Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 74


Selayaknya anak kecil pada umumnya, Justin terlihat bahagia sekali ketika digandeng oleh kedua orang tuanya masuk ke sebuah restoran. Raut wajahnya terlihat begitu berbinar, sambil sesekali ia memperdengarkan celotehan lucu khas anak 3 tahun.


"Ayah, restoran ini besar sekali. Besarnya seperti lapangan bola!" seru Justin dengan hebohnya.


Bern tersenyum. "Justin suka tidak datang ke restoran ini?"


"Suka, Ayah. Kan Justin perginya bersama Ayah dan Ibu."


"Kalau hanya dengan Ayah ... suka tidak?"


"Semuanya suka, Ayah. Miss bilang anak-anak itu harus selalu patuh pada orangtua. Jadi kalau Ayah mengajak Justin pergi, itu tandanya Ibu sedang sibuk. Justin tidak boleh rewel."


Hati orangtua mana yang tidak terharu melihat anak yang baru berusia tiga tahun sudah sebegini perhatiannya. Begitu juga yang dirasakan oleh Bern dan Renata sekarang. Mereka bangga karena Justin tumbuh dengan pemikiran yang begitu dewasa meski usianya sendiri masih kanak-kanak.


"Hmmm, anak Ayah memang yang terbaik. Ayah bangga sekali, Nak!" puji Bern seraya mengelus puncak kepala Justin. "Oya, nanti di dalam kita akan bertemu dengan Kakek Gabrielle dan Nenek Elea. Justin jangan sampai lupa untuk menyapa mereka ya?"


"Baik, Ayah." Justin menoleh. Dahinya mengerut. "Ayah, Bibi Flow ikut tidak?"


"Kenapa memang?"


"Waktu itukan Bibi Flow bilang pada Justin akan membawakan cemilan yang banyak sekali. Justin ingin makan itu lagi."


"Ekhmmm!"


Renata langsung berdehem begitu Justin menyinggung soal cemilan. Hal itu membuat si pelaku langsung memperlihatkan cengiran khas yang mana membuat Bern dan Renata terkekeh. Lucu sekali.


"Sedikit saja, Bu. Ya?"


"Sudah pintar merengek kau ya sekarang," ucap Renata gemas melihat kelakuan putranya sendiri.


"Paman Reiden yang mengajari Justin, Bu. Katanya sebagai laki-laki tidak masalah kok kalau merengek sedikit," sahut Justin jujur mengatakan siapa yang telah mengajarinya cara merengek.


"Paman Reiden?"


Andai bisa terlihat, di kepala Bern telah muncul dua tanduk runcing begitu mendengar kalau sepupunya telah mengajarkan pemberontakan pada putranya. Huh, benar-benar ya si Reiden.


Awas saja kau, Rei. Nanti aku pasti akan membuat perhitungan denganmu. Beraninya kau mengajari Justin cara memberontak. Dasar Paman kurang ajar kau! Huh.


Elea, Gabrielle, dan juga Flow yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Justin segera menoleh saat pintu dibuka. Flow yang duduk di kursi roda langsung merentangkan kedua tangan begitu melihat keponakannya datang.


"Bibi Flow!" teriak Justin seraya berlari menghampiri sang bibi. Dia lalu memeluknya erat sekali.


"Aduhh tampan sekali keponakan Bibi. Harum pula," puji Flow sambil mencium rambut dan kening keponakannya.


"Kan Justin sudah mandi, Bibi. Jadi Justin harum."


"Oya? Mandi sendiri atau Ibu yang memandikan?"


"Ayah yang memandikan Justin."


Bern hanya tersenyum saja saat Justin menceritakan proses membersihkan tubuhnya. Dia lalu merengkuh pinggang Renata dan mengajak menghampiri ayah beserta ibunya.


"Selamat siang Ayah, Ibu,"


"Siang juga, Nak," sahut Elea. Ingin rasanya dia memeluk Bern, tapi berusaha dia tahan karena takut putranya marah.


Gabrielle yang tanggap akan keinginan Elea segera mengusap bahunya pelan. Dia lalu balas menyapa Bern, disusul dengan menyapa Renata.


"Halo juga Paman, Bibi. Kalian apa kabar?" sopan Renata menyapa. Jujur, saat ini dadanya berdebar-debar sekali. Memang bukan yang pertama mereka bertemu, tapi rasanya sungguh tidak karu-karuan. Rasa malu dan juga bahagia bercampur menjadi satu di hatinya.


"Kabar kami sangat baik, Ren," sahut Gabrielle.


"Ren, Ayah dan Ibumu jadi ikut makan siang bersama kita, kan?" tanya Elea.


"Baguslah. Ayo duduk. Tadi Bibi sudah memesan beberapa makanan ringan sebagai pembuka."


