
“Apa yang orangtuamu katakan tadi?” tanya Bern sambil menatap Renata yang baru selesai membereskan dapur. Di sampingnya ada Justin yang sedang asik memainkan rubik.
“Ayah dan Ibu menanyakan tentang kabar keberadaanku dan Justin. Mereka juga menanyakan tentangmu,” jawab Renata sembari tersenyum kecil. Dia kemudian menatap Justin sejenak, menghela nafas panjang karena bocah itu begitu fokus pada mainannya. “Mereka bilang sangat merindukan Justin, Bern. Sehari tidak bertemu membuat mereka merasa sangat kesepian.”
Sengaja Renata tak memberitahu semua percakapan dengan orangtuanya kepada Bern. Bukan apa, dia takut mood pria ini akan berubah jika diberitahu kalau ayah dan ibunya ingin mengetahui tentangnya. Bisa gawat jika Bern sampai mengurungnya di apartemen ini seperti tadi pagi. Renata tidak mau seperti itu.
“Kau bilang apa saat mereka bertanya tentangku?"
“A-apa?”
“Tidak apa-apa, Ren. Katakan saja. Aku tahu Ayah dan Ibumu pasti menanyakan tentang siapa aku. Iya, kan?”
“Darimana kau tahu?”
“Kau tidak pandai berbohong di hadapanku. Sama seperti Amora yang akan langsung menceritakan semuanya padaku begitu aku bertanya,” ucap Bern.
“Apa sebegitu jelasnya?”
“Sangat.”
“Ya ampun,”
Rasanya malu sekali karena ketahuan berbohong. Mau bagaimana lagi. Karena sudah terlanjur ketahuan mau tidak mau sekarang Renata harus memberitahu Bern tentang percakapan dengan kedua orangtuanya tadi.
“Mereka ingin aku menjelaskan tentang siapa dirimu,” ucap Renata sedikit sungkan.
“Lalu kau jawab apa?”
“Aku bilang tunggu setelah aku pulang ke rumah saja baru memberitahu mereka.”
“Kenapa tidak mengatakannya langsung?”
“Aku tidak enak padamu, Bern. Mereka bisa salah paham padaku jika hanya kujelaskan lewat telepon.”
Bern menghela nafas. Tidak salah juga sih jika Renata menjawab demikian. Selain dia dan para sepupunya, orang luar belum ada yang tahu kalau Justin adalah putra kandungnya. Hal ini pasti menyulitkan Renata mengingat kalau Justin memanggilnya dengan sebutan ayah.
“Kau tidak marah padaku, kan?” tanya Renata hati-hati sekali. Dia takut ucapannya menyinggung perasaan pria ini.
“Kenapa aku harus marah padamu. Aku sangat maklum kalau kau merasa sungkan menceritakan tentang aku pada kedua orangtuamu. Jadi jangan khawatir. Oke?” jawan Bern sambil tersenyum tipis. Tangannya kemudian bergerak mengusap kepala Justin yang mana langsung membuat anak ini mendongak menatapnya.
“Ada apa, Ayah? Di kepala Justin ada kutunya ya?” polos Justin bertanya. Matanya mengerjap-ngerjap bagaikan boneka.
“Tidak, tidak ada kutu di kepala Justin. Ayah hanya ingin mengusap kepalamu saja. Tidak boleh ya?” sahut Bern merasa tergelitik mendengar Justin yang mengira ada kutu di kepalanya. Menggemaskan sekali.
“Bu guru bilang tidak boleh membiarkan sembarangan orang memegang kepala,”
“Owh, benarkah?”
“Benar, Ayah. Iyakan, Bu?”
Renata mengangguk. Lucu menyaksikan interaksi di antara kedua pria beda usia ini.
“Tapi kalau Ayah yang menyentuh kepala Justin tidak apa-apa ya. Kan Ayah bukan orang jahat,” ucap Renata memberitahu putranya kalau Bern bukanlah orang sembarangan.
“Ayah Justin orang yang sangat baik, Ibu. Nanti-nanti Ayah akan mengajak Justin pergi ke rumah yang bagus sekali. Di sana ada kolamnya,”
Kedua alis Bern saling bertaut mendengar celotehan Justin yang tengah menceritakan tentang sebuah rumah besar yang di dalamnya ada kolam berisi kue bergigi. Agak aneh, juga membuat Bern merasa sedikit familiar dengan tempat yang di maksud oleh putranya.
