-gosok matanya.


"Mau minum susu tidak?"


"Mau, Nek."


"Anak pintar. Kalau begitu sekarang kita pergi ke dapur ya. Ibumu sedang sibuk membuat bekal. Jangan mengacau ya?"


"Iya,"


Karena Max sedang sibuk di kamar, kesempatan untuk berlama-lama menggendong Justin di kuasai sepenuhnya oleh Nandira. Renata yang melihat putranya sudah bangun segera mencuci tangan karena ingin membuatkan susu untuknya.


"Biar Ibu saja yang membuatkan susu untuk Justin, Ren. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu," ucap Nandira melarang Renata membuatkan susu untuk Justin.


"Baiklah, Bu."


Sebelum lanjut menyiapkan sarapan, Renata mencium Justin terlebih dahulu. Dia kemudian tertawa saat putranya protes dan menyebut kalau dirinya bau minyak.


"Ibu belum mandi ya?" tanya Justin sambil menutup hidung.


"Belum, sayang. Kan Ibu sedang memasak. Tunggu selesai dulu baru Ibu akan pergi mandi. Kenapa memangnya?" jawab Renata sambil menahan tawa. Lucu sekali melihat cara putranya melakukan protes. Haha.


"Ibu bau,"


"Memang kenapa kalau bau?"


"Emm kenapa ya?"


Bocah tiga tahun itu diam berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jari di dagunya. Renata yang melihat hal itupun menjadi gemas sendiri. Sayang tangannya kotor. Kalau tidak, dia pasti sudah mencubit pipi putranya.


"Nah, susunya sudah siap. Ayo cepat minum lalu pergi mandi. Sebentar lagi kan Ayah datang kemari. Malu kalau masih berantakan," ucap Nandira sembari memberikan segelas susu hangat pada cucunya.


"Terima kasih, Nek. Justin sayang Nenek," sahut Justin dengan penuh suka cita mulai menyesap susu buatan sang nenek. Posisinya yang berdiri di atas kursi tak membuat Justin ragu untuk berjoget ketika rasa manis mengalir membasahi tenggorokannya. "Susunya enak. Yummy,"


"Ahhh, sudah habis. Yeyyy!" pekik Justin kegirangan setelah menghabiskan segelas susu. Dia lalu menyerahkan gelas yang telah kosong kepada sang nenek. "Nek, ayo kita mandi. Nanti Ayah marah kalau Justin belum siap saat Ayah datang!"


"Baiklah. Ayo!"


Sambil terus mengobrol, Nandira membawa Justin ke kamar. Sedangkan Renata, dia masih sibuk dengan pekerjaan di dapur. Ini adalah kebiasaan yang entah mengapa paling tidak bisa Renata tinggalkan. Seolah sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu.


"Aku akan menunggu jawabanmu besok pagi. Dan aku harap jawaban itu tidak membuatku kecewa. Aku mencintaimu, Renata. Tolong menikahlah denganku!"


Deg deg deg


Jantung Renata tiba-tiba berdebar kuat sekali saat dia teringat dengan ucapan Bern semalam sebelum pria itu pulang ke rumahnya. Dia gugup, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.


"Apa yang harus aku katakan saat Bern datang menagih jawaban itu? Haruskah aku menerima lamarannya?" gumam Renata.


"Maaf, Nona bicara apa ya? Kami tidak dengar," tanya pelayan penasaran.


"Ha??"


"Nona bicara dengan kami kan barusan? Suara Nona sangat kecil, jadi kami tidak bisa mendengarnya dengan jelas."


Gelagapan, itu yang terjadi pada Renata saat pelayan bertanya padanya. Tak butuh waktu lama untuk wajahnya memerah saat terkenang dengan apa yang dipikirkannya barusan. Namun karena tak ingin para pelayan ini tahu, Renata akhirnya mencari cara untuk berkilah saja.


"Oh ini tadi aku sedang mengingat-ingat hari ini Justin akan memakai seragam yang mana. Aku tidak sedang bicara dengan kalian kok,"


"Benarkah?"


"Iya,"


"Tapi kenapa wajah Nona merah sekali? Terkena demam dadakan atau demam cinta?"


Para pelayan terkikik lucu setelah salah satu dari mereka melayangkan godaan pada sang Nona. Renata yang di goda seperti itu tentu saja langsung salah tingkah. Beruntung ayahnya datang sehingga Renata bisa mengalihkan rasa malunya.


"Ren, di mana ketua peternakan dinosaurus itu?" tanya Max. "Tadi Ayah seperti mendengar suara Justin di sini. Dia sudah bangun belum?"


"Sudah, Ayah. Sekarang Justin sedang mandi bersama Ibu di kamar," jawab Renata.


"Tumben sekali dia tidak merusuh. Ada angin apa hari ini?"


"Maaf menyela, Tuan Max. Anda seperti tidak tahu saja. Hari ini kan Justin akan di antar sekolah oleh ayahnya. Jadi tadi dia begitu bersemangat sekali ketika Nyonya mengajaknya untuk bersiap. Sedangkan ibunya ....


"Bibi, apa sih," sahut Renata memotong perkataan pelayan yang dengan terang-terangan menggodanya di hadapan sang ayah.


"Hehehe, malu ya, Non?"


Pada akhirnya Renata menjadi bahan tertawaan oleh pelayan dan juga ayahnya. Hal ini tentu saja membuat wajahnya kian memerah.


"Haihh, orang kalau sedang jatuh cinta wajahnya memang mudah sekali merona merah. Kau contohnya," ledek Max sudah berbesar hati menerima Bern sebagai calon mantunya. Mau bagaimana lagi. Pria itu adalah ayah kandung Justin. Akan sangat bodoh kalau Max sampai tidak merestui hubungan Bern dengan Renata.


"Ayah ini bicara apa sih. Jangan mengada-ada," ucap Renata dengan kepala tertunduk. Dia malu sekali sekarang.


"Siapa yang mengada-ada, Ren. Itu fakta kok. Iyakan?"


"Benar, Tuan. Ibunya Justin sedang jatuh cinta pada ayahnya Justin."


"Hahahahaa,"


Ya ampun, ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa mereka jadi membullyku. Apa iya wajahku semerah itu? Astaga, memalukan sekali.


***