
Karena masih agak trauma dengan kejadian waktu itu, Renata tidak berani membuka toko. Juga karena sekarang tokonya sedang diperbaiki, jadi dia menghabiskan waktunya untuk lebih memperhatikan Justin di rumah. Kebetulan empat hari lagi Justin berulang tahun. Jadi sekalian Renata mengurus apa saja yang dibutuhkan untuk acara nanti.
"Ren, di ulang tahun Justin apakah seluruh keluarga Ma akan datang kemari?" tanya Max penuh penasaran. Dia bicara sambil menatap langit-langit rumah, membayangkan akan seperti apa hebohnya semua orang jika tahu kalau keluarga Goh akan segera berbesan dengan keluarga paling kaya dan paling berpengaruh di negara ini.
"Aku tidak tahu, Ayah. Tapi besar kemungkinan mereka semua akan datang," jawab Renata. "Kenapa memangnya?"
"Kalau mereka semua datang, keluarga kita pasti akan langsung menjadi sorotan. Semua media kabar pasti akan menaikkan acara ulang tahun Justin sebagai berita utama."
"Apa Ayah keberatan dengan itu semua?"
"Bukan keberatan, Ren. Ayah hanya masih belum percaya saja kalau kau akan menjadi mantu tertua di keluarga Ma." Max menghela nafas. Dia kemudian menoleh, menatap putrinya yang sedang sibuk menulis sesuatu. "Seujung kuku pun Ayah tak pernah berpikir kalau kau akan menjadi bagian dari mereka. Dengan statusmu yang telah mempunyai seorang anak, jelas fakta yang terjadi sekarang membuat Ayah merasa seperti sedang bermimpi. Sungguh!"
Renata tersenyum kecil. Rupanya yang berpikiran seperti itu bukan hanya dirinya saja, tapi ayahnya juga. Di tengah malam Renata kadang terbangun hanya untuk memastikan kalau dirinya sedang tidak bermimpi menjalani hubungan dengan Bern. Semuanya terlalu seperti tak nyata.
"Ibuuuu!!"
Suara teriakan Justin membuyarkan lamunan Renata. Segera dia melihat ke arah putranya yang tengah berlari kecil sambil mendorong sebuah kardus yang berhiaskan pita berwarna biru.
"Ibu, coba Ibu lihat apa yang Justin bawa!" seru Justin dengan hebohnya.
"Sayang, darimana kau mendapatkan kardus itu?" tanya Renata bingung sekaligus heran.
"Ada seorang kakak cantik yang memberikan hadiah ini pada Justin, Ibu."
"Kakak cantik?"
Justin mengangguk. Dengan penuh semangat Justin duduk di lantai kemudian mencoba membuka hadiah yang telah susah payah dia dorong dari luar.
"Tunggu-tunggu. Di mana Nenek?" tanya Renata sambil menahan tangan Justin yang ingin melepas pita. Perasaannya mendadak terasa tak nyaman. Dia khawatir isi kardus tersebut adalah sesuatu yang berbahaya.
"Nenek masih ada di luar, Bu. Sedang mengobrol dengan kakak cantik," jawab Justin. Tatapannya terus tertuju pada kardus yang ada di hadapannya. Dia sangat penasaran sekali.
"Benarkah?"
"Iya, Justin tidak bohong kok."
Renata mengangguk. Dia lalu meminta sang ayah agar tak membiarkan Justin membuka kardus. Setelah itu Renata bergegas pergi ke luar, penasaran sebenarnya kakak cantik mana yang dimaksud oleh Justin.
"Ibu?"
Nandira yang tengah berdiri kebingungan segera menengok ke belakang saat Renata memanggilnya.
"Ren, apa kau ada memesan barang?" tanya Nandira.
"Tidak," jawab Renata. Buru-buru dia mendekati sang ibu kemudian menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa memangnya, Bu? Dan juga tadi Justin memberitahuku kalau Ibu sedang berbincang dengan kakak cantik yang memberinya hadiah. Siapa dia dan mana orangnya?"
"Itu dia yang membuat Ibu heran. Tadi saat Ibu sedang menemani Justin bermain, seorang kurir pengantar barang tiba-tiba datang membawakan hadiah untuk Justin. Kurir itu perempuan. Dan dia bilang pesanan dibuat oleh orang yang tinggal di rumah ini. Makanya Ibu bertanya apa kau ada memesan barang atau tidak karena Ibu sendiri tidak merasa memesan barang apapun!"
Glukkk
(Ya Tuhan, pertanda apa ini? Apa jangan-jangan orang yang mengirim hadiah itu berniat mencelakai Justin karena tahu dia sebentar lagi akan berulang tahun?)
