
"Ibu, Justin dan Ayah sudah pulang!" teriak Justin heboh sendiri begitu pintu rumah ayahnya terbuka. Segera dia berlari masuk ke dalam guna menemui sang ibu tercinta. "Ibu, Justin sudah pulang lho. Ibu di mana?"
"Ibu di sini, sayang!"
Renata yang sedang membuat cemilan di dapur langsung tersenyum mendengar suara Justin. Kedua pria beda usia itu sudah pulang ternyata. Segera saja dia memberitahu Justin di mana dirinya berada sekarang.
"Huummm, wangi sekali. Ibu pasti sedang membuat cemilan untuk Justin. Iya 'kan?" tanya Justin sambil menghirup dalam-dalam semerbak wangi yang memenuhi seluruh sudut dapur. Matanya sampai terpejam saking dia menikmati aroma tersebut.
"Bukan hanya Justin saja, tapi untuk semua orang juga," sahut Renata gemas.
"Oh iya ya. Justin lupa. Hehehe,"
"Hmm, kau ini ya." Renata menoleh ke samping saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Setelah itu dia tersenyum begitu melihat siapa yang datang. "Lelah?"
Bern mengangguk. Tak menghiraukan keberadaan adik dan ibunya, Bern mendaratkan satu kecupan manis di kening Renata. Dia kemudian terkekeh pelan melihat calon istrinya tersipu malu.
"Seperti belum pernah dicium saja. Kau sangat menggemaskan," goda Bern seraya memainkan rambut Renata yang dikuncir ke atas.
"Jangan begitu, Bern. Ada Flow dan Bibi di sini. Malu," tegur Renata pelan. Walaupun bukan yang pertama kali Bern bersikap cuek di depan orang lain, rasa malu tetap saja singgah di diri Renata.
"Oh maaf, kakak ipar. Untuk sementara aku dan Ibu tidak bisa melihat apa-apa. Iyakan, Bu?" celetuk Flow dengan sengaja menambahkan bubuk kesaltingan di diri kakak iparnya. Dia lalu memasang senyum lebar ketika telinganya ditarik oleh sang ibu. "Hehehe, maaf. Aku tidak bermaksud menggoda kakak ipar. Sungguh!"
"Jahil sekali. Lihat itu. Wajah kakak iparmu sampai merah semua. Kau ini ya," ucap Elea sambil tersenyum kecil. Dia suka dengan kehangatan yang sedang tercipta.
"Bibi," ....
Suara tawa memenuhi sudut dapur ketika Renata salah tingkah sendiri setelah diledek oleh adik ipar dan calon ibu mertuanya. Saking riuhnya, Nandira yang tengah beristirahat di kamar sampai keluar kemudian mendatangi keramaian tersebut.
"Lho, ada apa ini. Ramai sekali," tanya Nandira penuh rasa penasaran.
"Nenek, Ibu malu karena digoda oleh Nenek Elea dan Bibi Flow. Lihat, wajah Ibu sampai memerah!" teriak Justin memberitahu sang nenek akan apa yang sedang terjadi. Dia lalu terkikik sambil menutupi mulut dengan tangannya yang mungil. "Hihi, Ibu cantik sekali seperti Kak Amora. Lucu," ....
Seketika suasana berubah menjadi sehening kuburan begitu Justin menyebut nama Amora. Bern yang tidak menyangka kalau putranya akan berkata demikian segera berjongkok di hadapannya. Dengan penuh sayang Bern mengusap pipi Justin yang kemerahan kemudian mencium keningnya lama.
"Apa Kak Amora cantik?" tanya Bern.
"Sangat cantik, Ayah." Wajah Justin tiba-tiba murung. Dia lalu menundukkan kepala. "Kasihan Kak Amora. Wajahnya berdarah-darah karena tergores karang di laut. Kasihan sekali, Ayah."
Flow tersentak. Bagai ada pecahan kaca yang menembus kepala, dia menjerit kuat sekali sebelum akhirnya tumbang ke lantai. Posisinya yang sedang duduk di kursi roda membuat tubuh Flow tertimpa benda tersebut. Sontak hal itu membuat semua orang memekik kaget, hingga tak sadar Elea berteriak dengan sangat histeris.
"FLOWRENCE!!!"
Gabrielle yang sedang berbincang dengan Max langsung berlari ke arah dapur begitu mendengar suara teriakan Elea. Dan sesampainya di sana kedua matanya langsung membelalak lebar saat mendapati putrinya yang tengah meringkuk kesakitan di bawah kursi roda yang menimpa tubuh ringkihnya.
"Astaga, Flow. Apa yang terjadi, Nak?!"
Bern tanggap. Segera dia menyingkirkan kursi roda dari atas tubuh Flow kemudian mengangkatnya. Sebelum itu Bern meminta Renata untuk memandikan Justin terlebih dahulu. Mungkin ini efek karena tadi mereka mengunjungi makam buyutnya Justin, sehingga menyebabkan bocah itu kembali mendapat penglihatan masa lalu.
"Hikssss, Justin takut. Takut," cicit Justin berurai air mata.
