
“Buka matamu. Tatap aku,”
“Aku … malu,”
“Malu karena apa, hem? Kita bahkan pernah saling menyaksikan tubuh kita yang tidak tertutup pakaian. Ayo tatap aku, sayang. Tatap dan resapi betapa aku sangat ingin kau membalas perasaanku. Ayo buka matamu.”
Blusshhh.
“Nah, bagaimana? Apa yang kau rasakan ketika melihat ada seorang pria tampan saat membuka mata? Apakah senang?”
“Jangan menggodaku. Kau itu sudah tua. Tidak sepantasnya menggoda gadis berusia dua puluh tahun dengan kata-kata semacam itu. Tahu?” ucapnya. “Beruntung hanya ada kita berdua di sini. Kalau tidak, orang pasti akan berpikir kalau kau sedang melakukan tindakan tak senonoh pada gadis di bawah umur.”
“Kalau gadis di bawah umurnya itu adalah dirimu, aku tidak keberatan bahkan jika harus diteriaki sebagai pria cabul sekalipun. Kau manis saat sedang malu-malu seperti tadi. Aku suka,” ucapnya membalas. “Sekarang bisakah aku melanjutkan olahragaku? Pria tua ini harus tetap sehat agar bisa terus menjaga dan mencintai si gadis di bawah umur. Bisakah?”
“Dasar,”
Kening Renata dibanjiri keringat dingin saat dia memimpikan sesuatu yang aneh di dalam tidurnya. Matanya terus mengerjap, sementara kepalanya tak henti menggeleng ke kanan dan ke kiri.
Bern yang sedang mengemudi bergegas menepikan mobil saat menyadari ada yang tak beres dengan calon istrinya. Setelah itu dia buru-buru membangunkannya.
"Sayang, hei. Kau kenapa? Bangunlah!"
Eugghhhhhh
Bukannya bangun, Renata malah menggeliat sambil menggumam tak jelas. Justin yang juga tengah terlelap di pangkuannya sampai terbangun karena kaget.
"Ibu?" panggil Justin seraya mengusap mata. Ditatapnya lekat-lekat wajah sang ibu yang sudah banjir keringat. "Ibu kok basah. Ibu mengompol ya?"
Ingin rasanya Bern tertawa mendengar ucapan Justin yang mengira kalau ibunya mengompol. Sambil meng*lum senyum, dia menepuk pelan pipi Renata yang masih terjebak dalam mimpinya.
"Sayang, sadarlah. Bangun,"
"Ayah, Ibu kenapa?" tanya Justin penasaran.
"Ibu tidak kenapa-napa. Hanya terlalu kelelahan saja. Makanya Ibu mengigau," jawab Bern.
"Oh, jadi Ibu mengigau ya?"
Bern mengelus puncak kepala Justin lalu kembali menepuk pipi Renata. Dalam hati Bern membatin, gerangan apa yang membuat calon istrinya jadi seperti ini. Renata terlihat gelisah. Gerak tubuhnya seolah menunjukkan kalau dia tak nyaman dengan apa yang dilihatnya di dalam mimpi.
"Ren, ayo buka matamu, sayang. Aku dan Justin khawatir. Tolong bangun ya?"
Dalam kondisi setengah sadar, samar-samar Renata seperti mendengar suara seseorang yang memintanya untuk bangun. Dia lalu berusaha mati-matian keluar dari jerat mimpi yang sedang membelitnya.
Siapa mereka? Kenapa mereka muncul di dalam mimpiku? Apa hubungannya?
Setelah berjuang beberapa saat, kedua mata Renata akhirnya terbuka. Melihat hal itupun Bern menjadi lega. Dielapnya penuh perasaan keringat dingin yang menbanjir di wajah cantik calon istrinya.
"Yeyyyy, Ibu sudah bangun. Ibu tidak mengigau lagi!" sorak Justin sambil bertepuk tangan. Dia heboh sendiri begitu melihat mata ibunya terbuka.
"Aku mengigau?"
Renata menoleh ke samping. Pandangannya kemudian beradu dengan tatapan mata Bern yang tengah memperhatikannya sambil tersenyum.
"Bern, benar aku mengigau?" tanya Renata memastikan.
"Iya, sayang. Kau mengigau." Bern menghela nafas. "Apa akhir-akhir ini kau sedang banyak pekerjaan? Dilihat dari igauanmu barusan kau seperti orang yang sedang kelelahan. Apa benar?"
