
Renata tersenyum sembari memperhatikan Justin yang sedang asik bermain dengan keluarga dinosaurus. Bocah menggemaskan itu duduk dengan ditemani oleh ayahnya.
"Yang ini namanya siapa?" tanya Bern sambil menunjuk ke salah satu dinosaurus berwarna hijau. Sepertinya ini adalah anggota baru karena seingat Bern Justin tidak memiliki dinosaurus jenis ini.
"Emm siapa ya," sahut Justin seraya mengetuk-ngetuk dagunya. "Justin lupa, Ayah."
"Memangnya siapa yang memberikan dinosaurus ini kepada Justin?"
"Paman Reiden."
"Oh, ya sudah nanti Ayah bantu tanyakan siapa namanya pada Paman Reiden. Kan kasihan kalau dia tidak mempunyai nama. Iya 'kan?"
"Beri nama Pororo saja, Ayah. Lucu,"
Jakun Bern bergerak naik-turun begitu Justin menyebutkan nama Pororo. Kali ini apalagi yang telah dilihat oleh putranya? Pororo. Julukan nama ini merupakan milik saudaranya yang tinggal jauh dari kota ini. Mungkinkah akan terjadi sesuatu pada Pororo atau yang lebih tepatnya bernama Pamela?
"Pororo itu kan nama anak pinguin. Beri nama yang lain saja, sayang," ucap Renata iseng menimbrung pembicaraan. Lucu saja mendengar dinosaurus diberi nama Pororo. Terlalu manis untuk ukuran binatang mengerikan sekelas T-Rax.
"Oh, baiklah."
Bern terus memperhatikan Justin yang tengah mencarikan nama untuk anggota dinosaurus yang baru. Karena terlarut dalam kefokusannya, dia sampai tak sadar kalau Renata telah berada di sampingnya. Bern lalu berjingkat kaget saat merasakan sebuah elusan lembut di punggung. Seketika dia menoleh.
"Melamun apa, hm?" tanya Renata.
"Ah tidak. Aku hanya sedang membantu Justin mencarikan nama untuk dinosaurus pemberian Reiden." Bern mengelak. Dia meraih satu tangan Renata kemudian menciumnya. "Apa makan malamnya sudah siap?"
"Renata mengangguk. "Mau langsung makan apa bagaimana?"
"Kau panggillah Ayah dan Ibu dulu. Aku akan membantu Justin mencuci tangan."
"Baiklah,"
Pipi Renata sedikit bersemu saat jari telunjuk Bern mengusap bibir bawahnya. Diam-diam dia meng*lum senyum ketika berbalik pergi menuju kamar ayah dan ibunya. Berkat penjelasan Bern, kini hati Renata menjadi jauh lebih tenang. Dia sudah tak terlalu memikirkan soal wanita asing yang ternyata adalah kakaknya Amora. Renata mencoba memaklumi karena bagaimana pun wajahnya diklaim sangat mirip dengan gadis tersebut.
Tok tok tok
"Ayah, Ibu. Makan malamnya sudah siap," ucap Renata sembari melongokkan kepala ke dalam kamar. Dan begitu melihat ke arah ranjang, matanya langsung terbelalak lebar melihat sang ibu yang tengah menangis tersedu-sedu dipelukan ayahnya. Segera saja Renata berlari masuk dan menghampiri kedua orangtuanya. "Ayah, Ibu kenapa menangis begini. Apa yang terjadi?"
Melihat kemunculan Renata, Nandira reflek memeluknya. Hal itu membuatnya terjatuh ke kasur dengan posisi Renata tertindih tubuhnya. Max yang menyaksikan hal tersebut mencoba menolong. Akan tetapi tangannya ditepis oleh Nandira yang mana langsung menggelengkan kepala tanda dirinya tak diijinkan untuk mengacau.
(Ya Tuhan, tolong jangan pernah pisahkan Renata dari kami. Aku tidak sanggup jika harus melihat Nandira menjadi gila. Tolong aku, Tuhan)
"Bu, Ibu kenapa? Apa Ibu mimpi buruk?" tanya Renata antara bingung dan juga khawatir. Tangannya bergerak pelan mengusap punggung sang ibu yang gemetaran karena menangis.
"Hiksss, iya, Ren. Ibu mimpi buruk. Buruk sekali," jawab Nandira sesenggukan. Pelukannya kian mengerat saat bayangan Renata dibawa pergi oleh keluarga kandungnya memenuhi rongga kepala. Rasanya seperti mau pingsan. Gelap, sesak, juga sakit.
"Memangnya Ibu mimpi apa?"
