Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 59


Sesampainya di sekolah, Bern dan Renata buru-buru keluar dari mobil kemudian berlari cepat menghampiri putra mereka yang sedang menangis. Ah, satu hal. Tentunya Bern tidak melepaskan kesempatan untuk terus menggenggam tangan Renata setelah membukakan pintu mobil untuknya. Dan Renata pun hanya bisa pasrah menerima perlakuan manis tersebut.


"Sayang, hei. Kenapa menangis?" tanya Renata cemas. Dia berjongkok di depan Justin kemudian menatap kaget melihat pipi putranya yang terlihat merah dan sedikit membiru. "Lho, pipimu kenapa, Nak? Temanmu memukulmu lagi ya?"


"Nona Renata, maaf sekali. Ini keteledoran saya yang lalai menjaga Justin. Tadi saat kami sedang menunggu di sini, kebetulan perut saya sakit. Saya lalu menitipkan Justin pada guru yang lain kemudian pergi ke kamar mandi sebentar. Akan tetapi saat saya kembali kemari beberapa orangtua siswa sedang memarahi Justin. Mungkin karena Justin menjawab pertanyaan mereka, salah satu dari orangtua murid tersebut mencubit pipinya. Sekali lagi saya minta maaf Nona Renata, Tuan. Saya benar-benar sangat ceroboh hari ini!" ucap Miss dengan tampang penuh rasa bersalah.


Orangtua mana yang tidak kaget begitu mendengar cerita guru ini. Renata yang tak tega putranya kembali menjadi sasaran bully segera memeluknya erat sekali. Setengah mati dia menahan diri agar tidak menangis meski dadanya sudah begitu sesak.


"Kami permisi dulu, Miss. Terima kasih sudah melaporkan hal ini pada kami!" ucap Bern sambil menahan diri agar tidak mengamuk. Rasanya sekarang ubun-ubunnya seperti mengeluarkan bara api yang begitu besar. Sungguh.


"Sama-sama, Tuan. Sekali lagi saya atas nama sekolah ini meminta maaf pada kalian berdua. Saya sangat menyesalkan kejadian ini, Tuan. Sungguh!"


"Tidak apa-apa. Kalau begitu kami pergi dulu ya,"


Bern segera membantu Renata berdiri kemudian menggendong Justin yang masih menangis. Sambil menggandeng sebelah tangan Renata, dia mengajak keduanya menuju mobil.


"Di pangku saja. Justin pasti trauma akibat perbuatan orang-orang gila itu," ucap Bern tak tega mendudukkan putranya di kursi belakang.


"Baiklah,"


Setelah memastikan keduanya duduk dengan benar, barulah Bern menyusul masuk. Dia lalu mencengkram stir mobil dengan kuat saat baru melihat bekas membiru di pipi putranya.


Beraninya mereka menyakiti putraku sampai seperti ini. Lihat saja. Akan kutunjukkan pada kalian semua anggota keluarga siapa yang telah kalian sentuh. Dasar k*parat!


"Hikss, Ayah. Justin sakit. Tadi Bibi itu mencubit pipi Justin kuat sekali. Padahal Justin tidak nakal," ucap Justin mengadu sambil menangis sesenggukan.


"Justin anak baik. Mereka saja yang keturunan setan. Jangan menangis lagi ya. Setelah ini Ayah akan mengajakmu pergi membeli anak dinosaurus. Mau?" sahut Bern sakit sekali mendengar aduan putranya. Dia lalu melajukan mobil sambil berpikir keras kemana harus membawa putranya pergi. Suara tangisannya membuat dada Bern seperti dihimpit batu besar.


"Justin tidak mau anak dinosaurus, Ayah. Justin tidak mau bermain dengan mereka."


"Kenapa tidak mau, sayang? Bukannya Justin suka sekali dengan mereka ya?" tanya Renata sedih. Tangannya tak henti mengusap pelan bekas membiru di pipi gembul putranya.


