Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 111


"Ibu sedang apa?" tanya Justin sambil mengusap mata. Dia baru saja bangun tidur. Karena tak mendapati siapapun di kamar, Justin langsung keluar tanpa melakukan banyak drama. Dia lalu melihat sang ibu sedang berdiri di balik tembok.


Renata kaget sekali saat Justin tiba-tiba muncul dan bicara. Segera dia berjongkok kemudian mendekap pria kecil ini dan mencium rambutnya penuh sayang.


"Kenapa bangun, hm?"


"Justin sendirian, jadi Justin bangun."


"Oh begitu. Mau tidur lagi tidak? Biar Ibu temani,"


Justin menggelengkan kepala. Dia kemudian melihat ke arah ruang tamu di mana ada ayah, kakek, serta neneknya di sana.


"Ibu, ayo kita datangi Ayah. Justin mau digendong," ucap Justin mulai merengek. Padahal tadi tidak ada drama, tapi begitu melihat ayahnya dia langsung ingin bermanja.


"Emm, sayang. Nanti saja ya kita baru menemui Ayah. Sekarang Ayah sedang bicara dewasa dengan Kakek dan Nenek. Kita tidak boleh mengganggu dulu. Ya?" sahut Renata dengan lembut memberikan pengertian.


Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Bern mengajak kedua calon mertuanya bicara di ruang tamu. Renata yang penasaran dengan apa yang terjadi, memutuskan untuk mengintip. Juga karena dia ingin tahu soal wanita yang memanggilnya dengan sebutan Amora. Besar harapan Renata dapat mengetahui siapa wanita tersebut dengan cara menguping diam-diam. Namun, sayang. Dia sudah lebih dulu ketahuan oleh Justin sebelum mendapat penjelasan apapun. Keingintahuannya pupus dalam sekejap mata.


"Sebentar saja, Bu. Justin mau digendong dulu. Justin mau Ayah. Hiksss,"


Karena keinginannya tak terpenuhi, Justin pun mulai menangis. Bern yang sedang menemani calon mertuanya mengobrol seketika waspada dan langsung mengingatkan agar tidak membahas soal Ruth dulu. Setelah itu dia beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju ke arah suara tangisan Justin berasal.


"Justin kenapa, sayang?" tanya Bern.


"Dia mencarimu," jawab Renata tak berdaya menghadapi kemanjaan Justin. "Kau sedang bicara serius dengan Ayah dan Ibu, jadi aku melarangnya agar jangan mengganggumu dulu. Tetapi Justin malah menangis,"


"Kenapa tidak diantarkan saja padaku? Kami tidak sedang membicarakan hal penting kok."


"Bern, jangan selalu membiarkan Justin mendapatkan semua yang dia mau. Kita harus mengajarinya cara untuk bersikap sopan ketika orang lain sedang bicara. Akhir-akhir ini aku sudah cukup diam membiarkanmu dan para saudaramu memanjakan Justin. Kalau tidak dibatasi, putra kita bisa saja tumbuh menjadi anak manja yang keras kepala. Aku tidak mau Justin seperti itu. Tolong mengerti ya?"


Sudut bibir Bern berkedut. Akhirnya ketahuan juga sifat asli Renata dalam merespon sikapnya dan para sepupu yang lain saat memanjakan Justin. Bern kira Renata tidak marah, ternyata wanita ini sama seperti para ibu lainnya yang tidak suka jika anak mereka terlalu dimanjakan.


Tetapi jika dipikir-pikir lagi bukan salah Bern dan keluarganya terlalu memanjakan Justin. Justin adalah cicit pertama yang meneruskan marga keluarga Ma. Wajar jika hidupnya dikelilingi oleh banyak perhatian dan kemewahan. Itu sudah nasibnya.


"Aku sedang bicara serius padamu, Bern. Kau jangan malah tersenyum begitu," kesal Renata saat tak sengaja melihat sudut bibir Bern seperti berkedut.


"Iya maaf." Bern berdehem. Dia lalu berjongkok dan menyeka air mata yang membanjir di pipi Justin. "Jagoannya Ayah, lain kali Justin harus mendengarkan apa kata Ibu. Saat orangtua sedang bicara anak-anak dilarang menimbrung. Itu tidak sopan namanya. Ya?"


"Tapi Justin tidak menimbrung, Ayah. Justin hanya ingin digendong Ayah sebentar," sahut Justin dengan polosnya menjawab.


"Justin, ingat. Jangan membantah perkataan orangtua. Di sekolah Miss juga mengajarkan hal ini, bukan?"


Kedua mata Justin kembali berkaca-kaca saat kena tegur oleh ibunya. Bern yang melihat hal itupun merasa tak tega. Sikap Renata agak lain hari ini. Tidak biasanya Renata setegas ini pada Justin. Ada apa ya?


