
“Bern, sudah. Aku harus segera menyiapkan sarapan. Tolonglah. Ya?” bujuk Amora yang sudah ketir-ketir menerima serangan ciuman fajar dari Bern. Meski hatinya berteriak agar terus berada di posisi ini, tapi akal Amora masih bisa berjalan sehat dengan tidak membiarkan perasaannya terus berkembang.
“Hmmmm, apa sarapan jauh lebih penting jika di bandingkan denganku?” tanya Bern memprotes sikap Amora yang tak henti membujuk. Dengan berat hati Bern akhirnya berhenti melakukan gerakan push-up kemudian berbaring di sebelah Amora. Dan ketika Amora hendak bangun, Bern dengan sengaja menahannya dengan cara menarik tangan Amora agar memeluknya. Dia lalu tertawa saat tak sengaja mendengar gerutuan gadis ini. “Hei, apa yang salah jika pasangan saling memeluk?”
“Pasangan?” beo Amora. “Kapan kita menjadi pasangan, Bern? Jangan mengada-ada. Nanti orang bisa salah menanggapi perkataanmu lho.”
“Kita sudah resmi menjadi pasangan sejak kita menghabiskan malam bersama. Dan jikapun ada orang yang mendengar perkataanku barusan, aku malah akan langsung memberitahunya kalau kau adalah gadis yang sangat jahat karena telah menggantung perasaanku. Mudah ‘kan?” sahut Bern dengan santainya. Dia lalu sedikit menarik tangan Amora agar semakin melingkar di perutnya. “Amora, apapun tujuanmu datang ke rumah ini aku sama sekali tidak peduli. Yang aku tahu sekarang aku menyukaimu dan aku ingin kita menjadi pasangan kekasih. Aku tahu ini terlalu awal untuk aku menyatakan perasaan, tapi rasa sayangku padamu benar-benar tulus dari dasar hati. Tidak apa-apa jika di hatimu belum tumbuh rasa untukku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Namun, bisakah kau jangan membangun jarak dariku? Aku sedih, Amora. Aku tidak mau patah hati di pertama kaliku jatuh cinta pada seorang gadis. Kau wanita pertama yang pernah kusentuh, dan kupastikan kalau kau juga yang akan menjadi wanita terakhir di hidupku.”
***
Hosshh hosshh hosshh
Nafas Bern terengah-engah saat dia terbangun dari tidurnya. Mimpi itu datang lagi. Mimpi tentang kebersamaannya dengan Amora. Sembari menyeka keringat dengan punggung tangan, Bern diam merenungi apa arti dari mimpi tersebut. Mungkinkah ini adalah teguran karena pikirannya tak henti tertuju pada Renata?
"Sayang, kau kenapa tiba-tiba muncul dengan membawa kenangan tentang kita? Apa kau marah, hem?" tanya Bern lirih. "Kalau memang kau marah, aku minta maaf ya. Sampai hasil tes itu keluar aku akan berusaha untuk tidak memikirkan Renata dulu. Oke?"
Gila memang. Di dalam kamar yang sedikit remang Bern sibuk berbicara dengan dirinya sendiri. Untung di sana tidak ada orang lain, jadi Bern tidak harus di anggap seperti orang tidak waras. Tapi meski begitu, nampaknya Bern bukan tipe manusia yang peduli dengan apa kata orang lain. Buktinya di manapun dan kapanpun dia merindukan Amora, dia akan meluapkan kerinduannya dengan bicara lewat angin.
"Pasangan?" Bern membeo. "Kita lebih dari sekedar pasangan, sayang. Kau itu sudah menjadi separuh dari hidupku sejak aku memutuskan untuk bertanggung jawab kepadamu. Kau nafasku, dan kau adalah segalanya untukku. Kau lebih dari sekedar pasangan, sayang."
Setelah berkata seperti itu tangan Bern bergerak mengambil gelas. Dia lalu mendengus kasar karena ternyata gelas itu kosong. Sambil bermalas-malasan, Bern akhirnya turun dari ranjang kemudian keluar dari dalam kamar.
"Hmmm, sudah jam sembilan malam ternyata," gumam Bern. Dia melangkah lesu menuju dapur untuk mengambil air minum. Sembari menyender di pintu kulkas, Bern memenuhi gelasnya dengan air dingin. Setelah itu dia meneguknya sampai habis. "Ahhhh, segar."
