Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 109


"Selamat ulang tahun, sayang. Selamat bertambah besar. Semoga Tuhan selalu memberimu kebahagiaan serta kemuliaan ya," ucap Renata penuh haru saat memberi ucapan selamat pada Justin. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.


"Terima kasih banyak, Ibu," sahut Justin dengan gembira. Tangannya kemudian bergerak menyeka cairan bening yang menetes di pipi sang ibu. "Miss bilang kalau orang bahagia itu tersenyum, tapi kenapa Ibu menangis? Apa Justin sudah besar?"


Bern dan semua orang tersenyum melihat Justin yang tengah menasehati ibunya. Lucu sekali. Bocah ini mengira kalau ibunya menangis karena dirinya akan pergi jauh setelah ini. Dan yang lebih mengundang galak tawa lagi adalah saat Justin menyebut ibunya agar tidak bersikap kekanak-kanakan di hari ulang tahunnya. Menggelitik sekali.


"Ayah, coba lihat Ibu. Kenapa air mata Ibu semakin banyak keluar seperti akan tsunami?" tanya Justin heran sendiri melihat air mata di wajah ibunya semakin deras mengalir.


"Ibu begitu karena Ibu sangat menyayangi Justin," jawab Bern sembari tersenyum kecil. Dia lalu berjongkok di samping Renata, membelai rambutnya penuh sayang sebelum membantu Justin menyeka air mata di pipinya. "Jangan sedih. Hari ini adalah hari bahagia putra kita. Lihat, Justin jadi panik melihatmu menangis."


"Hiksss, aku masih tak percaya memiliki Justin di dunia ini, Bern. Melihatnya tumbuh setiap hari membuatku merasa sangat terharu. Sekarang usianya sudah genap tiga tahun. Itu berarti sudah sebanyak 1095 hari kulewati hanya untuk merawatnya. Kami sudah bersama selama itu, Bern. Kau bisa bayangkan sendiri bukan betapa aku sangat mencintai Justin?" ucap Renata sambil terisak lirih. Dia menangis bukan karena sedih, tapi terlalu bahagia karena memiliki Justin di hidupnya.


"Iya, sayang. Aku pun juga sangat mencintai Justin meski kita belum lama bertemu. Bagiku kalian adalah harta yang tak bisa dinilai dengan apapun. Kalian adalah kebahagiaanku."


Semua orang yang ada di sana merasa sangat terharu sekali menyaksikan ketiga orang di hadapan mereka saling berpelukan. Bagi yang tahu tentang hubungan Bern dan Amora, mereka pasti akan merasa terenyuh jika teringat dengan badai besar yang terjadi tiga tahun lalu. Namun syukurlah sekarang badai tersebut berhasil terlewati dengan baik. Semuanya kini berkumpul dengan penuh kebahagiaan.


"Nah, Justin. Ini adalah hadiah dari Bibi. Semoga kau suka ya." Flow memberikan satu berkas yang terbungkus dalam map merah kepada Justin.


"Hadiahnya kok jelek begini sih, Bi. Dan kenapa tidak dibungkus kado. Apa isinya?" tanya Justin penasaran sambil membolak-balik hadiah pemberian sang bibi. Aneh sekali. Hadiah dari ibunya dibungkus dengan kotak besar, tapi kenapa hadiah dari sang bibi tidak demikian?


"Isinya adalah ....


Sesuai yang Flow rencanakan, dia bersama ayah dan ibunya membeli satu lahan kosong yang nantinya akan diisi dengan wahana dinosaurus kesukaan Justin. Dan sekarang proyek pembangunan wahana tersebut sedang dalam tahap pembangunan.


"Hadiahnya nanti akan Bibi tunjukkan setelah jadi ya, sayang. Pokoknya Bibi jamin kau pasti akan sangat menyukainya."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Nenek Elea dan Kakek Gabrielle."


Segera Justin menatap kakek dan neneknya untuk memastikan apakah perkataan sang bibi benar atau tidak.


Gabrielle yang sedang berdiri di samping Elea memutuskan untuk mendekati sang cucu. Dia berjongkok di hadapannya lalu mengusap pipinya penuh sayang.


"Cucu Kakek yang paling tampan, selamat ulang tahun ya. Yang dikatakan oleh Bibi Flow benar kalau hadiahnya baru akan Kakek, Nenek, dan Bibi tunjukkan setelah siap. Tidak apa-apa 'kan?"


"Memang hadiahnya seperti apa sih, Kek. Apa itu seperti rumah pohon?" tanya Justin antusias.


"Justin suka rumah pohon?"


"Emm tidak suka. Bibi Flow yang suka dengan rumah pohon."


