Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 73


"Nona, sudah waktunya untuk menjemput Justin," ucap Lindri mengingatkan bosnya yang sedang sibuk merangkai bunga.


"Oh, benarkah?"


Cepat-cepat Renata bangun kemudian merapikan pakaian. Dia lalu melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 09.30 pagi. Setengah jam lagi putranya sudah akan keluar dari kelas, tapi di mana Bern?


Apa aku hubungi Bern saja ya untuk menanyakan sempatkah dia datang menjemput Justin atau tidak. Takutnya dia sedang sibuk, batin Renata.


"Lindri, tolong bantu bereskan yang ini ya. Aku mau menelpon Bern dulu," ucap Renata sembari berjalan menuju meja. Dia lalu meraih ponsel, sama sekali tak sadar kalau ucapan barusan membuat para karyawannya menyunggingkan senyum evil.


"Ekhmmm, yang sudah punya kekasih," goda Lindri dengan tengilnya. Suara deheman tersebut diikuti juga oleh teman-temannya.


Renata menoleh. Dan blusshhh, wajahnya memerah seketika begitu menyadari kalau dirinya sedang digoda oleh karyawannya sendiri. Tak mau anak-anak ini semakin menggila, Renata memutuskan untuk pindah ke ruangan lain. Dia tidak setabah itu menghadapi keusilan Lindri dan anak buahnya yang lain.


["Halo, sayang. Ada apa?"]


"Emm Bern, sebentar lagi Justin keluar dari kelasnya. Kalau boleh tahu kau sempat tidak menemaniku pergi menjemputnya?" tanya Renata begitu panggilan tersambung. Dadanya langsung berdebar-debar saat mendengar suara bariton pria ini.


["Aku baru saja sampai di depan toko. Keluarlah. Kita akan menjemput Justin bersama-sama."]


"Jadi kau sudah sampai?" kaget Renata. Segera dia keluar dari sana kemudian mengambil tas yang tergeletak di atas meja. Tak menghiraukan keusilan Lindri dan teman-temannya, Renata melangkah keluar dari dalam toko dengan kondisi ponsel masih menempel di telinga.


Melihat calon istrinya muncul, Bern segera mematikan panggilan kemudian melambaikan tangan. Posisinya sekarang sedang berdiri menyender ke pintu mobil.


"Kita langsung berangkat saja ya, Bern. Takut Justin menangis kalau kita telat datang,"


"Baiklah," sahut Bern. Tanpa merasa canggung sedikit pun Bern menggandeng tangan Renata kemudian mengajaknya masuk ke dalam mobil lewat pintu samping.


Seperti biasa, Bern dengan penuh perhatian memasangkan seatbelt ke tubuh Renata sebelum dia menyusul masuk. Setelah siap, mobil segera meluncur menuju gedung tempat putra mereka menuntut ilmu.


"Sayang, tadi di toko ada yang datang menemuimu tidak?" tanya Bern saat mobil berhenti di lampu merah. Dia bertanya seraya menatap seksama wajah Renata yang terlihat sangat luar biasa cantik. Cantik alami tanpa ada riasan neko-neko di wajahnya.


"Tidak, Bern. Hanya para pembeli bunga saja yang datang ke toko," jawab Renata. "Kalau boleh tahu kenapa kau bertanya seperti ini padaku. Apa kau memiliki janji dengan seseorang?"


"Kemarin Ayah dan Ibu bilang padaku akan datang ke toko untuk menemuimu dan juga Justin. Aku kira mereka sudah datang. Makanya aku bertanya tadi,"


"Paman Gabrielle dan Bibi Elea mau datang?"


"Iya. Mereka begitu mencintai putra kita. Juga karena Justin akan segera menjadi bagian dari keluarga Ma. Jadi kau jangan heran kalau setelah ini satu-persatu keluarga besarku akan sering muncul di toko. Mereka sangat penasaran denganmu dan juga pada putra kita!"


Deg


Keluarga besarnya Bern? Ada apa ini ya? Kenapa kata-kata tersebut terdengar tidak asing di telinga Renata? Aneh sekali. Lagi-lagi perasaan tersebut begitu de ja vu. Seolah mengajak Renata untuk mengenang sesuatu yang pernah dilakukannya dulu.


