Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 53


"Halo anak Ayah. Uhh tampan sekali," ucap Bern sambil mengelus pipi Justin yang begitu gembul. Dia kemudian berjongkok, mensejajarkan wajah mereka agar lebih mudah untuk menciumnya.


Cup


"Yeyyy Ayah sudah datang. Ayah Justin sudah datang!" teriak Justin heboh sendiri. Segera dia berlarian di dalam rumah sambil terus berteriak.


Renata, Nandira, dan juga Max hanya tersenyum saja melihat kebahagiaan bocah itu. Sesuatu yang selama ini tak pernah bisa mereka berikan akhirnya pagi ini bisa terwujud berkat Bern. Lega sekali rasanya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Bern sembari menatap penuh kerinduan ke arah Renata.


Amora, kekasihku. Akhiran kita bisa bersama lagi seperti dulu, sayang. Walau kini kau bersembunyi di balik Identitas kembaranmu, tapi itu tidak akan menyurutkan rasa cinta yang pernah ada di antara kita. Tak apa namamu berubah menjadi Renata, aku tidak peduli. Selama hatimu masih milik Amora, maka aku percaya kalau kau adalah kebahagiaanku. Aku merindukanmu, sayang. Sangat amat merindukan dirimu.


"Sudah, Bern. Aku hanya tinggal mengambil tasnya Justin di dalam," jawab Renata agak canggung di tatap begitu lekat oleh Bern. Dia sampai salah tingkah sendiri karenanya.


"Ambillah. Nanti Justin terlambat ke sekolahnya,"


"Baiklah. Tunggu sebentar ya,"


Bern mengangguk. Dia terus menatap Renata sampai wanita itu masuk ke dalam rumah. Pandangan Bern kemudian teralih pada Tuan Max Goh. Pria ini seperti sedang menahan sesuatu.


"Ada apa, Tuan Max? Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Bern.


"Emm iya," jawab Max sedikit meragu. Dia kemudian menoleh ke belakang, memastikan kalau Renata tidak ada di sana. "Bern, bisakah kau tetap merahasiakan soal Renata? Kami benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan masalah ini. Kami takut Renata di ambil kembali oleh keluarga Shin."


"Jangan khawatirkan masalah ini, Tuan Max. Karena akupun tidak rela jika Amora harus kembali lagi ke keluarga sialan itu. Saat kalian menemukannya bukankah kalian melihat sendiri luka-luka yang ada di tubuh Amora?"


Max dan Nandira mengangguk.


"Itu adalah bukti betapa kejamnya keluarga Shin pada Amora. Jadi kalian jangan khawatir. Apapun yang terjadi Amora akan tetap menjadi anak kalian. Selamanya dia akan bernama Renata Goh!"


"Kau tidak bohongkan, Bern?" tanya Nandira memastikan. Suaranya bergetar. Dia yang paling panik, takut kehilangan Renata lagi.


"Tentu saja tidak, Nyonya. Tiga tahun lalu Renata adalah wanita yang sangat kucintai. Jadi mungkinkah aku mengembalikan dia ke keluarga yang jelas-jelas telah menyiksanya? Tentu saja tidak. Renata akan tetap menjadi anak kalian sampai kapanpun. Itu janjiku!" jawab Bern meyakinkan Nyonya Nandira kalau dia tidak akan membiarkan keluarga Shin tahu kalau Amora masih hidup.


Justin yang sedang berlarian dengan bibi pengasuh tiba-tiba berhenti dan menatap lama pada ayahnya. Bocah itu seperti sedang melihat sesuatu. Bern yang menyadarkan hal tersebut segera datang mendekat. Dipeluknya penuh sayang sambil dia berbisik di telinganya.


"Ada apa, Nak? Kau melihat sesuatu?"


"Ayah, ada Bibi galak. Dia menampar lion. Kasihan," jawab Justin terheran-heran sendiri.


"Bibi galak menampar lion?"


Apa maksudnya ya? Di keluarga Ma tidak ada singa. Adanya harimau dan buaya. Lalu singa siapa yang sedang di bicarakan oleh Justin?


"Iya, Ayah. Aduhh kasihan sekali. Lionnya takut,"


"Hah?"


Bern cengo. Ini singa mana sih yang dilihat oleh Justin. Dan bagaimana bisa seekor singa ketakutan hanya karena di tampar oleh seorang bibi? Setahu Bern hanya mendiang neneknya sajalah yang mampu membuat seekor harimau merunduk ketakutan di bawah kakinya. Lalu siapa bibi galak ini? Mungkinkah itu adalah reinkarnasi sang nenek?