Renata mengangguk. Tepat ketika dia hendak duduk, Bern dengan cepat menarikkan kursi untuknya. Perbuatan pria ini tak ayal membuat Renata merasa tersanjung sekaligus malu. Malu karena tak sengaja melihat kedua orangtua Bern tersenyum sambil menatapnya.


"Terima kasih,"


"Tidak usah malu-malu, sayang. Ayah dan Ibu pasti paham mengapa aku melakukan hal seperti ini," ucap Bern iseng menggoda Renata. Dia kemudian duduk di sampingnya. "Sebentar lagi kita akan segera menikah. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan pada mereka. Oke?"


"Harus seterus-terang ini ya?" tanya Renata kikuk. Pria ini ... astaga.


"Tentu saja harus. Bahkan jika perlu aku akan memberitahu semua orang yang ada di dunia ini kalau kau adalah belahan jiwaku. Kau nafasku dan hanya aku seorang yang boleh memilikimu."


Renata speechless. Ternyata dia salah bertanya. Harusnya tadi Renata tidak menyinggung tentang hal-hal yang berbau cinta. Tapi ya sudahlah. Sudah kepalang basah juga. Lebih baik sekarang dia menata hati saja karena keposesifan Bern tidak mungkin berakhir hanya sampai di sini.


"Ibu, kenapa wajah Ibu memerah? Ibu sakit ya?" tanya Justin dengan polosnya. Dia terus menatap lekat sang ibu yang terlihat aneh setelah berbicara dengan ayahnya.


"Tidak, sayang. Ibu tidak sakit kok," jawab Renata kaget.


"Kalau tidak sakit lalu kenapa wajah Ibu memerah?"


"Emm itu ... itu ....


"Ibumu bukan sakit, sayang. Tapi Ibu sedang malu karena digoda oleh Ayah!" celetuk Bern dengan isengnya.


Justin termangu. Bingung mencerna celetukan sang ayah barusan. Sedangkan Renata, jangan ditanya lagi seperti apa malunya dia. Bayangkan! Di hadapan calon mertuanya, Bern dengan gamblang menggodanya. Manusia mana yang tidak tegang dan juga malu jika berada di posisinya sekarang.


"Bern, jangan kelewat iseng. Lihat, calon mantu Ibu jadi tak nyaman, kan?" tegur Elea langsung pasang badan membela calon mantu. Jujur, dia agak kaget melihat sikap Bern yang ternyata banyak bicara saat sedang bersama Renata. Ini cukup mengejutkan mengingat bagaimana dulu putranya begitu irit bicara.


"Dia bukan tidak nyaman, Ibu." Tangan Bern membelai pipi Renata yang tengah merona. "Calon istriku hanya sedang menahan rasa bahagianya. Makanya pipinya memerah. Dan itu membuatnya terlihat semakin cantik. Aku suka."


Blusshhhhhh


Renata benar-benar dibuat tak berkutik oleh bualan yang diucapkan oleh Bern. Tubuhnya kaku di tempat. Bahkan untuk sekedar tersenyum saja dia tak berani. Terlalu memalukan digoda di hadapan calon mertuanya.


"Justin, saat besar nanti kau jangan suka sembarangan merayu para gadis ya. Itu tidak baik!" sindir Flow dengan sengaja.


"Merayu itu apa, Bibi?" tanya Justin heran mendengar kosa-kata aneh tersebut.


"Emm apa ya?"


Giliran Flow yang dibuat speechless oleh kepolosan keponakannya. Dia jadi bingung sendiri bagaimana harus menjelaskan pada pria kecil ini.


"Bibi membawa cemilan tidak? Justin mau lho makan cemilan seperti yang ada di rumah Nenek waktu itu,"


Mendengar Justin kembali menanyakan soal cemilan, Renata berniat menegurnya. Namun belum juga mulutnya terbuka, Bern sudah lebih dulu memegang tangannya.


"Jangan terlalu mengekang. Biarkan saja Justin menikmati apa yang dia mau," bisik Bern.


"Nanti dia batuk, Bern." Renata keberatan.


"Tinggal kita beri dia obat. Selesai,"


"Tapi ....


"Sayang, Justin masih anak-anak. Terlalu mengekang takutnya akan berdampak pada tumbuh kembangnya. Kalau hanya sesekali tak apalah. Kita baru boleh melarang jika dia kecanduan makan cemilan dan tak mau makan nasi. Dan jika itu sampai terjadi, maka terserah kau mau melakukan apa padanya. Oke?"


Dan pada akhirnya Renata luluh akan ucapan Bern. Pria ini tak salah. Dia saja yang terlalu takut putranya sakit jika tidak kontrol makanan.


(Nak, anggap ini sebagai ganti rugi atas tiga tahun hadirmu tanpa Ayah. Berbahagialah. Lakukan apapun yang kau mau karena Ayah akan selalu pasang badan untuk membelamu.)


***