
"APA?? BUKAN AMORA?!"
Suara teriakan Cio cukup menggema di dalam restoran hingga membuat beberapa pengunjung sampai menoleh ke arahnya. Meski begitu, Cio sama sekali tak berniat meminta maaf. Dia malah cuek dengan terus berdiri sambil berkacak pinggang.
"Semalam aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau di tubuh Renata sama sekali tak ada luka yang dimiliki Amora. Dia bukan kekasihku, Cio," ucap Bern lirih. Pandangannya sendu antara kecewa dan juga bingung. "Padahal aku sudah berharap sangat banyak terhadapnya. Aku kira dia benar Amora-ku, ternyata aku hanya sedang terjebak dalam khayalku saja. Miris sekali."
Cio tercenung. Iba menyaksikan sepupunya gagal meraih kebahagiaan. Kendati demikian, Cio tak mau putus asa. Pasti ada jalan yang bisa menyelesaikan semua persoalan ini. Ya, pasti ada jalan keluarnya.
"Jangan patah keyakinan dulu, Bern. Tuan Kendra telah mengakui kalau Amora mempunyai saudara kembar. Dan kebenaran itu sudah terbukti di depan mata. Renata bukan Amora. Entah ini benar atau tidak, tapi aku yakin masih ada rahasia lain yang musti di pecahkan. Mereka memang kembar, tapi mustahil Renata bisa melahirkan Justin di saat hanya Amora yang pernah tidur denganmu. Pasti ada kesalahan yang tidak kita sadari di sini!"
"Kesalahan apa maksudmu?"
"Masalah ini serahkan saja padaku dan pada Karl. Di jamin semuanya akan selesai dalam waktu singkat!"
Dan begitu menyebut nama Karl, Cio langsung menelan ludah. Kali ini mulutnya benar-benar bocor. Bagaimana bisa dia dengan gamblangnya mengatakan ingin bekerjasama dengan Karl untuk membongkar semua rahasia tentang Renata dan Amora.
Dasar lidah tak bertulang. Kenapa sih harus kelepasan bicara sekarang. Kalau beruang kutub ini sampai mengamuk bagaimana? Bodoh sekali kau, Cio.
"Bern, jangan salah paham dulu. Aku bisa menjelaskan kenapa tadi ....
"Aku sudah tidak mempedulikan masalah itu lagi. Terserah kau ingin mengajaknya atau tidak. Yang terpenting aku sudah tahu kalau Justin adalah anakku dan Amora!" ucap Bern memotong perkataan Cio. Dia lalu mengembuskan nafas panjang, berusaha untuk menekan letupan rasa aneh yang mendesak kuat di dalam hati. "Seandainya aku menyukai Renata, apakah mungkin Amora akan membenciku? Dia akan merasa terkhianati atau tidak ya?"
"Itu tidak akan mungkin terjadi karena yang kau cintai adalah saudara kembarnya sendiri. Amora tidak mungkin berpikir kalau kau telah mengkhianatinya!" jawab Cio dengan penuh keyakinan. Setelah itu dia berjalan menghampiri Bern kemudian duduk di sebelahnya. "Bern, aku tidak bisa memaksamu untuk melupakan Amora. Akan tetapi alangkah baiknya kalau kau mau membuka lembaran baru dalam hidupmu. Semua itu bukan pengkhianatan, tapi wajar dilakukan oleh orang normal seperti kita. Kau butuh pasangan, apalagi sekarang kau mempunyai seorang putra. Apa kau tidak merasa kasihan jika harus membiarkan Justin tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, hm?"
"Aku tidak akan pernah melakukan kebodohan seperti itu, Cio. Justin dan Renata, mereka akan tetap bersama selamanya."
Tiba-tiba saja Bern tersenyum tipis. Cio yang menyadari keanehan di diri sepupunya tampak menautkan kedua alisnya. Agak aneh rasanya melihat Bern tersenyum seperti ini mengingat kalau sebelumnya Bern adalah tipe orang yang sangat irit bicara. Semuanya jadi terasa sedikit menyeramkan sekarang.
Aku tidak percaya kejiwaan Bern bisa sangat terguncang karena kepergian Amora. Ck, sepertinya aku dan Karl perlu bergerak cepat supaya masalah ini bisa segera menemui titik terang. Bisa bahaya kalau Bern dibiarkan dengan kondisi seperti ini.
"Oya, Bern. Kapan kau akan mengenalkan Justin pada Ayah dan Ibumu?" tanya Cio mengalihkan perhatian.
"Tidak akan sebelum aku menemukan Amora," jawab Bern.
"Kenapa harus begitu?"
"Karena aku tidak bisa melupakan sikap mereka tiga tahun yang lalu. Aku tahu Ayah dan Ibuku tidak bersalah, tapi aku tidak bodoh hingga tak bisa merasakan kalau mereka telah pilih kasih terhadap salah satu putranya. Aku tidak mendendam, Cio. Aku hanya belum siap bertatap muka dengan mereka. Ibu ... aku sudah beberapa kali bertemu dengannya. Tapi aku tak benar-benar bisa menerima kehadirannya. Ada dinding pembatas yang membuatku tak tahan setiap kali menatap tangannya!"
"Jika Renata yang memintamu, apakah kau akan membawa Justin untuk bertemu dengan kakek dan neneknya?"
