Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 103


"Halo Nenek Zhu, halo Kakek Greg. Justin datang lagi bersama Ayah. Kalian apa kabar?" sapa Justin sembari menatap batu nisan yang ada di hadapannya. Dia kini tengah berada di kediaman Nenek Zhu bersama sang ayah.


Hembusan angin semilir seolah menjawab sapaan Justin. Bern yang merasakan hal tersebut nampak menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Seperti biasa, kakek dan nenek buyutnya Justin menyambut dengan penuh kehangatan kedatangan mereka berdua.


"Nenek, Justin ingin bertanya sesuatu. Mengapa bibi itu galak sekali pada paman singa? Padahal paman singa begitu manis, tapi bibi itu mudah sekali marah. Apa yang harus Justin lakukan ya?"


"Bibi dan paman singa itu lagi?" ucap Bern seraya mengusap puncak kepala Justin. Sungguh sangat mengherankan sekali. Bern jadi semakin penasaran pada wanita yang dimaksud oleh putranya ini.


"Iya, Ayah. Nanti bibi itu juga akan datang kemari bersama Paman Karl. Setelah itu Nenek Zhu dan temannya akan pergi dari sini," sahut Justin menjawab dengan penuh keseriusan.


"Apa Justin bilang? Nenek Zhu akan pergi dari sini? Pergi ke mana?"


"Nenek Zhu bilang tugasnya sudah selesai kalau Paman Karl dan bibi itu sudah datang kemari. Jadi dia harus segera kembali ke rumahnya di atas langit sana. Begitu,"


Rasanya jantung Bern seperti dir*mas saat mendengar perkataan Justin. Ada semacam rasa kehilangan yang begitu besar setelah mengetahui kalau kakek dan neneknya akan benar-benar pergi dari dunia ini. Meski kenyataannya mereka memang sudah berbeda dunia, tapi semenjak pertemuannya dengan Justin dan Renata, Bern seolah masih bisa merasakan kehadiran pasangan legendaris itu. Dan sekarang hatinya terasa sedih sekali. Sungguh.


"Ayah jangan sedih. Kakek Greg bilang kita harus bisa hidup bahagia tanpa mereka. Sudah cukup sedih-sedihnya, tinggal menikmati kebersamaan yang ada. Jangan sedih ya?" ucap Justin lancar menirukan perkataan sang kakek. Dia bicara sembari mengusap tangan ayahnya dengan gerakan yang sangat lembut. Setelah itu Justin tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah lain. "Hai, Nenek Zu. Nenek sudah pulang ya?"


Andai saja bisa, ingin rasanya Bern bicara dengan sosok yang dilihat oleh Justin. Dia ingin bertanya mengapa harus ada kesedihan di keluarga mereka. Terlepas dari apa yang pernah terjadi, tak sedikit pun Bern membenci neneknya. Ia sadar betul kalau apa yang terjadi sudah terukir di dalam suratan takdir.


(Nenek, berdosakah aku jika meminta Kakek dan Nenek untuk tetap berada di tempat ini? Aku menyayangi kalian. Dan maaf, aku tak hadir di saat-saat terakhir kalian hidup di dunia ini. Cucumu ini begitu lemah. Lemah akan perasaan cinta dan juga luka yang menganga. Aku harus bagaimana sekarang?)


Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Bern tepat setelah dia mengutarakan isi hati pada sang nenek. Sayang sekali Bern tak bisa melihat sosok dari dunia lain. Andai dia memiliki kemampuan seperti Justin, dia pasti akan langsung memeluk sesosok cantik yang tengah mengusap pipinya penuh sayang.


"Hiksss Ayah, kenapa Ayah membuat Nenek Zhu menangis? Justin kan jadi sedih," ucap Justin sambil terisak.


"Hei, Nak. Kenapa kau menangis?" kaget Bern. Cepat-cepat dia berjongkok kemudian menyeka air mata yang membanjir di wajah Justin. "Ada apa, hm?"


"Nenek Zhu menangis, Ayah. Justin jadi ikut sedih."


"Kenapa Nenek Zhu menangis?"


