Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 68


Dengan raut wajah yang begitu berseri-seri Bern keluar dari dalam mobil kemudian melangkah masuk ke rumah Renata. Tak lupa dia membalas sapaan para pelayan dan juga penjaga yang sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing.


"Ayahku datang!"


Ah, bayi besarku. Mendengar suaranya saja sudah membuat moodku naik setinggi langit. Apalagi jika Justin menyambutku bersama dengan Renata. Hariku pasti akan jauh lebih baik lagi. Hmmm.


"Jangan berlarian, Justin. Nanti jatuh!" seru Renata cemas melihat Justin berlari cepat sekali begitu melihat Bern. Dia takut putranya jatuh.


Hap


Bern sigap menangkap tubuh Justin. Dia lalu mengangkat dan menggendongnya di pundak.


"Yeyyy, Justin tinggi sekali sekarang. Lihat, Ibu. Justin setinggi langit!" teriak Justin kegirangan saat tubuh kecilnya di angkat ke atas. Tawanya terdengar begitu lepas, menandakan betapa dia sangat bahagia.


"Suka tidak?" tanya Bern tanpa ada niat menurunkan Justin dari pundaknya. Ada kebahagiaan yang begitu besar mendengar suara tawa putranya yang begitu lepas setelah kemarin banyak mengeluarkan air mata.


"Suka, Ayah. Justin suka di gendong seperti ini," jawab Justin dengan polosnya.


"Kalau begitu pegangan yang erat ya. Ayah akan membawa Justin terbang mengejar pesawat. Siap?"


"Siap, Ayah."


Renata, Nandira dan Max memperhatikan kelakuan ayah dan anak tersebut. Mungkin jika Renata tahu kalau Bern adalah ayah kandungnya Justin, kebahagiaan yang dia rasa pasti akan semakin berlipat. Sayangnya Renata belum mengetahui rahasia ini. Meski begitu, Renata tetap terlihat bahagia menyaksikan putranya bisa mendapatkan apa yang selama ini di inginkan. Yaitu kasih seorang ayah.


"Wahahhaa, Justin berputar-putar seperti gasing, Ayah. Lampunya jadi miring!" teriak Justin kesenangan saat tubuhnya tak henti dibawa berputar.


"Pusing tidak?"


"Pusing, Ayah. Tapi sedikit."


Takut Justin muntah, Bern memutuskan untuk menyudahi permainan mereka. Dia lalu menurunkan Justin ke lantai dan ....


"Hati-hati, Nak!" ucap Bern sambil memegangi tubuh Justin yang doyong ke samping.


"Hehehe, lantainya seperti berputar juga, Ayah. Kepala Justin jadi pusing,"


Bern tertawa. Putranya mabuk ternyata. Setelah itu Bern mengalihkan pandangan pada Renata yang sedang tersenyum memperhatikannya.


"Selamat pagi Ibunya Justin yang paling cantik. Sudah siap berangkat belum?" goda Bern sembari mengedipkan sebelah mata.


Renata mematung. Sedangkan kedua orangtuanya tampak meng*lum senyum mendengar godaan yang dilayangkan oleh Bern. Mereka sudah tak kaget lagi dengan sikap terang-terangan yang Bern tunjukkan di hadapan Renata. Sudah maklum.


"Justin, sepertinya Ibumu begitu terpesona pada ketampanan Ayah. Lihatlah. Ibu sampai tidak bisa bicara saat Ayah bertanya padanya. Lucu ya?" ucap Bern menghasut Justin untuk ikut menggoda Renata. Dia kini berjongkok di lantai dengan Justin duduk di atas pahanya. "Coba sekarang Justin yang memanggil Ibu. Siapa tahu Ibu bisa langsung sadar."


"Baik, Ayah," sahut Justin dengan patuh. Dia lalu menatap seksama ke arah ibunya yang sedang berdiri mematung. "Ibu, Ayah sedang bicara dengan Ibu. Kenapa Ibu tidak menjawab?"


"Ha?"


"Justin bilang Ayah sedang bicara dengan Ibu. Miss pernah memberitahu Justin kalau sopan namanya jika tidak menjawab saat ada orang yang bertanya,"


"O-oh, benarkah?"


Tergagap Renata dibuat oleh putranya. Dia lalu menarik nafas panjang melihat Bern yang tengah menahan tawa.


"Kau ini usil sekali sih, Bern. Kenapa harus melibatkan Justin?"


"Memangnya kenapa. Justin kan anak kita. Seharusnya tidak masalah kalau aku meminta bantuan dari anak sendiri. Iya, kan?"


"Hmmm, kau memang yang paling pandai mencari alasan."


"Selamat pagi Paman Max, Bibi Nandira. Bagaimana kabar kalian hari ini?"


"Selamat pagi kembali, Bern. Kabar kami selalu baik asalkan Justin dan Renata juga baik-baik saja," jawab Max. "Kau sendiri apa kabar? Sepertinya hari ini kau terlihat jauh baik dari yang sebelum-sebelumnya. Apa benar?"


"Benar sekali, Paman. Hari ini suasana hatiku sedang sangat baik sekali,"


"Kalau boleh tahu apa sebabnya?"


