
Mata Renata benar-benar tak bisa terpejam meski dia sudah berbaring sejak tiga jam yang lalu. Setelah Justin berhasil tenang di tangan Bern, pria itu mengajaknya untuk segera istirahat di kamar. Dan kini Renata dan Justin tengah berada di atas ranjang milik Bern, sedang pemiliknya memilih untuk tidur di sofa. Sebenarnya tadi Renata sempat menawarkan untuk bertukar tempat karena tak tega melihat Bern yang sedang sakit, tapi pria itu menolak dengan alasan yang sedikit aneh. Bern bilang sudah seharusnya seorang laki-laki mengalah demi wanitanya. Simpel memang, tapi jawaban itu sukses membuat Renata tak bisa tidur. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Aku ini kenapa sebenarnya. Kenapa aku selalu merasa kalau kata-kata yang Bern ucapkan tidaklah asing di telingaku. Apa yang terjadi?
Bern yang juga tidak bisa tidur memberanikan diri turun dari sofa kemudian berjalan menuju ranjang. Karena lampu kamar yang sengaja dimatikan, dia tidak tahu kalau Renata masih terjaga. Jujur, sejak Justin memanggilnya dengan sebutan ayah perasaan Bern menjadi tidak karu-karuan. Pikirannya tak bisa berhenti menghitung hari sejak di mana dia menghabiskan malam dengan Amora, juga dengan usia Justin yang baru akan genap tiga tahun sebulan lagi. Salahkah jika Bern mengira kalau Justin adalah putra kandungnya? Sedangkan Renata, dia adalah Amora yang entah bagaimana caranya bisa berganti nama menjadi orang lain. Mungkinkah sesuatu telah terjadi saat kecelakaan itu merenggut kebahagiaan mereka? Entahlah, Bern bingung.
"Kau tidak bisa tidur?"
Hampir saja Bern mengumpat kasar saat Renata tiba-tiba bicara. Sadar kalau sikapnya sudah sangat kurang ajar, Bern berniat meminta maaf pada wanita ini. Akan tetapi niatnya terhenti saat Renata membuat gerakan agar dirinya diam.
"Telinga Justin sangat sensitif, Bern. Kalau mau bicara sebaiknya kita keluar saja. Aku takut dia bangun kemudian menangis lagi seperti tadi siang," ucap Renata setengah berbisik. Dia lalu bangun perlahan, mencoba membuat gerakan seringan mungkin agar tidak mengganggu istirahat putranya.
"Baiklah,"
Masih dengan membawa tiang infus, Bern melangkah keluar dari dalam kamar. Dia lalu menunggu Renata dengan sabar sambil sesekali menghela nafas panjang.
"Kenapa kau belum tidur? Tidak nyaman di sofa atau karena kau butuh sesuatu?" tanya Renata sembari menutup pintu kamar. Ekor matanya menatap Bern dengan seksama. Pria ini sepertinya sedang gugup.
"Bukan keduanya, Ren," jawab Bern jujur. "Tapi ada hal lain yang membuatku tidak bisa tidur."
"Apa itu?"
"Seseorang yang mirip denganmu. Amora Shin."
Deg
Amora Shin? Apa sebelumnya aku pernah mendengar nama ini? Kenapa tidak asing ya?
"Maaf jika hal ini membuatmu merasa tidak nyaman, tapi aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya padamu. Tolong kau jangan marah ya?" ucap Bern dengan penuh harap. Dia sudah tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Silahkan saja. Aku juga sedikit penasaran dengan kisah cintamu bersama wanita yang bernama Amora Shin ini," sahut Renata sambil tersenyum tipis.
Sebelum lanjut bicara, Bern mengajak Renata untuk duduk. Kepalanya sedikit pusing karena kondisinya yang memang belum pulih sepenuhnya.
"Renata, apa sebelumnya kau pernah mengalami kecelakaan?" tanya Bern mulai mencari tahu.
"Ya, aku pernah mengalaminya." Renata menjawab jujur. "Tiga tahun lalu saat aku baru pindah kemari, mobil yang menjemputku mengalami masalah di bagian rem. Lalu kami jatuh ke sungai. Untungnya aku berhasil selamat karena tanganku tak sengaja tersangkut akar pohon."
Hening. Bern terdiam seperti orang bodoh. Namun karena tak ingin membuat Renata merasa tak nyaman, secepat mungkin Bern memasang raut normal seperti biasa. Dia lalu lanjut bertanya.
"Kejadian yang kau alami sama persis dengan yang terjadi pada kekasihku. Saat itu adik dan kekasihku berada di mobil yang sama saat kecelakaan terjadi. Karena adikku memakai seatbelt, dia bisa dengan mudah diselamatkan. Sedangkan kekasihku, lewat beberapa hari jasadnya baru ditemukan. Dia meninggal dalam kecelakaan itu!"
"Ren, apa kau mempunyai saudara kembar?"
