Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 44


Ceklek


Hening. Tidak terdengar suara apapun di dalam apartemen saat Bern sampai di sana. Khawatir ada yang tidak beres, Bern bergegas mengunci pintu lalu mencabut kunci dan menyembunyikannya di kantong celana. Setelah itu dia buru-buru masuk ke kamar, ingin memeriksa apa yang sedang dilakukan oleh Renata dan putranya.


"Renata, Justin, kalian ada di ....


"Syuutttt!"


Renata menempelkan jari telunjuk di depan bibir, memberi kode pada Bern agar jangan berisik. Dia kemudian menunjuk Justin yang baru saja terlelap setelah hampir setengah jam menangis.


"Justin kenapa menangis?" bisik Bern merasa bersalah. Dia melangkah pelan menuju ranjang kemudian berjongkok di sana. "Justin kenapa?"


"Dia mencarimu." Singkat Renata menjawab. "Tiga puluh menit lamanya dia menangis. Juga merengek memintaku mengantarkannya pergi ke sekolah."


Hening.


"Apa kau sudah puas, Bern?"


Tak ada sahutan.


"Apa sudah puas memperlakukan kami seperti seorang tahanan?"


Kedua mata Renata memerah. Sungguh, dia benar-benar bingung dengan jalan pikiran pria ini. Renata pikir setelah semalam mereka berbincang dari hati ke hati keadaan ini bisa teratasi dengan baik. Namun sayang. Pagi tadi saat dia membuka mata, Bern sudah pergi dan mengunci pintu apartemen dari luar. Kejam, bukan? Sangat malah.


"Kalau kau bermasalah denganku tolong jangan libatkan Justin ke dalamnya. Kurunglah aku sesukamu, Bern. Tapi aku mohon tolong lepaskan Justin. Biarkan dia menikmati kesehariannya seperti anak-anak yang lain. Jangan malah mengurungnya di sini seolah kami adalah burung peliharaan. Kami ini manusia, Bern. Kami bukan binatang yang bisa seenaknya kau tangkap lalu kau jerat di kandang emasmu. Kau paham bukan apa maksud perkataanku?" ucap Renata sambil berurai air mata. Sedih, juga kasihan. Entah apa sebabnya Renata tidak tahu.


"Aku tidak menganggap kalian seperti itu, Renata. Kau dan Justin, aku hanya ingin menjaga kalian saja. Sungguh!" sahut Bern gusar melihat Renata menangis. Kepanikan jelas terlihat di kedua matanya.


"Menjaga kami?"


Renata terkekeh. Tangannya bergerak menyeka air mata yang membanjir di wajah.


"Di bagian mananya yang bisa di anggap menjaga kalau kau saja mengunci kami di dalam apartemen?" tanya Renata menuntut penjelasan. Dia lalu menarik nafas, mencoba untuk mengendalikan suara tangisnya agar tidak mengganggu tidur putranya. "Bern, please. Biarkan aku dan Justin pergi dari sini. Oke?"


"Tidak. Tidak, Renata. Aku tidak mungkin membiarkan kalian menentang bahaya di luaran sana. Bagaimana nanti jika ada orang yang ingin mencelakai kalian? Aku tidak bisa, Renata. Kalian harus selalu berada dalam pengawasanku!" sahut Bern tiba-tiba ketakutan hebat. Bayangan tubuh Amora yang bersimbah darah, juga dengan tubuh kekasihnya yang kaku dan dingin saat baru di ambil dari sungai membuat pikiran Bern menjadi kacau. Nafasnya menjadi sesak.


Kenapa reaksi Bern sampai seperti ini ya? Apa jangan-jangan psikisnya sedang terganggu? Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang. Apa yang harus aku lakukan?


Khawatir keadaan Bern makin memburuk, Renata segera melangkah turun dari ranjang. Setelah itu dia memeluk Bern, menarik kepala pria ini agar rebah di dadanya.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku di sini, kau tidak sendirian. Jangan panik. Oke?" bisik Renata berusaha menenangkan. Dielusnya penuh perasaan lengan Bern yang cukup kekar.


