
"Apa yang akan kita lakukan pada pelayan ini, Karl?" tanya Reiden sembari menatap datar pada seorang wanita yang terkapar pingsan dengan mulut berdarah. "Perlu meminta izin pada Bern kah?"
Karl diam tak menjawab. Sungguh menyebalkan. Lagi-lagi dia bertemu dengan lawan yang tidak seimbang. Tidak seru. Hanya membuang waktu dan tenaganya saja. Huh.
"Jual saja ke tempat pr*stitusi!" celetuk Cio asal.
"Dan kau akan menjadi orang pertama yang akan mencicipi tubuhnya. Begitu?" cibir Reiden sangat paham akan tujuan Cio. Ayolah, mereka sudah hidup bersama sejak bayi. Bukan hal yang sulit untuk Reiden membaca isi pikiran sepupunya.
"Isshh, kau pikir aku pria apaan!"
"Halah, tak usah sok suci kau. Jelas-jelas di keningmu tertulis kalau kau sudah tidak sabar ingin segera menidurinya. Masih saja mengelak!"
Cio meringis lebar. Tahu saja kalau dirinya telah meneguk liur sejak tadi. Hehe.
"Bangunkan wanita itu!" perintah Karl pada penjaga. Dia penasaran sekali apa dan mengapa pelayan ini tega berkhianat kepada keluarga Goh. Tidak mungkin jika tidak ada motif yang jelas. Jadi dia berniat menyelidiki sampai ke akar setelah membuat pelayan ini hampir meregang nyawa.
"Baik, Tuan Muda."
Tanpa menunggu lama penjaga segera menyiramkan seember air es ke tubuh tak berdaya si pelayan. Setelah itu dengan kasar mereka mengguncang tubuhnya dengan cara menyepak punggung. Hingga tak lama kemudian terdengar suara rintihan pelan dari mulut pelayan tersebut. Dia mulai sadar.
Drrttt drrttt
"Brengsek!" Karl mengumpat. Tanpa harus melihat dulu ke ponselnya, dia sudah tahu siapa yang menelpon.
"Ada apa, Karl?" tanya Cio heran.
"Bern sepertinya tak ingin aku menghabisi pelayan ini," jawab Karl sambil mengepalkan tangan.
"Dia tahu?"
"Apa kau bodoh?"
"Oh ya benar juga." Cio melirik ke arah si pelayan yang berangsur-angsur mulai sadar. Dia menebak kalau pelayan ini hanyalah orang yang ditargetkan untuk menjadi kambing hitam. Hmmm, menarik. Sepertinya akan ada babak baru yang cukup menyenangkan di sini.
"Masukkan dia ke dalam mobil. Antar ke tempat yang tak jauh dari apartemen Bern!" ucap Karl dengan sangat terpaksa harus membiarkan pengkhianat tersebut tetap hidup.
Para penjaga mengangguk patuh. Dua di antara mereka segera menyeret si pelayan dan memasukkannya ke bagian belakang mobil. Sementara Karl beserta Cio dan Reiden bergegas menyusul masuk. Jika kalian bertanya-tanya di mana keberadaan tiga sepupu lainnya, mereka sengaja tidak melibatkan. Mengapa seperti itu? Karena pelayan ini bukan seseorang yang berbahaya. Anggaplah hanya seekor tikus kecil saja. Begitu.
["Lama sekali kau menjawab panggilanku. Orangnya masih hidup, kan?"]
"Ya," sahut Karl sambil menyetir mobil. "Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju apartemenmu. Bawa Tuan Max menuju daerah sepi yang tak jauh dari sana."
["Oke."]
Klik. Panggilan dimatikan. Karl menghela nafas panjang. Sorot matanya berubah tajam, seolah ingin menunjukkan kalau dirinya tengah merasa tak puas akan sesuatu hal.
Sementara itu di lain tempat, terlihat Bern yang tengah berbicara serius dengan calon mertuanya. Dia baru saja selesai menghubungi Karl guna menanyakan kondisi si pelayan yang telah berkhianat.
"Karl meminta kita untuk menemui pelayan itu, Paman. Dia belum meninggal," ucap Bern lirih sambil terus memperhatikan Justin yang tengah bermain bersama neneknya. Seulas senyum tipis muncul menghiasi bibirnya saat bocah itu tertawa terbahak-bahak karena sesuatu hal. Pemandangan yang manis.