"Ibu bermimpi kau dibawa pergi oleh orang lain. Kau dan Justin meninggalkan Ibu sendirian, Ren. Ibu sedih. Ibu tidak mau berpisah dengan kalian. Huuhuhuuuu,"
Tangis Nandira kian pecah setelah dia menceritakan kebohongan soal mimpi buruk yang dialaminya. Karena pintu kamar yang tidak tertutup rapat, suara tangis Nandira terdengar sampai keluar. Bern yang tengah membantu Justin cuci tangan tampak menarik napas panjang. Tanpa harus bertanya pun dia bisa langsung tahu penyebab mengapa calon mertuanya menangis seperti itu.
"Tidak, Nak. Justin tidak nakal kok. Mungkin Nenek menangis karena badannya ada yang tidak nyaman. Kan Nenek sedang tidak sehat," jawab Bern tak membuatkan Justin salah berasumsi.
"Oh begitu ya. Suaranya Nenek keras juga ya, Yah. Justin sampai kaget tadi,"
Antara kasihan dan ingin tertawa gara-gara ucapan Justin, Bern memilih untuk pergi ke kamar saja. Dia tak ingin Justin melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Apalagi bocah ini mempunyai kelebihan yang tidak biasa. Bisa gawat jika mengatakan sesuatu yang membuat calon mertuanya semakin histeris.
"Ayah, kok kita ke kamar. Katanya mau makan. Kenapa kemari?"
"Sayang, Ayah boleh menanyakan sesuatu tidak?"
Justin mengangguk. Dia lalu melambaikan tangan ke arah jendela yang tiba-tiba tersibak. Bern yang memang sudah hapal dengan keanehan itu hanya diam saja saat Justin tersenyum sambil terus melambaikan tangan. Sepertinya seseorang kembali datang menjenguk.
"Apa itu Nenek Zhu?" tanya Bern setelah Justin berhenti melambaikan tangan.
"Iya, Ayah. Nenek Zhu bilang ingin menjenguk Ibu," jawab Justin sambil bermain kancing baju.
"Menjenguk Ibu?"
"Iya,"
"Lalu Nenek Zhu bilang apalagi?"
"Tidak ada. Hanya ingin menjenguk Ibu saja katanya."
Bern menelan ludah. Apakah ini adalah pertanda kalau keputusan yang dia ambil merupakan jalan yang benar dengan mempertemukan Renata pada keluarga kandungnya? Entahlah, Bern tidak tahu. Yang jelas sekarang dia hanya bisa mengikuti alur kehidupan yang sedang mengalir. Karena mau sekeras apapun hatinya dalam mempertahankan keinginan Amora, hati naluri tetap berkata agar tidak memisahkan Renata dari Tuan Kendra. Biar Tuhan saja yang membalas kejahatan yang telah dilakukan oleh orangtua malang itu.
"Ayah, siapa kakek yang tinggal di rumah gelap?" tanya Justin seraya memasang ekpresi murung. "Kasihan sekali. Kakek itu sangat kesepian, Ayah. Boleh tidak Justin mengajaknya bermain dinosaurus?"
Belum juga mulut Bern bertanya pada Justin soal Tuan Kendra, putranya ini malah lebih dulu membahas. Justin sudah seperti cenayang saja.
"Kakek itu bernama Kakek Kendra. Beliau adalah ayahnya Kak Amora. Justin masih ingat Kak Amora tidak?" jawab Bern tak serta-merta memberitahu Justin kalau Tuan Kendra adalah kakeknya. Dia takut anak ini akan kelepasan bicara yang mana bisa membuat banyak orang dilanda rasa panik dan khawatir.
"Masih, Ayah. Kak Amora itukan yang mirip dengan Ibu dan wajahnya berdarah-darah. Hiiii, ngeri. Kepala Kak Amora menghantam batu karena terpeleset di pinggir sungai. Kasihan ya, Ayah."
"A-apa kau bilang? Kak Amora terpeleset ke sungai?"
Justin mengangguk.
"Sayang, coba ceritakan pada Ayah apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Amora. Dia benar terpeleset ke sungai atau tenggelam bersama sebuah mobil. Ada Bibi Flow tidak?" cecar Bern gemetaran saat mengetahui ada fakta lain yang terjadi dibalik kejadian tragis tiga tahun lalu.
"Bibi Flow yang tenggelam di dalam mobil. Kalau Kak Amora tidak. Dia terpeleset. Sudah ya, Ayah. Justin mau main dulu, tapi Justin lapar. Ibu mana ya?"
Sekujur tubuh Bern bagai tak bertulang saat Justin mengatakan kalau Amora tidak ikut tenggelam bersama mobil yang dikendarai oleh Flow. Ada apa ini? Apa mungkin Amora telah keluar dari mobil itu sebelum kecelakaan terjadi? Ya Tuhan, putranya benar-benar mengerikan. Bern lemas sekarang.
(Flow, apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian tiga tahun lalu?)
***