
"Cuaca hari ini sejuk sekali ya, Kak. Benar tidak?"
"Iya benar." Renata tersenyum. Dia bicara sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Flow. "Sekarang perasaanmu bagaimana. Sudah lebih baik?"
"Maksudnya?"
"Flow, aku tahu kau mempunyai alasan dengan mengajakku pergi jalan-jalan keluar. Ada apa, hm? Sesuatu tengah mengusik pikiranmu kah?"
Flow tertegun sejenak saat kakak iparnya mengetahui apa yang tengah dia rasakan. Peka sekali. Padahal Flow sudah berusaha keras untuk menyembunyikan perasaan tersebut.
(Apa aku beritahu kakak ipar saja ya soal bayangan-bayangan aneh yang selalu muncul dipikiranku sejak bertemu dengannya? Tapi nanti kalau kakak ipar merasa tak nyaman bagaimana? Aku tidak mau kalau dia sampai membenciku)
"Jangan diam saja, Flow. Ceritakan saja semuanya padaku. Jika bisa membantu, aku pasti akan membantumu. Sungguh," ucap Renata mencoba meredam keraguan Flow yang terkesan memilih untuk menutup diri. Kasihan gadis ini. Pasti beban yang ditanggungnya cukup besar hingga membuatnya terlihat gelisah.
"Emm kakak ipar, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Flow memutuskan untuk bertanya saja.
"Tentu saja sangat boleh. Tanyakan saja."
"Begini, Kak. Sejak pertama kali aku melihatmu, sejak saat itu aku selalu melihat potongan bayangan aneh yang cukup mengganggu. Awalnya aku mengira kalau itu terjadi akibat aku yang kelelahan terapi. Tetapi semakin sering aku memikirkanmu, bayangan itu bertambah menjadi semakin banyak dan berulangkali muncul dalam mimpiku. A-aku terkadang juga merasa kalau kita itu sudah saling kenal sebelumya. Tolong kau jangan tersinggung ya, Kak. Aku sama sekali tak berniat membuatmu merasa tak nyaman. Sungguh!"
Setelah berkata seperti itu Flow memegang tangan sang kakak ipar yang berada di pegangan kursi roda. Dia lalu mendongak, menatap tak berdaya pada wanita yang juga tengah menatapnya penuh raut keheranan. "Apa kau juga pernah merasakan hal semacam ini tentangku, Kak?"
"Ya, aku sering merasakannya. Bahkan saat sedang bersama Bern pun aku sering merasa de ja vu. Ucapannya, sikapnya, juga perlakuannya kepadaku sering membuatku merasa seperti sedang mengulang waktu yang sama," jawab Renata tak menampik akan adanya keanehan di dirinya. "Flow, tadinya aku berniat mencari tahu tentang seseorang lewat dirimu. Karena kebetulan kau membahas masalah ini lebih dulu, jadi bisakah kau memberitahuku seperti apa sosok Amora yang dulu sangat dicintainya oleh Bern? Namanya sangat tidak asing di telingaku."
"Amora?"
"Iya Amora. Kau kenal dia tidak?"
"Tidak. Aku tidak kenal dengan Amora." Flow menghela nafas. "Entah jika itu dulu. Ibu bilang setelah aku mengalami kecelakaan, aku tak bisa mengingat satupun tentang memori sebelumnya. Yang aku tahu dulu Kak Bern pernah memiliki kekasih yang bernama Amora. Lebih dari ini aku sudah tak tahu lagi, Kak. Maaf."
Kekecewaan sedikit menyelubungi hati Renata begitu mendengar jawaban Flow. Tidak, dia bukan menyalahkan. Hanya saja Renata merasa sedih karena gagal mencari tahu awal dari segala keanehan yang terjadi di hidupnya.
(Harus pada siapa aku bertanya? Flow tidak mengenal Amora, tidak mungkin juga aku memaksanya untuk mengingat. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku bertanya pada Karl? Tapi kalau dia marah bagaimana?)
"Kak, aku seperti mendengar suara arus sungai. Kita ke sana yuk!" ajak Flow penuh semangat. Tiga tahun ini tak sekalipun Flow tertarik pada sesuatu yang berhubungan dengan air. Akan tetapi hari ini entah mengapa suara arus sungai begitu menarik perhatiannya. Flow ingin ke sana.
"Apa tidak apa-apa kalau kita pergi ke tempat seperti itu, Flow?" tanya Renata agak khawatir mengikuti keinginan Flow. Dia takut terjadi sesuatu.
"Lho, memangnya kenapa, Kak? Kan di belakang ada penjaga yang mengawal. Jika terjadi sesuatu, mereka pasti akan segera menyelamatkan kita. Jadi jangan khawatir. Oke?" jawab Flow meyakinkan.
