Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 96


"Silahkan masuk!" ucap Bern mempersilahkan kedua calon mertuanya untuk masuk terlebih dahulu. Mereka kini tengah berada di apartemen.


"Hmm, pantas Justin sangat betah menginap di sini. Ternyata apartemen milikmu luas sekali ya, Bern," ucap Nandira sambil memperhatikan ruangan apartemen yang ditempati oleh calon mantunya. Sangat luas, hingga bisa digunakan untuk bermain bola sekalipun.


"Proyek pembuatan apartemen ini aku yang memimpin. Sengaja ruang tamunya kubuat seluas mungkin dengan harapan agar anak para penghuni apartemen ini memiliki keleluasaan untuk bermain. Dan sekarang itu sangat berguna untukku. Justin bisa main sepuasnya di sini tanpa harus merasa kesempitan."


Senyum lebar langsung mengembang di bibir Justin begitu mendengar ucapan sang ayah. Dia mengira kalau rumah tersebut dibuat khusus untuknya.


"Kenapa tersenyum, hm? Ada yang lucu apa bagaimana?" tanya Renata gemas melihat kelakuan putranya.


"Justin senang sekali, Ibu. Ayah sungguh baik," jawab Justin dengan pandangan berbinar-binar.


"Baik bagaimana maksudnya?"


"Itu lho tadi. Kan Ayah bilang kalau rumah ini dibuat untuk Justin. Makanya Justin bisa berlarian ke sana ke mari dengan puas. Ayahnya Justin memang yang paling hebat!"


Renata tertawa. Rupanya Justin telah salah mengartikan ucapan Bern. Dasar anak-anak. Pikirannya sungguh polos sekali.


"Ibu, apa Kakek dan Nenek akan menginap di rumah Ayah?" tanya Justin penasaran.


"Kalau iya memangnya kenapa? Tidak boleh?" iseng Max. Dia lalu pura-pura merajuk.


"Emm boleh kok. Kan rumah ayahnya Justin sangat luas. Nanti Kakek dan Nenek bisa tidur di sini,"


Jari mungil Justin menunjuk ke salah satu sudut ruang tamu yang paling luas. Dia lalu mengerutkan kening saat sebuah bayangan melintas di dekat jendela.


"Nenek Zhu!"


Greepp


Dengan gerakan yang sangat cepat Bern langsung menangkap Justin yang hendak berlari menuju ke jendela. Setelah itu dia membopong dan membawanya menjauh. Dadanya Bern berdebar kuat sekali. Nenek Zhu lagi?


"Ayah, ayo turunkan Justin dulu. Di sana ada Nenek Zhu. Kasihan kalau tidak di ajak masuk!" ucap Justin sambil meronta-ronta ingin melepaskan diri.


"Sayang, sangat berbahaya kalau anak kecil berdiri di dekat jendela. Lagipula di sana itu tidak ada apa-apa. Kau mungkin salah melihat orang," ucap Renata kaget sekali melihat Justin yang tiba-tiba berlari menuju jendela yang di luarnya tidak ada pagar pembatas. Bukan tidak ada sih, tapi tukang belum selesai memperbaikinya.


"Tapi Nenek Zhu masih ada di sana, Bu. Kasihan," rengek Justin sambil terus menunjuk ke arah jendela.


"Nenek Zhu itu siapa sih?"


Penasaran, Nandira memutuskan untuk bertanya. Nama ini pernah beberapa kali diucapkan oleh Justin. Namun, Nandira menganggap hal tersebut sebagai celotehan anak kecil yang mungkin terbawa cerita di sebuah film yang ditontonnya. Tetapi sekarang ... identitas Nenek Zhu itu sepertinya tidak sesederhana yang dia duga.


"Bibi, tolong jangan salah paham. Besar kemungkinan yang dilihat oleh Justin adalah ruh nenekku. Namanya Liona Serra Zhu. Justin adalah cicit pertamanya. Mungkin beliau hanya datang untuk melihatnya saja," sahut Bern dengan tenang.


"Oh, mendiang Nyonya Liona ya. Hmm,"


"Kenapa memangnya?"


"Tidak kenapa-napa sih. Hal yang sangat wajar jika seorang nenek buyut datang menjenguk cicitnya."


Renata mengerutkan kening. Darimana asal bahasa cicit yang sedang dibahas oleh Bern dan ibunya? Justin kan bukan bagian dari keluarga Ma. Harusnya ruh nenek buyutnya Bern tidak berhubungan dengan Justin. Tapi kenapa begini? Mungkinkah ada rahasia yang tidak dia ketahui?


(Semakin lama aku mengenal Bern, semakin aku merasa ada rahasia besar yang disembunyikan oleh semua orang dariku. Dan juga tentang Justin. Kenapa dia bisa melihat arwah Nyonya Liona yang jelas-jelas tidak ada keterikatan apapun dengannya? Ini aneh. Sepertinya aku perlu menyelidiki sesuatu tentang masalah ini. Ya, aku harus melakukannya)


"Ayah, nanti Justin ulang tahunnya di rumah Ayah saja ya. Nenek Zhu bilang di sini lebih aman," ucap Justin langsung berubah mood. Dia tak lagi merengek meminta untuk pergi ke jendela.


"Kenapa di sini?" tanya Bern heran.


"Karena di sini sangat luas. Jadi Ayah dan Justin bisa langsung beternak dinosaurus. Begitu,"


Justin menggeleng. Dia lalu melambaikan tangan ke arah dinding yang tidak ada siapapun di sana. Menyaksikan kejanggalan tersebut, bulu kuduk semua orang dibuat meremang. Bayangkan saja. Justin bisa melihat, bahkan berbicara dengan sosok tak kasat mata. Siapa yang tidak merinding coba.


