Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 39


"Kenapa?"


Bern menatap lekat ke arah Renata yang sejak tadi hanya diam saja. Tangannya kemudian terulur membelai rambutnya, merasai betapa dia sangat ingin memiliki wanita ini. Ah, Bern sudah gila. Dia bahkan seperti tidak mempedulikan lagi tentang Amora. Karena bagi Bern sekarang, Justin dan Renata adalah hidupnya.


"Tolong jangan seperti ini, Bern. Pikirkan tentang aku dan perasaanku juga. Aku tidak melarang kalau memang ingin membawa Justin menginap di apartemenmu, silahkan saja. Akan tetapi jika harus denganku juga aku tidak bisa. Di antara kita tidak ada ikatan yang mengharuskan untuk tinggal bersama. Tolong mengertilah," jawab Renata agak merinding saat tangannya Bern mengelus rambut. Rasanya seribu kali sangat berbeda. Pria ini tiba-tiba berprilaku aneh yang mana membuat Renata jadi merasa takut.


"Jangan pedulikan apa kata orang, Renata. Biar saja mereka mau bilang apa. Kan yang menjalani adalah kita bertiga, bukan mereka. Jadi berhentilah memikirkan yang tidak penting. Oke?" sahut Bern sambil tersenyum tipis. "Sekarang kita keluar ya? Kasihan Justin. Dia pasti tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu."


Kepala Renata tertunduk ke bawah begitu Bern menyinggung tentang putranya. Justin, putranya, langsung tertidur di pelukan setelah puas makan es krim. Sebenarnya dalam perjalanan pulang tadi Renata sempat meminta agar Bern mengantarkannya pulang ke rumah. Akan tetapi pria ini menolak. Bahkan terkesan abai dengan tidak mempedulikan keinginannya.


Kelapa aku merasa kalau Bern adalah sosok berbeda dari yang sedari awal aku kenal ya? Dia tidak mungkin mengidap kelainan mental, kan? Ya Tuhan, aku takut sekali.


Tok tok tok


Perhatian Bern teralih pada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya. Dia kemudian menatap datar ke arah Cio yang sedang membuat kode agar dirinya keluar.


"Bern, bukankah itu temanmu?" bisik Renata sambil menunjukan ke arah jendela mobil.


"Sepupu tertuaku lebih tepatnya. Namanya Cio," sahut Bern membenarkan.


"Sepupu?"


"Ya. Kau dan Justin tunggulah sebentar di sini. Aku akan keluar untuk menemuinya dulu. Oke?"


"Jangan lama-lama, Bern. Aku takut."


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian. Jadi jangan takut."


Renata tak pernah tahu kalau dibalik perkataan Bern barusan ada sebuah kenekadan yang tak pernah dia bayangkan. Tapi entahlah, permainan tangan Tuhan siapa yang tahu.


Bern mendengus kasar saat sudah berada di luar mobil. Dia lalu menatap dingin ke arah pria yang sedang tersenyum di hadapannya.


"Ada apa?"


"Aku sudah berhasil menemukan keberadaan Tuan Kendra. Dan seperti yang kita duga dari awal kalau Renata dan Amora adalah orang yang sama. Akan tetapi untuk membuktikannya harus kau sendiri yang turun tangan!" ucap Cio sambil memilin dagu. Dia sebenarnya penasaran sekali siapa yang sedang duduk di dalam mobil.


"Benarkah?"


Kedua mata Bern langsung berbinar begitu mendengar kabar yang disampaikan oleh Cio. Saking senangnya, dia sampai reflek memeluk bajingan yang suka main wanita. Kalau kabar tersebut benar adalah fakta, itu artinya wanita yang sedang duduk di dalam mobilnya adalah Amora, bukan Renata. Ya Tuhan, ini benar-benar sangat menggembirakan sekali. Sungguh.


"Jangan senang dulu, Bern. Tuan Kendra mengatakan kalau Amora adalah kembar. Jadi belum bisa dipastikan apakah wanita yang merawat Justin adalah Amora atau kembarannya. Kau perlu mencari tahu dulu agar persoalan ini bisa segera menemukan titik terakhir pencarianmu!" ucap Cio mengingatkan Bern kalau masalahnya belum usai. "Sekarang aku tanya padamu. Kau ingat tidak dengan beberapa hal tertentu yang ada di diri Amora? Semacam tanda lahir mungkin. Jika ada, coba kau pastikan dulu di diri Renata. Jika ada, berarti tidak ingatnya Amora padamu adalah karena dia kehilangan ingatan akibat kecelakaan yang terjadi. Namun jika tanda tersebut tidak ada, itu artinya Renata adalah kembaran Amora. Kau paham, kan?"


