Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 102


(Kenapa perasaanku tidak tenang begini ya? Flow dan Renata baik-baik saja, kan?)


"Ayah, rumahnya besar sekali. Apa nanti kita akan tinggal di sini?" tanya Justin takjub akan rumah baru yang tengah ia dan ayahnya datangi. Matanya tak henti melihat ke sana kemari. Terlalu bagus, begitu pikirnya.


"Iya nanti kita akan tinggal di sini bersama Ibu juga," jawab Bern seraya mengusap puncak kepala Justin. "Suka tidak dengan rumah ini?"


"Suka sekali, Ayah. Rumahnya sangat besar dan juga luas. Nanti di sini Justin bisa membuka peternakan dinosaurus. Iya, kan?"


"Iya. Justin juga boleh kok beternak binatang lain selain dinosaurus saja."


"Benarkah?"


Bern mengangguk. Dia kemudian tertawa melihat Justin yang langsung berjingkrak kesenangan. Sungguh keberuntungan yang sangat besar sekali bisa memiliki putra semenggemaskan Justin. Hari-hari Bern jadi terasa lebih berwarna sejak bertemu dengan anak ini.


(Ini sebenarnya ada apa sih. Kenapa rasanya was-was sekali. Jikapun terjadi sesuatu pada Flow dan Renata, pasti sudah ada penjaga yang mengabari. Tetapi sampai sekarang tak ada siapapun yang menghubungiku. Harusnya semua baik-baik saja, kan? Tapi kenapa hatiku tak tenang)


Karena sibuk dengan pikirannya, Bern sampai tak sadar kalau orang yang membawanya melihat-lihat rumah sejak tadi terus memanggilnya. Bern baru tersadar ketika Justin mengguncang lengannya pelan.


"Ayah, telinga Ayah sakit ya?" tanya Justin seraya memasang ekspresi khawatir.


"Hah? Kenapa?"


"Telinga Ayah sakit?"


"Sakit?" beo Bern kebingungan sendiri.


"Ekhmm, Tuan Bern. Maaf menyela. Mungkin maksud putra Anda adalah karena Anda tidak menyahut saat saya memanggil Anda. Makanya Justin berpikir kalau telinga Anda sedang sakit."


"Oh, begitu." Bern agak kikuk. Dia menggaruk belakang telinganya setelah dijelaskan oleh orang ini tentang maksud ucapan Justin. "Aku sedang memikirkan pekerjaan tadi. Maaf jika tak fokus menyimak pembicaraan kita."


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sangat maklum dengan kesibukan Anda."


"Jadi bagaimana sekarang? Putraku bilang dia menyukai rumah ini. Kapan berkasnya akan diurus?" tanya Bern.


"Secepatnya akan segera kami urus, Tuan. Kalau sudah selesai, kami akan langsung menghubungi Anda guna melakukan tanda tangan penyerahan bangunan."


"Baiklah. Dan ini ....


Bern menyerahkan kartu tanda pengenal milik Renata kepada orang yang bertanggung jawab atas rumah barunya. "Bangunan ini aku beli atas nama istriku. Kalian uruslah dengan benar."


"Baik, Tuan."


Bern berjongkok kemudian menarik tubuh Justin agar menghadapnya. Tapi sebelum itu dia telah meminta semua orang yang ada di sana untuk keluar. Ada hal penting yang ingin Bern tanyakan pada Justin. Jadi orang lain tak boleh mengetahuinya.


"Nak, apa sekarang Nenek Zhu ada bersamamu?" tanya Bern memulai penyelidikan.


"Tidak, Ayah. Nenek Zhu sedang bersama temannya di rumah," jawab Justin dengan polosnya. Dia bicara sambil memainkan rambut ayahnya hingga sedikit berantakan. "Nenek Zhu bilang ingin menjaga Ibu dan Bibi Flow. Jadi hari ini Justin bermain dengan Ayah saja."


"Jadi dia tidak ada bersama kita ya?"


Justin mengangguk. Dia kemudian duduk di lantai dan menggambar sesuatu di sana. Tak lama setelah itu Justin tertawa. Entah apa sebabnya, hanya dia sendiri yang tahu.


"Em, Justin. Sekarang Justin mau langsung pulang atau pergi main ke time zone dulu. Kan besok Justin ulang tahun, jadi hari ini Justin boleh meminta apapun dari Ayah."


"Wahhh, benarkah?" Justin bertepuk tangan dengan hebohnya. Terbayang di pelupuk mata deretan keinginan yang menggugah jiwa. Akan tetapi kegembiraan di diri Justin tak berlangsung lama begitu dia teringat akan pesan sang ibu yang melarang agar dirinya tidak manja. Segera dia berdiri kemudian mendongakkan kepala. "Ummm, Ayah. Kita tidak usah main ya. Nanti Ibu marah pada Justin."


