
Sreeettt
Di belakang mobilnya Bern, terlihat sebuah mobil berhenti di sana. Orang itu adalah Karl, si monster mengerikan yang menjadi dewa pelindung keluarga Ma.
"Kenapa sunyi?" gumam Karl sembari menatap gerbang rumah keluarga Goh yang terbuka lebar. "Mereka tidak mungkin sudah mati, kan?"
Penasaran, Karl segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah tersebut. Pandangannya kemudian tertuju kepada pria yang tengah berdiri di depan teras rumah tersebut.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Karl.
"Itu peledak!"
Tatapan mata Karl seketika menggelap. Peledak? Anak sekecil Justin sudah menerima hadiah semengerikan ini? Hmm, sepertinya orang yang mengirimkan barang tersebut sudah bosan hidup.
"Waktu yang tersisa sekitar lima menit lagi. Apa kau bisa membereskannya?" tanya Bern ketika Karl sampai di hadapannya. "Renata tidak mau aku celaka. Jadi urusan ini aku serahkan padamu!"
"Kau seperti tidak kenal keluarga kita saja, Bern. Jangan peledak, binatang buas saja bisa kita jinakkan. Apa yang kau khawatirkan?" sahut Karl dengan santainya menjawab. Setelah itu dia merogoh ponsel di saku celana dan menghubungi anak buahnya. "Kemarilah. Seseorang mengirimkan bom untuk keponakanku. Lima menit. Kau akan kubunuh jika terlambat!"
["Baik, Tuan Muda. Kami akan segera sampai secepatnya!"]
Klik. Panggilan terputus. Karl lalu menatap Bern yang terlihat sedang menahan amarah. Memberanikan diri, dia menepuk bahunya pelan.
"Jangan khawatir. Mulai detik ini aku akan menempatkan banyak penjaga untuk mengawasi semua penghuni keluarga Goh. Untuk Justin dan Renata, aku akan menempatkan pengamanan lebih bagi mereka. Kuharap kau tidak marah dengan keputusanku!"
"Lakukan apapun untuk melindungi hartaku. Apapun itu!" sahut Bern menerima.
"Baiklah."
Hening sejenak. Merasa ada yang aneh, Bern menoleh ke samping. Pandangannya kemudian bertemu dengan pandangan mata Karl.
"Ada apa?"
"Untuk kejadian beberapa tahun yang lalu ... maaf. Aku benar-benar menyesalinya. Kau mungkin tidak sudi mendengar penjelasanku, tapi aku akan tetap mengatakannya!" ucap Karl akhirnya berani untuk meminta maaf. "Bern, aku menderita. Sungguh!"
"Lupakan semuanya. Aku tak ingin lagi mengingatnya. Bagiku sudah cukup Renata dan Justin ada bersamaku. Yang lain aku sudah tak peduli lagi!"
"Aku harap tidak ada lagi dendam di hatimu. Biar bagaimana pun kita adalah saudara. Terlepas dari semua kejahatan yang pernah kulakukan, aku sangatlah menyayangi keluargaku. Aku ingin hubungan kita bisa kembali akur seperti dulu supaya Ayah dan Ibu merasa lega. Juga dengan mendiang Nenek. Sebelum meninggal beliau berpesan agar keluarga kita tidak terpecah belah karena kesalah-pahaman!"
"Akan kupikirkan lagi setelah Renata resmi menjadi istriku!"
Setelah tiga tahun lebih terbelit dalam kesalah-pahaman dan kebencian, Karl dan Bern akhirnya bisa tersenyum lagi. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena sepupu mereka yang lain sudah keburu datang.
"Bern, mana keponakan tersayangku? Siapa yang berani mengganggunya?" cecar Cio sambil meniup asap rokok ke atas.
"Justin sedang bermain petak umpet!" jawab Bern asal.
"Oh, benarkah?"
Tak ada sahutan.
"Lalu bagaimana dengan hadiah itu? Apa isinya?"
"Peledak!"
"APAAAAA??!"
Cio langsung terbatuk begitu diberitahu hadiah apa yang dikirim untuk keponakannya. Sialan sekali orang itu. Apa otaknya sudah geser sampai tega mengirimkan peledak untuk bocah yang usianya saja baru mau genap tiga tahun? Astaga.
"Sedang diselidiki!" jawab Karl. "Harusnya sebentar lagi kita sudah mengetahui siapa pengirim barang tersebut."
Dari arah gerbang terlihat dua orang pria datang sambil membawa sebuah kotak. Mereka kemudian membungkuk ke hadapan tujuh pria mengerikan yang masing-masing memiliki ciri khas saat melenyapkan musuh.
"Tiga menit tersisa. Bereskan sekarang!" perintah Karl tegas tak terbantahkan.
"Baik, Tuan Muda. Kami permisi!"
