Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 107


Raut wajah Bern terlihat tegang sekali seusai dia mendengar penuturan sang ayah. Sungguh, Bern sama sekali tak menduga akan ada sesuatu semengerikan ini yang disampaikan oleh putranya. Dia shock, tapi tak tahu harus melakukan apa.


"Entah yang dimaksud Justin adalah hari ini atau bukan tapi tadi Ayah menemukan Flow dan Renata tengah berjalan-jalan di pinggir sungai. Andai benar itu adalah kejadian hari ini, maka Ayah dan Ibu sudah sangat tepat dengan mengajak mereka pergi dari sana. Ayah tak tahu apa yang akan terjadi dengan mereka jika seandainya tak lekas datang menyusul ke sana!" ucap Gabrielle seraya menekan tulang hidungnya. Dia tak kalah panik. Putri dan calon mantunya berada dalam bahaya. Meskipun hanya berupa gambaran, tapi hal tersebut sangatlah mengguncang jiwa.


"Paman, Bern. Aku rasa kejadian yang dilihat Justin bukanlah kejadian yang terjadi hari ini. Justin memiliki kemampuan untuk melihat ke masa depan, itu artinya kemungkinan untuk Flow dan Renata hanyut di sungai masih sangat besar," ucap Russel dengan sangat serius. Dia lalu menatap bergantian ke arah paman dan juga sepupunya. "Ini adalah kode dari alam, Paman, Bern. Kita semua harus berhati-hati. Jangan pernah biarkan Flow dan Renata berada di sekitar sungai, entah itu sungai kecil atau sungai besar. Mulai sekarang kita semua harus berhati-hati. Jangan sampai kecolongan!"


"Tidak semudah itu kita melawan takdir, Rus." Bern menampik ucapan Russel. Frustasi, jelas. "Tuhan memberi Justin kemampuan melihat masa depan. Itu artinya apa yang dilihat Justin pasti akan menjadi kenyataan. Seketat-ketatnya kita menjaga keamanan Flow dan Renata, aku yakin itu semua akan tetap terjadi juga. Ibarat kata, kita semua hanya tinggal menunggu hari H-nya saja."


"Apa maksudmu bicara seperti itu, Bern?"


"Ayah, aku hanya sekedar menyampaikan fakta saja. Oke, ini memang berat. Dan tidak hanya Ayah saja yang merasakan, tapi aku juga. Sebelumnya aku sudah pernah ditinggalkan oleh Amora, tentu saja aku tak ingin kejadian itu terulang kembali. Namun, jika takdir sudah mengatakan demikian, apa yang bisa kita perbuat selain menerimanya? Ayah pikir mudah melawan tangan Tuhan? Sulit, Ayah!"


Suasana berubah menjadi tegang saat Bern berdebat dengan sang ayah mengenai kebenaran ucapan Justin. Russel yang melihat hal itu pun hanya bisa memijit pinggiran kepalanya. Posisinya sama seperti kedua pria tersebut, sama-sama takut kehilangan Flow. Russel tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya jika gadis manis itu sampai pergi dan hidupnya. Mungkin dia akan lebih memilih untuk mati saja daripada hidup menanggung kepedihan. Russel tidak sekuat Bern. Hatinya lemah.


"Paman, Bern, ada apa ini? Kenapa kalian saling berteriak di dalam rumah? Kalian sedang bertengkar apa bagaimana?"


Renata yang sudah kembali dari berbelanja dibuat kaget sekali saat mendengar suara pertengkaran di dalam apartemen. Segera dia masuk ke dalam dan meletakkan asal barang-barang belanjaannya. Dia lalu menatap bergantian pada dua pria yang saling melayangkan tatapan tajam.


"Kalian kenapa, hm?"


"Sayang, pergilah ke kamar. Tunggu aku di sana," ucap Bern membiarkan Renata tahu mengenai penyebab pertengkarannya dengan sang.


"Maaf, Bern. Bukannya aku tak mau patuh, tapi kali ini aku ingin tahu alasan kenapa kalian bisa bertengkar," sahut Renata menolak untuk pergi. Melangkah dengan pasti, dia mendekati calon ayah mertuanya yang terlihat sangat kesal. "Paman, ada apa? Flow sedang kurang sehat sekarang. Apa yang membuat Paman terlihat begitu kesal? Apa Bern telah mengatakan sesuatu yang membuat hati Paman merasa tersinggung?"


Gabrielle menghela nafas. Dia lalu tersenyum kecut, tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Bukankah kita adalah keluarga?" ucap Renata lirih. "Jujurlah, Paman. Aku tahu penyebab pertengkaran kalian adalah karena aku. Iya 'kan?"