"Dia yang mengandung dan melahirkan Justin. Sudah pasti Renata adalah Amora, Cio!" sanggah Bern seraya mengurai pelukan.


"Jangan keras kepala, Bern. Amora dan Renata adalah saudara kembar. Kau harus mencari tahu dulu agar cintamu tidak tertukar pada wanita yang kurang tepat!"


"Sekujur tubuh Amora banyak dipenuhi luka!"


"Lalu Renata?"


Sudut bibir Cio berkedut. Rupanya beruang kutub ini masih sangat polos. Cio pikir Bern sudah menjelajahi setiap bagian tubuh Renata, ternyata belum. Haha.


"Nanti aku akan mencoba membicarakan masalah ini dengan Renata. Jika dia mengizinkan, maka aku akan mencari tahu apakah benar dia Amora atau bukan."


"Kalau dia menolak?"


"Aku akan memaksanya sampai dapat."


"Sudah tidak waras, hem?"


"Jika bukan Amora, maka aku tidak akan sudi menikahi wanita tersebut. Mustahil untukku menikahi Renata sementara kami sama-sama sadar kalau dia bukan Amora. Jadi jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan bicara baik-baik dan meminta izinnya untuk mencari bukti tersebut. Paham?"


"Kira-kira kau butuh bantuan tidak?" tanya Cio sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Apa kau ingin merasakan yang namanya mati dua kali?" sergah Bern emosi.


"Wess, santai, Bung. Akukan hanya bercanda saja. Jangan marah. Oke?"


"Pergilah. Dan ... katakan terima kasih padanya!"


Cio lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan Bern sebelum masuk ke dalam mobil. Tahu sepupunya tak ingin dia menatap Renata, dengan sedikit tahu diri Cio beranjak pergi dari sana. Dia lalu menghampiri sebuah mobil hitam yang di dalamnya ada Karl yang sedang menunggu.


"Bagaimana? Apa Bern mau mendengarkan apa katamu?"


"Kita lihat perkembangannya nanti. Sekarang emosinya Bern sedang tidak stabil. Aku khawatir dampaknya akan mengenai Justin dan Renata," jawab Cio dengan ekpresi wajah yang sudah terlihat sangat dingin. Tidak seperti biasanya yang suka menunjukkan raut jenaka.


"Apa maksudmu?" Karl harap-harap cemas.


"Dampak kejiwaan dari rasa kehilangan yang Bern tanggung selama tiga tahun ini sekarang mulai muncul ke permukaan. Tatapan matanya begitu berbeda, dan aku sangat khawatir keanehan ini dia tujukan pada Justin dan juga Renata. Pelan-pelan kita harus menyadarkannya kembali supaya Bern tidak selalu dilanda cemas!"


Cio dan Karl terus berkomunikasi di dalam mobil sembari menunggu Bern membawa Justin dan Renata ke apartemennya. Dan benar saja. Selang lima belas menit menunggu, ketiga orang itu akhirnya keluar dari dalam mobil. Cio dan Karl terus memperhatikan dengan seksama bagaimana Bern begitu posesif merangkul bahu Renata sambil menggendong Justin dengan sebelah tangannya.


Bern, kau kenapa?


"Setelah ini bolehkah aku langsung pulang ke rumah?" tanya Renata dengan sangat hati-hati.


"Mulai sekarang kau dan Justin akan tinggal bersamaku di apartemen ini, Renata. Jadi kau tidak perlu pergi kemana-mana lagi. Paham?" jawan Bern masih dengan suasana hati yang sangat santai.


"Tapi Bern, aku ....


"Jangan membantah, Ren."


Terdengar hembusan nafas berat dari mulut Bern setelah dia sedikit menyentak Renata. Segera dia mengelus lengannya kemudian membawanya masuk ke dalam lift.


Tuhan, sebenarnya Bern kenapa. Kenapa dia jadi mengerikan seperti ini?


***