Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 16


"Berapa lama hasilnya baru akan keluar?" tanya Bern sambil menautkan ke sepuluh jari tangannya. Dia gugup sekali.


Seusai dari mencuri beberapa helai rambut milik Justin, Bern dan Cio langsung pergi ke rumah sakit milik kenalan Cio. Hal ini sengaja dilakukan karena Bern menolak melibatkan kekuasaan keluarganya untuk menyelidiki masalah ini. Hatinya Bern masih terkungkung rasa kecewa, jadi memutuskan untuk tidak memakai apapun yang berhubungan dengan keluarga Ma. Terkesan egois memang, tapi Bern tidak peduli. Baginya sudah cukup kekecewaan yang dulu, tidak dengan sekarang.


"Mungkin satu minggu," jawab Cio. "Atau malah seratus tahun."


"Oh,"


Cio menoleh. Dia lalu menyunggingkan senyum tipis. "Sabar. Di dunia ini segalanya itu butuh proses. Terkecuali kalau kau mau melibatkan keluargamu. Kau tidak lupa kan kalau di dalam keluarga kita itu ada semacam kelompok yang bisa mewujudkan keinginan dalam sekejap?"


"Lebih baik aku mati daripada harus melibatkan mereka!"


"Kalau begitu sabarlah. Dokter yang menangani masalah ini adalah manusia biasa. Kau harus mengerti itu!"


"Hmmm," ....


Bern menarik nafas dalam-dalam kemudian mengusap wajahnya. Sungguh, masalah ini membuat adrenalinnya jadi terpacu. Setelah tadi ada insiden dia yang di tuduh telah mencabut otaknya Justin, kini Bern kembali di buat tegang karena harus menunggu hasil tes. Mengingat hal lucu itu membuat Bern tiba-tiba tertawa. Andaikan memang benar kalau Justin adalah putranya, entah akan sebahagia apa hidupnya nanti. Bocah kecil itu sangat menggemaskan dengan tingkah konyolnya, membuat Bern jadi mulai memperhatikannya.


"Hmmm, sepertinya kau mulai tidak waras gara-gara menunggu hasil tes itu keluar, Bern!" sindir Cio yang merasa aneh melihat sepupunya mendadak tertawa sendiri. Padahal sekarang mereka sedang berada di rumah sakit. Mustahil Bern melihat arwah suster ngesot.


"Aku hanya merasa lucu saja dengan tingkah Justin, Cio. Dia sendiri yang menabrakku, tapi dia juga yang menuduhku. Kadang kalau di pikir-pikir dia lucu juga ya," sahut Bern masih sambil tertawa kecil.


Cio tampak memicingkan mata saat mendengar perkataan Bern. Dia merasa ada yang salah di sini. Karena penasaran, Cio pun memutuskan untuk menyelidiki.


"Bern, jangan bilang sejak pertemuan pertama kalian kau tidak pernah memperhatikan Justin ya. Dan jangan bilang juga baru sekarang kau menyadari kalau bocah itu lucu. Apa tebakanku benar?" Cio mulai menginvestigasi.


Tergugu, Bern tak mampu menjawab. Memang benar sejak pertemuannya dengan Renata, Bern hanya merasa tertarik melihat rambut gondrong Justin saat sedang berlarian. Dan itupun hanya sekilas karena matanya sudah teralih dan terfokus pada Renata seorang. Wajarlah. Dalam kondisi hati begitu merindukan Amora, tiba-tiba saja muncul seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengannya. Sudah pasti pandangan Bern hanya akan tertuju pada sosok tersebut meski hari itu dia sempat menggendong Justin. Bern sama sekali tidak mempedulikan bocah itu. Dia hanya memperhatikan Renata saja.


Baru kali ini aku melihat ada calon bapak yang tidak menyadari keberadaan anaknya sendiri. Justin-Justin, semoga nanti kau tabah ya mempunyai ayah seperti Bern ini. Kalau kau merasa terabaikan, adukan saja pada Paman Bern. Di jamin ayahmu pasti akan langsung sadar kalau kau itu ada. Haihhhh.


"Ayo pulang. Kau tidak mungkin ingin bermalam di rumah sakit, kan?" ucap Bern mengajak Cio untuk pergi dari rumah pesakitan itu. Dia lelah, ingin meluruskan punggungnya sejenak.


