
“Bern, aku ….
“Aku apa?” desak Bern kian tak sabar. Dia sampai memajukan tubuhnya ke depan agar bisa menatap Renata dari jarak dekat. “Aku apa, Renata? Apa benar kau pernah mengalami kecelakaan mobil tiga tahun lalu?”
Huaaaaa
Ketegangan yang sedang menyelimuti perasaan Bern dan Renata pecah saat mereka mendengar suara teriakan tangis Justin yang lumayan kencang. Reflek Bern langsung berdiri kemudian berlari ke arah bocah tersebut guna memeriksa apa yang terjadi. Renata yang melihat hal itupun bergegas menyusul. Jantungnya tadi seperti berhenti berdetak saat mendengar suara jeritan putranya.
“Ada apa ini?” tanya Bern. Kedua matanya membulat lebar mendapati Justin yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memegangi lututnya yang berdarah. Segera Bern berjongkok kemudian mengangkat tubuh Justin dan mendudukannya di atas pangkuan. “Astaga, Justin. Kenapa kakimu bisa berdarah seperti ini. Apa yang terjadi?”
“Huaaa, Ayah. Paman itu nakal sekali. Mobilnya jahat,” adu Justin sambil terisak-isak. Dia berteriak lagi saat luka di kakinya kembali berdenyut.
“Paman? Paman yang mana?”
Pandangan Bern beralih pada karyawan Renata yang tadi menemani Justin bermain. Dia kesal, tapi masih ingat kalau dirinya tak punya hak untuk memarahi karyawan tersebut.
“Ada apa ini?” tanya Renata sambil memegangi dadanya yang nyeri melihat keadaan putranya. Kakinya sampai terasa lemas.
“Nona Renata, laki-laki yang waktu itu datang kemari membuat ulah. Tadi saat aku dan Justin sedang bermain petak umpet dia tiba-tiba datang dan langsung menyerempet kaki Justin menggunakan mobilnya. Waktu aku ingin mengejar, dia sudah lebih dulu melarikan diri. Sepertinya dia masih marah akibat penolakanmu waktu itu!”
“Pria?”
Renata menatap Bern resah. Dia kemudian mengangguk.
“Kekasihmu?”
Agak cemburu saat Bern mendengar penuturan karyawan Renata. Ada yang bergejolak di dalam hatinya, entah apa. Dan itu membuatnya merasa kesal sekali.
“Bukan, orang itu bukan kekasihku. Hanya seorang pelanggan yang kebetulan ingin menjadikan aku sebagai kekasihnya. Waktu itu aku menolak, dan sepertinya penolakan itu membuatnya tersinggung. Tapi aku sama sekali tak menyangka kalau laki-laki itu akan tega menyakiti Justin untuk memelampiaskan kemarahannya padaku. Dia nekad!” jawab Renata sambil berjongkok di samping Justin. Tangannya terulur menyeka pasir yang menempel di kaki putranya. Sakit sekali. Jantungnya serasa dir*mas melihat luka yang masih mengeluarkan darah. “Bern, bisakah kau membantuku membawa Justin masuk ke dalam? Lukanya harus segera di obati supaya tidak memburuk.”
Tanpa mengatakan sepatah katapun Bern langsung berdiri dan membawa Justin masuk ke dalam toko. Rahangnya tampak mengerat, menandakan kalau saat ini dirinya sedang dalam suasan hati yang kurang baik. Entah apa alasannya, Bern tidak tahu. Yang jelas dia merasa kesal sekali. Dia merasa muak tanpa sebab.
Ini mataku salah melihat apa tidak ya. Kenapa Bern terlihat seperti seseorang yang sedang memendam amarah? Apa iya dia sedang cemburu gara-gara aku menceritakan tentang pria itu?
Sambil terus bertanya-tanya dalam hati, Renata pergi ke dapur guna mengambil air untuk membersihkan luka di kaki Justin. Tak lupa juga dia mengambil obat dan juga plaster untuk membungkus lukanya. Dan sesampainya di hadapan Bern, dia dibuat bingung saat mendapati wajah dan mata pria itu yang memerah. Aneh.
“Bern, kau kenapa? Sakit?” Renata memberanikan diri untuk bertanya. Dia berjalan pelan menuju ke arahnya, lalu menelan ludah saat pria ini menatapnya tajam.
“Lain kali saat sedang bekerja jangan memakai pakaian yang terbuka, Renata. Dengan begitu kau tidak akan menarik perhatian laki-laki. Paham!” tegur Bern dengan mata berkilat marah.
“Pakaian terbuka?”
“Ya. Itulah sebabnya kenapa pria itu sampai ingin menjadikanmu sebagai kekasihnya. Kau harusnya paham kalau laki-laki di zaman sekarang sangat jarang yang mempunyai hati baik. Lihat sekarang. Justin yang jadi korban, kan?”