"Justin, Bern. Kalian sedang apa berbisik-bisik di situ?" tanya Renata yang baru saja keluar dari dalam rumah. Dia sekalian mengambil barang-barangnya karena akan langsung pergi ke toko bunga.


"Ibu, tadi Justin ....


"Nak, jangan ceritakan pada siapapun setiap kali kau melihat sesuatu ya. Harus kepada Ayah saja kau bicara. Oke?" ucap Bern langsung menyela perkataan Justin. "Kalau Justin patuh, Ayah janji nanti Ayah akan mengajak Justin ke rumah Nenek Zhu lagi. Mau tidak?"


"Mau, Ayah. Justin suka bermain dengan Koni dan Gora. Mereka imut," seru Justin kegirangan.


"Oke, Ayah."


Renata hanya diam memperhatikan kelakuan dua pria beda usia itu. Namun anehnya semakin lama dia memperhatikan mereka, wajah keduanya malah terlihat semakin mirip. Bern dan Justin layaknya anak dan ayah kandung. Sungguh.


"Kakek Max, Nenek Nandira, Justin berangkat ke sekolah dulu ya. Kalian jangan nakal. Nanti di gigit semut,"


"Hei, anak tampan. Mana ada Kakek dan Nenek nakal. Kami ini sangat patuh. Iyakan, Kek?" sahut Nandira.


"Tentu saja iya. Kakek dan Nenek tidak pernah nakal. Makanya semut tidak mau menggigit kami," ucap Max ikut mencandai cucunya. Gemas sekali.


"Benarkah?"


"Iyalah,"


"Berarti Justin anak nakal ya. Kan kemarin Justin di gigit semut,"


Semua orang tertawa mendengar celotehan lucu yang keluar dari mulut Justin. Karena hari sudah semakin siang, Renata mengajak Bern untuk segera berangkat. Tak lupa dia berpamitan dulu pada ayah dan ibunya.


"Jangan masuk dulu. Tunggu sebentar!" ucap Bern sambil menahan pintu mobil yang ingin dibuka oleh Renata. "Aku akan membantu Justin duduk di carsetnya dulu. Baru nanti giliran aku membantumu. Oke?"


"Hah? O-oh, baiklah."


Ingin rasanya Bern ******* bibir Renata ketika melihatnya yang begitu patuh. Amora, ah. Rasa ini sulit untuk di ungkapkan. Terlalu bahagia.


"Anak Ayah duduk yang tenang ya. Sekarang Ayah harus melayani Ibu dulu. Oke?"


"Oke, Ayah,"


"Bern, aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak mau menyusahkanmu," ucap Renata agak canggung saat Bern membukakan pintu mobil untuknya. Dan Renata semakin merasa canggung saja ketika pria ini membantu memasangkan seatbelt ke tubuhnya. "Terima kasih banyak ya,"


"Sama-sama," sahut Bern sembari mengusap puncak kepala Renata.


Deg deg


Ada apa ini? Kenapa aku merasa familiar dengan perlakuan Bern? Apa jangan-jangan dulu ayahnya Justin juga suka melakukan hal ini padaku ya. Makanya sekarang aku jadi terbayang sikap manisnya.


Andai saja Renata tahu kalau orang yang dia maksud kini sedang duduk di sebelahnya, dia pasti akan kaget sekali. Sayang sekali dia tidak tahu. Hmmm.


"Ren, kenapa melamun?" tanya Bern sambil memandangi wajah ayu Renata. Ingin rasanya dia menarik wanita ini dan mendekapnya selama mungkin.


"Ah, tidak kok. Aku hanya sedang mengingat-ingat apakah ada barang yang tertinggal atau tidak," jawab Renata berkilah.


"Kau cantik saat rambutmu di gerai seperti ini."


Deg


Jantung Renata kembali berdegub kuat saat Bern terang-terangan memujinya. Astaga, perasaan macam apa ini. Kenapa jantungnya mudah sekali berdebar saat mereka sedang bersama. Ya Tuhan.


"Kita berangkat sekarang ya?" ucap Bern sambil menyalakan mesin mobil. Dia lalu menoleh ke belakang. "Jagoan Ayah sudah siap berangkat ke sekolah?"


"Sudah, Ayah!" sahut Justin penuh semangat.


"Oke. Let's go!"


***