"Aku tidak mau kau dan Justin sampai celaka, Renata. Itu sangat menyakitkan untukku. Dadaku sesak saat memikirkannya," sahut Bern tak berdaya.


"Iya aku tahu. Maaf ya karena tadi sudah memaksamu untuk membiarkan kami pergi dari sini."


"Aku tidak bermaksud jahat. Hanya ingin yang terbaik saja untuk kalian berdua. Sungguh!"


Bern terus mengeluarkan unek-unek ketakutannya sambil terus memeluk Renata. Dia sebenarnya sadar, sangat sadar malah. Akan tetapi rasa takut dan juga gambaran kejadian itu membuat Bern seperti hilang kewarasan.


"Em, kau lapar tidak?" tanya Renata mencoba mengalihkan ketakutan Bern pada hal lain.


Kepala Bern terdongak. Dia kemudian mengangguk.


"Aku tidak bisa makan."


"Lalu?"


"Hanya ingin makan masakanmu," jujur Bern mengaku.


Renata terkekeh pelan. Cepat sekali mood pria ini berubah. Setelah itu Renata mengajak Bern keluar kamar. Khawatir percakapan mereka akan menganggu tidurnya Justin.


Seperti pasangan yang sedang mabuk cinta, Bern menggenggam tangan Renata dengan sangat erat. Dia lega karena wanita ini bisa memahami perasaannya yang dilanda ketakutan. Sangat mirip dengan cara Amora saat menenangkannya dulu.


"Tadi aku hanya memasak untuk Justin saja, jadi hanya ada telur dan sayur di sini. Kau mau makan sayur yang ada atau ingin kumasakkan menu yang lain?" tanya Renata setelah sampai di dapur. Dia kemudian menoleh saat tak mendengar jawaban dari Bern. "Kau dengar apa kataku, bukan?"


"Dengar,"


"Jadi apa yang mau kau makan?"


"Aku akan memakan apapun yang kau siapkan untukku," jawab Bern.


"Kalau aku menyiapkan racun untukmu, apa kau akan memakannya juga?" seloroh Renata iseng.


"Darimana kau mendapat keyakinan itu?"


"Dari perasaan yang muncul di dalam hati."


Tertegun Renata dibuat oleh Bern. Tak ingin perasaannya kian berlarut, dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan pria ini. Akan tetapi bukannya lepas, yang ada Bern malah menariknya ke dalam pelukan. Walau canggung, Renata mencoba untuk relaks. Kejiwaan pria ini sedang terganggu, sebisa mungkin dia harus bisa mengikuti apa yang di inginkan olehnya.


"Renata, aku benar-benar minta maaf padamu. Maaf karena aku sudah mengurungmu dan Justin di apartemen ini. Aku janji ini hanya akan terjadi sekali ini saja. Tolong jangan marah ya?" ucap Bern mencoba lapang dengan berjanji tidak akan mengurung Renata dan putranya di apartemen ini lagi. Bern akan memantau mereka lewat cara lain saja.


"Siapapun pasti marah jika di perlakukan seperti ini tanpa sebab yang jelas, Bern. Tapi karena kau sudah meminta maaf maka aku akan memaafkanmu. Aku tidak akan memperpanjang masalah ini lagi. Selama kau tidak membatasi keseharian Justin, aku tidak akan marah," sahut Renata sembari mengusap punggung Bern.


"Aku terlalu ketakutan saat mengingat apa yang terjadi pada Amora. Dulu aku gagal melindunginya, sehingga Amora menghilang. Dan aku tidak mau kejadian itu sampai terulang pada kalian. Kau bisa memahami perasaanku, kan?"


"Tentu saja bisa. Sudah ya, sekarang aku harus memasak dulu. Cacing di dalam perutmu tak berhenti menyanyi. Nanti mereka menangis jika tidak segera diberi makan."


"Kau benar sudah tidak marah lagi, kan?" tanya Bern memastikan.


"Tidak,"


"Sungguh?"


"Iya, Bern. Aku benar-benar sudah tidak marah lagi padamu."


Setelah memastikan kalau Renata tak lagi marah padanya, berulah Bern melepaskan genggaman tangannya. Dia lalu menatap dalam ke arah Renata yang sedang menata piring di atas meja.


