
"Aku pergi dulu ya. Nanti sore aku akan menjemput kalian," pamit Bern setelah mengantarkan Justin dan Renata kembali ke toko bunga.
"Kau tidak masuk dulu?" tanya Renata.
"Tidak usah. Takutnya nanti aku tidak mau pergi kalau sudah asik bersamamu di dalam,"
Semburat merah muncul menghiasi pipi Renata begitu mendengar jawaban Bern. Setelah itu Renata membuat isyarat agar pria di hadapannya jangan bicara dulu. Sepertinya obrolan mereka membuat Justin merasa terganggu.
"Kalian hati-hati ya di sini. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu," bisik Bern tak ingin mengganggu istirahat putranya. Dia lalu mendekat ke arah Renata, mengelus rambutnya penuh sayang kemudian mencium keningnya lama. "Aku pergi dulu. I love you,"
"I-iya,"
"Iya apa?"
"Hati-hati maksudnya. Jangan terlalu cepat saat mengendarai mobil." Renata gugup. Bicaranya sampai terbata saking dia malu dicium oleh Bern. Renata bisa digoda habis-habisan oleh Lindri dan yang lainnya nanti jika para gadis itu melihat adegan yang baru saja terjadi.
"Sungguh, melihatmu malu-malu begini membuatku jadi tak ingin pergi. Kau sangat manis, sayang."
"Jangan membual. Sudah sana pergi. Kabari aku jika sudah sampai."
"Ck, tidak ada pesangon?"
"Pesangon apa maksudnya?"
"Ciumanlah. Kan tadi aku sudah mencium keningmu. Setidaknya berikan balasan sedikit."
Ingin rasanya Renata menangis di detik itu juga. Pria ini benar-benar ya. Menurun dari siapa sikap posesif Bern yang tidak ada obatnya ini. Heran. Perasaan Paman Gabrielle tidak sebegininya saat sedang berdekatan dengan Bibi Elea. Calon mertuanya itu malah terkesan bijak dan juga sopan. Tapi kenapa Bern bisa begini?
(Siapapun, tolong beritahu Renata seperti apa posesifnya Gabrielle pada Elea dulu. Renata masih anak kemarin sore. Dia belum tahu kalau kakeknya Justin dan kakek buyutnya Justin adalah pria-pria yang overposesif pada pasangan mereka. Jelaskan ya?)
"Ughhhhh, panas." Justin merengek, tapi kedua matanya masih terpejam.
"Masuklah. Nanti kau tidak bisa beraktifitas kalau putra kita bangun," ucap Bern agak panik mendengar suara lenguhan Justin. Rencananya untuk mengunjungi Reiden bisa gagal jika jagoannya sampai bangun.
"Sejak tadi kau terus memintaku untuk masuk, tapi kau juga yang tidak mengizinkan. Bagaimana sih," sahut Renata pura-pura mengomel.
Bern terkekeh pelan sambil menggosok kening. Mau bagaimana lagi. Jika bisa, ingin rasanya dia membawa Justin dan Renata kemanapun dia pergi. Terlalu berat untuknya melangkah tanpa mereka. Sungguh.
"Uhhhh Ayah. Panas," Justin kembali merengek. Kali ini tangan mungil bocah ini bergerak menyeka keningnya yang mulai berkeringat.
"Masih belum mau pergi?" tanya Renata.
"Hmmm, sedih sekali. Padahal aku masih ingin bersama kalian."
"Kan nanti sore kita bertemu lagi, Bern."
"Tetap saja kita akan terhalang jarak selama beberapa jam,"
"Ya ampun kau ini. Sudah sana berangkat. Nanti kalau Justin bangun kau akan sulit untuk pergi. Sudah sana."
Baru juga Renata selesai membujuk Bern untuk segera berangkat bekerja, Justin sudah lebih dulu membuka kedua matanya. Hal itu membuat Bern dan Renata sama-sama menghela nafas.
"Ayah, gendong," ucap Justin sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah sang ayah. Matanya sayu. Dia masih mengantuk.
"Emm sayang, Justin tidur bersama Ibu saja ya. Sekarang Ayah ada pekerjaan dulu. Nanti sore baru Ayah akan kembali lagi menemuimu. Oke?" ucap Bern mencoba membujuk putranya.
"Justin ikut!"
Renata kembali menghela nafas. Dia lalu menatap Bern. "Kalau sudah begini kau mau bagaimana, Bern. Kau sih tidak langsung berangkat tadi."
"Mau bagaimana lagi, sayang. Dengan senang hati aku akan membawa Justin bersamaku," sahut Bern sambil tersenyum lebar. "Dia putraku. Tidak mungkin aku menganggapnya sebagai beban."
