Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 40


Bern berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Pikirannya kosong, bingung apakah harus memaksa masuk ke dalam sana atau tidak.


"Cio bilang hanya aku yang bisa membuktikan apakah Renata adalah Amora atau bukan. Tapi bagaimana caraku membujuk Renata agar bersedia memperlihatkan bagian punggungnya?" Bern bertanya-tanya. Dia lalu mengembuskan nafas kasar, dilema. "Dia adalah ibu dari anakku. Seharusnya tidak marah kan kalau aku memaksa masuk ke sana?"


Ya, saat ini Renata tengah membersihkan badan di kamar mandi. Wanita itu tak berdaya menepis keinginan Bern yang tak mengizinkannya pergi kemana-mana. Alhasil dia hanya bisa pasrah dengan melakukan segala keperluannya di apartemen ini.


Ceklek


"B-Bern, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Renata kaget melihat keberadaan Bern yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Tangannya bergerak merapatkan baju handuk yang sedang di pakainya.


"Amora," ....


Hening, tak ada sahutan. Tahu sudah salah memanggil, Bern segera menggelengkan kepala. Dia lalu meralat perkataannya.


"Renata, maaf sebelumnya. Apa di punggungmu ada luka yang sulit untuk dihilangkan?" tanya Bern mencoba untuk bersikap sopan. Jalan ini terasa lebih baik daripada harus memaksakan diri untuk memeriksa punggung wanita ini.


"Luka?" Kening Renata mengerut. "Luka apa yang kau maksud?"


"Ya luka. Semacam luka yang di sebabkan oleh siraman air panas dan juga pukulan benda tumpul yang dilakukan berulang kali."


"Hah?"


Tercengang Renata mendengar perkataan Bern. Dia sungguh tak paham mengapa pria ini bisa beranggapan kalau dirinya mempunyai luka seperti itu. Padahal selama ini Ayah dan Ibunya begitu menyayanginya, tapi kenapa Bern bisa berpikir sedemikian rupa?


Apa jangan-jangan hal ini pernah di alami oleh Amora? Astaga, kasihan sekali gadis itu. Siapa yang tega menyakitinya?


"Jawab, Renata. Apa ada?" desak Bern makin tak sabar.


"Bern, sejak kecil Ayah dan Ibu tak pernah memperlakukanku dengan cara yang kasar. Mereka begitu sayang dan penuh kasih. Bahkan tak tega jika ada nyamuk menghisap darah dari tubuhku. Dengan kasih sayang yang sebesar ini mungkinkah aku mempunyai luka-luka seperti yang kau sebutkan barusan? Tidak ada, Bern. Aku tidak pernah mempunyai luka-luka itu. Sungguh!" sahut Renata.


"Ini tidak mungkin."


Bern menggumam lirih. Dia menolak untuk mempercayai perkataan Renata. Bagaimana bisa luka-luka di tubuh Amora tidak ada di tubuh Renata? Bukankah ini membuktikan kalau Renata hanya kembaran Amora?


"Aku mengingat jelas setiap senti bagian tubuh Amora. Dan luka-luka itu, aku tidak bisa melupakannya. Kau yakin tidak memilikinya?" tanya Bern memastikan. Saat bertanya tatapan matanya terlihat kosong.


Sadar kalau Bern sedang dalam kondisi mental yang kurang baik, Renata mengambil inisiatif untuk memeluknya. Bukan gatal, tapi lebih ke menenangkan.


"Jangan memaksakan sesuatu agar terlihat sama dengan apa yang kau inginkan, Bern. Aku mungkin mempunyai wajah yang mirip dengan Amora, tapi bukan berarti setiap bagian tubuh kami harus sama. Tolong kau jangan berlarut dalam hal ini ya. Nanti kau sakit," ucap Renata dengan sabar menenangkan.


"Aku tidak sedang memaksakan keinginan, Ren. Tapi aku yakin betul kalau kau adalah Amora, kekasihku."


"Kami bukan orang yang sama, Bern."


"Tidak. Kalian satu orang. Aku yakin itu."


Renata menghela nafas. Dia terkejut saat Bern tiba-tiba mengeratkan pelukannya. Sungguh, pria ini membuatnya jadi merasa takut. Renata mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan Bern yang seperti ini.


"Ayah, Ibu," ....


Suara serak Justin berhasil melepaskan Renata dari pelukan Bern. Segera dia berjalan cepat menuju kamar tempat putranya berada. Sedangkan Bern, dia masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Bingung memikirkan perasaannya sendiri.


"Sayang, kenapa bangun?" tanya Renata dengan lembut. Dia kemudian naik ke ranjang, sedikit melirik ke arah kamar mandi. Takut kalau Bern datang menyusul.


Ya Tuhan, tolong aku. Aku takut sekali.


"Ibu, Ayah di mana?" tanya Justin sambil mengerjap-ngerjapkan mata.