"Mimpi seperti itu? Maksudnya bagaimana?"
"Di dalam mimpi tadi aku melihat ada sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Mereka terlihat bahagia sekali. Sayangnya aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena terhalang kabut," ucap Renata menceritakan apa yang dilihatnya di dalam mimpi.
Tatapan mata Bern tiba-tiba berubah datar saat Renata menceritakan tentang mimpinya. Sangat jelas sekali kalau mimpi yang Renata lihat adalah kenangan mereka dulu. Bern lalu memutar otak, mencari cara agar Renata tak lagi membahas soal mimpi tersebut. Dia takut.
Aku tidak boleh membiarkan Renata mengingat kembali kenangan di masa itu. Bisa gawat jika mimpi itu sampai memulihkan semua ingatannya yang telah hilang. Tidak-tidak. Aku harus mencari cara untuk menghentikan semua ini. Harus.
"Emm Ren, karena kedua belah pihak sudah setuju dengan pernikahan kita. Bagaimana kalau sekarang kita pergi mencari cincin saja. Sekalian aku ingin mengajak kalian pergi jalan-jalan. Mau tidak?" tanya Bern penuh harap.
"Harus sekarang ya?"
"Mau sekarang ataupun besok itu sama saja, sayang. Kan ujung-ujungnya kita yang akan memakainya."
"Ya sudah terserah kau saja," sahut Renata tak lagi menolak. Pikirannya masih terngiang-ngiang dengan percakapan sepasang kekasih yang muncul di mimpinya tadi.
"Jangan terserah aku dong. Yang akan menikah kan kita berdua. Jadi apa-apa harus diputuskan bersama supaya adil!"
"Iya aku tahu. Dan aku sama sekali tidak merasa keberatan kalau kau ingin mengajakku pergi membeli cincin pernikahan. Sungguh!"
"Benar ya tidak keberatan?"
"Iya,"
Bern tersenyum. Lega karena Renata bersedia pergi dengannya. Sebelum lanjut mengemudi, Bern mengajak Justin berbincang. Sengaja dia mengulur waktu agar pikiran Renata bisa teralih dari mimpi yang dilihatnya.
"Justin senang tidak diajak jalan-jalan oleh Ayah dan Ibu?"
"Senang, Ayah." Justin menjawab seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Nanti di sana kita beli paman dinosaurus yang baru ya. Kasihan dino yang di rumah, Ayah. Dia tidak punya paman dan bibi."
"Benarkah? Wahhh, kasihan sekali dino itu. Hidupnya pasti kesepian karena tidak punya teman."
"Iya. Makanya ayok nanti kita belikan paman untuk dino. Bolehkan, Yah?"
"Tentu saja sangat boleh, Nak. Jangankan hanya paman. Sekalian membeli bibi, kakak, adik, ayah, dan ibu dino pun Ayah akan mengizinkan. Kan nanti kita mau membuka peternakan dinosaurus. Benar tidak?"
"Benar sekali, Ayah. Yeyyyy, akhirnya dino punya teman. Dino tidak kesepian lagi. Yeyyy!"
Renata yang sedang berlarut dalam lamunan dibuat tertawa lucu mendengar perdebatan Bern dan Justin. Aneh sekali. Bisa-bisanya Bern menjelaskan pada Justin tentang silsilah keluarga dinosaurus secara lengkap. Membuatnya jadi lupa dengan kemisteriusan mimpi yang dia lihat.
"Jangan terlalu memanjakan Justin, Bern. Selama ini aku tidak terbiasa menuruti keinginannya. Nanti dia jadi besar kepala," ucap Renata menegur Bern saat mobil mulai bergerak.
"Aku tidak memanjakannya, sayang. Aku hanya sedang mendukung niatannya yang ingin membangun proyek besar. Bayangkan. Di usianya yang belum genap tiga tahun Justin sudah terpikir untuk membangun sebuah perternakan. Keren sekali, bukan?" sahut Bern dengan bangganya memuji keinginan Justin. Biar saja dianggap kekanakan. Yang penting putranya bahagia.
"Haihh, kalian ini ya. Ada salah ulahnya."
"Like father, like son."
Bern dan Justin tertawa cekikikan saat mereka diomeli oleh Renata. Hal itu membuat Renata benar-benar lupa dengan sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
Akhirnya Renata tak lagi memikirkan hal itu. Tak disangka ternyata membahas tentang peternakan dinosaurus bisa menjadi jalan keluar. Hmmm, lawak sekali.
***