"Jadi bagaimana, Bern. Kau mau makan lauk ini atau aku masakkan yang baru saja," tanya Renata.


"Terserah kau saja, Ren. Aku tidak pilih-pilih makanan asal kau yang menyiapkan," jawab Bern tak mempersulit. Dia kemudian duduk, menunggu wanita ini mengambilkan makanan untuknya.


Berusaha acuh, Renata bersikap tenang saat melayani Bern. Iseng, dia memutuskan untuk mengajaknya bicara tentang Amora. Renata penasaran sekali dengan kisah cinta kedua sejoli ini hingga perpisahan membuat Bern seperti hilang kewarasan.


"Apa dulu kau dan Amora sering melakukan kegiatan bersama?"


"Jarang. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah," jawab Bern. Dia tersenyum saat Renata meletakkan piring berisi makanan di hadapannya. "Terima kasih,"


"Sama-sama." Renata kemudian duduk sambil bertopang dagu. "Apa saja yang kalian lakukan di rumah?"


"Banyak. Kami bercanda, saling menggoda, dan masih banyak yang lainnya lagi. Walaupun singkat, tapi kebersamaan kami sangat amat membekas di hatiku. Amora ... dia sangat istimewa."


Ada apa ini? Kenapa aku seolah terhanyut oleh ceritanya Bern? Aku jelas bukan Amora, tapi kenapa aku merasa kalau wanita yang sedang diceritakan oleh Bern adalah diriku? Terbawa suasanakah?


"Sejak usiaku matang, tidak sekalipun aku pernah menjalin hubungan dengan wanita. Namun begitu Amora datang, aku langsung jatuh cinta padanya. Sikapnya yang sederhana, tutur katanya yang begitu lembut, wajah cantiknya yang tak membuat orang lain bosan memandang, semua itu berhasil membuatku keluar dari zona nyaman. Amora juga adalah gadis yang sangat patuh. Dia tidak pernah berkata tidak pada apapun yang aku katakan. Manis, bukan?" ucap Bern sambil tersenyum kecil saat menceritakan tentang Amora.


"Manis sekali," sahut Renata ikut tersenyum mendengar ceritanya Bern.


"Itulah kenapa aku memilih pergi ke luar negeri setelah dia menghilang. Semua kenangan indah kami membuatku sulit bernafas."


"Sampai seperti itu?"


Bern mengangguk. Dia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sebelum lanjut berbicara.


"Renata, besok pagi ajaklah Justin masuk ke sekolah. Akan tetapi aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja. Hatiku tak tenang, takut kalau-kalau ada orang yang ingin mencelakai kalian. Kau tidak keberatan, kan?"


"Sungguh kami boleh pergi dari sini?" tanya Renata dengan mata berbinar.


"Boleh, tapi aku akan tetap mendatangi kalian. Entah itu saat di toko ataupun ke rumah orangtuamu. Aku perlu memastikan kalau kalian berdua baik-baik saja," jawab Bern dengan berat hati mengizinkan Justin dan Renata pulang ke rumahnya. Dia menyayangi mereka, dan sangat sadar kalau tindakannya sekarang benar-benar sudah sangat salah.


"Itu tidak masalah, Bern. Kau bebas mau datang kapanpun. Lagipula bukankah kau telah menganggap Justin seperti putramu sendiri?"


"Iya,"


"Ya sudah tidak apa-apa. Kalau kau mau aku juga tidak keberatan jika Justin dibawa menginap kemari."


"Terima kasih,"


Setelah itu tak ada lagi percakapan yang terjadi. Renata sungguh lega sekali karena keputusannya untuk menenangkan Bern berhasil membuat pria ini sadar kalau tindakan yang dilakukannya tidaklah benar. Walaupun merasa lega, hati Renata tetap merasa terenyuh memikirkan keadaan pria ini. Mental Bern tidak baik-baik saja, Renata tahu itu.


Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Bern ya? Kasihan dia jika tidak ada yang menemani. Takutnya dia nekad saat pikirannya sedang di penuhi ingatan soal Amora. Ya ampun,


***