Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 34


Kening Bern dibanjiri keringat dingin saat dia menerima kertas yang di sodorkan oleh Cio. Rasanya jantung Bern seperti akan meledak saja karena di dalam kertas tersebut ada satu kebenaran yang akan mengungkap apakah Justin adalah putranya atau bukan.


“Hmmm, drama-drama. Kenapa sepanik ini sih, Bern. Kau itu cuma mau membuka hasil tes DNA, bukan membaca surat kematian. Pengecut sekali!” cibir Cio tak tahan melihat kelakuan sepupunya.


“Diam kau brengsek! Tidak tahu apa kalau aku sedang gugup setengah mati!” umpat Bern jengkel. Tangannya bergerak menyeka keringat yang membanjir di wajahnya. Sungguh, hal ini benar-benar membuat Bern merasa sangat luar biasa tegang. Tangannya sampai bergetar saking dia merasa gugup.


“Kalau kau gugup aku tidak keberatan jika diminta untuk membantu. Mau?”


Cio tertawa saat Bern langsung menggenggam erat kertas tersebut. Dia lalu bertopang dagu, menanti kapan beruang kutub ini akan membuka dan membaca hasil tes tersebut.


Ya Tuhan, semoga saja hasilnya sesuai dengan apa yang aku bayangkan. Aku sudah terlanjur sayang pada Justin ….


Setelah terdiam beberapa saat, Bern akhirnya memberanikan diri untuk membuka kertas itu. Dia menariknya secara perlahan, lalu memejamkan mata saat tulisan demi tulisan mulai terlihat. Cio yang melihat siikapnya Bern berusaha untuk tidak tertawa dulu. Perutnya sampai kram karenanya.


Sreettt


“Tidak mungkin!”


Kata inilah yang pertama kali keluar dari mulut Bern saat hasil tes itu terpampang jelas di depan mata. Nafanya tercekat dan matanya membelalak lebar. Sungguh, dia tak tahu harus bagaimana cara menggambarkan perasaannya sekarang. Bern terlalu syok.


“Bagaimana hasilnya, Bern? Positif atau negative?” cecar Cio ikut berdebar-debar melihat reaksi Bern setelah membaca hasil tes. Jantungnya seperti mau copot. Sungguh.


“Ini mustahil, Cio. Mustahil kalau Justin ….


“Justin apa, brengsek! Cepat jelaskan, jangan malah membuat orang menjadi panik!” omel Cio makin tak karuan.


“Justin, dia ….


“Dia apa!!”


“Dia putraku!”


Bern menangkupkan kedua tangan di wajah setelah memberitahu Cio kalau Justin adalah benar putranya. Hasil yang muncul di dalam kertas tersebut menuliskan kata 99% POSITIF, yang artinya kalau Justin adalah darah dagingnya. Meski saat ini Bern dan Cio sedang berada di restoran, dia tak ragu untuk menumpahkan air matanya. Tubuhnya sampai bergetar hebat saking dia tak percaya kalau Justin adalah benar anaknya.


“Hikss,, ini mimpi. Ini semua seperti mimpi, Cio. Amora masih hidup. Dan dia melahirkan anak kami dalam kondisi hilang ingatan. Kami punya anak. Mereka masih hidup!” Bern histeris. Suara tangisnya cukup kencang yang mana membuat para pengunjung restoran menoleh ke arahnya. Mereka penasaran.


“Waahhh, jadi anak kecil itu benar putramu ya? Keren sekali!” ucap Cio cepat-cepat menyeka genangan air di matanya. Dia tak mau Bern tahu akan rasa haru yang membuatnya hampir meneteskan air mata.


Karl, selamat. Amora benar-benar masih hidup. Aku lega karena akhirnya kesalah-pahaman ini akan segera berakhir. Hubunganmu dengan Bern akan membaik lagi seperti dulu. Sekali lagi selamat ya.


“Bagaimana ini, Cio. Apa yang harus aku lakukan pada Justin dan Amora? Ha-haruskah mereka tahu kalau aku adalah ayah kandung dari anak itu?” tanya Bern yang sudah tak lagi menutupi wajahnya. Dia tak peduli saat beberapa orang menatapnya heran. Masa bodo, dia tak butuh komentar orang.


“Jangan terburu-buru, Bern. Mungkin sekarang kita berhasil membuktikan kalau Justin adalah anak kandungmu, tapi kita masih belum menemukan jawaban apakah Renata adalah Amora yang kau cari atau bukan. Bisa sajakan kalau dia adalah orang yang melakukan bedah plastik demi bisa bersanding denganmu? Kau jangan lupa dengan statusmu dulu, Bern. Kau Tuan Muda pertama di keluarga Ma. Dan aku yakin ada banyak sekali wanita yang mengincar posisi Amora!” jawab Cio mengingatkan Bern agar tidak terburu-buru memberitahu Renata tentang fakta ini. Dia khawatir kalau Renata adalah orang lain yang sengaja menyamar demi kepentingan pribadi.


“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”


“Sabar dulu, jangan buru-buru. Masih ada banyak waktu untuk menemukan bukti siapa Renata sebenarnya. Kau jangan khawatir.”


“Tapi aku ingin segera berkumpul dengan mereka!”


“Ingin kumpul dengan mereka atau bercinta dengan Renata? Heh, dasar akal bulus kucing kampus. Kau pikir aku tidak bisa menebak isi pikiranmu apa!”


