
Malam harinya sekitar pukul sembilan malam Flow akhirnya tersadar dari pingsan. Semua orang yang memang tengah menantikan hal tersebut bergegas pergi ke kamar guna melihat langsung seperti apa kondisinya.
"Jangan khawatir. Aku sudah baik-baik saja sekarang," ucap Flow dengan suara yang masih lemah. Dia lalu tersenyum melihat Justin yang terus menyembunyikan wajah di kaki ibunya. "Hai, sayang. Tidak mau memeluk Bibi kah?"
"Justin takut, Bibi," sahut Justin tanpa berani menunjukkan wajah. Pegangannya erat sekali, hingga membuat celana sang ibu sampai berkerut. "Justin takut Bibi tertidur lagi. Justin tidak mau memeluk Bibi dulu. Kapan-kapan saja ya?"
" Kenapa begitu kan sekarang Bibi sudah bangun
"Nanti kalau tidur lagi bagaimana? Kasihan Nenek. Nenek juga ikut tertidur tadi."
Karena semua orang sudah mengetahui kemampuan Justin, mereka sudah tak terkejut lagi mendengar ucapannya. Namun, hal berbeda dirasakan oleh Flow. Segera dia meraih tangan sang ibu kemudian menggenggamnya dengan erat sekali.
"Maaf sudah membuat Ibu cemas. Aku sungguh tidak tahu kenapa reaksiku bisa begitu saat Justin menyebut nama Amora, Bu. Aku tidak bohong."
"Syuuttt, jangan meminta maaf. Kau tidak salah apa-apa, sayang. Ibu bereaksi begitu karena terlalu menyayangimu. Kau tahu bukan kalau Ibu tidak bisa melihatmu sampai kenapa-napa?" ucap Elea penuh kelembutan. Dia bicara sambil menahan sesak di dada, berusaha menjaga diri agar tidak menangis di hadapan putrinya.
"Tetap saja aku harus meminta maaf pada Ibu. Gara-gara aku Ibu sampai jatuh pingsan. Hidupku menyedihkan sekali 'bukan?"
Justin tiba-tiba menyembulkan kepalanya. Dia lalu menatap seksama ke arah sang bibi yang tengah menahan tangis. Bern yang menyadari gelagat putranya seperti ingin mengatakan sesuatu, segera ambil sikap dengan mengajaknya keluar. Dia tak akan membiarkan putranya ini membuat perasaan semua orang menjadi kacau balau, terutama Renata.
"Ayah, kenapa Justin dibawa keluar? Kan Justin ingin memberitahu Bibi kalau nanti Bibi dan Ibu akan hanyut di sungai karena tidak bisa berenang," protes Justin bingung ketika dirinya dibawa paksa keluar dari kamar. Meski begitu dia tak melawan. Justin patuh dengan tidak melakukan banyak pemberontakan.
"Justin, Justin sayang tidak pada Ibu dan Bibi Flow?" tanya Bern.
"Sayang,"
"Kalau benar sayang mau tidak Justin berjanji pada Ayah?"
"Janji apa itu?"
"Justin harus berjanji pada Ayah untuk tidak mengatakan apapun pada Ibu dan Bibi Flow. Dan sebagai gantinya, Justin boleh mengatakan apapun kepada Ayah. Setuju?"
"Tapi ....
"Nanti Paman akan mengajakmu pergi berbelanja sampai puas kalau Justin mau patuh pada apa yang Ayahmu katakan!"
Karl yang baru saja datang segera memotong ucapan Justin. Dia lalu tersenyum ketika pria kecil tersebut memekik memanggilnya.
"Yey, Paman Karl datang. Paman Karl datang!" teriak Justin heboh sendiri.
"Mau digendong tidak?" tanya Karl menawarkan.
"Mau mau mau!"
Bern lalu memberikan Justin kepada Karl. Dia lalu menepuk bahunya pelan, berterima kasih tanpa mengucapkan kata karena kedatangan saudaranya ini telah membantunya meyakinkan Justin.
"Dia terkejut saat Justin menyebut nama Amora," jawab Bern seraya menghela nafas panjang. Sebelum lanjut berbicara, dia memastikan kalau Justin tidak menguping pembicaraan mereka. "Keponakanmu membahas soal wajah Amora yang berdarah-darah. Kemungkinan dia melihat kondisi yang Amora setelah kecelakaan itu terjadi."
"Apa ... kau baik-baik saja?"
"Bukan waktu yang tepat untuk membahas soal itu. Terlepas dari apa yang terjadi, sekarang Amora telah kembali padaku. Mari kita jangan lagi membahas luka lama yang telah dengan susah payah kulewati. Jangan membuatku kembali membencimu, Karl!"