"Karena aku akan mengantarkan anak dan calon istriku pergi beraktifitas," jawab Bern dengan gamblangnya. Ekor matanya tak pernah lepas memperhatikan Renata yang lagi-lagi terbengang setelah mendengar perkataannya. "Sebentar lagi aku akan segera membangun rumah tangga sendiri, jadi aku tidak mungkin terus menganggur. Jadi hari ini aku resmi bergabung dengan Group Young."


Max dan Nandira saling melempar pandangan begitu diberitahu kalau Bern memilih bekerja di perusahaan milik saudaranya alih-alih kembali ke Group Ma. Sepertinya ada yang salah di sini.


"Bern, maaf jika kata-kata kami kurang berkenan di hatimu. Tapi kalau boleh tahu kenapa kau tidak kembali saja ke Group Ma? Perusahaan keluargamu begitu besar. Apa tidak sayang jika bekerja di perusahaan milik saudaramu?" tanya Max penuh penasaran.


"Ada Karl yang memimpin Group Ma. Dan juga alasan kenapa aku lebih memilih untuk bekerja di perusahaan milik sepupuku adalah karena aku ingin bekerja di balik layar saja. Dengan begitu aku tidak akan kehilangan banyak kesempatan untuk bisa membahagiakan Justin dan Renata. Terlalu banyak waktu yang telah terbuang, dan aku ingin mengganti semua waktu tersebut dengan terus ada untuk mereka," jawab Bern dengan tatapan penuh damba yang mengarah pada Renata. Demi wanita cantik ini, menjadi pengemis pun Bern rela. Sungguh.


"Terlalu banyak waktu yang terbuang? Ini maksudnya apa ya, Bern?" tanya Renata bingung mendengar perkataan Bern barusan. "Kau tidak sedang menganggapku sebagai Amora, kan?"


"Tidak sama sekali, sayang. Amora adalah Amora, dan Renata adalah Renata. Dari kedua nama ini saja sudah berbeda, jadi mana mungkin aku menyamankan kalian. Jangan tersinggung ya,"


"Tapi barusan ....


"Ren, kau segeralah bersiap. Ini sudah siang. Nanti Justin terlambat ke sekolah!" ucap Nandira memotong perkataan Renata yang ingin mendebat Bern. Dia tidak akan membiarkan putrinya mengetahui rahasia itu. Tidak akan.


Meski benaknya diliputi rasa penasaran yang begitu besar, Renata hanya bisa pasrah mengikuti perintah sang ibu. Dia segera masuk ke dalam untuk mengambil tas dan juga bekal milik Justin. Termasuk juga dengan beberapa barang yang akan dia bawa ke toko bunga.


"Jangan terlalu keras pada Renata, Bibi. Aku kurang suka melihatnya," tegur Bern sopan.


"Aku hanya tidak ingin dia mengetahui rahasia itu, Bern. Tolong mengertilah!" sahut Nandira seraya mend*sah panjang. "Maaf kalau sikapku tadi membuatmu tak senang. Ada rasa sedih dan juga sakit yang tak bisa ku gambarkan. Aku harap kau bisa maklum."


Melihat sang nenek bersedih hati, Justin segera turun dari pangkuan ayahnya kemudian berjalan mendekat. Dengan tangan mungilnya dia memeluk kaki sang nenek sambil mendongakkan kepala.


"Nenek, apa Nenek sedih karena Justin mau berangkat ke sekolah?"


"Iya, sayang. Nenek sedih karena akan di tinggal Justin. Nanti jangan lama-lama ya di sekolahnya. Oke?" jawab Nandira sambil menoel ujung hidung Justin yang sangat mancung. Dia gemas.


"Baiklah, Nenek. Nanti setelah pulang dari sekolah Justin akan mengajak Ayah dan Ibu pergi menemui Nenek. Tapi setelah itu Justin harus membantu Ibu berjualan bunga di toko. Kasihan Ibu,"


"Uhhh, anak baik. Ya sudah tidak apa-apa. Atau nanti saat jam makan siang biar Nenek saja yang datang ke toko bunga milik Ibumu. Justin mau makan apa?"


"Emmm, apa ya?"


Justin menempelkan jari telunjuk di dagunya sambil berpikir menu apa yang ingin dia makan. Menyaksikan kelucuan putranya membuat Bern tak tahan untuk tidak mendekat. Justin benar-benar mirip dengan Amora. Kelakuan mereka sama persis.


"Bagaimana kalau nanti siang biar Ayah saja yang mentraktir kalian makan di restoran? Sekalian kita mengajak Nenek Elea dan Kakek Gabrielle juga. Justin mau tidak?" tanya Bern berniat mempertemukan kedua keluarga. Dia tak mau mengulur waktu lagi.


"Wahhh, mau mau. Justin mau sekali, Ayah. Nanti Kakek Gabrielle pasti membawakan mainan untuk Justin. Iyakan, Ayah?"


"Tentu saja iya. Kan Justin cucu kesayangan mereka,"


Jika Justin dan Bern sibuk membahas soal mainan, Max dan Nandira malah mematung di tempat. Ini mereka tidak salah dengarkan? Bern mengajak mereka untuk bertemu dengan keluarga Ma? Ya Tuhan, mimpi apa mereka semalam.


Astaga, bagaimana ini. Persiapan apa yang harus aku lakukan agar nanti Nyonya Elea tidak merasa malu akan berbesan dengan keluarga Goh? Aduhhh, si Bern ada-ada saja. Kenapa harus mendadak begini sih. Jadi panik, kan.


***