"Sayang, aku sudah mereservasi restoran untuk kita makan siang nanti. Dan rencananya di sana aku akan mempertemukan kedua orangtua kita. Aku berniat meresmikan hubungan kita di bulan ini. Kau keberatan tidak?" tanya Bern to the point.


"A-apa? Kau ingin mempertemukan orangtua kita? Hari ini?" pekik Renata syok. Matanya sampai terbelalak lebar saking kaget mendengar ucapan Bern barusan.


"Iya. Kenapa memangnya?"


"T-tapi, Bern. Tidakkah menurutmu ini terlalu cepat? Aku bahkan baru menyetujui lamaranmu pagi tadi. Kenapa mendadak ingin mempertemukan orangtua kita?"


Bern menghela nafas. Dia lupa memberitahu Renata kalau pagi tadi dia telah mengajak Paman Max dan Bibi Nandira untuk makan siang bersama keluarganya.


"Sayang, pagi tadi aku sudah memberitahu orangtua kita kalau nanti siang kita akan makan bersama. Dan aku lupa memberitahumu. Maaf ya,"


"Jadi Ayah dan Ibu sudah tahu tentang hal ini?"


"Sudah,"


"Ya Tuhan," ....


Tangan Renata bergerak mengusap wajah. Jujur, dia kaget sekali. Pergerakan Bern terlalu cepat.


"Ibuku bilang tidak baik menunda-nunda sesuatu yang menjurus pada kebaikan. Jadi aku pikir dengan mempercepat pernikahan kita itu akan membuatmu merasa bahagia. Tapi melihat reaksimu sekarang sepertinya kau tidak senang dengan rencana ini. Maaf ya karena aku sudah membuat keputusan sepihak. Nanti setelah sampai di sekolah Justin aku akan membatalkan pertemuan keluarga kita!" ucap Bern lesu. Renata-nya menujukkan reaksi enggan menikah cepat. Dan mau tidak mau Bern harus menghargai itu.


"Bern, jangan salah paham dulu. Aku tidak bilang tidak setuju dengan rencanamu. Aku hanya kaget saja tiba-tiba kau ingin mempertemukan keluarga kita. Tolong jangan marah ya?" sahut Renata panik melihat Bern merajuk. Ini gawat.


"Aku sama sekali tidak marah. Hanya sedih saja,"


"Kalau begitu jangan sedih-sedih lagi. Aku setuju dengan rencanamu. Siang nanti kita akan mempertemukan keluarga besar untuk membahas pernikahan kita. Oke?"


"Sungguh kau setuju?"


Renata menganggukkan kepala dengan cepat. Lega rasanya melihat pria ini sudah kembali tersenyum. Memberanikan diri, Renata meraih satu tangan Bern kemudian menggenggamnya erat. Dia lalu tersenyum saat Bern seperti kaget melihat perbuatannya.


"Kadang aku masih belum terbiasa dengan sikapmu yang tak suka buang-buang waktu. Bagiku semuanya terasa begitu cepat. Di awali dengan pertemuan kita yang tak disengaja, lalu berlanjut dengan kau membawaku pulang ke rumah orangtuamu. Semua itu terasa seperti mimpi bagiku, Bern. Sulit dipercaya kalau sebentar lagi aku akan segera menikah. Sungguh,"


"Tapi kau tidak menyesal bukan menikah dengan pria bermasa lalu buruk sepertiku?" tanya Bern memastikan. Rasanya dia seperti terbang di awang-awang mendapat perlakuan manis dari Renata.


"Bern, masa lalu yang pernah terjadi di hidupmu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Biarlah itu menjadi urusan antara kau dengan Amora. Kau cukup kenali aku sebagai masa depanmu saja. Karena pada dasarnya masa lalu dan masa sekarang adalah dua hal yang sangat berbeda. Dulu kau pernah bahagia bersama Amora, dan sekarang kau akan menyongsong kebahagiaan bersama Renata. Aku harap kau bisa membedakan kedua hal ini. Biarkan aku mengenalmu sebagai sosok Bern yang baru, bukan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya!"


Ren, tapi pada kenyataannya kau dan masa lalu itu saling berhubungan. Kalian adalah orang yang sama, dan aku masih dengan cinta yang sama. Dulu kau bernama Amora, dan sekarang namamu adalah Renata. Tapi aku, aku tetaplah Bern yang begitu bergantung pada cintamu. Dunia boleh saja berputar, tapi perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Aku mencintaimu, Amora ....


***