
"Hei, itu bukannya Tuan Muda Bern ya? Wahhh, dia sudah kembali ternyata!" seru seorang wanita. Matanya tampak berbinar. Seolah ingin memberitahu dunia betapa dia sangat menyukai pria tersebut.
"Tapi siapa wanita dan anak kecil yang sedang berjalan bersama Tuan Muda kita ya? Tidak mungkin itu anak dan istrinya, kan?"
"Iya juga ya. Mana wanita itu cantik sekali lagi. Anaknya juga lucu dan menggemaskan. Benar tidak?"
"Aku jadi cemburu,"
"Cemburu tidak cemburu nyatanya kita hanya bisa mengagumi Tuan Muda Bern dari jarak jauh saja. Dan aku yakin dia juga tidak tahu kalau kita itu hidup. Xixixi," ....
Langkah Renata terlihat canggung saat dia menyadari kedatangannya bersama Bern menjadi pusat perhatian. Dia lalu memegang tangan Bern yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa, sayang?" tanya Bern langsung tanggap kalau calon istrinya merasa tidak nyaman.
"Bern, kenapa ya orang-orang menatap kita sampai sebegitunya? Apa mereka tidak suka melihatmu berjalan bersamaku dan Justin?" sahut Renata balik bertanya.
"Persetan dengan mereka. Sudah, jangan dipedulikan lagi. Kau akan segera menjadi istriku dan Justin adalah anak kita. Jadi tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Kita keluarga. Oke?" jawab Bern tak membiarkan Renata gelisah. Dia lalu mengedarkan pandangan tajam pada orang-orang yang sedang memperhatikannya. "Dasar sampah! Apa sebelumnya mereka tidak pernah melihat wanita cantik berjalan bersamaku? Kampungan sekali. Huh!"
Nyatanya, seumur-umur Bern hidup baru sekali ini dia berjalan bersama seorang wanita. Membawa anak pula. Wajarlah jika orang-orang merasa penasaran pada mereka. Sayangnya Bern tidak berpikir sampai ke sana. Entah dia benar tidak ingat atau hanya pura-pura tidak ingat, dia bersikap seolah sering berjalan bersama wanita selain Renata. Padahal tidak.
"Ayo masuk. Kita sudah sampai," ucap Bern mengajak Renata masuk ke sebuah toko perhiasan berlian.
"Apa perhiasan di sini tidak terlalu mahal, Bern? Yang biasa-biasa saja juga tidak masalah kok. Aku tidak mau membebanimu dengan masalah seperti ini," sahut Renata agak sungkan. Dia bukan tidak tahu kalau toko perhiasan yang ada di hadapannya merupakan satu-satunya toko termahal yang ada di kota mereka.
"Hmmm, mulai lagi. Memangnya aku terlihat begitu miskin ya sampai kau menolak untuk membeli perhiasan di sini?"
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiranmu saja. Menikah itu butuh banyak sekali biaya. Aku takut ....
"Kau takut uangku tidak akan cukup? Begitu?"
Bern tersenyum. Inilah wanitanya. Sederhana dan tidak serakah akan harta. Renata sepertinya lupa kalau dia adalah bagian dari keluarga Ma di mana harta kekayaan keluarganya tidak akan mungkin habis dimakan seratus keturunan sekalipun. Bahkan tanpa diketahui oleh Renata, toko perhiasan yang mereka datangi adalah milik keluarganya. Sengaja Bern tidak memberitahunya untuk melihat apakah sikapnya berbeda dari yang dulu atau tidak. Dan faktanya, mau itu Renata ataupun Amora, sikap mereka sama sekali tak berubah. Mereka indah dengan cara yang sederhana.
"Ibu, uang Ayah itu sangat banyak. Justin tidak bohong," ucap Justin ikut menimpali pembicaraan kedua orangtuanya.
"Tahu darimana kalau uang Ayah itu banyak, hm?" gemas Renata seraya mencubit pelan pipi gembul putranya.
"Paman Reiden yang memberitahuku. Waktu itu Paman mengajari Justin untuk mencuri uang dari dompetnya Ayah. Lalu saat Justin mengambilnya ternyata di dalam dompet Ayah ada banyak sekali uang. Setebal ini, Bu."
Kedua mata Bern dan Renata langsung membelalak lebar mendengar cerita Justin yang diam-diam diajari menjadi pencuri oleh pamannya sendiri. Sungguh, ini tidaklah benar. Sepertinya Reiden sakit.
Kau benar-benar brengsek, Reiden. Apa tidak cukup kau mengajari putraku menjadi seorang pemberontak? Dan apa ini. Pencuri? Oh Tuhan, kali ini aku tidak akan mengampunimu. Dasar sialan!
"Em sayang, lain kali kau tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi ya. Tuhan bisa marah kalau Justin berbuat kurang ajar. Justin tahukan kalau mencuri adalah perbuatan setan? Jadi jangan diikuti lagi ya saran dari Paman Reiden. Itu tidak baik!" ucap Renata dengan lembut menasehati putranya.