"Syukurlah kalau dia masih hidup," sahut Max sambil mengusap dada. Entah mengapa hatinya mengatakan kalau pelayan itu tidak benar-benar bersalah. Seingat Max, pelayan tersebut memiliki attitude yang sangat sopan dan juga jujur. Dia agak kurang percaya kalau pelayan tersebut tega berkhianat.
"Kita pergi sekarang?"
"Baiklah. Ayo,"
"Tunggu sebentar. Aku akan berpamitan dulu pada Renata."
Segera Bern beranjak menuju dapur di nana calon istrinya berada. Melihat sosok yang dia cari tengah sibuk membuat minuman, Bern berinisiatif memeluknya dari belakang. Dia kemudian tersenyum saat tubuh Renata menegang. Mungkin kaget.
"Ini aku,"
"Memangnya siapa lagi yang berani memelukmu seperti ini selain aku, hm?" tanya Bern sambil menciumi rambut Renata yang sangat wangi. Ah, dia sangat suka dengan aroma ini. Sangat menenangkan.
"Justin orangnya."
"Dia pengecualian, sayang. Jangan samakan putra kita dengan pria lain. Dia punya kebebasan untuk memelukmu kapan waktu."
Renata tersenyum. Dia kemudian mengusap tangan Bern yang melingkar di perutnya. Selalu, selalu saja Renata dibuat penasaran oleh kelegowoan Bern dalam menyikapi keberadaan Justin. Seolah pria ini menganggap kalau putranya adalah darah daging sendiri. Padahal Justin hanyalah putra sambung, bukan putra kandung.
(Haruskah aku mengikuti suara hati untuk tetap mencari tahu tentang masa laluku? Sungguh, Bern. Sikapmu dan sikap keluargamu benar-benar membuatku merasa penasaran. Entah mengapa aku merasa kalau ada rahasia besar yang kalian sembunyikan dariku. Aku ingin tahu itu. Sungguh)
"Melamun apa, hm?"
"H-hah? Melamun?"
"Ya. Kau melamun." Bern menghela nafas. Dia melepaskan pelukan kemudian memutar tubuh Renata agar menghadapnya. "Jangan berlarut memikirkan kejadian hari ini. Dalangnya sudah tertangkap, jadi kau jangan merasa takut lagi. Ya?"
"Hanya masih sedikit tak percaya saja kalau ada orang yang tega ingin menyakiti Justin dan keluargaku. Terlalu mengerikan jika dibayangkan, Bern," sahut Renata lega karena Bern tidak memaksanya mengatakan apa yang tengah dia pikirkan.
"Kalian tidak sendirian, sayang. Ada aku dan yang lainnya yang akan mengawasi keluargamu setelah ini. Dengan kedua tanganku sendiri aku pastikan kau dan Justin akan selalu aman."
"Ya, aku tahu kau pasti akan melindungi kami."
"Lalu?"
"Terima kasih,"
"Hanya terima kasih saja? Tidak ada peluk dan cium kah?" ledek Bern sambil tersenyum nakal.
Tangan Renata bergerak cepat memukul pelan lengan Bern saat calon suaminya ini mulai bersikap mesum. Teringat dengan perintah Karl, Bern memutuskan untuk segera berpamitan pada Renata.
"Sayang, aku dan ayahmu akan keluar sebentar. Jangan ke mana-mana dan jangan membuka pintu tanpa ada konfirmasi dariku. Oke?"
"Kalian mau pergi ke mana, Karl?" tanya Renata penasaran.
"Ada sesuatu yang perlu kami lakukan. Tidak apa-apa ya?"
"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian di rumah?"
"Ya, kau benar."
"Hati-hati. Aku tidak mau kalian celaka," ucap Renata cemas. Dia lalu meraih tangan Bern kemudian menggenggamnya erat. "Tolong kembali dengan selamat untuk kami. Oke?"
"Itu pasti sayang."
Bern menatap penuh cinta ke manik mata Renata kemudian mencium keningnya. Ah, betapa sangat sayang dia pada wanita ini. Mungkin Bern akan menjadi orang gila jika terlambat menyelamatkan anak dan calon istrinya dari kematian. Untunglah nasib masih berpihak baik pada mereka.
"Aku pergi dulu ya. Kalau lelah, istirahatlah. Jangan memaksakan diri untuk bekerja. Mengerti?"
"Iya aku mengerti,"
"Ya sudah, kau lanjutkan kegiatanmu. Ayahmu sudah menungguku di luar."
Renata mengangguk. Dia lalu memejamkan mata saat Bern kembali mencium keningnya.
(Jangan terluka. Aku mohon,)
***