Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 54


📢📢 GENGS, JANGAN LUPA MAMPIR KE LAPAKNYA SI KARL YA. UDAH MULAI DI UP HARI INI KARENA DI NOVEL INI KARL SAMA BERN UDAH BERBAIKAN WALAUPUN BELUM MAAF-MAAFAN.



***


“Hati-hati!” ucap Bern sambil melindungi kepala Renata supaya tidak terantuk bagian atas mobil.


“Terima kasih.”


Renata kikuk, tapi dia berusaha tenang menghadapi sikap Bern yang semakin aneh saja. Sejak dari rumah tadi, pria ini tak henti menunjukkan perhatiannya. Renata bahkan sampai salah tingkah sendiri dibuatnya. Dan salah satunya adalah yang baru saja terjadi. Bern dengan penuh perhatian membukakan pintu untuknya. Membantu melepas seatbelt, juga berusaha melindunginya agar tidak terluka. Aneh, bukan?


“Tunggu sebentar. Aku akan membawa Justin keluar dulu. Jangan kemana-mana,"


“Iya,”


Segera Bern membuka pintu samping kemudian melepas seatbelt di tubuh Justin. Setelah itu dia menggendongnya keluar.


“Nah, sekarang kita sudah sampai di sekolah!” ucap Bern sembari menurunkan Justin dari gendongan. Dia kemudian berjongkok, merapihkan dasi kupu-kupu yang terpasang di kerah baju putranya. “Nanti di kelas jangan jahil ya. Justin harus mendengarkan apa kata Miss. Oke?”


“Oke, Ayah,” sahut Justin patuh.


“Manis sekali. Ayo masuk!”


Langkah Justin tertahan. Dia lalu mengulurkan tangannya ke depan sambil menatap bergantian pada ayah dan ibunya.


“Kenapa, sayang?” tanya Renata bingung.


“Ibu, semua teman-teman Justin selalu di gandengan oleh ayah dan ibu mereka sebelum masuk ke kelas. Justin juga ingin seperti itu,” jawab Justin dengan polos menyampaikan keinginannya. Matanya yang bening terus berkedip-kedip. Lucu seperti boneka.


“Di gandeng?”


Justin mengangguk. Dia lalu menatap ayahnya. Dan yang tak terduga-duga, Justin mengerlingkan mata. Bern yang tanggap kalau putranya memiliki misi tersendiri, tanpa pikir panjang langsung meraih tangan mengilnya kemudian menggenggamnya dengan erat.


“Ayo pegang tanganku juga, Ibu. Justin ingin pamer pada Miss kalau sekarang Justin sudah punya Ayah dan Ibu yang lengkap.”


“Hah? O-oh, baiklah.”


Tergagap Renata menjawab. Dia meraih tangan Justin kemudian menautkan jari tangan mereka. Jujur, saat ini perasaan Renata terasa aneh. Bahagia, terharu, juga bingung. Bern dan Justin terlihat begitu bahagia dengan apa yang sedang mereka lakukan. Kedua pria beda usia ini seolah tengah melakukan kong-kalikong demi suatu tujuan yang Renata tidak tahu untuk apa.


“Ayo masuk. Miss sudah menunggu Justin di sana,” ajak Bern sambil meng*lum senyum. Hatinya membuncah bisa bergandengan tangan seperti ini dengan anak dan calon istrinya.


“Ayo, Ayah. Yeyyyyy!” seru Justin kegirangan.


Kedatangan Justin yang di antar oleh orangtua lengkap membuat beberapa pasang mata menatap heran ke arah mereka. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang berbisik-bisik dengan suara yang cukup kuat.


“Heh, entah mengambil pria darimana mereka. Tiba-tiba saja bergandengan tangan seolah mereka adalah keluarga yang bahagia. Dasar tidak tahu malu. Aib tetap saja aib mau bagaimanapun di tutupinya!”


“Iya benar. Aku jadi geli membiarkan anak-anak kita berada satu kelas dengan anak yang terlahir tanpa seorang ayah. Iyuhhhh!”


Walau hati terasa perih putranya di ejek dengan begitu kejam, Renata tetap menguatkan hati untuk tidak marah ataupun menangis. Dia tenang, memilih menyembunyikan kesedihan dalam diam. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada Bern. Orang-orang itu tidak tahu saja anak siapa yang sedang mereka hina. Tubuh Bern langsung terbakar amarah.


“Bern, jangan!” bisik Renata sambil menggelengkan kepala. Cepat-cepat dia melarang Bern saat menyadari gelagat emosinya yang mulai memuncak.


“Mereka harus diberi pelajaran, Renata. Aku tidak terima kau dan Justin dihina!” geram Bern. Giginya saling menggeletuk, tak tahan mendengarkan gunjingan yang seperti sengaja di perdengarkan.


“Tidak apa-apa. Aku dan Justin sudah terbiasa mendengar mereka bicara seperti itu. Lebih baik sekarang kita antarkan Justin ke Miss nya saja ya. Jangan pedulikan omongan mereka.”


Bern mendengus kasar. Dia memilih untuk mengalah, tapi hanya untuk sekarang. Nanti setelah Justin masuk ke dalam kelas, barulah dia akan mengurus kumpulan sampah menjijikkan itu.


“Good morning, Justin. Waah, hari ini sepertinya Justin bahagia sekali. Boleh bagi cerita pada Miss tidak?”


