Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 112


Braaakkkk


Ruth yang sedang ditenangkan oleh kedua adiknya langsung terlonjak kaget ketika pintu rumah mereka didobrak oleh seseorang. Segera ketiganya bangun dari duduk dan menatap ngeri ke arah pria yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"T-Tuan Bern," cicit Ruth. Akibat nekad menerobos ke kediaman keluarga Goh, Ruth harus pulang dalam keadaan babak belur setelah dihajar oleh para penjaga. Dan kini orang yang membuatnya jadi begini tengah menatapnya tajam. Takut, itu sudah pasti. Bahkan sekujur tubuh Ruth sampai gemetar hebat karenanya.


"Mau apa kau kemari, hah? Apa belum puas membuat saudara kami jadi begini?!" teriak Tina dengan sengitnya.


"Belum, dan tidak akan pernah puas sebelum kalian berjanji untuk tidak mengganggu wanitaku lagi!" sahut Bern dingin. Dia maju mendekati ketiga gadis di hadapannya. "Kau tahu, Nona Ruth. Gara-gara ulahmu Renata sampai membentak putraku. Perbuatanmu juga telah membuat calon mertuaku menjadi tidak tenang. Semua kacau karena kebodohanmu. Kau sadar itu?!"


"Cihhh, jangan salahkan saudaraku. Salahkan saja dirimu yang sok ingin menguasai Renata seorang diri. Asal kau tahu saja ya, Bern. Entah itu Amora ataupun Renata, mereka tetaplah saudara kandung kami. Kami punya hak mengajaknya pulang untuk menemui Ayah!"


"Apa kau bilang? Hak?!"


Tanpa merasa takut sedikit pun Tina menganggukkan kepala. Melihat saudaranya pulang dengan kondisi yang sangat mengenaskan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dan amarahnya kian meluap ketika pria kejam ini muncul di kediamannya dengan cara yang sangat tidak sopan.


"Hak ya?" Bern tersenyum miring. Kesetanan, dengan kasar dia mencekik leher Tina yang dengan lancang berani membantah ucapannya. "Dengar ini baik-baik, wanita iblis. Seluruh anggota keluarga Shin telah lama kehilangan hak atas Amora semenjak dia dikirim untuk menjadi milikku. Kalian tentu tidak lupa bukan kalau Amora telah dijadikan alat tukar demi mempertahankan Airan Group? Jangan naif. Dengan dijualnya Amora padaku, kehidupan kalian menjadi seribu kali lebih baik dari sebelumnya. Cihhh!"


"Ya, aku akui kalau Ayah telah bersikap bodoh dengan menyetujui ancaman Karl. Asal kau tahu saja ya. Sebenci-bencinya kami pada Amora, tak terlintas sedikit pun di benak kami untuk menjualnya pada manusia kejam seperti kalian. Kau juga jangan lupa Bern karena kekejaman saudaramulah adikku bisa meninggal!" sahut Tina enggan mengalah. Sudah cukup keluarganya terjebak dalam sesal berkepanjangan. Dia tak bisa tinggal diam terus.


"Oya?" Lagi-lagi Bern tersenyum miring. Dia lalu menguatkan cekikannya di leher Tina. Sama sekali tak peduli ketika wajah gadis ini kian memerah akibat kesulitan bernapas. "Karl sama sekali tak melakukan apapun pada Amora. Justru dengan dia memaksa ayahmu agar menjualnya, secara tidak langsung kami membawa Amora keluar dari dasar neraka. Jangan kau kira aku tidak tahu betapa kejam kalian memperlakukannya semasa tinggal di sini. Bersamakulah Amora bisa merasakan sesuatu yang tak pernah dirasakannya. Dia bahagia, dan aku mencintainya!"


Hening. Kali ini Tina kehabisan kata untuk membalas ucapan Bern. Sedangkan Ruth dan Belyn, kedua gadis itu saling memeluk sambil menangis tertahan. Bern yang masih tersulut amarah tanpa merasa kasihan segera mendorong tubuh Tina hingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai. Setelah itu dia menyasar pada Ruth, gadis sialan yang membuat Renata menjadi emosional.


"T-Tuan Bern, kit-kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik. A-aku punya alasan kuat mengapa nekad menguntit dan menerobos masuk ke rumah Amora. Aku ....


"DIA RENATA!"


"B-ba-baik, maksudku Ren-Renata. Keadaan sangat mendesak. K-kalau kau tidak percaya, kau boleh melihat langsung keadaan ayah kami. Beliau ... benar-benar tidak baik," ucap Ruth meralat ucapannya dengan terbata. Dia hampir mati lemas hanya dengan ditatap oleh pria mengerikan ini. Tulang ditubuhnya seperti melebur semua.