Apa mungkin rumah yang sedang di ceritakan oleh Justin adalah rumah milik Nenek Liona? Jika itu benar, darimana Justin tahu kalau di sana ada kolam penangkaran buaya? Kue bergigi yang dia maksud adalah segerombolan buaya-buaya itukan? Tapi bagaimana caranya Justin tahu rumah mendiang buyutnya di saat dia sendiri belum pernah ke sana? Ada yang tidak beres di sini.
“Jangan terlalu mendengarkan celotehan Justin, Bern. Sejak bertemu denganmu dia sering sekali berkata sesuatu yang tidak masuk akal. Seperti sekarang contohnya,” ucap Renata saat mendapati Bern yang terlihat fokus mendengarkan celotehan aneh putranya.
“Bisakah kau menceritakan seperti apa keanehan yang Justin ucapkan, Ren?” tanya Bern ingin tahu. Dia lalu menatap seksama ke arah Renata. “Kadang-kadang ucapan anak kecil seperti Justin adalah sebuah kebenaran. Jadi kita perlu untuk memahaminya. Bisa sajakan yang di katakan Justin adalah sesuatu yang sifatnya rahasia? Kalau orang lain sampai mendengarnya itu bisa sangat berbahaya."
“Maksudmu apa? Aku tidak paham,”
“Tidak ada maksud apa-apa. Sekarang kau beritahu saja hal tidak masuk akal apa yang pernah di ucapkan oleh Justin. Aku penasaran sekali. Bisa?”
Dengan mimik wajah antara bingung dan juga cemas, Renata akhirnya menceritakan pada Bern tentang Justin yang sering berceloteh aneh dengan menyebut kalau dirinya mempunyai banyak paman yang tampan. Termasuk juga dengan mobil mewah dan rumah megah yang tak luput dari celotehan putranya.
“Aneh, kan? Aku adalah satu-satunya keturunan yang masih tersisa di keluarga Goh, dan aku tahu jelas kalau Justin tidak mempunyai paman seperti yang selalu di sebutkan olehnya. Menurutmu bagaimana, Bern? Normalkah?”
“Normal-normal saja sih. Namanya juga anak-anak.”
“Kenapa jawabanmu terdengar ragu-ragu, Bern. Kau … tidak sedang menutupi sesuatu dariku, kan?” tanya Renata merasa curiga akan reaksi Bern. Raut wajah pria ini terlihat seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu, dan Renata yakin itu pasti berhubungan dengan celotehan Justin.
“Aku hanya merasa heran saja, Ren. Selama ini memangnya film apa yang sering di tonton oleh Justin sampai dia bisa mengeluarkan celotehan seperti itu?” sahut Bern sengaja melempar pertanyaan balik. Dia tak mungkin memberitahu Renata tentang kelebihan yang dimiliki oleh anggota keluarganya. Terlalu mustahil, tapi nyata terjadi.
“Justin tidak ku izinkan menonton film yang bukan di peruntukkan bagi anak seusianya. Dan aku rasa semua celotehan yang dia katakan bukan berdasar pada film yang pernah di tontonnya.”
“Jadi darimana?”
“Dunia anak-anak itu sangat luas, Bern. Apalagi Justin belum genap berusia tiga tahun. Entah hanya mitos atau memang benar adanya, tapi aku pernah membaca kalau di usia seperti Justin ada kalanya mereka mempunyai teman khayalan yang hanya bisa dilihat olehnya saja. Dan besar kemungkinan dari sanalah asal semua celotehan anak itu!”
“Teman khayalan?”
Renata mengangguk. Dia kemudian berjongkok, mengelus lembut pipi putranya yang sedikit memerah.
“Justin, Ibu boleh bertanya sesuatu tidak?”
“Boleh, Ibu.” Justin mengangguk-anggukkan kepala sambil terus memainkan rubik.
“Saat kau bilang kalau Ayah punya rumah yang bagus, apakah ada seseorang yang memberitahumu? Juga saat kau bilang kalau Ayah itu sangat tampan. Apakah ada paman yang menceritakan padamu soal Ayah?” tanya Renata dengan lembut. Sengaja dia menanyakan hal ini untuk memperlihatkan pada Bern tentang keanehan yang terjadi pada putranya.
“Justin melihatnya saat tidur, Ibu,” jawab Justin sembari memasang tatapan polosnya. “Nenek bilang kalau Ayah itu tampan sekali. Ayah juga punya rumah dan mobil yang sangat bagus.”