“Tapi Bern, selama ini aku tidak pernah mengenakan pakaian seperti yang kau sebutkan barusan. Aku sadar statusku, jadi tidak mungkin mengumbar tubuh demi menarik perhatian laki-laki. Kau sudah salah paham padaku!” sahut Renata membela diri.
“Salah paham apanya. Jelas-jelas pria itu ….
Sadar kalau sikapnya sudah membuat Justin ketakutan, Bern cepat-cepat meminta maaf padanya. Namun hatinya masih tetap dongkol pada Renata, hingga membuatnya acuh ketika wanita ini mulai mengobati luka di kaki Justin.
“Justin, Ayah bukan sedang meneriaki Ibu. Tapi Ayah sedang meneriaki Paman yang telah menabrakmu. Jangan takut ya,” ucap Bern selembut mungkin. Tangannya bergerak mengelus punggung bocah ini, berharap kalau penjelasannya barusan bisa membuatnya kembali tenang.
“Tapi Paman itu tidak ada di sini, Ayah. Paman sudah pergi bersama mobilnya yang jahat.”
“Iya Ayah tahu. Makanya Ayah kesal sekali tadi. Ayah minta maaf ya sudah membuat Justin takut. Ayah janji lain kali tidak akan berteriak lagi. Oke?”
“Janji?”
Justin menegakkan tubuh kemudian menyodorkan jari kelingking ke depan wajah ayahnya. Bern yang tidak paham apa maksud Justin, segera melihat ke arah Renata.
“Apa jarinya juga terluka?” tanya Bern dengan suara kecil.
“Tidak, jarinya Justin baik-baik saja,” jawab Renata sambil meng*lum senyum. Entah mengapa dia suka sekali melihat raut kebingungan di wajah Bern saat menghadapi tingkah laku putranya. Itu terlihat sangat manis. Sungguh.
“Kalau tidak terluka kenapa dia mengacungkan jarinya padaku?”
Renata balas menatap Bern.
“Saat aku dan Justin mengucap janji akan sesuatu hal, biasanya akan saling menautkan jari kelingking kami. Itu sebagai tanda kalau janji yang kami ucapkan sudah sah dan tidak akan dilanggar. Begitu.”
“Oh, Itu maksudnya.”
Setelah di beritahu oleh Renata, Bern segera menautkan jari kelingkingnya ke jari kecil milik Justin. Mereka berdua kemudian tertawa, tapi tidak lama karena Renata menggunakan kesempatan itu untuk meneteskan obat merah di luka Justin sebelum membungkusnya. Bern lalu menggendong Justin yang masih histeris karena keperihan. Sedangkan Renata, wanita itu pergi ke dapur untuk mencuci tangan dan mengembalikan obat ke tempat semula.
“Ayah, perih,” rengek Justin dalam gendongan. Kepalanya rebah di bahu sang ayah. Nyaman.
“Hanya perih sedikit. Tidak apa-apa. Justin pria kecil yang hebat, bukan?” sahut Bern dengan sabar menghibur bocah tiga tahun ini.
“Bukan, Ayah. Ibu, Nenek Nandira, Kakek Max, dan bibi pengasuh semuanya bilang kalau Justin adalah anak yang hebat, bukan pria kecil yang hebat. Ayah salah.”
“Oh, benarkah?”
Justin mengangguk. Tanpa sadar tangisnya berhenti sendiri saat dia dan ayahnya mulai memperbincangkan persoalan laki-laki. Sok sekali, bukan? Tapi yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang kalian bayangkan. Bern dan Justin sibuk membahas tentang peternakan dinosaurus dan juga kolam bola yang ada di rumahnya. Renata yang datang sambil membawa handuk basah tampak diam tercenung mendengar percakapan kedua pria beda usia itu. Hatinya tersayat, sedih karena Justin dan Bern terlihat layaknya anak dan ayah kandung.
“Ibu, ayo ke sini. Ayah bilang akan membelikan aku dinosaurus yang baru. Boleh, kan?” tanya Justin heboh sambil berteriak meminta sang ibu agar mendekat.
“Benarkah?” sahut Renata agak kaget saat Justin tiba-tiba memanggilnya. Dia lalu menatap Bern penuh maksud. “Bern, terima kasih sudah perhatian pada Justin. Akan tetapi alangkah baiknya kalau kau tidak terlalu memanjakannya. Bukannya apa, mainan Justin di rumah sudah sangat banyak. Mubadzir. Lebih baik kau ajarkan saja sesuatu yang bisa membuat Justin memahami tentang arti hidup. Karena hal-hal semacam itu akan jauh lebih berguna ketimbang menimbun mainan yang hanya di pakai sewaktu masih kecil saja. Ya?"
Amora … in-ini tidak mungkin. Dulu Amora selalu mengatakan hal ini setiap aku membelikan barang mahal untuknya. Mungkinkah ….
***