
Raut wajah Bern terlihat buruk sekali saat dia kembali ke rumah Renata. Langkahnya gontai dan tatapannya sedikit kosong.
(Semenyesal itu Tuan Kendra akan kesalahannya? Ayah, Ibu. Aku harus bagaimana sekarang? Amora pernah bilang padaku kalau dia ingin sekali hidup sebagai orang lain. Akan tetapi setelah melihat langsung seperti apa kondisi Tuan Kendra, mengapa hatiku menjadi tak tega? Haruskah aku mengubur keinginan Amora? Setimpalkah? Calon istriku mengalami penderitaan yang sangat panjang selama dua puluh tahun lamanya. Tetapi jika aku tak membiarkannya bertemu dengan Tuan Kendra bukankah aku adalah penjahat yang sebenarnya? Aku bingung,)
"Ayahh!"
Justin yang sedang bermain dengan kakeknya di taman langsung berteriak begitu melihat ayahnya datang. Segera dia berlari menghampiri sambil tertawa lepas karena dikejar oleh sang kakek dari belakang.
"Hahaha, Ayah. Tolong selamatkan Justin. Kakek Max jadi zombi. Tolong Justin!"
"Hap!"
Bern sigap menangkap tubuh kecil Justin. Dia lalu memandangnya lekat. "Ibu di mana, sayang?"
"Justin tidak tahu, Ayah."
"Renata mengunci diri di kamar, Bern. Mungkin sedang menyesali sikapnya," sahut Max pelan. Dia bicara sambil mengalihkan perhatian Justin dengan cara menggelitik pinggangnya.
"Apa sama sekali belum keluar?"
Max menggelengkan kepala. Dia berusaha kuat dengan terus menggoda Justin.
"Lalu Ibu bagaimana?" tanya Bern iba. Hanya dengan melihat ekpresi di wajah sang ayah mertua sebenarnya Bern sudah bisa menebak seperti apa kondisi ibu mertuanya. Namun, dia ingin tetap menanyakannya untuk menutupi guncangan batin yang membuatnya dilema.
"Ibumu juga sedang istirahat di kamar. Tadi Ayah sudah memanggil dokter keluarga untuk memeriksa keadaannya. Kau tahu sendirilah apa penyebabnya."
"Ayah, aku titip Justin sebentar ya. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada Renata. Penting!"
"Baiklah."
Segera Bern memindahkan Justin ke gendongan ayah mertuanya. Karena bocah ini merengek tak mau ditinggal, Bern melanggar aturan Renata di mana dia dilarang memberikan ponsel pada Justin. Takut kecanduan, juga karena radiasi ponsel sangat tidak bagus untuk perkembangan otak anak. Itu alasan Renata saat memarahinya karena ketahuan mengajak Justin menonton kartun lewat ponsel. Tetapi hari ini dia nekad melakukannya demi agar Justin tidak rewel.
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai membuat Renata yang sedang merenung tersentak kaget. Tanpa banyak berpikir dia langsung bisa menebak siapa yang sedang berjalan menuju kamar.
Tok tok
"Sayang, tolong buka pintunya ya. Ini aku, Bern," ucap Bern sambil mengetuk pintu.
Hening. Tak ada sahutan apapun dari dalam kamar. Sadar kalau Renata sedang tidak baik-baik saja, Bern berbalik mencari pelayan guna meminta kunci cadangan. Dia sudah mengambil keputusan untuk membawa Renata pergi menemui Tuan Kendra. Biarlah jika semuanya harus terbongkar. Bern tinggal memaksa Renata untuk tetap bersamanya.
"Dia ke mana?" gumam Renata bingung saat tak lagi mendengar suara Bern. Sedetik setelahnya dia kembali termenung. Bingung memikirkan wanita asing yang memanggilnya dengan sebutan Amora. Juga menyesali sikapnya yang kasar di hadapan Bern dan Justin. Renata kalut.
Ceklek
"Maaf. Aku terpaksa masuk karena mengkhawatirkanmu," ucap Bern begitu pintu kamar terbuka. Segera dia masuk ke dalam kemudian menguncinya. "Apa aku diijinkan untuk mendekat?"
"Apa kau tidak benci padaku?" tanya Renata lirih.
"Benci?"
"Ya. Aku membentakmu tadi."
Bern tersenyum. Dia melangkah perlahan menuju tempat di mana Renata duduk. Kasihan wanita ini. Pasti sedih sekali karena tak sengaja bersikap kasar terhadapnya.
"A-aku hanya bingung saja, Bern. Maaf,"
"Tidak apa-apa. Katakan saja semuanya, jangan ditahan. Aku tahu ada banyak sekali pertanyaan yang mengendap di hatimu. Keluarkan satu-persatu. Jika ada jawabannya, aku janji tidak akan diam. Sebisaku aku akan menjawab semua rasa penasaran yang mengganggu hatimu. Oke?"