"Hikss, Justin sedang sakit. Justin tidak mau bermain dulu, Ibu. Justin sakit," jawab Justin setengah merengek.


Renata mengerutkan kening. Aneh. Kalau hanya bekas cubitan di pipi saja kenapa putranya sampai bereaksi seperti ini. Mungkinkah ada luka lain yang belum dia ketahui?


"Kenapa, Ren?" tanya Bern bingung melihat Renata membuka seragam yang Justin kenakan. Segera dia memelankan laju mobil.


"Bern, Justin sebelumnya tidak pernah seperti ini. Sedang sakitpun biasanya dia tidak akan menolak jika ditawari dinosaurus. Aku takut dia begini karena sedang kesakitan akibat luka lain di tubuhnya. Tolong kau kecilkan suhu mobil ini dulu ya," jawab Renata sambil melepas kancing seragam Justin. Instingnya sebagai seorang ibu mengatakan kalau ada luka lain di tubuh mungil putranya.


Tangan Bern bergerak cepat dengan menurunkan suhu di dalam mobil. Dia lalu memilih untuk menepikan mobil saja. Ingin ikut memeriksa apakah benar putranya dilukai lebih dari sekedar cubitan di pipi atau tidak.


"Ya Tuhan, Justin. Apa yang telah mereka lakukan padamu, Nak!" pekik Renata syok sekali begitu seragam Justin terlepas. Matanya sampai membelalak lebar saat mendapati ada luka bekas cubitan di pinggang dan perut putranya. Bahkan beberapa di antaranya sampai membuat kulit perut Justin terkelupas. Pantas putranya begitu kesakitan. Ternyata ini penyebabnya.


"Brengsek! Kali ini mati mereka semua!" murka Bern naik pitam melihat putranya yang baru berusia tiga tahun di aniaya hingga seperti ini. Darahnya mendidih seketika. "Renata, cepat pakaikan kembali bajunya Justin. Aku tidak terima dengan semua ini. Cepat!"


"K-kau mau membawa kami kemana, Bern?"


Takut Bern mengamuk, cepat-cepat Renata memakaikan kembali seragam Justin. Setelah itu dia dengan sangat hati-hati memeluknya. Mendekapnya penuh sayang sambil menciumi rambutnya yang basah keringat.


"Sakit, Ibu. Hiksss," ....


"Iya sayang Ibu tahu. Maaf ya karena tadi Ayah dan Ibu datang terlambat. Ini semua tidak akan terjadi jika seandainya kami datang lebih awal untuk menjemputmu," sahut Renata perih mendengar rintihan putranya. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhir jatuh juga. Terlalu sakit bagi Renata melihat putra yang begitu dia sayangi disakiti sedemikian rupa.


Kejam sekali mereka. Bukankah mereka juga punya anak seusia Justin? Kenapa mereka tega sekali menyakiti anak kecil yang tidak tahu apa-apa?


"Hikss, Ayah. Sakit, Ayah," ucap Justin sambil menatap ayahnya tak berdaya. Bekas cubitan itu membuat perutnya kaku dan juga panas. Sakit sekali.


"Justin pria yang hebat, bukan? Tidak apa-apa ya ditahan sebentar. Ayah janji nanti Ayah akan mengajakmu pergi ke rumah Nenek Zhu lagi. Atau Justin ingin pergi ke tempat lain saja? Beritahu Ayah ya. Setelah Ibu mengobati lukanya Ayah janji akan langsung mengajak Justin pergi ke sana. Oke?" sahut Bern mencoba menghibur putranya yang sedang menangis kesakitan. Dadanya serasa ditusuk-tusuk dengan belati. Sungguh k*parat orang-orang yang tega melakukan kekerasan seperti ini pada putranya yang masih begitu kecil. Bern bersumpah akan menuntut balas pada mereka semua.


