Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 84


Max dan Nandira dengan sangat tergesa-gesa berjalan menuju salah satu kamar di sebuah apartemen. Raut wajah mereka terlihat sangat khawatir. Bahkan Nandira seperti sedang menahan tangis setelah dikabari kalau putrinya telah diserang oleh pria gila saat sedang berada di toko.


"Yang mana kamarnya, Max?" tanya Nandira tak sabar.


"Itu." Max menunjukkan sebuah kamar yang di depannya dijaga oleh dua orang pria berwajah datar. "Itu pasti kamarnya Bern."


"Ayo cepat masuk. Aku ingin segera melihat keadaan Renata."


"Baiklah,"


Sesampainya di depan kamar, Max berniat meminta izin pada penjaga agar diizinkan masuk. Namun belum juga kata-kata itu keluar dari mulutnya, salah satu penjaga sudah lebih dulu membukakan pintu dan minggir ke samping.


"Silahkan masuk Tuan Max, Nyonya Nandira."


"Hah? O-oh, baiklah. Terima kasih," sahut Max terbata. Segera dia menggandeng tangan Nandira kemudian membawanya masuk ke dalam apartemen.


Justin yang sedang asik bermain dengan Cio langsung memekik kesenangan melihat kakek dan neneknya datang. Dia menghambur ke arah mereka sembari menunjukkan mainan yang baru dibelinya bersama sang paman.


"Kakek, Nenek, lihat. Tadi Paman Karl dan Paman Oliver membelikan mainan untukku. Hebat, kan?"


"Belanja mainan lagi?" tanya Nandira gemas melihat tingkah sang cucu yang sedang pamer. "Memangnya Ibu tidak marah?"


"Emm tidak. Kan tadi Ibu pergi bersama Ayah dan Kak Lindri. Jadi Ibu tidak tahu kalau Justin membeli mainan ini," jawab Justin dengan polosnya menjawab. Teringat akan sesuatu, Justin segera memberitahu kakek dan neneknya tentang perbuatan salah satu pamannya. "Kakek dan Nenek tahu tidak. Tadi Paman Cio berbuat nakal."


"Nakal bagaimana?"


"Paman Cio bermain petasan sendiri. Padahal Nenek Zhu sudah berpesan pada Justin agar Paman melakukannya pelan-pelan. Tapi Justin lupa memberitahu padanya. Suaranya keras sekali, Nek!"


Glukkkk


Yang sedang dibicarakan oleh Justin seketika memasang ekpresi bodoh di wajahnya. Sedangkan Karl dan Oliver, mereka sama-sama menelan ludah mendengarnya. Mereka bereaksi seperti itu bukan karena takut ketahuan kalau Cio telah membunuh orang, tapi mereka syok mendengar ucapan Justin yang diam-diam bisa berbicara dengan mendiang Nenek Liona Serra Zhu.


Namun, pemikiran tentang Nenek Liona hanya muncul di kepala Cio dan Oliver saja. Tidak dengan yang dipikirkan oleh Karl. Dia tahu jelas kalau Nenek Zhu yang dimaksud oleh Justin adalah arwah Jendral Liang Zhu yang masih belum tenang. Karl sangat yakin akan hal itu.


(Apa yang membuat arwahmu masih tertahan di dunia ini, Jendral? Mungkinkah masih ada sumpah lain yang belum terlaksana? Apa itu? Beritahu aku. Aku tidak mau Justin sampai menerima karma buruk seperti yang kutanggung sejak kecil. Tolong jangan ganggu dia.)


"Ekhmmm, Justin. Mungkin Paman Cio hanya tidak sengaja membunyikan petasan. Jadi Kakek minta Justin jangan pernah mengatakan hal ini pada orang lain ya?" ucap Max menasehati sang cucu dengan hati-hati. Hanya orang bodoh yang tidak bisa memahami arti dari ucapan bocah kecil ini. Bermain petasan? Hah, yang ada Cio baru saja membunuh orang. Max sangat mempercayai hal ini karena Cio adalah bagian dari keluarga Ma. Dan yang menjadi korbannya pastilah orang yang telah mengganggu Renata. Dia yakin sekali akan hal ini.


"Tapi kalau nanti Nenek Zhu memarahi Paman Cio bagaimana, Kek?" tanya Justin seraya mengerutkan kening.


"Nenek Zhu siapa?"


"Nenek Zhu yang punya rumah besar lho,"


"Hah?"


Max dan Nandira saling pandang. Mereka tidak tahu siapa Nenek Zhu yang sedang dibicarakan oleh Justin.


"Tidak perlu berpikir jauh. Kemungkinan besar yang dimaksud oleh Justin adalah nenek buyutnya. Mendiang Liona," ucap Karl tak membiarkan orangtua Renata terlalu banyak berpikir. Dia yang sejak tadi berdiri di dekat jendela segera datang mendekat. "Selamat sore Tuan Max, Nyonya Nandira. Aku Karl. Saudaranya Bern dan pamannya Justin."


