Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 105


(BISA KALI TEMBUS 70 KOMENTAR SUPAYA BESOK CRAZY-UP ✌)


***


"Justin kenapa murung, sayang? Tidak mau ya bermain dengan Kakek dan Nenek?" tanya Max sembari mengusap rambut cucunya yang tengah melamun di sudut ranjang.


(Kasihan Justin. Sepertinya dia sangat terkejut melihat keadaan Flow tadi. Tetapi jika dipikir lagi darimana Justin tahu soal Amora ya? Tidak mungkin Bern yang bercerita, apalagi Renata. Atau jangan-jangan Justin tak sengaja mendengar obrolan seseorang yang tengah membahas soal Amora? Astaga, kenapa jadi begini sih. Semakin sering nama Amora disebut, hati Nandira pasti akan menjadi semakin sedih. Susah payah aku dan dia merelakan kepergian Renata asli, masa kami harus kehilangan Amora juga? Tidak-tidak, aku harus mencari tahu darimana Justin mengetahui hal ini. Harus)


"Max?"


"Ya?" Max menoleh. Tatapannya menyendu saat mendapati raut sedih di wajah Nandira. "Kemarilah. Aku tahu hatimu sedang gelisah."


"Justin bagaimana?" tanya Nandira seraya berjalan ke arah ranjang. Dia terenyuh melihat kondisi cucunya yang seperti orang linglung. "Sepertinya Justin terlalu syok dengan kejadian tadi. Dia sama sekali tak mau bicara denganku saat sedang mandi. Bagaimana ya, Max?"


"Kita tunggu satu jam lagi. Kalau tidak ada perubahan, jalan satu-satunya adalah membawa Justin ke psikiater."


"Psikiater?"


"Ya. Sekalian aku ingin mencari tahu darimana Justin mengetahui soal Amora. Hal inilah yang menjadi penyebab Flowrence kesakitan tadi."


Begitu nama Amora disebut, Justin langsung tersadar dari lamunan. Segera dia menghambur ke pelukan sang kakek kemudian mulai menangis.


"Hiksss, Justin takut, Kek. Justin dan Kak Amora tidak jahat. Huuuuuuu," ucap Justin di sela-sela tangisnya. Dia merasa sangat bersalah sekali terhadap apa yang terjadi pada sang bibi.


"Iya sayang kami tahu. Justin kan hanya tidak sengaja menyebut nama Kak Amora. Iya 'kan?" ucap Max mencoba menghibur kesedihan sang cucu. Tangannya bergerak pelan mengusap punggung kecilnya yang tengah terisak sedih. Kasihan anak ini. Sebegitu merasa bersalahnya hingga menangis tersedu-sedu.


"Iya, tapi tadi Kak Amora memang duduk di samping Ibu. Justin tidak bohong. Wajahnya Ibu sangat mirip dengan wajah Kak Amora. Justin tidak bohong Kakek, Nenek!"


Deg


Jantung Max dan Nandira bagai dihantam balok besar begitu mendengar ucapan Justin yang menyebut kalau Amora dan Renata duduk bersebelahan. Mereka syok berat saat menyadari kalau Justin ternyata bisa melihat arwah orang yang sudah meninggal. Bagaimana bisa Justin memiliki kemampuan seperti ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


(Tuhan, kali ini apalagi. Mengapa cucuku kau beri kemampuan yang sangat menyiksa? Kasihan Justin, Tuhan. Dia masih kecil. Tolonglah,)


"Kakek, kenapa ya wajah Kak Amora terlihat sedih?" tanya Justin tiba-tiba berhenti menangis. Dia mengurai pelukan lalu bertopang dagu memikirkan sesuatu. "Kak Amora bilang dia tak sengaja terjatuh ke sungai lalu wajahnya terkena karang. Karang itu apa sih?"


"Emm J-Justin, k-kalau di sungai tidak ada karang, adanya bebatuan dan juga kayu kecil dari akar pohon yang menjalar. Lalu karang itu adalah jenis bebatuan yang tinggalnya di lautan. Begitu," ucap Nandira terbata saat menjawab pertanyaan Justin. Dia yakin seratus persen kalau arwah yang dilihat Justin bukanlah Amora, melainkan Renata yang asli. Tiga tahun lalu mobil yang ditumpangi Renata mengalami kecelakaan dan masuk ke sungai. Kemungkinan besar kejadian inilah yang membuat gadis malang itu bersedih hati hingga sekarang.


(Renata, anakku. Hiksss,)


"Oh, jadi karang itu tidak tinggal di sungai ya, Nek," ucap Justin sembari mengangguk-anggukkan kepala.


"Tidak, sayang. Karang hanya bisa tinggal di lautan," ucap Max. "Oya, Justin. Selain di dapur, di mana lagi Justin pernah bertemu dengan Kak Amora? Apa dia pernah mengatakan sesuatu kepada Justin?"


Justin terdiam. Reaksi itu membuat Max dan Nandira merasa penasaran sekali. Kira-kira kejutan apalagi yang akan diungkap oleh cucu mereka?


"A-APAA?!!!!"


Nandira yang tak kuat hati menerima celotehan demi celotehan Justin memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia melangkah dengan sangat cepat, lalu menyenderkan tubuhnya ke pintu setelah sampai di luar.


