
"Kakak ipar, mau tidak pergi jalan-jalan denganku?" tanya Flow sembari menatap sang kakak ipar penuh harap.
"Jalan-jalan ke mana, Flow?" sahut Renata balik bertanya. Posisinya yang tengah duduk membelakangi Flow membuat Renata segera berbalik. Dia kemudian tersenyum saat mendapati adik iparnya malu-malu saat akan menjawab. "Jangan malu. Katakan saja kau mau pergi ke mana."
"Sejak semalam aku ingin sekali pergi berdua dengan kakak ipar. Aku merasa aman dan juga tenang saat sedang bersama kakak," jawab Flow lirih.
"Mengapa bisa begitu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi kalau kakak ipar sedang sibuk lain kali saja juga tidak apa-apa."
Renata kembali tersenyum. Memang benar kalau sekarang dia sedang sedikit sibuk mempersiapkan kebutuhan ulang tahun Justin besok. Akan tetapi melihat adik iparnya sampai memohon begini apakah dia rela untuk menolak? Sepertinya tidak.
"Emm sekarang masih jam dua siang. Bagaimana kalau kita jalan-jalan di sekitar sini saja. Cuaca sedang kurang mendukung. Aku takut kakakmu marah kalau kita pergi terlalu jauh. Bagaimana? Mau tidak?" ucap Renata menawarkan.
"Mau, Kak. Mau," sahut Flow kegirangan.
"Ya sudah, tolong tunggu sebentar ya. Aku mau membereskan barang-barang ini dulu. Kau bersiaplah. Oke?"
"Oke, kakak ipar."
Flow dengan penuh semangat menggerakkan kursi roda menuju kamar. Semalam dia menginap di apartemen ini. Flow tak tega meninggalkan keponakan dan juga kakak iparnya setelah kejadian kemarin. Juga karena dia merasa seperti ada yang menahannya untuk tetap tinggal di sini. Sangat aneh.
"Ayah, Ibu, aku pamit pergi sebentar ya. Flow bilang ingin pergi jalan-jalan. Tidak jauh kok. Hanya di sekitaran sini saja," ucap Renata pamit pada kedua orangtuanya.
"Ren, apa kau sudah meminta izin pada Bern?" tanya Max memastikan. "Jangan lupa dengan kejadian kemarin. Ayah tidak mau kalau kalian sampai kenapa-napa."
"Belum, Ayah. Setelah ini aku akan menghubungi Bern dulu. Kasihan dia. Pasti sedang sibuk mencari rumah baru untuk kami tinggali nanti."
"Apapun itu kau tetap harus meminta izinnya terlebih dahulu. Kalian itukan sudah mau menikah, dan besok Justin akan berulang tahun. Jangan sampai kedua acara ini gagal karena kau yang bandel tak mau mendengar omongan orangtua. Mengerti?"
"Iya, Ayah. Kalau begitu aku akan menelpon Bern dulu."
"Ya sudah sana."
Segera Renata mengambil ponsel kemudian menghubungi Bern. Calon suaminya itu sedang mengajak Justin melihat-lihat rumah yang akan mereka tempati setelah menikah nanti. Sebenarnya Renata sama sekali tak bermasalah untuk tetap tinggal di apartemen ini. Akan tetapi Bern menolak dengan alasan kalau apartemen ini sudah tidak aman lagi. Tak mau mendebat, Renata patuh saja pada yang dikatakan oleh Bern. Siapa tahu pilihan calon suaminya adalah yang terbaik untuk mereka.
["Halo, sayang. Ada apa? Semua baik-baik saja, kan?"]
"Iya semua baik-baik saja kok. Jangan khawatir," sahut Renata. Agak speechless saat Bern mencecarnya dengan penuh khawatir. "Begini, Bern. Tadi Flow bicara padaku kalau dia ingin pergi jalan-jalan. Katanya ingin berduaan denganku. Boleh tidak kalau kami pergi berdua? Tidak jauh kok."
["Jalan-jalan?"]
"Iya. Boleh tidak?"
Tak terdengar suara apapun dari dalam telepon setelah Renata mengatakan ingin pergi jalan-jalan dengan Flowrence. Tahu kalau Bern keberatan dengan permintaan tersebut, Renata mencoba membujuknya.
"Bern, bukankah kau bilang orang yang ingin mencelakaiku dan Justin sudah dimasukkan ke dalam penjara? Harusnya semua sudah amankan?" ucap Renata dengan lembut. "Dan juga kasihan Flowrence. Ibu bilang sejak Flowrence sakit dia jarang sekali mau pergi keluar. Paling jauh hanya akan pergi ke rumah sakit dan ke taman. Dan itupun bisa dihitung dengan jari. Tolong izinkan kami pergi berdua ya. Aku janji kami akan pulang dengan selamat. Oke?"
["Sayang, bukan itu masalahnya. Memang benar kalau penjahatnya sudah ditangani, tapi aku masih belum tenang jika harus membiarkanmu pergi tanpa ada aku bersama kalian. Tolong mengerti ya?"]