"Kasihan Ibu, Ayah. Justin tidak mau melihat Ibu lelah karena memarahi Justin yang nakal," jawab Justin dengan polosnya.


"Justin tidak nakal kok. Kan Ayah yang mengajak Justin untuk pergi bermain. Iya, kan?"


"Tapi ....


"Atau Justin mau pergi ke rumah Nenek Zhu lagi. Di sana Justin bisa bermain dengan Koni dan Gora. Bagaimana? Mau tidak?"


"Mau, Ayah. Justin mau pergi ke sana!"


"Kalau begitu ayo kita berangkat."


"Baiklah. Ayo!"


Bern tertawa melihat Justin yang begitu antusias ingin mengunjungi makam nenek dan kakek buyutnya. Sambil bergandengan tangan, mereka melangkah keluar dari rumah mewah yang nantinya akan mereka tempati. Para penjaga yang melihat kedatangan mereka segera membungkuk kemudian membukakan pintu mobil.


"Kita ke rumah Nenek Liona!" perintah Bern sembari mendudukkan Justin ke carset miliknya.


"Baik, Tuan."


Sejak kejadian di rumah keluarga Goh, Bern memutuskan untuk memakai jasa penjaga. Ini dia lakukan untuk menghindari serangan tak terduga dari musuh. Mau bagaimana lagi. Dia dan keluarga kecilnya terhubung dengan keluarga Ma. Jadi mau tidak mau Bern harus mau melakukan hal ini demi keamanan keluarga, terutama Justin dan Renata.


"Ayah, kenapa Bibi itu tidak memelihara harimau saja sih. Kasihan paman singa. Dia terlihat ketakutan saat Bibi itu memarahinya," ucap Justin sambil menatap ayahnya lekat.


(Bibi dan singa? Siapa mereka? Dan kenapa juga Justin selalu membahasnya. Seingatku keluarga Ma tidak ada yang memelihara binatang itu. Hanya harimau, buaya, dan juga kuda. Lalu siapa sebenarnya Bibi yang dimaksud oleh Justin? Mungkinkah wanita ini datang dari masa depan?)


"Ayah, kenapa Ayah diam saja. Kenapa Bibi itu bersama singa. Kenapa bukan harimau? Kenapa, Ayah. Kenapa?"


"Em Justin, seperti apa rupa Bibi itu? Apakah sudah tua?" tanya Bern bingung sendiri bagaimana cara untuk menjawab.


"Tidak, Bibi itu tidak tua, Ayah. Dia seperti Nenek Elea. Kecil, tapi menakutkan. Hiiii seram," jawab Justin sambil bergidik takut.


"Seram?"


"Iya, Ayah. Paman Karl juga sangat takut pada Bibi itu kalau sudah marah."


"Hah?"


Terheran-heran Bern mendengar ucapan Justin. Seorang Karl takut pada wanita? Yang benar saja. Ini Justin sedang melantur apa bagaimana sih. Atau jangan-jangan wanita yang dilihat Justin adalah calon pawangnya Karl di masa depan? Tapi kenapa singa? Apa mungkin wanita itu adalah seorang tarzan? Astaga, sial sekali nasib Karl jika dugaannya benar. Ternyata jodohnya datang dari hutan. Hahaha.


"Bibi itu cantik, Ayah. Tapi masih lebih cantik ibunya Justin. Hehehe," ucap Justin sambil tertawa usil.


"Hmmm, ternyata kau pandai membual juga ya. Dasar anak buaya,"


"Bukan, Justin bukan anak buaya. Justin itu anaknya Ibu Renata dan Ayah Bern. Justin bukan anak buaya, Ayah!"


Bern dan penjaga yang sedang menyetir mobil dibuat tertawa terbahak-bahak melihat Justin yang terus bersikeukeuh mengatakan kalau dirinya bukan anak buaya. Bocah ini bahkan sampai tersulut emosi saat Bern dengan sengaja menjahilinya. Mungkin karena kelewat kesal terus disebut sebagai anak buaya, tangis Justin akhirnya pecah. Hal itu membuat Bern jadi panik sendiri. Berbagai cara dia lakukan demi membuat putranya berhenti menangis. Dan hasilnya zonk. Justin masih terus menangis sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


(Kakek, Nenek. Aku dan Justin datang menjenguk kalian lagi. Semoga kedatangan kami bisa membuat hati kalian merasa bahagia ya. Kami menyayangi kalian,)


***