"Emm Bern, aku pinjam dapurmu sebentar ya. Kalian semua pasti haus," ucap Renata pamit ingin membuat minuman.


"Jangan bilang begitu. Semua yang ada di sini adalah milikmu juga. Mengerti?" sahut Bern kurang suka saat Renata meminta izin untuk menggunakan dapur.


"Iya maaf. Ya sudah aku ke belakang sebentar."


"Hati-hati,"


Renata mengangguk. Setelah mengusap rambut Justin, dia melangkahkan kaki menuju dapur. Di sana Renata membuat minuman sembari melamunkan beberapa hal yang cukup mengganggu pikiran.


"Apa aku tanya pada Flow saja ya tentang siapa Amora. Dia pasti mengenal siapa gadis itu. Ya, sebaiknya aku mulai mencari tahu dari Flowrence. Baru nanti aku akan bertanya pada saudaranya Bern yang lain. Semoga saja mereka mau bekerjasama."


Sementara itu di ruang tamu, Justin tengah menjadi pusat perhatian karena tak henti berjingkrak kesenangan melihat penjaga membawa hadiah yang tadi ditinggalkan di rumahnya.


"Yeyyyy, hadiahnya Justin sudah datang. Ayo kita buka, Ayah!" teriak Justin heboh sendiri.


"Buka dengan Nenek saja ya, sayang?" ucap Nandira. Dia gemas sekali melihat sikap cucunya yang tak mau diam.


"Baiklah. Ayah jangan marah ya?"


"Tidak, Nak." Bern tertawa. Sedetik setelah Justin sibuk membuka kotak hadiah bersama neneknya, ekpresi wajah Bern langsung berubah serius. Dia lalu bergeser ke sebelah ayahnya Renata. "Paman, hadiah yang tadi dikirim untuk Justin berisi peledak. Dan pengirimnya adalah seorang wanita yang waktu itu sempat menyakiti Justin. Wanita ini tak terima diceraikan oleh suaminya akibat ketahuan membully penerus keluarga Ma. Jadi dia berniat membalas dendam dengan cara membunuh Justin dan Renata."


Mulut Max langsung ternganga lebar dengan kedua mata membelalak besar begitu Bern memberitahunya soal hadiah yang dikirim oleh orang misterius untuk cucunya. Sungguh, ini seperti diluar logika. Bagaimana bisa ada orang yang tega melakukan hal sekejam ini pada seorang anak kecil?


"Paman jangan khawatir. Wanita itu sudah dibereskan oleh Karl. Akan tetapi karena takut ada teror susulan, ada baiknya kalian semua tetap tinggal di sini untuk sementara waktu. Tunggu setelah kami memastikan keadaan aman, kalian baru boleh kembali ke rumah. Kau tidak keberatan, bukan?"


"Bern, ini kau tidak sedang bicara omong kosong saja, kan?" tanya Max memastikan. Fakta ini terlalu sulit untuk dipercaya. Sungguh.


"Apa Paman kira nyawa Justin dan Renata adalah sesuatu yang bisa dianggap sebagai permainan?" sahut Bern balas bertanya.


"Bukan, bukan seperti itu maksudnya. Astaga!" jawab Max seraya mengusap wajahnya hingga memerah. "Peledak? Usia Justin bahkan belum genap tiga tahun. Jadi bagaimana bisa ada orang yang tega ingin membunuhnya dengan cara sekeji itu? Apa jangan-jangan pelakunya adalah bagian dari ter*ris?"


"Pelakunya adalah deretan orang yang sakit hati. Wanita itu sakit hati atas kesalahan yang dilakukannya sendiri. Namun karena otaknya dangkal, dia menjadikan kalian semua sebagai target. Ingat, kalian semua. Tidak terkecuali!"


Keseriusan Bern teralih saat mendengar suara pekikan Justin begitu melihat ada banyak sekali mainan di dalam kotak hadiah. Bern tersenyum. Lega karena putranya berhasil selamat dari maut yang mengerikan.


"Paman Max, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu!"


"Apa itu?"


Max harap-harap cemas. Entah kabar buruk apalagi yang akan dia dengar. Hal itu membuat jantungnya berdebar kuat sekali.


"Salah satu pelayan yang bekerja di rumahmu telah dibayar oleh wanita itu untuk menjadi mata-mata. Itulah sebabnya dia bisa membaca situasi dengan tepat di mana hadiah itu baru dikirim saat kalian semua sedang ada di rumah!" ucap Bern sambil menarik nafas panjang. "Kalau di izinkan, aku akan memeriksa satu-persatu orang yang bekerja di rumahmu. Ini aku lakukan demi menjaga keselamatan kalian semua. Terutama keselamatan anak dan istriku!"


"M-mata-mata? Di rumahku?"


"Iya. Dan sekarang pelayan itu sudah berada di tangan anak buahnya Karl."


"P-pelayanku menjadi mata-mata?"


Bern menoleh. Dia kemudian mengangguk. "Seseorang pernah berkata kalau tempat yang paling aman untuk bersembunyi dari musuh adalah berada di dekat lawan. Fakta ini mengajari kita kalau orang pertama yang harus kita waspadai adalah orang-orang yang keberadaannya paling dekat dengan kita. Dan salah satunya adalah pelayan. Mereka adalah CCTV tersembunyi yang paling ampuh digunakan untuk mencari kelemahan kita. Ingat ini baik-baik!"


***