"Tapi kalau di sana nanti dia mengganggu pekerjaanmu bagaimana?"
"Itu sudah resiko mempunyai anak, sayang. Biar sajalah. Toh Justin datang ke kantor pamannya sendiri. Yang ada di sana dia malah akan kegirangan karena banyak bertemu dengan wanita cantik. Iyakan, Nak?"
"Nah, Justin. Sekarang pamit dulu ya pada Ibumu. Katakan pada Ibu kalau pria-pria tampan hendak pergi mencari uang dulu."
"Baik, Ayah." Justin patuh. Segera dia berpamitan pada sang Ibu sesuai dengan yang diajarkan oleh ayahnya. "Ibu, Ayah dan Justin pergi dulu ya. Kami pria-pria tampan hendak pergi mencari uang. Ibu jangan sedih ya."
"Haihh, kau ini, Bern. Masa mengajari hal seperti ini pada Justin," keluh Renata pasrah melihat ulah anak dan calon suaminya. Setelah itu tangannya bergerak mengusap puncak kepala Justin. "Di sana nanti Justin jangan mengganggu pekerjaan Ayah ya. Jadilah anak yang baik. Nanti Ibu akan memberimu hadiah jika patuh. Oke?"
"Wahhh, hadiah?"
"Iya. Justin mau apa?"
"Justin mau paman dinosaurus, Bu."
"Baiklah. Nanti Ibu akan membelikannya untukmu. Tapi janji harus patuh dan tidak nakal ya, sayang."
"Baik, Ibu. Yeyyyyy!" sorak Justin dengan hebohnya.
Bern tertawa. Sebelum pergi, sekali lagi dia menyempatkan diri untuk mencium kening Renata.
"Hubungi aku jika ada yang berani membuat kekacauan di toko. Kami pergi dulu."
"Iya. Hati-hati!"
Renata terus memperhatikan kedua prianya sampai mereka masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia melambaikan tangan, menunggu sampai mobil Bern benar-benar pergi barulah dia masuk ke dalam toko.
"Ekhmmmm, yang baru pulang jalan-jalan dengan kekasih hati," ucap Lindri menggoda bosnya yang baru saja datang. Dia lalu terkikik bersama teman-temannya yang lain.
"Kalian ini ya. Suka sekali menggoda orangtua," sahut Renata berusaha tenang meski sebenarnya dia merasa sangat malu.
"Hah? Orangtua?"
Lindri segera menghampiri bosnya. "Nona, usiamu baru dua puluh tiga tahun. Dari sudut mananya bisa dianggap tua? Kau masih sangat muda, Nona. Iyakan teman-teman?"
"Benar sekali, Nona. Kau adalah seorang ibu paling muda yang pernah kami lihat. Sudah muda, cantik, pengusaha pula."
Dipuji oleh anak buahnya membuat Renata tak kuasa lagi menyembunyikan rasa malunya. Dia lalu menoleh ke belakang saat mendengar derit pintu yang terbuka.
"Hai, Renata. Apa kabar?"
Seorang laki-laki dengan pakaian nyentrik dengan tidak tahu malunya menyapa sambil melambaikan tangan ke arah Renata. Melihat hal itupun Lindri langsung pasang badan. Dia mendorong sang bos agar masuk ke dalam kemudian pergi menghampiri si tamu.
"Permisi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Lindri berbasa-basi.
"Aku ingin bertemu Renata. Tolong minta dia untuk melayaniku," sahutnya angkuh.
"Maaf, tapi Nona Renata sedang sibuk. Jadi kamilah yang akan melayani Anda."
"Tidak mau. Jauh-jauh aku datang kemari adalah untuk dilayani oleh Renata. Karyawan rendahan seperti kalian tidak pantas untuk melakukannya. Tahu!"
Setelah berkata seperti itu pria tersebut dengan kasar mendorong Lindri hingga jatuh menabrak rak bunga. Dengan gaya yang sangat arogan dia melangkah masuk menuju ruangan tempat di mana Renata berada.
"Nah, ketemu akhirnya!" seru pria itu seraya menatap penuh n*fsu ke arah wanita yang sudah cukup lama digilainya. "Renata, kenapa kau bersembunyi dariku? Aku datang jauh-jauh adalah untuk berduaan denganmu. Hargailah!"
"Maaf, Tuan. Saya sedang tidak enak badan. Jika butuh sesuatu, silahkan minta karyawan saya untuk melakukannya," sahut Renata agak panik melihat ketidaksopanan pria di hadapannya. Dadanya berdebar kuat.
"Tidak bisa. Harus kau yang melakukannya. Titik!"
"Tapi ....
Sreeettt
"Pergi atau mati. Jawab!!"
***