"Hah?"


Semua orang dibuat bingung oleh ucapan Justin yang menyebut kalau Flow dulunya tinggal di dalam rumah yang mirip rumah pohon. Detik demi detik terlewat akhirnya Bern dan Karl menyadari kalau Justin tengah membicarakan soal masa lalu Flow. Entah benar atau tidak, kemungkinan besar dulunya Flow adalah seorang peri. Mungkin.


"Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan hubungan Flow dan Oliver, Karl. Apa mungkin dulunya mereka punya suatu hubungan yang belum selesai sehingga terbawa sampai ke masa sekarang?" bisik Bern sambil melirik ke arah Renata yang tengah melamun. Sejak kejadian kemarin calon istrinya ini banyak tak fokus pada apa yang tengah terjadi. Pikiran Renata seperti melayang ke mana-mana.


"Aku juga berpikir seperti itu. Biarlah. Masing-masing dari kita kemungkinan memang membawa lanjutan kisah yang belum usai dari para leluhur. Bedanya aku harus menanggung sesuatu yang sangat menyiksa sekali. Tidak seperti kalian yang sudah menemukan kebahagiaan masing-masing," jawab Karl dengan tatapan datar. Ingin tidak percaya, tapi yang bicara adalah Justin. Jadi mau tidak mau Karl harus tetap mempercayai kalau dulunya Flow adalah seorang peri.


"Kau benar." Bern menepuk bahu Karl. "Tidak perlu merasa terbebani. Kami semua ada untukmu sekarang."


Melihat sikap Bern yang bertambah semakin hangat di setiap harinya membuat perasaan Karl menjadi semakin baik. Hal ini tak luput dari pengawasan sang ibu yang sejak tadi terus memperhatikan interaksi di antara mereka.


"Eh, Nenek Zhu datang," teriak Justin langsung heboh.


"Justin," ....


Bern langsung menggelengkan kepala ketika Justin hendak berlari menghampiri sosok yang tak terlihat. Masih terbayang jelas di ingatannya bagaimana dia dan Karl melihat Jendral Liang Zhu yang tengah mengusap kepala Justin. Dan ingatan itu membuat tengkuk Bern meremang hebat.


"Ayah, Justin ingin menyapa Nenek Zhu," rengek Justin sambil menahan tangis.


"Bilang pada Nenek Zhu agar nanti datang ke sini lagi. Kan sekarang Justin sedang ulang tahun, harusnya Justin menghabiskan waktu bersama kita semua. Ya?"


"Tapi ....


"Sayang, dengar apa kata Ayah ya?" bujuk Renata. Walaupun bingung, Renata tetap bersikap seolah dirinya bisa melihat sosok Nenek Zhu.


"Ummm baiklah,"


Max dan Nandira dibuat melongo lebar saat satu-persatu kerabat keluarga Ma datang dan memberikan hadiah yang sangat luar biasa mewah untuk cucu mereka. Bayangkan! Hanya dengan ulang tahun kecil-kecilan begini saja Justin sudah mendapatkan beberapa harta yang nilainya sangat luar biasa fantastis. Lalu akan jadi sekaya apa bocah ini jika ulang tahunnya dirayakan secara besar-besaran?


"Nyonya Elea, apa tidak apa-apa keluargamu memberikan hadiah yang sedemikian besarnya kepada Justin?" tanya Nandira antara senang dan juga khawatir.


"Ini belum seberapa, Nyonya. Tunggu setelah hadiah yang aku, suamiku dan putriku berikan siap untuk dilihat, kau akan jauh lebih terkejut daripada ini," jawab Elea dengan gembira membanggakan kekayaan keluarganya. Di sini dia bukan sedang sombong karena keluarga Goh sendiri merupakan keluarga yang cukup mentereng di kota mereka.


"Benarkah?" Nandira sedikit merapatkan tubuhnya ke samping ibunya Bern sebelum lanjut bertanya. "Memangnya apa yang telah kalian siapkan untuk Justin?"


Elea menoleh. Dia kemudian tersenyum. "Wahana permainan yang nantinya akan diisi dengan replika dinosaurus kesukaan Justin. Dari wahana itu Justin akan meraup keuntungan yang sangat banyak jika proyek ini sukses menarik perhatian masyarakat luas. Dan jika dihitung dari mentahan keuntungan wahana tersebut, aku pastikan Justin akan menjadi balita paling kaya di kota ini. Kita tunggu sama-sama sampai waktunya tiba ya, Nyonya."


(Whaaatttt? Balita paling kaya? Ya Tuhan, keluarga Ma benar-benar gila. Ini gila!)


***