"Nyonya Nandira, ada apa?"


Setelah Elea tersadar, Gabrielle memutuskan untuk menemui orangtua Renata guna menjelaskan soal kelebihan di diri Justin. Namun belum juga bertemu dengan mereka, Gabrielle dibuat kaget oleh keberadaan Nyonya Nandira yang sedang menangis sambil menyender ke pintu kamar. Segera saja dia datang mendekat lalu menanyakan apa yang terjadi.


"Nyonya, kau kenapa? Justin mana? Dia baik-baik saja 'kan?" cecar Gabrielle dilanda khawatir. Kondisi Flow masih drop, dia tak siap kalau cucunya sampai kenapa-napa.


"Tuan Gabrielle, mengapa harus Justin?" tanya Nandira berurai air mata. "C-cucu kita ... dia bisa melihat sosok dari alam lain. Justin kita mempunyai kemampuan yang sangat mengerikan. Bagaimana ini? Tolong Justin, Tuan. Kasihan dia kalau harus menanggung beban sedini ini. Aku mohon!"


"Tapi Justin baik-baik saja 'kan?"


Nandira mengangguk. Tangisnya masih belum berhenti juga. Masa bodo lah jika calon besannya ini berpikiran buruk tentangnya. Nandira tak peduli. Sekarang hanya tangis lah yang bisa meredam keterkejutan atas hal-hal aneh yang baru saja dia dengar.


"Nyonya, Justin tidak hanya bisa melihat sosok dari alam lain saja, tapi dia juga bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang. Sebenarnya aku ingin menjelaskan hal ini padamu dan Tuan Max, tapi ternyata kalian malah sudah lebih dulu mengetahuinya. Tolong jangan anggap ini sebagai beban ya. Justin kita adalah anak yang sangat istimewa. Dan sebagai keluarganya, tugas kita adalah melindungi dan mengarahkannya ke jalan yang benar. Oke?" ucap Gabrielle mencoba menenangkan.


"Tapi kenapa harus Justin?"


"Karena Justin adalah salah satu orang pilihan Tuhan. Percaya saja bahwa apa yang Justin miliki sekarang, suatu saat akan berguna untuk kehidupan banyak orang."


Nandira terdiam beberapa saat. Dia lalu teringat dengan ucapan Justin yang sempat mengguncang batinnya. Tak mau terjadi hal buruk, Nandira segera memberitahu Tuan Gabrielle perihal tersebut. Siapa tahu dengan begini dirinya tidak akan kehilangan Renata.


"Tuan Gabrielle, tadi sebelum aku keluar kamar Justin tiba-tiba tertawa kesenangan. Dia bilang Renata dan Flowrence hanyut di sungai karena mereka tak bisa berenang. Jika benar Justin memiliki kemampuan melihat masa depan, bukankah itu artinya ucapan tersebut pasti akan terjadi?" ucap Nandira seraya memasang ekpresi panik dan juga takut. Seketika tubuhnya menggigil, tak bisa membayangkan jika hal tersebut benar menjadi kenyataan. "T-tolong jangan biarkan hal ini terjadi, Tuan. Cukup sekali aku kehilangan Renata asli, tidak dengan Amora juga. Aku bisa mati jika sampai kehilangannya. Tolong aku, Tuan Gabrielle. Tolong!"


Rasanya jiwa Gabrielle seperti berpindah alam mendengar penuturan Nyonya Nandira soal ucapan Justin. Mengapa semuanya jadi menyeramkan begini? Dan kenapa juga Renata bisa hanyut di sungai bersama Flow?


(Jangan-jangan gambaran yang dilihat Justin harusnya terjadi hari ini. Tadi kan Flow dan Renata berjalan-jalan di dekat sungai. Astaga, mengerikan sekali. Untung saja aku dan Elea datang di waktu yang tepat. Entah apa yang akan terjadi pada mereka kalau kami terlambat datang. Fyuhhh!)


"Masalah ini serahkan saja kepadaku, Nyonya. Kau cukup bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mengenai Justin, jika cucu kita mengatakan sesuatu yang aneh, tolong segera beritahu aku. Ini sangat penting untuk mencegah hal buruk agar tidak terjadi. Terutama yang berhubungan dengan Flow dan Renata. Oke?" ucap Gabrielle memberikan petuah pada Nyonya Nandira.


"Baiklah. Tapi ... Renata akan baik-baik saja, bukan?"


"Nyonya, aku bukan Tuhan yang bisa membolak-balik takdir manusia dengan mudah. Tapi dengan kita saling menjaga komunikasi yang baik, setidaknya kita dan keluarga kita bisa sama-sama dijauhkan dari marabahaya. Paham?"


"Aku hanya terlalu khawatir. Rasanya sangat menyakitkan ditinggalkan oleh orang yang kita sayang, apalagi itu adalah anak kita sendiri. Aku tidak ingin tersiksa rasa itu lagi, Tuan. Tolong maafkan jika sikapku sedikit keterlaluan!" ucap Nandira lirih sambil menahan tangis.


"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Sekarang kau pergilah istirahat. Tolong jaga dan awasi Justin. Aku ingin membahas masalah ini dengan Bern dan yang lainnya dulu."


"Baiklah,"


***