“Morning Miss cantik. Hari ini Justin di antar sekolah oleh Ibu dan Ayah Justin. Lihat, Ayah Justin sangat tampan sekali, bukan?” ucap Justin dengan riangnya membanggakan sang ayah di hadapan Miss.


“Oh, jadi Justin di antar oleh Ayah ya?”


“Pantas Justin terlihat begitu bahagia. Ayo-ayo sekarang pamit pada Ayah dan Ibu dulu sebelum masuk ke kelas,”


Justin mengangguk.


“Ayah, Ibu, Justin masuk ke kelas dulu ya. Dadahhh,”


“Iya, sayang. Belajar yang rajin ya,” sahut Renata kemudian mencium kedua pipi Justin. Dia lalu tersenyum.


“Iya, Ibu.”


Giliran Bern yang dipamiti oleh Justin. Berusaha menekan emosi yang meluap di dada, dia berjongkok di hadapan putranya kemudian mencium keningnya selama mungkin. Bern lalu mencium kedua telapak tangan Justin sebelum memintanya untuk masuk bersama guru yang telah menunggu.


“Bern, tolong tahan emosimu. Kita masih berada di sekolahnya Justin. Nanti dia semakin di bully kalau kau memarahi mereka,” ucap Renata memohon agar Bern tidak mendatangi orang-orang yang tadi mengejeknya.


“Tidak bisa, Renata. Kalau yang dihina mereka adalah aku, aku masih bisa terima. Tapi kalau kau dan Justin … maaf, tidak ada ampun untuk siapapun yang berani mengusik hidup kalian berdua. Tolong jangan halangi aku!”


Renata kaget sekali saat Bern menghempaskan tangannya dengan kasar. Lemas, itu yang Renata rasakan sekarang begitu melihat Bern yang langsung mencekik leher salah satu wanita yang menyebut kalau lahirnya Justin adalah sebuah aib.


“A-a-apa-apaan kau. Lepaskan aku!”


“Lepas?”


Bern tertawa. Matanya berkilat marah. Dia ingin sekali mematahkan leher wanita ini.


“Setelah kau menghina dan mengejek anak istriku kau bilang lepas?” ucap Bern sambil menggeretakkan gigi. “Percayalah. Detik ini juga aku akan mengirimmu pergi ke neraka. Dasar setan kalian semua!”


Wajah wanita yang sedang dicekik oleh Bern menjadi sangat merah karena pasokan udara yang tertahan. Security yang melihat kegaduhan tersebut pun langsung datang melerai. Namun sayangnya hal itu tak dihiraukan oleh Bern. Dia tak peduli meski di ancam akan dilaporkan ke polisi jika tidak segera melepaskan cekikannya.


“Bern, aku mohon tolong lepaskan dia. Demi Justin, Bern. Sadarlah!” bujuk Renata ketakutan.


“Sampah ini harus mati, Renata. Aku tidak terima dia menyebut kalian sebagai aib. Kau dan Justin bukan aib, kalian hartaku yang paling berharga!” amuk Bern kian menguatkan cekikannya.


“Iya aku tahu. Tapi sekarang lepaskan dulu cekikanmu ya? Aku mohon, Bern.”


Panik melihat keadaan wanita itu yang semakin kesulitan bernafas, tanpa pikir panjang Renata segera memeluk Bern seerat mungkin. Dia berharap pelukan ini bisa membantu meredakan amarahnya yang sedang meluap.


“Demi putra kita, Bern. Aku mohon tolong lepaskan dia. Oke?” bujuk Renata dengan suara gemetar. Jantungnya sudah mau copot sekarang.


Berhasil. Pelukan Renata berhasil meredam kemarahan Bern. Setengah mendorong wanita itu, Bern melepaskan cekikannya. Dia lalu balas memeluk Renata sambil menciumi puncak kepalanya penuh sayang.


“Uhukk-uhukkk. Awas saja kau ya. Aku akan melaporkan perbuatanmu ke kantor polisi. Dasar pasangan gila!”


“Laporkan saja kalau kau mau. Lalu kau akan tahu apa yang disebut kehancuran yang sebenarnya!” sahut Bern sembari tersenyum miring.


Ingin menyentuh cucu dan calon menantu tertua di keluarga Ma? Ayolah, jangan bercanda. Bahkan tanpa perlu Bern bergerak, keluarga wanita itu akan hancur dengan sendirinya. Justin memilik enam paman yang cukup posesif. Adalah kebodohan besar jika berani mengusiknya.


“Bern, sudah. Kita pulang sekarang ya?” ajak Renata tak membiarkan amarah Bern kembali meluap.


“Apa kau mau pergi ke toko bunga?” tanya Bern.


“I-iya. Aku mau ke sana. Tidak apa-apa, kan?”


“Tentu tidak. Tapi nanti harus aku yang menjemput dan mengantarkanmu pulang ke rumah. Oke?”


“Baiklah.”


Tak menghiraukan kerumunan yang ada di sana, Bern membawa Renata masuk ke dalam mobil. Namun sebelum dia menyusul masuk, Bern masih sempat melayangkan tatapan dingin pada orang-orang yang tadi mencari masalah dengannya.


Kali ini kalian mungkin selamat. Tapi jika kejadian ini sampai terulang, bahkan tanah di negara ini tidak akan menerima kehadiran kalian lagi. Ingin menyakiti anak dan calon istriku? Cihh, langkahi dulu mayatku!


***