"Tidak, Renata. Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu," jawab Gabrielle. Ekor matanya kemudian melirik ke arah Bern yang terlihat tegang menantikan jawabannya. "Kami ini lelaki. Wajar jika ada sepatah dua patah yang membuat kami saling berselisih paham. Tetapi kau jangan khawatir, ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu. Murni karena pertengkaran kami sebagai sesama lelaki."


"Jika aku berkata tidak percaya apakah Paman tetap tak mau bicara jujur?" desak Renata.


"Nak!" Tangan Gabrielle bergerak mengusap rambut Renata penuh sayang. "Sungguh, tidak ada masalah besar yang terjadi antara Paman dengan Bern. Kau harus percaya ini. Ya?"


"Aku haus. Kapan minumannya akan siap?" celetuk Russel memecah keraguan Renata. Dia lalu mengusap jakunnya beberapa kali. "Dehidrasi sungguh menyiksa. Kira-kira kapan aku akan mendapat seteguk air untuk membasahi tenggorokanku yang begitu kering?"


Meski tahu kalau Russel hanya sekadar mengalihkan perhatian, Renata tetap pergi ke dapur guna membuatkan minuman. Kesempatan ini lalu digunakan oleh Russel untuk mendamaikan ayah dan anak ini. Dia meminta mereka untuk bersikap tenang agar Renata tidak semakin kepikiran.


"Ayah, maaf. Aku terbawa emosi tadi," ucap Bern kemudian merangkul sang ayah penuh sesal. Dia merasa bersalah sekali karena tadi bicara dengan nada tinggi.


"Begitupun dengan Ayah, Bern. Ayah minta maaf karena tidak memikirkan perasaanmu saat bicara tadi," sahut Gabrielle legowo meminta maaf. Tangannya lalu mengusap punggung Bern beberapa kali. Dia merasa menyesal karena sudah bicara kasar pada putranya ini.


"Karena sekarang kesalahpahaman kalian telah terselesaikan, aku sarankan sebaiknya kau segera menghampiri Renata saja, Bern. Pastikan suasana hati calon istrimu tidak kacau setelah melihat pertengkaran kalian tadi," ucap Russel memberi saran. Dia lalu beralih menatap sang paman. "Dan untukmu, Paman. Lebih baik Paman temani Bibi Elea saja di kamar. Flow belum akan sadar untuk beberapa jam ke depan. Bibi sedang sangat membutuhkan kehadiran Paman sekarang. Pergilah!"


"Terima kasih sudah mengingatkan, Rus. Kalau begitu Paman pergi dulu," pamit Gabrielle sesaat sebelum pergi menuju kamar guna menemani istri dan anaknya.


Bern menatap Russel sejenak. Tangannya lalu terulur untuk menepuk bahu sepupunya ini.


"Sayang sekali aku tak bisa menerimamu sebagai iparku. Tapi terima kasih banyak sudah menjadi penengah saat aku sedang berselisih paham dengan Ayah tadi," ucap Bern penuh maksud tersirat.


"Hari masih sangat panjang, Bung. Di antara kita tidak ada yang tahu apakah aku atau Oliver yang akan menjadi iparmu," seloroh Russel santai menanggapi ucapan Bern. Dia sama sekali tak merasa tersinggung. Santai saja. Toh, takdir jodoh hanya Tuhan yang bisa menentukan.


"Tapi aku tetap ingin mengatakannya. Kau pria yang baik, juga sangat bertanggung jawab pada hidup adikku. Namun, sekali lagi sayang, hatiku masih menolak untuk menerimamu sebagai ipar. Sorry, mungkin ini menyakiti hatimu, tapi aku rasa jujur di muka itu jauh lebih baik daripada munafik dengan berkata lain di mulut lain dengan yang ada di dalam hati. Aku harap kau paham ucapanku!"


Russel tersenyum kecut. Dia lalu menganggukkan kepala. "Apapun pilihanmu, aku akan tetap melakukan yang terbaik untuk Flow. Kuharap kau tidak menghalangi yang satu ini, Bern."


"Aku tidak sekejam itu, bodoh! Jelas kau harus melakukan yang terbaik untuk Flow karena sekarang keberlangsungan hidup Flow ada di tanganmu. Lakukanlah yang terbaik karena aku pun meletakkan harapan yang sangat besar di bahumu. Tolong, jaga dan rawat adikku dengan sebaik mungkin."


Setelah itu Bern pamit untuk menemui Renata. Russel yang ditinggal sendirian memutuskan untuk rebah sebentar di atas sofa. Kedua matanya terpejam, sedang satu tangannya dia tempelkan di atas kening.


(Kira-kira Justin bisa menelaah arti mimpi yang muncul di tidurku tidak ya? Sungguh, ini sangat mengusik hati dan menggangu pikiran)


***