"Oh, Ayah sedang mandi. Kenapa memangnya?" jawab Renata beralasan.


"Apa Ayah dan Ibu mandi bersama?" Jari telunjuk Justin bergerak menyentuh rambut ibunya yang masih basah. "Lihat, rambutnya Ibu tidak kering. Ayah dan Ibu bermain air ya?"


Blusshhh


Ada-ada saja pertanyaan bocah ini. Dan anehnya hal itu membuat wajah Renata sedikit memanas. Entah apa maksudnya, Renata tak tahu.


"Bu, Justin mau tidur dengan Ayah. Boleh?"


"Hah?"


Tengkuk Renata langsung meremang hebat begitu mendengar suaranya Bern. Dia sampai tidak berani menoleh saking takut akan pria tersebut.


"Tentu saja Justin sangat boleh tidur dengan Ayah. Begitu juga dengan Ibu," ucap Bern seraya menyunggingkan senyum. Putranya ingin tidur bersamanya, kenapa harus tidak boleh?


"Yeyyy, Ayah yang terbaik!" seru Justin kegirangan.


"Sekarang tidur ya. Ayah akan menemanimu di sini."


"Baik, Ayah."


Bern bukannya tidak tahu kalau Renata sedang ketakutan akan sikapnya. Dia tahu dengan sangat jelas malah. Akan tetapi Bern sulit mengendalikan emosi, terlebih setelah mendengar nama putranya menggunakan marga Goh. Rasanya seperti ada gunung api yang siap meledak di dadanya. Sungguh.


"Sementara aku menidurkan Justin, kau pergilah mengeringkan rambut. Nanti kau bisa masuk angin," ucap Bern dengan penuh perhatian.


"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Renata agak sungkan. Dia berusaha untuk tetap tenang meski jantungnya sudah mau copot.


"Justin adalah putraku. Apanya yang harus disebut merepotkan?" jawab Bern santai.


"Bajuku ....


"Sedang dalam perjalanan. Aku sudah memesankannya untukmu."


Renata terkesiap. Bagaimana bisa Bern memesankan pakaian tanpa bertanya lebih dulu ukuran apa yang dia pakai? Aneh, makin lama pria ini semakin aneh saja. Renata jadi takut sekali.


"Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya menebak kalau ukuran tubuhmu sama dengan yang di pakai oleh Amora,"


"O-oh, begitu ya." Renata kikuk. Meski begitu, rasanya tetap tak masuk di akal kalau ukuran baju yang mereka pakai sama. Entahlah, Renata pusing memikirkan hal ini.


Hening. Baik Renata, Justin, maupun Bern, ketiga orang itu sama-sama bungkam untuk waktu yang lama. Hingga tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang berasal dari mulut bocah tiga tahun itu.


"Dia sudah tidur lagi?" bisik Renata sembari melongokkan kepala ke arah putranya.


"Sudah." Bern menoleh. Dan dia hampir saja mencium bibir Renata. "Mungkin Justin kelelahan. Jadi mudah untuknya kembali tidur setelah terjaga."


Renata mengangguk. Dia menarik mundur tubuhnya kemudian sedikit menjauh dari Bern. Aneh sekali. Kenapa selalu saja dia merasa dejavu dengan beberapa interaksi tak sengaja di antara mereka. Lama-lama Renata jadi penasaran sendiri apakah benar dia adalah Amora atau malah arwah gadis itu merasuk ke tubuhnya. Benar-benar sulit dijelaskan dengan nalar yang normal.


"Ikut aku!"


"Ke-kemana?"


Bern tak menjawab. Dia menarik pelan tangan Renata agar turun dari ranjang lalu membimbingnya duduk di sofa. Setelah itu Bern mengambil hairdryer di dalam kamar, berniat membantu Renata mengeringkan rambutnya.


"Aku bisa sendiri, Bern!" tolak Renata merasa tak nyaman akan apa yang ingin pria ini lakukan.


"Tidak apa-apa. Dulu aku terbiasa melakukan hal ini pada Amora. Kau duduklah saja. Aku tahu kau sedang takut padaku," sahut Bern seraya tersenyum kecut.


Maaf Renata. Rasa kehilangan itu membuatku benar-benar takut kehilanganmu. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Tolong pahami aku. Sekali saja. Ya?


"Bern?"


"Hm?"


"Kenapa kau melakukan ini padaku?"


Suara Renata terdengar cukup lirih saat bertanya seperti itu.


"Jangan tanya alasannya, Ren. Karena akupun tidak tahu," jawab Bern sambil mengurai rambut panjang Renata menggunakan jari tangan.


"Bisakah di hentikan? Aku tidak nyaman, Bern. Sungguh."


Hanya terdengar suara mesin pengering rambut setelah Renata bertanya seperti itu. Bern tak berniat merespon. Baginya kini hanya satu. Justin dan Renata tinggal bersamanya. Sudah.


***