
"Kakek, Ayah dan Ibu di mana?" tanya Justin di sela-sela sarapan pagi. Semalam dia menginap di rumah Nenek Elea. Dan sekarang dia tengah sarapan bersama mereka.
"Ayah sedang menemani Ibu istirahat di apartemen. Justin tahukan kalau Ibu Renata sedang kurang sehat?" jawab Gabrielle lembut. Sebelah tangannya terulur mengusap puncak kepala Justin yang begitu menggemaskan.
"Iya Justin tahu kok. Tapi Justin rindu mereka,"
"Rindu mereka?"
Justin menganggukkan kepala. Pipinya tampak menggembung karena meng*ulum makanan yang tak kunjung ditelan. Justin sedih. Dia merasa seperti ada yang kurang di sini.
"Jangan sedih ya anak manis. Nanti sepulang dari sekolah Kakek dan Nenek akan mengantarkanmu menemui Ayah dan Ibu. Oke?" ucap Elea penuh perhatian. Dia tak tahan melihat raut sedih di wajah cucunya.
"Benar ya Nek nanti kita akan pergi ke rumah Ayah?" tanya Justin memastikan.
"Tentu saja benar, Nak. Jadi sekarang Justin habiskan sarapannya ya. Setelah itu kita bersiap-siap berangkat ke sekolah."
"Bibi Flow ikut tidak?"
Gabrielle menatap Flowrence yang tengah sibuk dengan sarapannya. Sejak bergabung di ruang makan, putri bungsunya sama sekali tak mau bicara. Entah apa sebabnya, Gabrielle tak tahu. Yang jelas sikap Flowrence membuatnya merasa khawatir.
(Kenapa sikap Flowrence jadi aneh begini ya. Apa mungkin dia merasa cemburu karena aku dan Elea lebih memperhatikan Justin ketimbang memperhatikannya?)
Merasa sedang diperhatikan, Flowrence segera mengedarkan pandangan. Dan benar saja. Ternyata ayah dan ibunya tengah memperhatikan dirinya. Flowrence heran. Dia tak mengerti kenapa mereka bersikap seperti ini.
"Ayah, Ibu. Kalian kenapa menatapku seperti itu. Ada yang aneh ya di wajahku?"
"Flow, kau baik-baik sajakan, sayang?" sahut Elea balik bertanya.
"Iya aku baik-baik saja. Kenapa memangnya?" jawab Flow seraya mengerutkan kening. Dia semakin heran mendengar pertanyaan sang ibu yang tiba-tiba menanyakan kabar.
"Sejak tadi Ibu perhatikan kau terus diam dan tidak mau ikut mengobrol. Ada apa? Apa kakimu sakit lagi?"
Sedetik setelah perkataan itu terucap keluar dari mulut Elea, semua orang dibuat kaget oleh celetukan Justin.
"Bibi, Bibi hati-hati ya. Nenek Zhu bilang Bibi tidak boleh bermain air. Nanti sakit."
"Hah??"
Gabrielle, Elea, dan Flowrence sama-sama tercengang heran mendengar celetukan bocah tiga tahun yang tengah asik menyusun wortel di atas piring. Setelah itu mereka bertiga saling melempar pandang. Heran memikirkan maksud dibalik ucapan Justin barusan.
["Sayang, apa jangan-jangan Justin bisa melihat kejadian yang terjadi di masa depan ya? Dulu Flow jatuh ke sungai sebelum keadaannya jadi seperti ini. Mungkinkah ini adalah pertanda juga? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"]
"Ekhemm, Justin. Di mana Justin bertemu dengan Nenek Zhu?" tanya Gabrielle merespon isi pikiran Elea dengan cara menanyai cucunya. Jujur, dia sempat kaget saat Justin menyebut nama Nenek Zhu. Entah itu Liona Serra Zhu atau malah Jendral Liang Zhu yang dimaksud, yang jelas Gabrielle harus memastikannya. Dia khawatir cucunya ikut menanggung karma buruk yang pernah dilakukan oleh leluhur keluarganya.
"Nenek Zhu selalu ada di mana-mana, Kakek. Dan tadi Nenek Zhu berdiri di samping Justin. Tapi sekarang sudah pergi," jawab Justin dengan polosnya. Setelah berkata demikian Justin tiba-tiba saja meraih tangan sang bibi kemudian menatap sepasang kakinya yang lumpuh. "Bibi, jangan sedih ya. Nenek Zhu bilang Paman Oliver tidak akan pernah meninggalkan Bibi. Jadi Bibi harus bahagia. Oke?"
"A-apa? Oliver?"
Flow segera melayangkan tatapan bingung sekaligus heran ke arah sang ibu. Sungguh, dia sama sekali tak mengerti mengapa Justin bisa bicara seperti itu tentang dia dan Oliver. Padahal anak ini kan belum lama datang ke keluarganya. Aneh.
"Bu, apa Ibu yang memberitahu Justin kalau Oliver terus mengejar-ngejar aku?" tanya Flow penuh selidik. Dia sedikit tak menyukai pembahasan tentang Oliver. Flow takut hal itu akan melukai perasaan Russell, kekasihnya.