"Katanya Nenek Zhu merasa sangat berdosa telah membuat hidup Ayah sengsara. Nenek juga terus meminta maaf pada Ayah. Kasihan dia. Hiksss," ucap Justin sembari menatap udara kosong di belakang sang ayah. Secara nyata, itu hanyalah pemandangan kosong. Akan tetapi di mata Justin, di belakang sang ayah kini berdiri sosok Nenek Zhu yang tengah menangis tersedu-sedu sambil terus menggumamkan kata maaf. Entah karena apa, Justin kurang paham. Yang jelas dia ikut merasakan kesedihan yang tengah dirasa oleh ketiga orang dewasa ini.


Dada Bern sesak seketika mendengar ucapan Justin. Sedalam itukah rasa bersalah di hati neneknya? Kasihan. Sudah meninggal pun neneknya masih dibayang-bayangi oleh rasa bersalah akibat karma turunan yang dibawa oleh mendiang Jendral Liang Zhu. Sungguh takdir yang sangat menyayat hati.


"Membantu apa, Ayah?"


"Tolong bantu Ayah memberitahu Nenek Zhu agar jangan bersedih dan menangis. Sekarang Ayah sudah tidak sengsara lagi. Ayah sudah bahagia bersama Justin dan Ibu Renata. Katakan itu pada Nenek ya,"


Justin mengangguk. Sambil menyedot ingus yang mengalir keluar, Justin menyampaikan pesan ayahnya kepada Nenek Zhu. Saat mereka saling bicara, angin dingin tak henti berembus. Dan lagi-lagi Bern hanya bisa memendam kesedihan karena tak bisa bertatap langsung dengan mendiang sang nenek.


"Sudah, Ayah. Kakek Greg juga berpesan pada Ayah agar jangan bersedih terus. Sudah tiba saatnya untuk Ayah bahagia bersama wanita yang Ayah sayang. Benar begitu kan, Kek?" Justin tersenyum lebar sembari menampilkan ekspresi malu-malu. Lucu sekali.


"Kakek, Nenek. Aku rindu kalian," ujar Bern lirih. Sekuat apapun dia menahan, air mata akhirnya menetes juga. Bern lalu memeluk Justin seerat mungkin untuk menyembunyikan wajahnya yang penuh kesedihan. Rasa bersalah, rasa rindu, kedua hal ini bagai mengoyak hati. Tak bisa dipungkiri tanpa adanya karma ini, mungkin selamanya Bern tak akan pernah bertemu dengan Amora, juga memiliki putra semenggemaskan Justin. Itulah mengapa dia bisa sesedih ini saat Justin mengatakan kalau pasangan legendaris itu akan meninggalkan dunia ini begitu semuanya terselesaikan.


"Bern," ....


Sayup-sayup Bern seperti mendengar suara sang nenek tengah memanggilnya. Hal itu menyebabkan tangisnya semakin pecah. Bern menangis tersedu-sedu, terbayang kebersamaan ketika kakek dan neneknya masih hidup dulu.


"Koni, Gora. Kenapa semua orang jadi menangis ya?" tanya Justin seraya menatap ke arah samping. Kembali lagi hanya dia seorang yang mampu melihat keberadaan dua ekor harimau loreng kesayangan sang nenek buyut.


Entah jawaban apa yang disampaikan oleh Koni dan Gora, yang jelas itu membuat Justin mengusap kepala ayahnya penuh sayang. Bocah kecil ini seperti ingin menyampaikan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Oh, Kakek dan Nenek mau pergi ke mana?"


Bern cepat-cepat mendongak. Sedetik setelah itu raut wajahnya langsung terlihat lesu karena yang dia lihat hanyalah udara kosong. Sedih.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang Justin dan Ayah pulang dulu ya. Kapan-kapan kami baru datang kemari lagi. Oke? Daaahhh,"


"Mereka pergi ke mana, sayang?" tanya Bern penasaran.


"Kakek Greg dan Nenek Zhu masuk ke rumah mereka, Ayah. Mereka berpesan agar Justin mengajak Ayah pulang dan istirahat di rumah. Katanya Ibu dan Bibi Flow sedang gelisah. Jadi kita harus menemani mereka," jawab Justin lancar menyampaikan pesan dari kakek dan nenek buyutnya.


Deg


Baru sekarang Bern teringat akan kegelisahannya soal Renata. Tak mau membuang waktu, segera dia mengelap air mata di wajah kemudian menggendong Justin dan membawanya pergi dari sana. Bern ingin segera pulang ke rumah untuk memastikan kalau adik dan calon istrinya baik-baik saja. Dia khawatir.


***