"Kasihan Flow, Bern. Dia begitu berharap aku mau pergi bersamanya."
["Sepeduli itu?"]
"Flow adikmu, yang adalah adikku juga. Tidak ada salahnya bukan kalau aku peduli padanya?"
Aneh. Padahal Bern mempekerjakan banyak penjaga untuk mengawasi sekitar gedung apartemen, tapi mengapa pria itu masih tak tenang juga? Renata jadi bingung. Memang seperti apa sih latar belakang orang yang ingin mencelakainya sehingga Bern harus sewaspada ini? Jadi penasaran.
"Kakak ipar, aku sudah siap. Ayo berangkat!"
Renata menoleh ke belakang saat mendengar suara Flowrence. Sedetik setelah itu dia merasa de ja vu dengan penampilan gadis ini yang memakai dres berwarna putih dengan pita merah di bagian bahu.
"Kakak ipar, kau kenapa?" tanya Flow khawatir.
"Hah? O-oh tidak, aku tidak kenapa-napa," sahut Renata tergagap. Dia kemudian berdehem saat teringat kalau panggilan masih tersambung. "Bern, kau masih di sana?"
["Ya, aku masih di sini. Apa itu Flow?"]
"Iya benar. Kau mau bicara dengannya?"
Renata segera memberikan ponselnya pada Flow saat Bern mengatakan ingin bicara sebentar dengan adiknya. Sembari menunggu keduanya selesai mengobrol, Renata diam memikirkan bayangan yang tiba-tiba melintas di pikiran. De ja vu? Mengapa kata ini seolah memberikan tekanan tersendiri di hatinya? Rasa takut, sakit, panik. Gelombang dari ketiga rasa ini begitu kuat menekan batin. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kakak ipar, Kak Bern ingin bicara denganmu," ucap Flow sembari menoel lengan kakak iparnya.
"Oh, iya."
"Aku tunggu di luar saja ya, Kak."
"Iya, Flow. Hati-hati ya,"
Flow mengangguk. Saat akan lewat di samping kakak iparnya, Flow tiba-tiba berhenti lalu memegangi dadanya. Muncul sebuah denyutan kuat di sana ketika Flow melihat bayangan aneh muncul di pelupuk mata.
"Kau kenapa, Flow?" tanya Nandira khawatir.
"Emm tidak apa-apa, Bibi."
"Yakin tidak apa-apa?"
"Iya. Biasalah. Aku inikan penyakitan. Wajar kalau ada rasa sakit yang suka muncul mendadak," sahut Flow beralasan.
"Oh, Bibi kira kenapa. Kalau ada yang sakit segera beritahu kami ya. Orangtuamu bisa sedih kalau kami tak bisa menjagamu dengan baik."
"Iya, Bibi. Tapi aku sungguh baik-baik saja."
Sambil mengobrol dengan Bern, Renata terus mendengarkan percakapan antara Flowrence dengan kedua orangtuanya. Dan pada akhirnya Bern mengizinkan mereka untuk pergi setelah meninggalkan beberapa petuah yang sangat mengekang.
["Ingat ya, sayang. Kau dilarang keras menatap pria lain yang kalian temui di jalan. Juga tidak boleh pergi tanpa mengajak penjaga. Aku akan sangat marah kalau kau melanggar aturan ini. Mengerti?"]
"Jangan khawatir. Aku juga tidak mungkin membiarkan Flow berada dalam bahaya. Pokoknya kau tenang saja. Nanti kami pasti akan kembali dengan selamat. Oke?"
["Aku sangat menyayangi kalian. Tolong tetap baik-baik saja sampai kita bertemu di rumah. Aku mencintaimu,"]
Blusshhh
Pipi Renata langsung bersemu merah saat mendengar ucapan Bern. Tak mau ketahuan sedang malu, Renata segera mengakhiri panggilan. Sebelum itu dia mengingatkan Bern agar tidak sembarangan membeli makanan untuk putra mereka. Justin sangat manja pada Bern, dan Bern tak pernah ragu menuruti semua keinginan Justin. Renata jadi khawatir.
"Sudah pacarannya?" ledek Nandira sambil tersenyum evil.
"Ibu ini bicara apa. Aku dan Bern sudah mau menikah. Tak pantas lagi disebut sedang pacaran," sahut Renata salah tingkah.
"Hanya kau saja yang bilang seperti itu. Lihat Ayah dan Ibu. Walaupun sudah punya cucu, kami masih tetap rajin untuk pacaran. Iyakan, Max?"
"Ibumu benar, Ren. Lagipula tidak ada salahnya juga kok pacaran dengan calon suami sendiri," imbuh Max tak melewatkan kesempatan untuk meledek putri kesayangannya.
"Haih, kalian ini ya. Suka sekali membuat orang menjadi malu. Sudah dulu ya. Kasihan Flow menunggu sendirian di luar."
Max dan Nandira kompak menganggukkan kepala sambil melambaikan tangan saat Renata melangkah keluar dari apartemen. Mereka kemudian kembali asik dengan kegiatan masing-masing.
***