"Sayang, hanya orang bodoh yang akan menceritakan masalah seperti itu pada anak kecil. Tidak mungkinlah Ibu melakukan hal seperti itu," jawab Elea yang juga bingung dengan perkataan sang cucu. Segera dia beranjak menghampiri Justin kemudian berjongkok di sampingnya. "Justin sayang, darimana Justin tahu tentang masalah Paman Oliver? Apa Ayah yang menceritakannya padamu?"
"Nenek Zhu yang memberitahu Justin, Nek. Katanya sebentar lagi semua kesedihan Bibi dan Paman Oliver akan segera berakhir. Tapi Bibi sakit lama gara-gara main air."
"Maksudnya bagaimana?"
"Justin tidak tahu. Kan Justin masih kecil."
"Oiya, Nenek lupa kalau Justin masih kecil," sahut Elea tak memaksakan Justin untuk bicara. Dia lalu mengusap puncak kepalanya penuh sayang. "Terima kasih banyak ya karena sudah mau berbagi cerita dengan Nenek. Di lain waktu jika Nenek Zhu datang menemui Justin lagi tolong sampaikan padanya kalau Nenek Elea merindukannya. Ya?"
"Baik, Nenek."
Tepat ketika Elea selesai berbincang dengan Justin, ponsel miliknya berdering. Segera dia melihat siapa yang menelpon.
"Justin, Ayahmu menelpon. Kemarilah, duduk di pangkuan Nenek saja," ucap Elea memberitahu Justin kalau Bern ingin melakukan panggilan video.
"Ayah menelpon?" pekik Justin kegirangan. Karena tubuhnya yang kecil, dia sedikit kesulitan saat akan turun dari kursi. Justin lalu menatap sang kakek, berusaha meminta tolong lewat tatapan matanya.
Gabrielle terkekeh. Cucunya ini benar-benar sangat menggemaskan. Bukannya meminta tolong malah memasang ekpresi wajah yang memelas. Kalau sudah begini hati siapa yang tidak luluh. Segera saja Gabrielle mengangkat tubuh kecil Justin lalu mendudukkannya di atas pangkuan Elea.
"Sudah siap?" tanya Elea.
"Sudah, Nek. Ayo cepat munculkan wajah Ayah sekarang," jawab Justin penuh semangat.
Ruang makan yang harusnya dipenuhi suara dentingan piring dan sendok kini terdengar suara gelak tawa penghuni rumah saat mereka melihat antusias Justin ketika berbincang dengan ayahnya. Sangat lucu.
["Selamat pagi putra Ayah dan Ibu. Sekarang sedang apa, hm?"]
"Selamat pagi juga, Ayah. Sekarang Justin sedang sarapan bersama dengan Kakek Gabrielle, Nenek Elea, Bibi Flow, dan juga Nenek Zhu. Tapi sekarang Nenek Zhu sudah pergi," jawab Justin sembari menampilkan mimik wajah yang begitu serius. Dia menatap seksama ke layar ponsel, sedikit bingung karena tak melihat keberadaan sang ibu. "Ayah, Ibu di mana? Ibu sudah sehat belum?"
["Tentu saja Ibu sudah sehat, sayang. Ini," sahut Bern sambil mengarahkan kamera pada Renata. "Sayang, sepertinya Justin sangat merindukanmu. Bicaralah dengannya."]
Padahal hanya terpisah satu malam, tapi cara Justin dan Renata melepas rindu seolah mereka telah berpisah selama bertahun-tahun. Lucu, menggemaskan, sekaligus mengharukan. Dan pemandangan itu membuat Gabrielle beserta Elea dan Flow tak kuasa untuk menahan senyum mereka.
"Ayah, kenapa tadi Justin bicara seperti itu tentang aku dan Oliver ya? Memangnya di antara kami ada apa?" bisik Flow merasa sangat penasaran akan ucapan sang keponakan yang terdengar ganjal.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kau fokus pada pengobatanmu saja. Masalah ini biar Ayah dan Ibu yang mencari tahu," jawab Gabrielle tak membiarkan Flowrence mengingat masa lalunya dengan Oliver. Takut kondisinya drop. Jadi sebisa mungkin dia menyembunyikannya.
"Apa Ayah sedang menutupi sesuatu dariku?"
"Flow, jangan berpikir yang tidak-tidak. Ayah dan Ibu sama sekali tak merahasiakan apapun darimu. Sungguh!"
"Benar ya?"
"Iya,"
Sambil menarik nafas panjang Flowrence menatap lekat sang ayah. Tak lama setelah itu pandangannya teralih pada Justin yang masih asik berbincang dengan calon kakak iparnya.
(Kenapa aku merasa ada yang sedang ditutupi oleh Ayah dan Ibu ya? Masa sih aku punya hubungan dengan Oliver. Ah, tidak mungkin. Aku pasti salah mengartikan ucapan Justin. Ya, aku hanya salah paham saja.)
***