Sunyi. Apartemen ini terasa sangat sunyi sekali. Andai Amora masih hidup, tempat ini pasti akan di penuhi dengan suaranya yang sibuk membujuknya untuk mandi, untuk makan, bahkan juga agar berhenti menggodanya. Membayangkan kenangan manis itu tanpa sadar membuat Bern tersenyum sendiri. Namun, secara perlahan senyum itu mulai memudar dan berganti menjadi isak tangis tertahan. Gelas di pegangan tangan Bern jatuh ke lantai, hingga pecahannya mengenai kaki dan berdarah.
Di saat yang bersamaan suara bel apartemen berbunyi. Membiarkan air mata tetap membasahi wajah, Bern melangkah membuka pintu. Dia sangat berharap seseorang yang datang ini bisa membantu mengobati perasaan rindunya yang terasa begitu mencekik.
"Bern, aku membawakan ... astaga. Bern, kau kenapa!"
Andreas yang kebetulan pulang cepat dari kantor memutuskan untuk singgah sebentar di apartemen milik Bern. Dan dalam perjalanan kemari dia sengaja membeli makanan kesukaan beruang kutub ini dengan harapan bisa membuatnya merasa jauh lebih tenang. Ya, Andreas diberitahu oleh Karl kalau Bern sedang gelisah setelah bertemu dengan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Amora. Jadi dia datang bermaksud untuk menghibur pria ini. Namun apa yang terlihat di hadapannya sekarang membuat Andreas syok setengah mati. Beruang kutub ini menangis, entah apa sebabnya.
"Bern, kau kenapa? Apa yang terjadi?" cecar Andreas tak menghiraukan lagi makanan yang tadi di belinya jatuh ke lantai. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Bern lalu memintanya agar menjelaskan masalah yang terjadi. "Tenang, jangan panik. Beritahu aku apa yang telah membuatmu jadi seperti ini. Kau tidak sendiri, Bern. Berbagilah denganku. Oke?"
"Yas, tolong aku. A-aku tidak bisa bernafas," lirih Bern mulai kesulitan bernafas. Rasa itu terlalu kuat mencekik, membuatnya seperti akan mati. "Amora ... aku sangat merindukannya, Yas. A-aku ....
"Hei hei, Bern. Sadar Bern, sadar!"
Segera Andreas memeluk Bern sambil terus mengelus punggungnya. Tak pernah sedikit pun Andreas bayangkan kalau Bern akan semenderita ini di tinggal oleh Amora. Untung sekarang dia ada di sini, lalu apa kabar saat Bern berada di luar negeri? Memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi membuat Andreas jadi ikut sesak nafas sendiri. Ya Tuhan.
Ibu, bagaimana mungkin ada seorang laki-laki yang dulunya begitu dingin pada wanita bisa sampai menderita sedalam ini? Kasihan Bern, Ibu. Dia terlihat sangat kesakitan. Akankah aku merasakan hal yang sama juga di suatu saat nanti?
"Kenapa Tuhan merenggut Amora dariku, Yas. Apa yang salah? Apa karena aku telah tidur dengannya tanpa menikahinya lebih dulu? Tapi aku sudah berjanji akan bertanggung jawab pada hidup Amora. Aku bahkan sudah melamarnya juga. Tapi kenapa Tuhan masih merenggutnya dariku? Apa salahku, Yas? Apa?" tanya Bern sambil menggeretakkan gigi. Sangat sulit baginya menerima kenyataan ini. Sungguh.
"Bern, lebih baik sekarang kita masuk dan bicarakan masalah ini di dalam saja. Oke?" bujuk Andreas tersadar kalau posisi mereka masih berada di depan pintu. Andreas khawatir ada yang menguping perkataan Bern lalu membocorkannya pada media. Secara, beruang kutub ini adalah cucu sulung di keluarga Ma. Jadi Andreas harus bisa memastikan privasi Bern tetap aman.
Bern hanya bisa patuh mengikuti saat Andreas membimbingnya masuk ke dalam apartemen. Dengan tubuh yang sudah sangat lemas, dia berbaring di sofa, tatapannya kosong. Inilah. Inilah penderitaan yang selama tiga tahun terakhir mendera hidup Bern. Terbangun di tengah malam kemudian menangis sendirian. Bahkan kadang-kadang Bern sampai jatuh tak sadarkan diri saking sakitnya dia kehilangan Amora. Menyedihkan sekali, bukan? Sangat.
***