"Tapi kata Paman Reiden kalau mencuri dari dompetnya Ayah tidak apa-apa, Bu. Paman bilang itu halal," sahut Justin dengan polosnya menyebut kalau tindakan mencuri adalah sesuatu yang halal.
Hanya helaan nafas yang keluar dari mulut Bern dan Renata saat Justin menyebutkan kalau mencuri adalah perbuatan yang halal. Tak mau ambil pusing, Bern segera membawa anak dan calon istrinya masuk ke dalam toko. Di sana mereka langsung disambut oleh manager yang adalah orang kepercayaan keluarganya.
"Selamat datang Tuan Muda Bern, Nona Renata. Emm ....
"Jangan panggil aku tuan muda lagi," ucap Bern. Dia lalu tersenyum seraya mencium pinggiran kepala Justin. "Sekarang aku sudah punya anak. Namanya Justin. Nak, perkenalkan diri dulu pada Paman dan Bibi. Ya?"
"Baik, Ayah."
Karena sudah sering diajari tentang kesopanan, Justin meminta turun dari gendongan sebelum memperkenalkan diri. Dia lalu membungkuk di hadapan semua orang, yang mana membuat mereka tercengang kaget.
"Halo Paman, halo Bibi. Namaku Justin. Sebentar lagi usiaku genap tiga tahun dan sekarang aku sudah bersekolah di taman kanak-kanak!" ucap Justin dengan lancarnya.
"Wahhhh, tuan muda kita lucu sekali. Aaaaa!" pekik salah seorang karyawan. Dia seperti tak sadar kalau di hadapannya sedang berdiri putra sulung dari pemilik toko.
"Hah? O-oh, maaf-maaf. S-saya tidak sengaja melakukannya."
"Kau ini!"
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memarahinya. Putraku saja yang terlalu menggemaskan sehingga membuatnya berteriak seperti itu!" ucap Bern melerai sang manager yang tengah memarahi si karyawan. Lucu sekali. Sebegitunya gemas pada Justin sampai membuat karyawan tersebut lupa diri.
"Maafkan atas ketidaksopanan kami, Tuan. Anda benar sekali kalau Tuan muda kecil begitu menggemaskan. Saya saja harus menahan diri agar tidak mencubit pipinya yang gembul itu. Sekali lagi kami minta maaf ya," sahut sang manager.
Bern mengangguk. Hatinya berbunga-bunga sekali melihat putranya dicintai oleh banyak orang.
"Bu, boleh tidak Justin mengajak Bibi bermain?" tanya Justin.
"Bermain apa, sayang?" sahut Renata balik bertanya. Dia kemudian berjongkok.
"Itu di sana ada kuda terbang. Justin ingin sekali naik ke atas kuda itu. Boleh ya, Bu?"
"Nak, Bibi kan sedang bekerja. Bermainnya nanti saja ya tunggu setelah Ayah dan Ibu selesai berbelanja."
"Tapi ....
"Biarkan saja, sayang. Cukup manager toko saja yang melayani kita. Yang lain biarkan pergi bermain bersama Justin." Bern membuka suara. Dia tak tega mendengar rengekan putranya.
"Apa ini tidak merepotkan mereka, Bern?"
"Tidak. Kan mereka ada banyak. Di luar juga ada banyak penjaga yang akan membantu mengawasi Justin. Jadi kau tidak perlu khawatir!"
"Penjaga?"
Renata segera menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan para penjaga yang dimaksud oleh Bern.
Aneh. Kapan-kapan para penjaga itu ada di sana. Seingatku tadi kami hanya datang bertiga. Apa aku yang tidak menyadari keberadaan mereka ya?
Andai Renata tahu kalau menjadi bagian keluarga Ma akan selalu mendapat pengawalan ketat, dia pasti tidak akan sebingung ini. Hmmm.
"Kalian temanilah putraku bermain. Jika dia menginginkan sesuatu, ambilkan saja. Tapi jika berbentuk makanan, kalian perlu mengkonfirmasi pada kami terlebih dahulu. Justin tidak boleh makan sembarangan!" perintah Bern kepada para karyawan.
"Baik, Tuan. Kalau begitu kami permisi,"
"Pergilah,"
Justin langsung berjingkrak kesenangan begitu diizinkan untuk bermain kuda terbang. Renata yang melihat hal itupun hanya bisa pasrah saja.
"Jangan marah, sayang."
"Kau terlalu memanjakan Justin, Bern!"
"Hanya sesekali saja. Kan tidak setiap hari juga Justin bisa bermain seperti itu. Iya, kan?"
"Takutnya nanti jadi kebiasaan."
"Tidak akan. Justin mempunyai Ibu yang begitu hebat dalam mendidiknya. Aku yakin putra kita tidak akan menjadi anak manja yang suka membuat ulah. Kau Ibu terbaik, sayang!"
Setelah puas menggoda Renata, Bern meminta manager untuk membawakan perhiasan terbaik yang ada di sana. Dia lalu membimbing Renata masuk ke ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga besarnya saja.
Akhirnya yang kunanti-nantikan tiba juga. Sebentar lagi Amora akan resmi menjadi istriku. Betapa bahagianya.
***