
Jika Renata tengah dilanda rasa penasaran tentang Bern, di apartemen ada Bern yang juga tengah dilanda oleh satu perasaan yang sangat aneh. Kemarin dia sengaja meminta Renata untuk memasak demi untuk mencaritahu rasa dari makanan yang dibuat olehnya. Dan begitu Bern mencicipi, lidahnya di buat kelu hingga tak mampu berkata-kata. Makanan yang dimasak oleh Renata rasanya benar-benar sangat mirip dengan masakan Amora. Bedanya makanan yang dimasak oleh Renata bergaya Western, sedang masakan Amora lebih ke masakan rumahan. Meski begitu, lidah Bern tidak mungkin keliru dalam merasakan. Dia yakin itu.
“Aku harus bagaimana sekarang. Cio bilang Amora tidak mempunyai saudara kembar, tapi kenapa Renata bisa begitu mirip dengannya. Bahkan rasa dari makanan yang mereka buat sama persis, tidak ada bedanya sama sekali. Sebenarnya apa yang salah di sini?” ujar Bern sembari menekan pinggiran kepala. Dia pusing memikirkan keanehan yang terjadi.
Tidak-tidak, aku tidak bisa diam saja. Lebih baik aku datang ke toko Renata saja lalu bertanya langsung padanya. Aku tidak tahan seperti ini terus.
Segera setelah itu Bern pergi ke kamar untuk bersiap. Namun baru juga dia ingin melangkah, bel apartemen berbunyi. Dia diam sejenak sebelum akhirnya pergi membukakan pintu untuk tamu tak di undang tersebut.
Ceklek
“Ada apa?”
Ekor mata Russel langsung tertuju ke tangan Bern yang sudah tidak lagi terpasang selang infus. Bern yang melihat hal itupun hanya diam tak mau menjelaskan. Dia malas berbagi cerita kalau semalam Justin dan Renata menginap di apartemennya.
“Pergi kemana sambungan nyawa itu, Bern?” iseng-iseng Russel bertanya.
“Infusmu membuatku sulit bergerak. Jadi aku melepasnya,” jawab Bern asal.
“Kau atau orang lain yang melepasnya?”
Sebelah alis Bern terangkat ke atas. Dia lalu menatap lekat wajah sepupunya yang terlihat begitu tenang. Bern menyadari sesuatu hal.
“Kau yang mengirim Renata ke apartemenku?”
“Renata?”
Oh, jadi dugaanku benar kalau semalam ada seseorang yang datang kemari. Hmmmm.
“Apa aku terlihat akrab dengannya?” tanya Russel. Dia mengambil ponsel dari saku celana kemudian memberikannya pada Bern. “Terserah kau ingin melakukan apa pada ponselku jika nomor Renata tercatat di sana.”
“Hmmmm,”
“Kau tidak mempersilahkan aku untuk masuk?”
Bern diam saja.
“Ya sudah kalau begitu. Melihat sikap dinginmu sepertinya sekarang kau sudah tidak butuh dokter lagi. Aku pergi,”
“Benar kau tidak tahu apa-apa dengan kedatangan Renata semalam?”
Langkah Russel terhenti.
“Aku bahkan tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahuku, Bern.”
Jawaban singkat Russel membuat Bern menarik nafas panjang. Dia segera menutup pintu setelah sepupunya pergi dari sana. Sambil bertanya-tanya dalam hati, Bern baru merasa janggal dengan kedatangan Renata ke apartemen ini. Padahal sebelumnya mereka tak pernah bertukar nomor ataupun alamat tempat tinggal, tapi kenapa wanita itu bisa tahu?
“Apa mungkin Andreas yang memberitahunya?”
Tak kuat menahan rasa penasaran, Bern memutuskan untuk menghubungi Andreas saja. Dia berharap pria itulah yang telah memberitahu Renata. Terlalu enggan untuk Bern membayangkan yang tidak-tidak, terlebih tentang bajingan satu itu.
“Halo Yas, apa kau sedang sibuk?” tanya Bern begitu panggilan tersambung.
“Apa kau yang telah memberitahu Renata tentang alamat apartemenku?”
Dan begitu Andreas menjawab tidak, Bern langsung mematikan panggilan. Bern tahu kalau sepupunya sedang bersama bajingan itu. Sambil membuang nafas kasar, Bern mengacak rambutnya hingga berantakan.
“Tidak mungkin tidak ada yang memberitahu Renata. Kami saja tidak saling mempunyai nomor telepon. Bagaimana mungkin Renata datang jika tidak ada seseorang yang memberitahunya tentang tempat tinggalku?” gumam Bern mulai dilanda frustasi. “Sepertinya aku memang harus pergi menemuinya. Hmmm.”
Segera Bern bersiap untuk pergi keluar. Namun karena tak hati-hati, perban yang membungkus luka di kakinya terbuka. Hal itu membuat Bern mengumpat jengkel karena lantai apartemen jadi kotor terkena darah yang merembes keluar.