"Ayah, cepat singkirkan kardus itu dari Justin. Sekarang!" teriak Renata panik melihat Justin diam-diam telah melepas pita yang merekat di kardus.
"Ada apa, Renata?" tanya Max kebingungan. Sigap dia menarik tangan Justin kemudian membawanya menjauh. "Ada apa? Kenapa kau berteriak?"
"Pengirim hadiah itu tidak jelas. Dia bilang hadiah itu dipesan oleh orang yang tinggal di rumah ini. Aku tidak merasa memesan, begitu juga dengan Ibu. Atau jangan-jangan Ayah yang memesan?"
"Ayah memang memesan hadiah untuk Justin, tapi itu baru akan diantar di hari ulang tahunnya nanti. Jadi hadiah ini bukan punya Ayah!"
"Kalau begitu kalian menjauhlah. Aku takut ada benda berbahaya di dalamnya!"
Suasana mendadak jadi tegang begitu mereka tahu kalau hadiah tersebut dikirim oleh orang misterius. Khawatir terjadi hal buruk, Nandira memutuskan untuk menghubungi Bern. Ini dia lakukan karena tak ingin di anggap lalai dalam menjaga keselamatan penerus keluarga Ma.
["Halo, Bibi. Ada apa? Justin dan Renata baik-baik saja, kan?"]
"Bern, bisakah kau datang kemari? Seseorang tiba-tiba mengirim hadiah untuk Justin. Akan tetapi pengirimnya tidak jelas. Kami khawatir itu berbahaya!" ucap Nandira langsung memberitahu Bern tentang apa yang terjadi.
["Kalian tetap diam di tempat. Berlindunglah ke tempat yang aman. Aku akan segera sampai di sana. Oke?"]
"Baiklah."
Klik. Bern langsung mematikan panggilan setelah mengingatkan semua orang agar menjauh. Setelah itu Nandira segera mengajak semua orang yang berada di dalam rumah untuk keluar. Satu yang dia takutkan. Bom.
"Kakek, kenapa kita keluar. Justin kan mau membuka hadiah pemberian kakak cantik itu. Bagaimana sih!" protes Justin kesal karena tak jadi membuka kado. Padahal dia sudah bersemangat sekali tadi.
"Nak, tunggu Ayah datang saja ya kita baru membuka kadonya. Tadi Justin dengar sendiri kan kalau Nenek sudah menelpon Ayah dan memintanya untuk segera pulang?" sahut Max mencoba membuat cucunya agar tak marah. Andai saja ada yang bisa melihat, saat ini jantungnya seperti berpindah tempat. Belum juga Renata resmi menjadi bagian keluarga Ma, tapi teror sudah datang menghampiri. Benar-benar mengerikan.
"Oh, jadi harus menunggu Ayah dulu ya, Kek?"
"Iya, sayang. Tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja tidak apa-apa, Kek. Ya sudah, kalau begitu Justin akan sabar."
"Anak baik. Sini-sini biar Kakek cium,"
Sambil memperhatikan Justin yang sedang dibujuk oleh kakeknya, pikiran Renata tak henti tertuju pada kardus yang ada di dalam rumah. Siapa? Siapa orang yang berniat mencelakai putranya? Justin masih kecil. Mustahil sudah punya musuh.
"Ren, apa mungkin orang yang mengirim barang itu adalah pria yang kemarin mengacau di tokomu?" tanya Nandira menerka-nerka. Sampai sekarang tangannya masih gemetar karena panik dan takut. "Bisa sajakan dia mendendam lalu mencari tahu tentang rumah ini. Secara, kita bukan keluarga Ma yang setiap langkah mereka selalu di jaga oleh banyak pengawal. Benar tidak?"
"Entahlah, Bu. Aku tidak tahu. Kita tunggu Bern saja. Aku menyerah berurusan dengan hal-hal seperti ini," sahut Renata memilih pasrah.
"Haih, kenapa ada-ada saja sih masalah yang muncul. Kasihan Justin. Dia pasti ketakutan jika benar kardus itu bertujuan untuk memberikan teror!"
"Semoga saja bukan!"
Walaupun tengah mengajak Justin bermain, telinga Max tak pernah lepas dari mendengarkan percakapan antara anak dan istrinya. Sejauh yang Max tebak, dia kurang yakin kalau pria yang waktu itu datang mengganggu putrinya menjadi dalang dibalik kejadian hari ini. Malah Max lebih meyakini kalau pria itu telah lama mati di tangan keluarga ataupun anak buah keluarga Ma.
(Apa memang akan sebesar ini resiko berbesan dengan keluarga taipan? Jika benar, tolong selalu lindungi anak beserta cucuku, Tuhan. Tolong jauhkan mereka dari segala macam marabahaya.)
***