"Justin mau mandi dengan Nenek tidak? Setelah itu Nenek dan Kakek akan menemanimu bermain dengan paman dino. Mau?" tanya Nandira sembari membelai punggung cucunya yang sedang ketakutan. Nandira sadar ada masalah di keluarga Bern yang tak seharusnya dia ketahui. Jadilah dia mencari celah untuk menghindar guna memberikan ruang untuk mereka bicara.
"Hiksss, Nenek," jawab Justin sambil mengangguk kepala. Tangan mungilnya tampak terulur ke arah sang nenek sebelum akhirnya dia berpindah pelukan. "Hiksss, a pa Bibi Flow marah pada Justin? Tapi Bibi Flow sangat sayang pada Kak Amora. Mereka berteman seperti Justin dengan paman dino. Huuuuuu," ....
(Ini Justin kenapa bicara seperti ini ya. Dan juga darimana dia tahu soal Amora? Bern tidak mungkin menceritakan soal jati diri Renata pada anak ini 'kan?)
"Ekhmmm, Nyonya Nandira. Tolong bantu kami menenangkan Justin ya. Jangan khawatir. Nanti setelah keadaan tenang aku akan menceritakan penyebab mengapa Justin bisa mengenal Amora," ucap Gabrielle menjawab kebingungan di diri orangtua Renata.
"Baiklah, Tuan Gabrielle. Kalau begitu aku dan suamiku pergi dulu untuk memandikan Justin. Jika terjadi apa-apa pada Flow tolong segera hubungi kami ya," sahut Nandira agak kaget melihat reaksi ayahnya Bern yang seolah mengetahui apa yang sedang dia pikirkan.
Gabrielle mengangguk. Setelah Justin dibawa pergi, dia segera memeluk Elea yang masih menangis di lantai. Jika ditanya sesakit apa perasaannya menyaksikan istri tercinta bersedih hati, Gabrielle akan menjawab mungkin rasa sakitnya berkali lipat lebih menyakitkan dari rasa pedih ketika ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya. Elea adalah poros hidupnya. Dan air mata yang menetes keluar dari mata indahnya bagaikan kematian untuk diri seorang Gabrielle.
"Ada apa ini. Mengapa Justin bisa tiba-tiba menyinggung soal Amora? Dan kenapa juga Flow sampai bereaksi seperti itu. Aku tidak siap jika harus kehilangannya. Aku tidak siap," ratap Elea sambil menekan dadanya kuat-kuat. Sesak, juga sangat sakit.
"Sayang, tolong tenang. Kendalikan dirimu. Oke?" bujuk Gabrielle berusaha untuk tenang. Padahal sebenarnya dia tak kalah panik. Ayah mana yang bisa tenang menyaksikan putri kesayangannya berada dalam bahaya. Itulah yang tengah dirasakan Gabrielle sekarang. Tapi demi tak membuat Elea kian berlarut sedih, mau tak mau Gabrielle harus menekan rasa sakit itu dalam-dalam. Harus.
"Bagaimana bisa aku mengendalikan diri dengan kondisi Flow yang seperti itu, sayang. Kau tahu bukan kalau Flow bisa kehilangan nyawa jika dipaksa ingat dengan masa lalunya?"
"Iya aku tahu. Akan tetapi sekarang lebih baik kita susul mereka saja ke kamar. Bern belum pernah melihat Flow seperti ini. Dia pasti sedang kebingungan. Kita susul mereka ya?"
Elea yang masih histeris tak bisa mencerna ucapan Gabrielle dengan baik. Mungkin karena terlalu syok, dia akhirnya jatuh pingsan. Hal itu menyadarkan Renata yang sejak tadi hanya berdiri diam mendengarkan percakapan calon mertuanya.
"Renata, bisakah kau menolongku?" tanya Gabrielle dengan mata memerah. Dia memeluk erat tubuh lemas Elea di pelukannya.
"Mi-minta tolong apa, Paman?" sahut Renata terbata.
"Tolong kau bantu Bern mengurus Flow di kamar. Katakan padanya untuk segera menghubungi Russel. Dia dokter yang bertanggung jawab atas kondisinya Flow selama ini."
"Baiklah."
Ketika Renata hendak melangkah pergi, dia tersadar dengan kondisi ibu mertuanya yang sedang tak sadarkan diri. Segera dia berjongkok di lantai kemudian memegang satu tangan mertuanya yang terasa sangat dingin.
"Apa Bibi selalu seperti ini jika melihat Flow kesakitan?"
"Bahkan lebih parah." Gabrielle tersenyum getir. "Kau jangan khawatir. Bibimu biar aku yang urus. Kau bantu Bern saja di kamar. Kasihan dia. Pasti kebingungan karena tiga tahun lalu Flow tidak seperti ini. Pergilah,"
"Tapi bagaimana dengan kalian?"
"Tidak apa-apa. Sebentar lagi Bibimu juga akan sadar. Dia wanita yang sangat kuat, Renata. Kau harus tahu ini."
Dengan berat hati terpaksa Renata meninggalkan kedua mertuanya di dapur. Dia buru-buru melangkah ke kamar Bern guna memberitahunya untuk segera menghubungi Russel.
(Mengapa seperti ini? Darimana Justin mengetahui soal Amora? Apa mungkin Bern yang memberitahunya? Tidak masuk akal!)
***