Rasanya seperti ada bongkahan batu besar hilang dari bahu Renata ketika Bern mempersilahkannya meluapkan isi hati. Pria ini sungguh baik. Dan itu membuatnya merasa sangat tenang.
"Siapa wanita yang tadi memanggilku dengan sebutan Amora?" tanya Renata penuh penasaran.
"Namanya Ruth. Dia adalah nona kedua di keluarga Shin." Bern menarik napas. Dia menggenggam kedua tangan Renata sebelum lanjut berbicara. "Ruth adalah kakaknya Amora. Itulah kenapa dia bisa datang kemari."
"A-apa? Ka-kakaknya Amora?"
(Ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar kuat sekali saat mendengar nama Ruth? Dan kenapa juga aku merasa sedih sekaligus rindu di saat yang bersamaan? Perasaan macam apa ini?)
"Sayang, aku baru saja kembali dari kediaman keluarga Shin. Niatnya aku ingin menegur Nona Ruth karena sudah lancang membuat kekacauan di rumahmu. Akan tetapi setelah aku tiba di sana, aku malah disuguhi pemandangan yang sangat menggores hati. Kau mau mendengarnya tidak?" tanya Bern hati-hati. Matanya terus memperhatikan seksama perubahan ekpresi yang muncul di wajah Renata. Jika sampai muncul gurat tak nyaman, Bern tak akan melanjutkan.
"Apa itu?" jawab Renata kian penasaran. Debaran jantungnya berdebar semakin kuat saja melihat gelagat Bern yang terkesan hati-hati sekali saat bicara.
"Tuan Kendra, pria malang itu mengurung dirinya di ruang bawah tanah sejak kematian Amora. Dan sekarang dia sedang sakit keras. Satu-satunya kata yang terucap keluar dari mulutnya adalah nama Amora saja. Selebihnya dia hanya diam dengan tatapan kosong." Jeda sejenak. Bern kembali menarik napas ketika akan lanjut bicara. "Saat ini Ruth dan saudarinya mengira kalau kau adalah Amora. Dan tadi mereka sampai berlutut di bawah kakiku memohon agar diijinkan membawamu untuk menemui Tuan Kendra. Menurutmu bagaimana? Apa kau tidak keberatan jika memenuhi keinginan mereka?"
Renata diam seribu bahasa setelah mendengar penuturan Bern. Apa-apaan ini. Mengapa dirinya diminta menggantikan kehadiran orang yang sudah mati? Haruskah dia melakukannya?
"Sayang, aku tidak memaksamu. Kalau merasa tak nyaman, kau tidak harus pergi ke rumah mereka. Aku mengatakan hal ini karena merasa tak tega saja melihat keadaan Tuan Kendra. Namun jika itu membuatmu terganggu, kau tidak harus datang ke sana!"
"Aku tidak kenal mereka siapa, tapi ada sesuatu di dalam tubuhku yang mengatakan agar aku mengabulkan keinginan mereka." Renata tersenyum kecut. Dia lalu membelai wajah calon suaminya yang tampan ini. "Bern, di sini apa kau juga menganggapku sebagai Amora?"
"Sama sekali tidak, sayang. Kau adalah kau, Amora adalah masalalu. Bagiku kau adalah Renata, calon istriku dan ibunya Justin. Tolong jangan salah paham."
"Syukurlah kalau kau beranggapan seperti itu. Aku lega,"
"Jadi?"
Pandangan Bern dan Renata saling bertemu. Seolah memiliki kontak batin, Bern langsung tersenyum begitu menyadari kalau Renata siap untuk bertemu dengan keluarga kandungnya. Walau rasa berat masih bergelayut di dalam hati, Bern mencoba menekan egonya untuk beberapa saat. Demi rasa kemanusiaan, begitu pikirnya.
"Nanti kau temani aku ya saat pergi ke rumahnya Tuan Kendra. Entah kenapa aku merasa sedikit takut. Aneh ya?" ucap Renata.
"Itu pasti, sayang. Ke mana pun kau pergi, aku selalu siap mendampingi. Terlebih lagi ke rumah seseorang yang dulunya adalah neraka dunia untuk Amora. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Tidak akan," sahut Bern jelas menegaskan kalau dirinya tak akan lepas tangan. Enak saja.
"Terima kasih banyak ya karena kau selalu ada untukku. Aku senang,"
"Hanya senang saja?"
"Lalu?"
"Setidaknya beri aku satu ciuman supaya malam ini aku bisa tidur nyenyak," seloroh Bern sambil mengedipkan sebelah mata. Suasana sudah mencair sekarang.
Pipi Renata langsung merona digoda terang-terangan oleh Bern. Tak lama setelahnya mereka sudah larut dalam ciuman. Bern begitu mendominasi, hingga membuat Renata hampir kehabisan nafas karenanya.
(Sepertinya aku benar-benar bisa gila jika sampai kehilangan Renata. Astaga,)
***