Bern menghela nafas. Dia lupa sedang bicara dengan siapa. Padahal yang dia katakan barusan adalah benar ingin segera berkumpul dengan Justin dan Amora supaya bisa memperbaiki waktu yang telah terbuang percuma. Bern ingin membahagiakan anak dan wanita yang dulu begitu dia cintai. Itu yang dia ingin dia lakukan. Tapi ya sudahlah. Sepupunya adalah pria mesum yang tidak bisa melewatkan malam tanpa wanita. Jadi wajar kalau pikirannya selalu tertuju ke arah ranjang. Hmmm.


“Bern, selamat ya. Aku turut bahagia mendengar kabar baik ini. Dan aku harap kau belum lupa dengan perkataanmu yang menyebut jika Amora benar masih hidup, maka kau akan bersedia berbaikan dengan Karl. Jangan tersinggung dulu. Walaupun aku sudah berusaha merahasiakan hal ini darinya, tapi Karl tetaplah Karl yang akan dengan mudah mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia sangat peduli padamu dan juga tentang Renata. Jadi melunaklah. Oke?” ucap Cio dengan mimik wajah yang sangat serius.


“Jangan bilang hasil tes ini kau melibatkan bajingan itu, Cio!” geram Bern langsung tersulut emosi. “Jika benar, aku tidak akan mau bicara lagi denganmu.”


“Eitsss, jangan sembarangan menuduhku ya. Hasil tes ini murni temanku yang melakukan. Kalau kau heran kenapa hasilnya bisa keluar lebih cepat dari yang kita kira adalah karena aku menyuapnya. Nanti aku akan membuat perincian biayanya setelah semua urusan tentang Amora selesai dilakukan. Dan kau wajib membayar. Tahu!” sahut Cio langsung menepis tuduhan Bern. Memang benar kok kalau Karl sama sekali tak terlibat dengan urusan DNA ini. Kalau yang lain memang terlibat, bahkan ada yang sengaja dilibatkan olehnya. Hehe.


“Kau tidak sedang membohongiku, kan?”


“Apa tampangku terlihat seperti seorang penipu?”


“Ya.”


“B*jingan!”


Bern tersenyum. Jauh di dalam hati, Bern tak sengaja mengucap doa kalau Renata adalah benar Amora, dia bernazar akan memberi kesempatan untuk bajingan itu menjelaskan. Bern juga akan berusaha memafkan dan berbaikan. Tapi jika benar Amora masih hidup. Jika tidak, maka selamanya Bern hanya mempunyai satu saudara, yaitu Flow.


“Kau bilang tadi ada orang yang sengaja menyakiti anakmu. Siapa itu?” iseng-iseng Cio bertanya. Dia bermaksud memberitahu Bern kalau Karl sedang menjalankan misi penting untuk menjaga nama baik keluarga mereka. Justin terbukti benar adalah bagian keluarga Ma. Bukankah adalah sebuah penghinaan jika berani menyentuhnya? Usia bocah itu bahkan baru tiga tahun. Orang yang lancang itu perlu untuk berkenalan dengan ke enam paman-pamannya dulu. Heh.


“Pria itu marah karena Renata menolak untuk menjadi kekasihnya. Dia kemudian datang ke toko dan langsung menyerempet kakinya Justin sampai berdarah. Aku tidak terima hal ini, Cio. Sebagai ayahnya Justin aku merasa terhina!” jawab Bern sambil menggeretakkan gigi. Dia marah.


“Jangankan kau yang sebagai ayah kandungnya, aku yang sebagai pamannya saja merasa sangat jengkel saat mendengar ceritamu. Tapi kau tenang saja, Bern. Berani menyentuh Justin, itu sama artinya dengan mengibarkan bendera perang dengan kita semua. Dan saat ini sudah ada seseorang yang sedang memburu pria itu. Kita hanya tinggal menunggu kabar saja. Hehe!”


Sebelah alis Bern terangkat ke atas saat dia mendengar perkataan Cio yang menyebut kalau sudah ada seseorang yang sedang memburu pria brengsek itu. Satu pemikiran muncul di kepalanya. KARL.


“Yang kau pikirkan benar sekali. Tadi begitu kau memberitahuku soal ini aku langsung menghubungi Karl. Dan ya … kau pasti tahu apa yang akan dilakukan oleh anak sialan itu. Satu hal lagi. Orang yang menjadi dalang kedatangan Justin dan Renata ke apartemenmu adalah dia. Karl bilang dia tidak tahan jika hanya diam saja. Dia ingin segera bertemu dan bersujud meminta maaf padamu!” ucap Cio langsung membenarkan apa yang sedang di pikirkan oleh Bern.


“Apa Ayah dan Ibu juga mengetahui hal ini?”


Cio menggeleng.


“Seperti yang kau katakan kalau keluargamu tidak boleh ada yang terlibat dalam masalah ini.”


“Lalu Karl? Memangnya dia siapa kalau bukan keluargaku?”


“Oh, jadi Karl keluargamu ya? Aku pikir dia musuhmu.”


Dengan cepat Cio menangkap asbak yang dilemparkan ke arahnya. Cio kemudian tertawa, merasa puas melihat Bern yang pergi dengan wajah memerah.


“Akhirnya aku bisa menggoda beruang kutub itu tanpa harus merasa khawatir dia akan mengamuk. Hmmm … Justin sayang, kau adalah penyelamat kami, Nak. Tolong bujuk Tuhan agar Ibumu itu bernama asli Amora, bukan Renata. Kalau bujukanmu berhasil, Paman janji akan mengenalkanmu pada gadis-gadis cantik yang berasal dari keluarga kaya. Di jamin kau bahagia lahir batin jika patuh pada apa yang Paman katakan!” ujar Cio sesaat sebelum melangkah keluar meninggalkan restoran. Dia lalu merentangkan kedua tangan, lega saat embusan angin menerpa badan.


Kantor atau ranjang ya? Ah, bercinta saja. Hehe.


***