"Pulang ya pulang saja. Kenapa harus ada kata kurang mengenakan di belakangnya sih. Heran!" sahut Cio bersungut-sungut. Dia kemudian berdiri, menatap lama ke arah Bern sambil mengucapkan kata terakhir sebelum mereka berpisah. "Bern, tadi siang Karl datang menemuiku. Dia menanyakan kabarmu. Aku tahu kau tidak ingin mendengar hal ini, tapi tidak ada salahnya kau coba memikirkan tentang perasaan Karl. Dia sama tersiksanya seperti dirimu kalau kau mau tahu. Jadi belajarlah untuk melunak karena bagaimanapun Karl adalah saudara kandungmu!"


Tak ada reaksi apapun di diri Bern saat Cio membahas tentang Karl. Dia tidak marah, tidak benci, juga tidak senang. Hanya satu, Amora. Dan setelah mendengar suara langkah kaki Cio mulai menjauh dari sana, barulah Bern menarik nafas. Dia lalu menatap sekilas ke arah punggung sepupunya yang terus mengibarkan bendera perdamaian agar hubungannya dengan Karl bisa kembali akur seperti dulu.


"Maaf, Cio. Aku tahu niatmu baik, aku hargai itu. Tapi selama aku belum menemukan keberadaan Amora, selamanya aku tidak akan pernah mau berbaikan dengan bajingan itu. Biar saja seperti ini," gumam Bern sesaat sebelum beranjak dari tempat dia duduk.


Dengan langkah gontai Bern berjalan menuju parkiran. Di balik kaca mata hitam yang di kenakannya, ada gurat kesedihan yang terpendam. Bayang-bayang saat Bern membawa tubuh Amora yang telah kaku kembali menyeruak masuk ke dalam ingatan. Saat itu yang ada di dalam pikiran Bern hanyalah bagaimana cara agar bisa membuat Amora bisa kembali bernafas. Namun, fakta dari dokter membuat dunia Bern menggelap seketika. Dia tak percaya Amora-nya pergi secepat itu. Lalu muncullah pemberontakan besar di mana Bern bersikukuh bahwa mayat yang di temukan saat itu bukanlah mayat kekasihnya. Amora masih hidup, dan keyakinan itu terbawa sampai detik ini.


"Sayang, lihatlah aku sekarang. Hidupku hampa tanpa cintamu. Kau tahu itu?" gumam Bern setelah duduk di dalam mobil. "Kita di pertemukan oleh suatu rencana yang menyakitkan. Ingatkah kau saat pertama kali kita saling berbagi kehangatan? Kau pasrah memberikan mahkota milikmu padaku. Bagiku itu adalah momen yang benar-benar tidak bisa terlupakan. Kita berbagi cinta di atas ranjang yang sama. Kau memelukku dan aku memelukmu. Betapa indah malam itu, sayang!"


Adalah hal yang sangat luar biasa menyakitkan mengenang kenangan bersama seseorang yang telah di anggap tidak ada. Apalagi jika seseorang ini merupakan cinta pertama kita. Pasti kebahagiaan yang dirasa di setiap menitnya akan sangat menggores jiwa. Begitu pula yang dirasakan oleh Bern. Dia bahagia dan terluka di saat yang bersamaan dan oleh wanita pertama yang di cintainya. Coba sebutkan. Rasa sakit seperti apalagi yang mampu menggantikan keperihan seorang Bern selama tiga tahun terakhir? Tidak ada. Dan satu-satunya hal yang bisa meredam keperihan itu sendiri adalah dengan bersatu kembali bersama seseorang tersebut. Tapi mungkinkah itu akan menjadi nyata? Entahlah, hanya Tuhan yang bisa menjawab.


"Sayang, maafkan aku karena sekarang aku terfokus pada Renata. Ini aku lakukan adalah untuk mencari tahu apakah wanita itu adalah sosok dirimu yang hilang atau bukan. Aku janji, nanti setelah rasa penasaranku terjawab dan ternyata Renata bukanlah dirimu, aku akan kembali pergi meninggalkan negara ini. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dengan kenangan tentang kita. Ya?"


Bern tersenyum. Dia melajukan mobil meninggalkan parkiran rumah sakit. Sudah cukup seperti ini saja. Walaupun besar keinginan Bern akan Renata, tapi cintanya pada Amora tetap tidak akan tergoyahkan. Berbekal ketulusan cinta yang Bern miliki, dia meyakinkan hati untuk bersabar menunggu sampai hasil tes itu keluar.


Amora, aku mencintaimu. Selamanya ....


***