"Tidak. Aku adalah anak tunggal di keluargaku. Karena suatu kecelakaan, dokter memfonis Ibu tidak bisa mengandung lagi setelah melahirkan aku," jawab Renata lirih. Dia lalu memberanikan diri untuk menggengam tangan Bern yang tidak terpasang infus. "Bern, aku turut berduka cita atas apa yang menimpa kekasihmu. Sekarang aku mengerti mengapa waktu itu kau langsung menganggap kalau aku adalah Amora. Entah semirip apa wajah kami sampai kau bisa menganggapku seperti itu, tapi yang jelas aku tidak mempunyai kembaran. Mungkin kami hanya tak sengaja mirip saja. Kebetulan seperti ini bisa terjadi, bukan?"
"Aku sebenarnya tidak suka ada orang yang menganggap kalau Amora sudah meninggal. Jauh di dalam lubuk hatiku, Amora masihlah hidup. Dia tidak meninggal, hanya terdampar di tempat yang jauh. Tolong kau jangan bicara seperti itu lagi ya, Ren. Aku tidak bisa menerima,"
Iba, Renata tiba-tiba saja memeluk Bern. Dia lalu mengusapnya punggungnya pelan, mencoba untuk merasakan bagaimana perasaan pria ini begitu dalam sehingga menolak kematian Amora. Sungguh cinta yang begitu manis. Andai Renata bisa dicintai dengan begitu dalam, dia pasti akan menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini.
Pelukan ini, bagaimana bisa rasanya sama seperti saat Amora memelukmu? Renata, siapa kau sebenarnya? Wajahmu, suaramu, bahkan pelukanmu membuat hatiku menjadi goyah. Tolong jangan perlakukan aku seperti ini. Aku tidak mau membuat Amora sedih dengan berpikir kalau aku telah menduakan hati. Aku tidak mau seperti itu.
"Bern, ada kalanya kita tak bisa menerima takdir yang Tuhan berikan. Akan tetapi jika kau terlalu erat menggenggam bayang-bayang Amora, jalannya menuju surga akan menjadi gelap. Ikhlaskan saja. Biarkan Amora tenang di tempatnya. Maaf, aku bukan bermaksud ikut campur dalam masalah ini. Akan tetapi aku hanya ingin mengingatkan saja kalau hidup masih akan terus berlanjut meski Amora sudah tidak ada di sisimu lagi. Mengikhlaskan bukan berarti melupakan. Kau masih bisa menjaga cintamu dengan baik. Kau mengerti apa maksudku, bukan?" ucap Renata dengan sabar menasehati Bern. Dia kasihan jika pria ini terus terbelenggu oleh rasa ketidakrelaan terhadap kematian kekasihnya.
"Apa kau bersedia menjadi penggantinya?"
"Hah?"
Renata tersentak kaget mendengar pertanyaan Bern. Dia tak menyangka kalau pria ini akan nekad bertanya seperti itu.
"Sangat sulit untuk di jawab, bukan? Sama sepertiku yang sulit untuk melepaskan Amora." Bern menghela nafas. Dia tersenyum, getir. "Wajahmu memang sangat mirip dengannya, dan aku sempat berharap kalau kau adalah dia. Tapi setelah kau memberitahuku kalau kau tidak mempunyai saudara kembar, aku langsung sadar kalau kalian adalah orang yang berbeda. Kau bukan Amora-ku!"
"Jika aku bersedia untuk menggantikannya, apa yang akan kau lakukan?"
Kali ini giliran Bern yang tersentak kaget mendengar perkataan Renata. Segera dia mengurai pelukan wanita ini lalu menatapnya lekat.
"Aku tidak tahu ini keputusan yang tepat atau bukan. Tapi melihat Justin yang begitu lengket padamu, aku jadi terpikir untuk menikah denganmu. Dan aku sungguh-sungguh dengan perkataan ini. Aku tidak sedang bercanda," ucap Renata tanpa ragu menawarkan pernikahan pada Bern. Biarlah dia di anggap sebagai wanita tak tahu malu, Renata tak peduli. Selagi hal itu bisa membuat kondisi mental putranya membaik, Renata rela melakukan apa saja.
Untuk beberapa saat pikiran Bern sempat hilang kontrol. Dia kaget sekali saat Renata menawarkan untuk menikah dengannya.
"Jangan di jawab sekarang, Bern. Ini hanya inginku saja, kau jangan merasa terbebani. Aku terlalu kalut memikirkan Justin. Tolong kau bisa memahamiku ya?"
"Ren, kita sama-sama sudah dewasa. Aku tentu saja sangat bisa memahami keadaanmu. Mungkin jika aku yang berada di posisimu, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan barusan. Jadi jangan merasa berkecil hati ya. Jika kau membutuhkan aku untuk menenangkan Justin, kau bisa menghubungiku kapan saja. Oke?" sahut Bern maklum.
"Terima kasih sudah memahami keadaanku, Bern. Kau baik sekali,"
"Sama-sama, Ren. Jangan sungkan."
Setelah itu Bern dan Renata masih lanjut berbincang. Mereka saling bertukar cerita, hingga tak sadar terlelap sambil saling bergandengan tangan. Sementara itu Justin yang sedang tertidur di dalam kamar nampak menyunggingkan senyum kecil. Wajahnya terlihat damai, seolah dia sedang memimpikan sesuatu hal yang manis. Mungkin.
***