(Apa jangan-jangan Renata begini karena masih kesal aku melarangnya bicara dengan Ruth? Sialan sekali wanita itu. Gara-gara sikap lancangnya sekarang putraku yang jadi korban. Aku tidak terima ini)


"Sayang, Justin itu masih anak-anak. Jangan terlalu keras padanya. Aku minta maaf jika perlakuanku pada putra kita membuatmu merasa tak senang. Tetapi tolong kau jangan memelampiaskannya pada Justin. Dia tidak tahu apa-apa," ucap Bern dengan lembut meminta maaf. Dia berusaha memahami kondisi mental calon istrinya yang kemungkinan sedikit terguncang akibat pertemuannya dengan Ruth.


"Apapun alasannya aku tetap tidak menerima putraku dimarahi!"


"Aku tidak memarahinya, Bern. Aku hanya mengajari Justin bagaimana cara bersikap pada yang lebih tua. Kau paham itu!"


Bern terkesiap kaget saat Renata bicara dengan nada suara yang lumayan tinggi. Sedangkan Justin, bocah itu langsung berhenti menangis. Justin tergugu, syok karena tak pernah melihat ibunya berteriak seperti itu.


"I-Ibu, Justin takut," cicit Justin dengan suara gemetar.


Renata tersentak. Dia seperti ditarik dari alam bawah sadar ketika melihat Justin bicara terbata. Sadar akan perbuatannya sendiri, Renata segera melepaskan dekapannya dari tubuh Justin kemudian berlari cepat menuju kamar.


(Ya Tuhan, apa yang baru saja kulakukan? Mengapa aku bersikap kasar dihadapan Justin? Apa yang salah dengan diriku?)


"Bern, ada apa ini? Kenapa Renata berteriak sampai sekencang itu? Suaranya sampai terdengar ke ruang tamu tadi," tanya Max penuh penasaran.


"Aku juga tidak tahu, Ayah. Sepertinya ini disebabkan oleh kemunculan Ruth. Batin Renata pasti terguncang. Itu sebabnya dia bersikap emosional," jawab Bern seraya membawa Justin ke dalam pelukannya.


"Ya ampun, kok bisa sampai begini sih. Memangnya Renata ingat ya kalau Ruth ....


"Syutttt!"


Max langsung terdiam saat Bern memberi kode agar dirinya tidak lanjut berbicara. Justin yang masih syok akan sikap ibunya diam-diam menyembulkan kepalanya dari arah dada ayahnya. Dia menatap kakeknya sekilas, lalu kembali menyembunyikan wajahnya ke sana.


"Justin, lain kali Justin tidak boleh membuat Ibu marah seperti tadi ya. Justin harus dengar apa yang Ibu katakan. Oke?"


"Apa Ibu akan berteriak seperti tadi kalau Justin tidak patuh?"


"Tentu saja tidak. Ibu seperti itu karena sedang lelah. Kan kemarin Justin baru ulang tahun, dan yang menyiapkan semuanya adalah Ibu. Jadi mulai sekarang kalau Ibu bilang tidak boleh, maka Justin harus menurut. Kasihan Ibu," ucap Bern tak membiarkan Justin takut pada ibunya. Itu bisa membuat Renata merasa buruk, dan Bern sangat tidak suka melihat wanita cantik itu bersedih hati.


"Baiklah, Ayah. Justin janji akan selalu patuh pada semua yang Ibu katakan. Tetapi ....


"Tetapi apa, hm?"


"Justin takut." Justin mengangkat wajah. "Tadi Ibu seram sekali saat marah. Itu mengerikan,"


Bern dan ayah mertuanya tertawa mendengar pengakuan Justin soal ibunya. Mau bagaimana lagi. Selembut-lembutnya Renata, wanita itu tetaplah memiliki naluri seorang dewi perang seperti kebanyakan wanita di luaran sana. Wajar jika Justin syok ketika melihatnya tengah menunjukkan taring. Hal yang wajar.


"Sekarang apa rencanamu, Bern? Ayah rasa masalah ini tidak akan selesai dengan mudah," tanya Max kembali membahas soal Ruth. Gara-gara wanita itu sekarang istrinya jadi sedih dan terguncang. Sama seperti yang terjadi pada Renata.


"Biarkan aku menemani Justin dulu, Ayah. Setelah itu baru aku akan mengurusnya," jawab Bern sembari menciumi puncak kepala Justin. Sorot matanya terlihat begitu dalam. Menandakan kalau saat ini hatinya tengah dikuasai amarah, tapi ditahan. "Yang mengusik keluargaku, aku tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah. Ada harga yang harus dibayar oleh mereka."


Walaupun sedikit bertentangan dengan hati nurani, tapi kali ini Max setuju dengan Bern. Biar saja calon mantunya ini melakukan sesuatu yang kejam pada orang lain. Toh hal tersebut dilakukan demi melindungi kebahagiaan orang-orang tersayang. Siapa suruh memantik masalah tanpa ijin. Jadi terima saja konsekuensinya.


(Nona Ruth, aku tahu kau hanya ingin yang terbaik untuk kesembuhan ayahmu. Akan tetapi tindakanmu telah membuat mental dua orang wanita menjadi terguncang. Istri dan putriku, hati mereka kini menjadi gelisah. Maaf jika aku mendukung keinginan Bern yang akan membuat perhitungan denganmu. Kuharap kau bisa maklum!)


***