Mungkin jika hal ini terjadi di keluarga lain, mereka pasti sudah kalang kabut melarikan diri. Berbeda dengan ke tujuh pria muda tersebut. Dengan santainya mereka mengobrol sembari menunggu kabar tentang siapa orang yang ingin menyakiti Justin.
Drrtttt drrtttt
"Katakan!" perintah Karl sambil menyalakan tombol loudspeaker. Dia malas jika harus menjelaskan.
["Tuan Muda, orang yang mengirim barang tersebut adalah salah satu wanita yang pernah Anda sakiti. Sepertinya wanita tersebut tidak terima diceraikan oleh suaminya gara-gara kejadian waktu itu. Jadilah dia menyasar pada Justin dan Nona Renata. Dari informasi yang kami sadap dari ponselnya, wanita itu ingin menghabisi seluruh keluarga Goh. Dia juga membayar salah satu pelayan yang bekerja di sana untuk dijadikan mata-mata!"]
"Oh, jadi di rumah ini ada pengkhianatnya ya? Pantas momennya bisa sangat pas ketika semua orang sedang ada di rumah!"
["Lalu apa yang harus kami lakukan, Tuan Muda? Perlukah kami menangkap wanita itu kemudian membuangnya ke danau?"]
Sebelum menjawab, Karl melirik ke arah Bern terlebih dahulu. Dia merasa saudaranya jauh lebih berhak mengambil keputusan.
"Jadikan umpan untuk para buaya saja. Aku malas jika harus berurusan dengan lawan yang tidak seimbang!" ucap Bern agak jengkel begitu mengetahui siapa yang ingin mencelakai anak dan istrinya. Tadinya Bern mengira kalau dalang dibalik kejadian hari ini adalah Kimberly. Ternyata dugaannya meleset jauh.
"Kalian dengar itu? Seret dan lemparkan dia ke danau. Jangan lupa kirimkan videonya padaku sebagai bukti kalau kalian telah bekerja dengan baik!" perintah Karl pada anak buahnya.
["Baik, Tuan Muda. Kami akan segera melaksanakannya!"]
Cio, Reiden, Oliver, dan juga Andreas tampak bertepuk tangan melihat kekompakan si kembar. Mereka takjub menyaksikan keduanya yang kini kembali akur seperti semula.
"Karena kondisi sudah aman terkendali, bolehkah aku pergi dari sini? Flow sedang terapi di rumah sakit. Aku harus menemaninya dulu!" ucap Russell sambil berjalan menjauh meninggalkan para sepupunya.
"Astaga, b*jingan itu. Bisa-bisanya bicara sambil melenggang pergi. Kalau bukan saudara, sudah kuhajar dia sampai babak belur!" omel Cio sambil menatap jengkel ke arah sepupunya yang tidak berperasaan. Sikap Russell memang terkesan acuh dan dingin, tapi b*jingan itu bagaikan ninja jika amarahnya sudah tersulut.
"Jangan lupa ajak aku kalau kau ingin memberi pelajaran pada perebut pacar orang itu. Tanganku sudah sangat gatal ingin membuatnya babak belur!" imbuh Oliver. Dia punya dendam kesumat pada Russell sejak b*jingan itu terang-terangan menjadi perusak hubungannya dengan Flowrence.
"Hmmm, seperti apapun kelakuannya, Russell tetap saudara kita. Jangan mudah mendendam pada saudara sendiri. Tidak baik!" ucap Andreas menegur dua sepupunya.
"Baiklah, bapak penasehat. Kami patuh pada apa yang kau katakan!" seloroh Oliver. Kalau Andreas sudah buka suara, dia akan memilih untuk diam. Pesona pria ini membuatnya merasa segan untuk melawan.
"Good. Itu baru pria sejati. Yakin saja. Suatu saat Flow pasti akan kembali lagi padamu. Dia begitu karena kehilangan ingatannya. Jadi bersabarlah. Aku yakin Russell tidak benar-benar ingin merebut Flow darimu. Dia hanya sedang terobsesi saja pada rasa sayang yang dia rasakan!"
Dan pada akhirnya Bern mengetahui penyebab mengapa adiknya bisa menjalin hubungan dengan Russell. Meski begitu, Bern tak berniat mencari penjelasan. Biar saja. Flow sudah besar, adiknya bebas menentukan dengan siapa ingin menjalin hubungan.
"Tuan Muda, kami sudah selesai!"
"Pergilah."
"Baik. Kami permisi."
Begitu anak buahnya Karl pergi membawa peledak yang telah dijinakkan, Bern segera menghubungi Renata dan menanyakan keberadaan mereka. Namun sebelum itu dia meminta salah satu toko mainan agar mengirimkan kado yang sama persis dengan hadiah yang diterima oleh Justin. Putranya sangat cerdas. Takutnya nanti menangis jika hadiah itu tidak sama warna dan bentuknya.
***