Kedua sisi rahang Bern langsung mengetat begitu mendengar pertanyaan Cio. Segera dia menoleh kemudian melayangkan tatapan yang sangat tajam pada sepupunya.
"Jangan coba-coba libatkan Renata dalam hal ini, Cio. Cukup aku kehilangan Amora, tidak dengannya juga. Paham!"
"Oke-oke, sorry. Aku tidak bermaksud buruk pada Renata. Jangan marah!" sahut Cio sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Dalam hati dia merutuki kecerobohannya yang sudah asal bicara.
"Kalau kau benar ingin membantu, maka bantulah aku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu. Hatiku tak mungkin salah mengenali orang. Aku bahkan berani bertaruh kalau Renata sebenarnya adalah Amora. Tapi entah apa yang terjadi dengan semua luka-luka yang ada di tubuhnya. Sama sekali tak ada satupun yang tersisa. Aku bingung!"
Puk
"Pulanglah. Kau mengurung mereka di apartemenmu, bukan?" ucap Cio sembari tersenyum tipis.
"Aku tidak sesantai itu untuk memata-matai keseharianmu, Bern. Semuanya terlalu jelas dilihat lewat caramu bicara. Kau ... ingin memiliki mereka hanya untuk dirimu sendiri. Benar, kan?"
Kepala Bern tertunduk.
"Aku hanya tak ingin ada yang melukai mereka, Cio. Aku benar-benar akan mati jika sampai terjadi hal buruk pada Justin dan Renata. Aku tidak bisa," ucap Bern setengah berbisik.
"Karena itulah sekarang kau pulang saja dan temani mereka di sana. Kasihan Justin, Bern. Dia tidak mengerti apa-apa dalam hal ini!"
"Baiklah." Bern mengangkat wajahnya. Dia lalu menatap seksama ke arah Cio. "Jangan biarkan keluargaku tahu soal ini. Biarkan aku mencari kebahagiaan bersama dengan Renata dan anakku. Bisa?"
Cio mengangguk. Dia lalu menatap kepergian Bern yang melangkah gontai sambil menundukkan kepala. Kacau. Semuanya di luar pemikiran.
"Aku tidak tahu kalau kesalah-pahaman itu akan membuat Bern sampai sebegini hancurnya, Cio!"
Karl yang sejak tadi menguping pembicaraan Cio dan kembarannya langsung membuka suara begitu kembarannya pergi dari sana. Dadanya sesak, sakit, juga di dera rasa sesal yang begitu hebat.
"Tidak usah di sesali. Yang sudah terlanjur terjadi ya sudah biarkan saja. Sekarang kita hanya perlu membantu Bern memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Renata wanita cerdas. Aku khawatir ketakutannya membuat Bern menggila. Dia sedang dalam kondisi mental yang sangat kacau sekarang. Kita harus gerak cepat!" sahut Cio dengan mimik wajah yang begitu serius.
"Darimana kita akan memulai?" tanya Karl.
"Aku masih menunggu hasil penyelidikan orang-orangku dulu. Nanti hasilnya baru akan aku cocokkan satu-persatu dengan latar belakang Amora dan Renata," jawab Cio.
"Lalu bagaimana dengan lokasi kejadian?"
"Ini agak sedikit sulit, Karl. Medannya terlalu berbahaya, jadi tidak mudah untuk anak buahku menemukan bukti yang valid. Harus bersabar sebentar!"
"Ada banyak mutan yang menganggur. Kau bisa menggunakannya sesuka hati!"
"Nanti Ayahmu tahu. Kau dengar sendirikan kalau Bern sangat menentang keluargamu ikut campur dalam masalah ini?"
"Mutanku tidak hanya satu. Kau tinggal sebutkan mau yang mana!"
Cio menyeringai. Ini yang dia sukai dari Karl. Pria ini selalu mempunyai cadangan yang bahkan tak pernah dia bayangkan. Seorang Karl Wufien Ma, pria tampan nan sempurna yang tidak laku-laku. Hehehe.
Sayang sekali aku adalah seorang pria. Kalau aku wanita, aku pasti sudah mengejar cintanya Karl sampai ke ujung dunia sekalipun. Haihh, nasib-nasib. Kenapa sih Ayah dan Ibu harus melahirkan aku sebagai sepupunya? Menyebalkan sekali.
"Aku tahu kau sedang memikirkan yang tidak-tidak tentangku. Seriuslah. Masalah yang kita hadapi masih belum menemukan jalan penyelesaiannya!" tegur Karl agak kesal mendengar apa yang di pikirkan oleh bajingan ini.
"Ck, aneh sekali. Kenapa sih kau selalu tahu kalau aku sedang berpikiran yang aneh-aneh tentangmu. Kau cenayang atau bagaimana!" protes Cio dongkol karena Karl selalu tahu setiap kali dirinya sedang membatin.
"Raut wajahmu cukup menjadi alasan kenapa aku bisa mengetahui isi pikiranmu. Kau tidak mungkin tidak tahu bukan kalau ada ilmu yang membahas tentang hal ini?" sahut Karl dengan santainya berbohong.
"Cihh, menyebalkan!"
Tak lama setelah itu Karl dan Cio pergi meninggalkan restoran. Mereka memutuskan untuk kembali ke perusahaan masing-masing. Mencoba untuk mengesampingkan keanehan Bern yang tiba-tiba berubah menjadi sangat posesif pada Justin dan Renata.
***