"Justin sakit, Ayah. Justin tidak mau ke sana,"


"Ya sudah kalau begitu Justin mau tidak pergi ke rumah Nenek Elea? Di sana ada teman yang seperti Koni dan Gora. Mau?"


Tangis Justin berhenti sejenak setelah diberitahu kalau dia bisa bertemu dengan temannya Koni dan Gora. Namun, tangis itu kembali muncul saat luka di perutnya tak sengaja tersenggol.


"Huaaaaaaa, sakit. Sakit, Ibu,"


"B-bagaimana ini, Bern? Kita ke rumah sakit saja ya. Aku takut sekali," ucap Renata menatap Bern sambil berurai air mata.


"Tidak usah. Ibuku punya obat yang jauh lebih mujarab ketimbang obat rumah sakit. Sekarang kau bantu tenangkan Justin saja. Aku akan menghubungi keluargaku dulu," sahut Bern sembari merogoh ponsel di saku celana. Dengan tidak sabaran dia mencari nomornya Flow kemudian langsung menghubunginya.


"Halo, Kak. Ada apa?"


"Flow, sekarang aku bersama Justin dan Renata sedang dalam perjalanan menuju rumah. Putraku dilukai oleh orang-orang sinting. Minta Ibu agar menyiapkan obat untuk Justin. Secepatnya!" jawab Bern begitu panggilan tersambung.


"Apa? Ya Tuhan. Baiklah, Kak. Aku akan segera memberitahu Ibu."


Klik. Panggilan terputus. Bern kembali memasukkan ponsel ke saku celana kemudian menoleh ke samping. Dadanya bagai dir*mas menyaksikan anak dan calon istrinya menangis terisak-isak.


"Sebelumnya mereka tidak pernah melakukan hal yang kelewat batas, Bern. Hari ini adalah yang pertama. Entah apa salah Justin. Kalau mereka membenciku, harusnya aku yang mereka sakiti. Justin masih anak-anak. Dia tidak tahu apapun tentang persoalan orang dewasa. Kenapa mereka tega menyakitinya seperti ini? Justin belum genap tiga tahun, Bern. Justin mana mungkin kuat menahan sakit seperti ini?" ucap Renata mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya. Dia yang telah melahirkan Justin saja belum pernah sekalipun mencubit ataupun memukulnya. Tapi ini? Dengan kejamnya mereka membully hingga meninggalkan bekas kekerasan di tubuh kecil putranya. Orangtua mana yang tidak sakit hati melihatnya.


"Kau jangan khawatir, sayang. Kejadian hari ini tidak akan kumaafkan begitu saja. Orang-orang itu harus tahu dengan siapa mereka sedang berhadapan. Mengatai kalian saja aku tidak terima, apalagi ini. Perbuatan mereka sama artinya dengan mengibarkan bendera perang denganku. Cihhh!" sahut Bern sambil menggeretakkan gigi. Kekejaman yang sudah hilang sejak beberapa tahun yang lalu kini kembali di undang datang. Mereka salah telah meremehkan kemampuannya.


"Apa kita pindahkan saja Justin ke sekolah lain supaya mereka tidak bisa membullynya lagi? Aku tidak tenang jika harus meninggalkannya sendiri di sekolah,"


"Kenapa Justin yang pindah sekolah? Jangan lakukan itu. Mereka yang mencari masalah, jadi harus mereka yang angkat kaki dari sana. Enak saja. Kaya belum seberapa tapi sudah berani berlagak main hakim sendiri. Hadapi ayahnya dulu kalau mereka memang sekuat itu!"


Hampir saja Bern lepas kendali kalau suara tangisan Justin tidak menyadarkannya. Tak tega, sebelah tangannya terulur mengusap kaki bocah ini yang terasa sangat dingin. Kasihan. Sepertinya luka itu benar-benar sangat sakit. Kalau tidak, tubuh Justin tidak akan menjadi sedingin ini. Dasar sialan. Haisshhhh.


***