"Selamat sore kembali, Tuan Muda Karl. Senang bisa menyapamu," sahut Nandira berusaha santai.


(Ternyata benar apa kata orang kalau pria ini memiliki aura yang sangat mengerikan. Bulu kudukku sampai merinding semua hanya dengan mendengar suaranya saja. Hiii)


"Seorang pria gila mengganggu Renata tadi. Dan kebetulan sepupuku sedang berada di sana untuk membeli bunga. Dia lalu memberitahu kami kalau Renata berada dalam bahaya. Pria itu membuat kekacauan dan memaksa Renata agar mau menikah dengannya," ucap Cio menceritakan kronologi kejadian. Berharap Karl untuk bicara panjang lebar? Jangan harap. Jadi Cio berinisiatif menceritakan daripada menunggu monster ini bicara. "Aku Pamannya Justin yang bernama Cio. Siapa tahu kalian belum mengenalku. Hehe,"


"Kalau mengenal dekat memang belum, Tuan Cio. Tapi bagi yang berkecimpung di dunia bisnis, adalah sikap yang sangat bodoh jika tidak mengenali kalian," sahut Max agak tergelitik melihat cara Cio mengenalkan diri. Seperti ada lawak-lawaknya.


"Baiklah, Cio."


Cio tersenyum lebar. Dia lalu menatap ibunya Renata yang terlihat murung. "Ada apa, Bi? Sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu."


"Hmm, kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi. Namun yang sampai sekacau ini baru terjadi sekarang. Miris sekali nasib putriku," sahut Nandira lirih. "Renata tak sekalipun pernah berbuat neko-neko. Dalam berpakaian pun dia sangat sopan. Tapi entah mengapa selalu saja ada orang yang ingin menyakitinya. Rasanya aku ingin sekali menangis setiap memikirkan nasibnya yang tidak beruntung itu."


"Kesedihan itu akan segera menghilang sebentar lagi. Renata sudah berada di tangan orang yang tepat. Dan setelah ini aku pastikan tidak akan ada orang yang berani mengusiknya lagi. Kalian jangan khawatir!" ucap Karl tiba-tiba terpancing untuk menimbrung pembicaraan.


"Hei, ada apa denganmu, Karl. Kenapa kau asal masuk ke dalam pembicaraan kami?!" protes Cio mulai mencari masalah.


"Berisik!"


"Tentu saja aku berisik. Aku punya mulut."


"Mau kujahit mulutmu?"


"Tidak maulah. Enak saja."


"Ya sudah diam."


Saat Cio hendak membalas ucapan Karl, sebuah tangan kecil mengelus punggung tangannya. Cio menunduk, menatap penuh pesona pada keponakannya yang sedang tersenyum.


"Paman Cio, Ibu bilang orang yang suka marah-marah nantinya akan memiliki ekor. Paman mau menjadi monyet tidak?" tanya Justin dengan penuh perhatian mengingatkan sang paman.


"A-apa? Monyet?"


"Iya. Kan monyet punya ekor,"


"Kenapa bukan dinosaurus saja?"


"Dinosaurus itu baik, Paman. Mereka tidak suka marah-marah."


"Benarkah?"


"Iya,"


"Lalu apa kabar dengan T-Rax?"


"T-Rax itu apa?"


Cio mencelos. Padahal binatang yang bernama T-Rax itu sedang di genggam oleh anak ini dan jelas mempunyai ekor, tapi kenapa Justin malah menyamakannya dengan seekor monyet? Kejam sekali. Seumur-umur Cio hidup, baru kali ini dia merasa sangat rendah. Dan buruknya yang merendahkannya adalah keponakannya sendiri. Mau dibanting, takut dipanggang oleh Karl dan Bern. Tapi tidak dibanting, dia merasa terhina. Apa yang harus Cio lakukan?


"Justin, tidak boleh bicara tidak sopan pada yang lebih tua. Ayo cepat minta maaf pada Paman Cio," ucap Nandira tak membiarkan cucunya bersikap kurang ajar. Takut menyinggung.


"Tidak usah. Yang dikatakan oleh Justin sangat benar kalau orang dewasa tidak seharusnya marah-marah tidak jelas. Biarkan saja," sahut Karl tak membiarkan keponakannya meminta maaf. Enak saja. Dia tak terima.


"Tapi ....


"Orangtua ini pantas mendapatkannya, Bibi."


Setelah berkata seperti itu Karl mengajak Justin bermain dengan mainan yang baru mereka beli. Mengabaikan raut kaget dan juga jengkel di wajah Cio.


(Kenapa rasanya seperti ada yang menikam jantungku ya? Benarkah aku kalah oleh bocah yang usianya saja belum genap tiga tahun? Arrrgghhh, kau sangat sialan, Karl. Brengsek!)


***