“Nenek?”
Bern dan Renata sama-sama membeo setelah mendengar penuturan Justin tentang seorang nenek yang dilihatnya saat tidur. Aneh, ini benar-benar sangat aneh. Bern lalu terpikir mungkinkah nenek yang di maksud oleh Justin adalah arwah nenek Liona?
Nek, jika benar itu dirimu, tolong jangan bawa-bawa putraku dalam permasalahan di keluarga kita. Justin tidak tahu apa-apa. Biarkan dia hidup normal seperti anak-anak lainnya. Aku mohon ….
“Iya, Ibu. Nenek membawa pedang yang bagus sekali. Lalu Nenek meminta Justin untuk mengangkat pedang itu. Tapi berat. Tangan Justin sampai sakit,”
Setelah berkata seperti itu Justin tiba-tiba menyingsingkan lengan bajunya ke atas. Dan apa yang terlihat di sana membuat bola mata Bern dan Renata membelalak lebar.
“A-apa-apaan ini. Darimana luka lebam itu berasal!” teriak Bern panik melihat lengan putranya terdapat lebam membiru yang cukup besar. Segera dia berjongkok kemudian menatap seksama pada luka tersebut. “Astaga, Nak. Kapan kau mendapatkan luka ini, hm? Bukankah sejak semalam kau dan Ibu tidak pergi kemana-mana?”
“Tanganku sakit karena tidak kuat mengangkat pedang milik Nenek, Ayah,” jawab Justin mengadukan darimana luka itu berasal. “Dan Nenek bilang besok aku akan menjadi anak yang kuat.”
“Sayang, nenek siapa yang sedang kau ceritakan, hm? Apa itu Nenek Nandira?” tanya Renata tak kalah khawatir seperti Bern. Dias yok sekali melihat lebam di lengan Justin hingga membuat kakinya lemas dan gemetaran.
Seingatku pagi tadi tidak ada luka apapun di sana, tapi kenapa sekarang lebam itu bisa muncul? Apa yang terjadi?
“Itu bukan Nenek Nandira, Ibu,” jawab Justin sedikit kesal karena terus di tanyai. Bibirnya tampak mengerucut.
“Kalau bukan Nenek Nandira lalu siapa?”
“Namanya Nenek Zhu,”
“Zhu?”
Renata segera menatap Bern, mencoba mencari jawaban apakah pria ini mengenal nenek tersebut atau tidak.
“Renata, nanti kau pulang sendiri saja ya. Aku ingin membawa Justin pergi bermain sebentar,” ucap Bern mendadak jadi gelisah begitu mengetahui nama dari nenek yang di maksud oleh Justin.
Ada yang tidak benar di sini. Tiga tahun lalu sebelum Bern pergi ke luar negeri, neneknya pernah menceritakan tentang rahasia besar yang selama ini hanya di ketahui oleh beberapa orang di keluarganya. Liang Zhu, itu adalah nama sang nenek sebelum berpindah ke tubuh wanita bernama Liona Serra Zhu. Marga kedua orang ini sama, yang artinya Justin telah di datangi oleh nenek buyut dan leluhurnya.
Apa mungkin arwah Nenek mendatangi Justin karena aku belum mengenalkannya secara resmi pada semua keluarga? Tapi haruskah aku melakukannya?
“Semua baik-baik sajakan, Bern?” tanya Renata ikut merasa gelisah saat Bern tiba-tiba ingin mengajak Justin pergi bermain. Padahal rencananya setelah ini mereka akan di antar pulang.
“Iya, jangan khawatir. Aku janji tidak akan membawanya pulang larut. Kau tidak keberatankan kalau aku membawa Justin sebentar?”
“Tentu saja tidak. Yang penting kau bisa menjaganya dengan baik.”
“Jangan khawatirkan masalah itu. Justin adalah putraku, jadi aku akan menjaganya dengan sangat baik melebihi nyawaku sendiri.”
“Ya sudah kalau begitu kalian bersiaplah,”
Bern mengangguk. Dia lalu mengajak Justin untuk bersiap. Rencananya Bern ingin pergi berziarah ke makam kakek dan neneknya, sekalian mengenalkan Justin pada mereka.
Kenapa aku merasa aneh dengan sikapnya Bern ya? Apa mungkin dia mengenal Nenek Zhu?
***