Karl terkekeh pelan. Namun, sorot matanya jelas memancarkan rasa sesal yang begitu besar. Bern yang menyadari hal tersebut pun segera mengajaknya untuk duduk di sofa. Dia berniat menceritakan soal ucapan Justin yang lumayan mengguncang batin.
"Justin, sekarang Justin bermain dengan paman dino dulu ya. Ayah dan Paman Karl ingin membahas masalah orang dewasa dulu. Tidak apa-apa 'kan? Nanti Ayah akan menemanimu bermain setelah kami selesai mengobrol. Boleh?" ucap Bern meminta izin pada Justin untuk bicara sebentar dengan saudaranya. Hal ini dia lakukan untuk melatih Justin agar tidak terbiasa mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
"Tentu saja sangat boleh, Ayah," sahut Justin patuh. Dia lalu meminta turun dari gendongan sang paman dan dengan mandirinya berjalan menghampiri peternakan dinosaurus yang sudah hampir sepenuhnya lengkap. "Halo paman dini. Hari ini kita bermain berdua dulu ya. Ayah sedang bicara dengan orang dewasa, tapi nanti Ayah berjanji akan bermain dengan kita. Oke?"
Mendengar celotehan Justin yang begitu menggemaskan membuat Bern dan Karl tak kuasa untuk tidak tersenyum. Untuk beberapa menit mereka fokus memperhatikan Justin yang begitu bergembira bermain dengan para dinosaurusnya. Baru setelahnya mereka mulai mengobrolkan masalah yang cukup serius.
"Kau yakin Justin tidak sedang bicara omong kosong?" tanya Karl cukup kaget mendengar cerita Bern soal fakta mengerikan yang kemungkinan besar akan dialami oleh adik dan calon iparnya. Seketika Karl resah.
"Bukankah kau tahu sendiri kalau Justin memiliki kemampuan yang tidak biasa?" sahut Bern tak kalah resah. "Dia bahkan mengulangi perkataan itu bukan hanya sekali, Karl. Bahkan Nyonya Nandira hampir pingsan saat mendengar ucapannya itu."
"Astaga, bagaimana ini. Aku tidak tahu cara untuk menghalau kejadian itu supaya tidak menjadi kenyataan!"
"Sama, aku pun. Dan setelah kupikir-pikir lagi, hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghentikan kejadian itu."
"Apa?"
"Tidak membiarkan Flow dan Renata berada di sekitar sungai."
Kedua alis Karl saling bertaut. Dia merasa sedikit aneh mendengar rencana Bern barusan. Meski masuk akal, tapi feelingnya mengatakan kalau hal tersebut tidak bisa membuat kedua wanita itu selamat dari bahaya. Semuanya terlalu nyata.
"Ada apa dengan ekpresimu?" tanya Bern heran.
"Rencanamu cukup bagus, tapi tak menjamin kalau Flow dan Renata akan selamat." Karl membuang napas kasar. Dia lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa, menekan tulang hidungnya dengan kuat lalu kembali membuang napas kasar. "Justin punya kemampuan, Bern. Dan apa yang dilihatnya sudah pasti akan terjadi. Aku hanya sedang berpikir saja untuk tujuan apa kejadian itu terulang kembali. Mungkinkah Tuhan sedang mencoba mengembalikan ingatan mereka melalui kecelakaan itu, atau mungkin akan ada rahasia lain yang terbongkar di balik semua yang terjadi di keluarga kita. Entahlah, aku bingung."
Bern tertegun diam mendengar penuturan Karl. Jika seandainya benar kejadian itu ditujukan agar ingatan Flow dan Renata kembali pulih, otomatis Renata akan kembali mengingat jati dirinya sebagai Amora Shin. Lalu bagaimana dengan keinginan wanita itu yang pernah berucap ingin terlahir sebagai orang lain? Sikap apa yang harus Bern ambil dalam hal ini?
"Ayah, Nenek Zhu datang!" teriak Justin sambil menunjuk ke arah jendela. Melupakan peternakan dinosaurusnya, dia langsung berlari cepat ke arah tersebut lalu melambaikan kedua tangan. "Halo, Nenek Zhu. Kenapa baru datang? Tadi Justin takut sekali lho. Bibi dan Nenek Elea tidur, dan semua orang menjadi sedih."
Jangan ditanya seperti apa reaksi Bern dan Karl. Sepasang saudara kembar itu tampak membatu di tempat duduk masing-masing. Bayangkan saja. Dengan mata t*lanjang mereka bisa melihat langsung sosok wanita berpakaian jubah perang tengah berdiri di luar jendela yang tidak ada pijakannya sama sekali. Dan napas mereka seperti terhenti ketika tangan sosok tersebut menembus kaca lalu membelai kepala Justin penuh sayang.
"J-Jendral Liang Zhu," gumam Bern dan Karl berbarengan.
***