“Sialan sekali. Ada-ada saja sih!”
Sambil menggerutu Bern kembali membungkus luka di kakinya kemudian membersihkan darah di lantai. Baru setelahnya dia pergi menuju toko bunga milik Renata.
Dalam perjalanan, pikiran Bern melayang pada sikap Justin yang begitu manja terhadapnya. Tanpa sadar Bern tersenyum, merasa bahagia saat suara lucu bocah itu yang sedang memanggilnya ayah menggema di telinga.
“Andai memang benar Justin adalah putraku dan Amora, aku pasti akan sangat beruntung sekali. Bocah itu begitu manis dan menggemaskan. Flow dan Ibu pasti akan langsung suka jika bertemu dengannya,” ucap Bern tersenyum sambil mengusap dagu.
Mungkin karena suasana hati sedang gembira, tak butuh waktu lama untuk Bern sampai di toko bunga milik Renata. Akan tetapi di sana tidak ada mobil yang terparkir, menandakan kalau bos dari toko tersebut sedang tidak ada.
“Apa jangan-jangan Justin demam lagi ya? Makanya Renata tidak datang ke toko,” gumam Bern bertanya-tanya. “Kalau benar Justin demam lagi berarti sekarang dia sedang menangis sambil mencariku. Bagaimana ini. Aneh tidak ya jika aku tiba-tiba datang ke kediaman keluarga Goh?”
Saat Bern sedang sibuk dengan pertanyaannya, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan toko bunga. Setelah itu keluarlah seorang wanita bersama bocah laki-laki yang sedang sibuk menikmati cemilan di tangannya. Justin dan Renata. Pasangan ibu dan anak itu akhirnya muncul juga.
“Fyuhhhh, syukurlah tebakanku salah. Ternyata Justin baik-baik saja,” ucap Bern seraya mengelus dada. Dia diam memperhatikan kedua orang itu dari dalam mobil.
Entah karena tak sengaja melihat atau bagaimana, Justin tiba-tiba menoleh ke belakang dan menatap lama ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi toko bunga ibunya. Bocah itu nampak terdiam sejenak sebelum akhirnya berteriak kuat sekali.
“Ibu, itu Ayah, Ibu. Yeyyy, Ayah datang. Ayahku datang!” sorak Justin dengan hebohnya. Dia lalu menarik lepas tangannya dari pegangan sang ibu kemudian berlari cepat menghampiri mobil milik ayahnya.
Bern hampir terkena serangan jantung melihat Justin yang entah bagaimana ceritanya bisa tahu kalau dia sedang berada di dalam mobil. Dan begitu pula dengan yang dirasakan oleh Renata. Dia kaget sekali saat Justin tiba-tiba berteriak memanggil ayahnya kemudian pergi melarikan diri darinya. Mungkin jika Renata tidak tahu siapa ayah yang di maksud oleh Justin, dia pasti akan langsung berlari mengejar. Tapi karena Renata tahu kalau orang yang di panggil ayah oleh Justin adalah Bern, dia memutuskan untuk diam membiarkan saja. Juga karena Renata bingung mengapa Bern bisa ada di depan toko bunga miliknya. Tidak mungkin sedang menemani temannya untuk membeli bunga seperti waktu itu, kan?
“Ayah, apa Ayah datang untuk menjemput Justin dan Ibu?” tanya Justin dengan girangnya. Segera dia mengulurkan tangan meminta untuk di gendong.
“Tidak. Ayah datang kemari karena mengkhawatirkanmu,” jawab Bern sambil mengangkat tubuh Justin ke dalam gendongannya. Dia lalu berjalan menghampiri Renata yang hanya diam termangu menatap mereka berdua. “Jangan salah paham, Ren. Aku khawatir Justin demam lagi, jadi memutuskan untuk datang melihatnya di sini. Tapi syukurlah dia baik-baik saja. Aku lega.”
“Jadi kau datang hanya karena khawatir pada Justin?” tanya Renata sambil tersenyum. Ayolah, dia tidak buta. Begitu jelas di wajah Bern kalau dia datang karena ada sesuatu hal yang ingin di bicarakan dengannya.
“Tidak sepenuhnya begitu, tapi aku memang mencemaskan Justin,” jawab Bern tak bisa mangkir dari pertanyaan Renata.
“Masuklah. Kita bicara di dalam saja.”
Justin yang berada di dalam gendongan Bern nampak kegelian saat Renata menggelitik perutnya. Bern yang melihat interaksi ibu dan anak inipun tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia lalu membuka pintu dengan sebelah tangannya saat Renata ingin masuk. Anggaplah dia pria siaga.
"Terima kasih,"
Aneh. Kenapa tanganku jadi reflek begini ya? Astaga Bern, kendalikanlah dirimu. Amora bisa sedih kalau kau sampai jatuh hati pada wnaita lain. Ingat itu.
***