(Apa sebaiknya aku temui Tuan Kendra saja ya? Biar bagaimana pun b*jingan tua itu tetaplah calon mertuaku juga. Aku takut Renata akan membenciku jika suatu saat teringat dengan keluarga ini dan mengetahui kalau aku melarangnya bertemu dengan orangtuanya sendiri. Iya, kali ini sepertinya aku harus menekan egoku dulu. Baru jika ucapan Ruth tidak sesuai dengan kenyataan, aku akan membereskan semua penghuni rumah ini sampai tak bersisa!)


"Bawa aku ke kamar ayah kalian!" ucap Bern memutuskan untuk mengalah pada ego. Demi Renata, begitu pikirnya.


Sebelum mengiyakan permintaan Bern, Ruth menatap kedua saudarinya terlebih dahulu. Dia bermaksud meminta persetujuan dari mereka.


"Seujung kuku saja kau berani menyentuh ayah kami, aku tak akan segan untuk membuat perhitungan denganmu, Bern!" ancam Tina sambil tertatih bangun dari lantai. "Kau tidak ....


Plaakkkk


Bruukkk


"Hanya begini saja kalian sudah sehisteris ini. Pernah tidak kalian membayangkan berada di posisi Amora yang selalu kalian siksa siang dan malam?" tanya Bern penuh dendam. "Dua puluh tahun. Selama dua puluh tahun kalian menjadikannya bak anjing yang tidak berharga. Dasar bedebah kalian!"


"Hikssss, m-maafkan ka-kami, T-Tuan Bern. K-kami salah, ka-kami menyesal. Tolong ampuni kami," ucap Belyn memohon dengan penuh ketakutan. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada dia dan kakaknya jika pria mengerikan ini terus terbakar amarah. Bisa mati mereka malam ini.


"Menyesal apa gunanya. Amora sudah tidak ada, percuma kalian meneteskan air mata."


Bern berkacak pinggang. Ekor matanya melirik ke arah Tina yang terkapar di lantai dengan bibir terluka. Puas? Jelas. Ini adalah salah satu penderitaan yang Amora rasakan sebelum bertemu dengannya dulu. Bahkan luka robek di bibir Tina masih belum sebanding dengan luka bekas siraman air panas di punggung gadis malang itu.


(Renata, akankah hatimu sakit jika tahu kalau aku telah berbuat kasar pada saudarimu?)


"Diam, atau aku akan menjahit mulut kalian supaya tak bisa bicara lagi. Mau?" ancam Bern mulai risih mendengar suara tangisan Ruth dan adiknya.


Ruth dan Belyn mengangguk patuh. Masih sesenggukan, mereka menyeka air mata yang membanjir di wajah. Ingin rasanya mereka menolong Tina, tapi takut diamuk oleh Bern. Alhasil Ruth dan Belyn hanya diam tak bergeming sambil terus berusaha meredakan tangis.


"Penjaga!"


Lima orang penjaga berlari masuk ke dalam rumah begitu tuan mereka memanggil. Walau benci, tapi Bern tak setega itu membiarkan Tina terkapar di lantai. Ini dia lakukan demi Renata. Bern tak ingin calon istrinya itu salah paham jika suatu saat nanti mengetahui kejadian ini.


"Bawa gadis ini ke kamar dan panggil Russell kemari. Aku belum ingin melihatnya mati!"


"Baik, Tuan."


"Dan untuk kalian berdua!" Bern menunjuk bergantian ke arah Ruth dan adiknya. "Bawa aku ke hadapan ayah kalian. Jika kalian ketahuan berbohong, maka hari ini adalah hari terakhir kalian hidup di dunia ini. Mengerti?!"


"T-Tuan, apa ini artinya kau akan membawa Amora datang kemari?" tanya Belyn semringah. Ketakutannya hilang entah ke mana.


"Kapan aku bicara seperti itu?"


"Tapi ....


"Banyak omong kau. Cepat bawa aku ke kamar ayahmu!" sentak Bern mulai habis kesabaran.


"B-baiklah,"


Sambil mengawasi kakak beradik ini, Bern memperhatikan foto-foto yang terpajang di dinding rumah tersebut. Miris. Tidak ada satupun di sana yang berisi foto Amora. Mengapa sedemikian kejam? Kalau benar sudah berubah mengapa foto-foto itu tetap berada di sana? Munafik.


(Hah? Kenapa mereka membawaku ke ruang bawah tanah? Tidak mungkin Tuan Kendra .... )


***