"Apa kau begitu ingin kita pergi ke sana?"
Flow mengangguk dengan cepat. Dia bahkan sudah tak sabar ingin segera melihat derasnya air di sungai tersebut.
Tak tega menolak permintaan Flow, Renata akhirnya mendorong kursi roda menuju sumber suara. Penjaga yang melihat keduanya mulai menjauh segera berlari menghampiri. Mereka berbagi tugas. Ada yang mengawal tepat di belakang kedua majikan, ada juga yang mengawasi keadaan sekitar. Bakal mati sia-sia mereka jika mantu tertua keluarga Ma sampai celaka. Ditambah dengan seorang nona manis yang bahkan rambutnya saja tak boleh sembarangan di sentuh.
"Sungai ini ....
Deg deg deg
"Kakak ipar, apa kau merasakan hal yang sama juga dengan yang kurasakan sekarang?" tanya Flow sembari menelan ludah. Rasa takut hinggap menyelimuti perasaan. Sangat aneh.
"Iya, Flow. Takut, tapi juga sedih. Kenapa ya?" jawab Renata terheran-heran sendiri.
"Ini ada ya, Kak. Kenapa perasaanku jadi tak karu-karuan begini. Apa mungkin air sungai ada hubungannya dengan masa lalu kita berdua?"
"Itu bisa saja terjadi karena aku pernah mengalami kecelakaan dan mobilnya tercebur ke sungai. Sepertinya rasa takut yang muncul memang berasal dari sana."
Saat Flow dan Renata sedang kebingungan dengan diri sendiri, dari kejauhan terlihat Gabrielle yang datang bersama Elea. Raut wajah mereka terlihat panik sekali. Entah karena apa.
"Tuan Gabrielle, Nyonya Elea," sapa para penjaga.
"Kenapa kalian tidak mencegah mereka agar tidak datang ke sungai? Kalian tahu kan kalau Flow tidak boleh sampai mengingat kejadian itu?" ucap Gabrielle keras menegur kelalaian para penjaga.
"Tuan, kami semua sudah berusaha mencegah. Akan tetapi Nona Muda tetap berkeras untuk datang kemari bersama Nyonya Renata. Kami tak berani melawan keinginannya," jawab salah satu penjaga menjelaskan.
"Apapun itu kalian tetap tidak boleh mengizinkan datang ke tempat seperti ini. Itu membahayakan nyawa putriku. Tahu!"
"Kami minta maaf, Tuan. Kami lalai."
"Sudah, kalian jangan berdebat lagi. Lebih baik sekarang kita ajak Flow dan Renata pulang saja. Aku tidak mau Flow sampai kenapa-napa, sayang," lerai Elea gelisah.
"Baiklah. Ayo!"
Segera Gabrielle mengajak Elea menghampiri Flow dan Renata yang tengah asik berbincang di pinggir sungai.
"Lho, Ayah, Ibu. Kapan kalian datang?" tanya Flow kaget melihat kemunculan orangtuanya.
"Kami baru saja datang, sayang," jawab Gabrielle sebelum menciut puncak kepala putrinya penuh sayang. Panik sekali dia tadi.
"Paman, Bibi. Selamat siang," sapa Renata sopan.
"Selamat siang juga, sayang," sahut Elea. "Kami tidak menemukan kalian di apartemen Bern. Lalu ibumu memberitahukan kami kalau kalian sedang pergi jalan-jalan. Dan ya, kami akhir menyusul. Tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja tidak, Bibi. Aku dan Flow malah senang kalian datang kemari. Jadi semakin ramai,"
Elea terus mengobrol dengan Renata sambil tangan tak henti mengelus rambut Flow. Khawatir terjadi sesuatu, Gabrielle segera membujuk Flow agar pulang ke rumah saja. Alasannya sangat klise. Dia tak tahu bagaimana cara menyusun keluarga dinosaurus kesukaan cucunya.
"Paman harusnya tidak perlu repot membeli ini itu untuk Justin. Nanti dia semakin manja pada Paman."
"Justin adalah cucuku, Ren. Jadi tidak ada kata repot untuk menyenangkan cucu sendiri," sahut Gabrielle maklum akan rasa sungkan di diri calon menantunya.
"Takutnya nanti Justin jadi merasa bebas untuk meminta barang yang diinginkannya. Tapi terima kasih banyak, Paman. Terima kasih sudah menyayangi Justin seperti cucu kalian sendiri," ucap Renata dengan tulus berterima kasih. Dia terharu.
(Renata, andai saja kau tahu kalau Justin adalah duduk kandung kami, kau pasti tidak akan sesungkan ini. Hmmm, kasihan sekali kau, Nak.)
***