
Di hadapan Renata, Bern dengan gilanya mencekik pria aneh yang telah membuat calon istrinya ketakutan. Emosinya meluap, tak terima ada pria yang coba mengusik miliknya.
"Kau tahu tidak apa yang akan terjadi padamu jika berani menyentuh milik orang?" tanya Bern penuh nada ancaman.
"L-lepaskan a-aku. Le-passs!"
"Lepas?" Bern menyeringai. Bukannya melepaskan, yang ada cekikan Bern malah semakin menguat. Hal itu menyebabkan lidah pria aneh itu terjulur keluar dengan kedua mata yang membelalak lebar. "Jika melepaskan nyawa dari ragamu aku mau. Akan tetapi melepaskan dengan cara membebaskanmu ... tunggulah sampai cacing bisa bicara seperti manusia. Saat itu mungkin aku akan dengan sukarela melepaskanmu!"
"R-Renata, t-tolong aku. Pria ini ... i-ngin membunuhku. T-tolong a-aku sayang," ....
"Apa kau bilang? Sayang?!"
"Bern, sudah!"
Renata bicara lirih. Tulang di kakinya seperti berubah menjadi jeli menyaksikan Bern yang tengah mencekik pria gila yang sudah cukup lama menerornya. Memberanikan diri, dia melangkah mendekati calon suaminya kemudian mengusap punggungnya pelan.
"Lepaskan saja ya? Dia belum melakukan apa-apa padaku. Sungguh!"
"Belum bukan berarti tidak, sayang. Hari ini mungkin dia memang belum sempat melakukan hal buruk padamu karena ada Russell, tapi dilain hari bagaimana? Apa ada jaminan kalau dia tidak akan melakukan apapun padamu?" geram Bern tak terima Renata memintanya melepaskan b*jingan ini. Jangan harap.
"Kau akan segera menjadi suamiku. Apalagi yang perlu kutakutkan?"
"Alasanmu tidak membantu. Menjauhlah. Biarkan aku menyelesaikan urusan dengan b*jingan k*parat ini!"
Russell diam menonton perdebatan yang sedang terjadi antara Bern dengan Renata. Iseng, dia merekamnya dengan ponsel. Setelah itu dia membagikan rekaman tersebut ke nomor para saudaranya. Russell merasa kalau Karl dan Cio perlu untuk mengetahui soal ini. Tidak seru jika mereka tidak dilibatkan.
(Renata dan Justin dikelilingi oleh darah mudanya keluarga Ma. Harusnya sih tidak ada orang yang berani mengusik mereka. Terkecuali jika orang tersebut bodoh dan punya nyawa ganda.)
Bughhh bughhhhh
Begitu melepaskan cekikan, Bern langsung melayangkan dua bogem mentah ke wajah si b*jingan ini. Tak puas sampai di sana, dia menarik rambutnya kemudian membenturkan kepalanya ke tembok. Masih belum puas, Bern mendorong tubuh pria ini hingga jatuh telentang di lantai kemudian menginjak perutnya sebanyak dua kali. Saat Bern hendak menendang kepalanya, dia dibuat kaget oleh jeritan Renata. Mungkin calon istrinya syok melihat b*jingan ini memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Jangan menakuti kakak ipar. Masalah ini serahkan saja padaku!" bisik Russell mencoba membujuk Bern. Dia tak tega melihat Renata yang sudah pucat pasi seperti mayat.
"Aku masih belum puas menghajarnya. Jangan menggangguku!" sahut Bern enggan melepaskan b*jingan tersebut. Dia terlalu tidak rela pria ini berani memanggil Renata dengan sebutan sayang. Hatinya sakit.
"Kau ingin aku melakukan apa padanya? Katakan saja!"
"Mati!"
"Oke."
Bern membuang nafas kasar berulang-ulang sebelum akhirnya memeluk Renata yang sedang meringkuk ketakutan. Tangannya bergerak lembut mengusap punggungnya yang sedang bergetar hebat.
"Maaf. Aku hanya terlalu tidak ingin ada pria yang coba mengambilmu dariku. Tolong jangan membenciku setelah melihat apa yang terjadi barusan," bisik Bern meminta maaf.
"Hiksss, jangan begini. Justin bisa berpikiran buruk jika melihat perbuatanmu tadi," sahut Renata seraya menangis pelan. Wajahnya tersembunyi di dada Bern. Teramat ngeri dan menakutkan kejadian yang baru saja dia lihat.
"Putra kita sedang bermain di luar. Jangan khawatirkan soal ini."
"Tolong jangan begini lagi, Bern. Aku takut."
"Aku tidak bisa janji, tapi aku akan berusaha melakukannya!"
Pria yang tadi dihajar oleh Bern nampak kesulitan bernafas sambil memegangi perutnya. Dan semua pergerakan itu tak luput dari pengawasan Russell. Sungguh tragis. Sebentar lagi pria ini akan segera sampai pada titik kematian karena malaikat maut sedang dalam perjalanan.
Seperti yang Russell duga, Karl dan Cio menjadi orang tercepat yang merespon rekamannya. Jika Cio membuat emot menyeringai dalam menaggapi berita ini, Karl hanya menulis tanda titik tanpa kata. Sudah pasti ini adalah sesuatu yang akan berakhir pada kematian. Karena Karl, adalah monster yang tidak bisa bernegosiasi pada siapapun yang berani mengusik keluarganya.
"Bern, di luar ada karyawan yang terluka. Haruskah aku yang menanganinya juga?" tanya Russell santai.
"Baiklah."
Apakah ada di antara kalian yang berpikir kalau Russell akan menolong si pria malang yang baru saja dihajar oleh Bern? Jawabannya tentu saja tidak. Dia melewatinya begitu saja meski pria tersebut sempat meminta tolong.
"Di mana Justin?" tanya Russell saat tak mendapati keberadaan sang keponakan.
"Justin sedang bermain diluar, Tuan."
"Oh. Pria yang di dalam apa sering membuat kekacauan di sini?"
"Cukup sering. Apalagi jika Nona Renata menolak untuk menemuinya. Terkadang kami sampai harus meminta bantuan polisi untuk mengusirnya dari sini. Pria itu tidak waras, Tuan. Dia memaksa Nona agar mau menikah dengannya."
Russell menghela nafas. Tangannya bergerak lihai membersihkan darah dari luka di kepala Lindri.
"Selain pria itu apa masih ada pria lain yang mengejar Renata?"
"Lumayan banyak. Hanya saja mereka masih memiliki rasa malu. Cara mereka mendekati Nona Renata terkesan sopan. Hanya pria ini saja yang gila!"
"Mereka single atau pria beristri?"
"Yang datang kemari statusnya beragam, Tuan. Ada yang masih bujang, duda, bahkan suami orang pun ada. Pesona Nona Renata terlalu menarik hingga membuat pria-pria itu tak henti berdatangan."
Saat Russell sedang mengobrol dengan karyawan Renata, di luar Justin sedang asik bermain dengan salah satu karyawan. Tak lama setelah itu sebuah mobil berhenti tak jauh darinya.
"Paman Karl!!" teriak Justin sambil melompat-lompat kesenangan melihat kedatangan sang paman. Segera dia menghambur ke arahnya begitu keluar dari dalam mobil. "Paman, Paman mau menolong Ibu ya?"
Kedua alis Karl saling bertaut. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap keponakannya. Setelah itu Karl segera menggendong Justin lalu menanyainya beberapa hal.
"Darimana kau tahu kalau Paman ingin menolong Ibumu?"
"Nenek Zhu yang bilang,"
"Nenek Zhu?"
"Iya. Tadi saat di mobil Nenek Zhu yang memberitahu Justin kalau Ibu sedang ketakutan. Makanya Justin dan Ayah tidak jadi pergi mencari uang," jawab Justin dengan polosnya.
Karl terdiam. Dia menatap seksama wajah keponakannya yang masih terus berceloteh aneh. Nenek Zhu? Mungkinkah sang jendral ikut terlibat dalam hal ini? Menarik. Rupanya arwah jendral itu masih belum tenang juga. Hmmm.
"Justin, sekarang Justin bermain dulu ya di sini. Paman mau masuk ke dalam untuk melihat keadaan Ibumu. Oke?"
"Oke, Paman."
Begitu Justin diturunkan dari gendongan, pandangan Karl langsung menggelap. Dia menatap datar ke dalam toko sambil membatin manusia t*lol mana yang berani mengusik calon iparnya.
"Haruskah aku menghabisinya?"
Karl menyeringai. Dengan langkah santai dia berjalan masuk ke dalam toko. Karl penasaran sekali b*jingan mana yang berani mencari gara-gara dengan anggota keluarganya. Membuat kesal saja.
"Oh, Karl. Kau sudah datang rupanya. Cepat sekali. Terbang apa bagaimana?" iseng Russell meledek.
"Tutup mulutmu. Di mana b*jingan itu?"
"Ada di dalam. Bern bilang ingin pria itu mati. Kau uruslah. Aku sedang sibuk!"
Tak ada sahutan. Lindri dan teman-temannya diam seperti patung saat mendengar percakapan kedua orang ini. Mati? Ya Tuhan ....
***