Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 71


Ben menatap datar seorang wanita yang sedang duduk di lobi perusahaan milik Cio. Kesal, itu yang dia rasakan. Jelas-jelas tadi Bern sudah meminta sepupunya agar mengusirnya, tapi kenapa masih belum pergi. apa Cio bermaksud mencari gara-gara dengannya?


(Setelah apa yang kau dan keluargamu lakukan pada Amora, kau pikir aku akan membiarkanmu bertemu dengan Renata? Tidak akan. Menangis darah pun aku tidak akan pernah membiarkan kalian bertemu. Cihhh!)


Ruth terlihat gelisah dalam duduknya. Sebentar-sebentar dia melihat ke arah lift. Berharap kalau Cio Morigan Stoller, pemilik perusahaan tempat dia berada sekarang, muncul dan menemuinya.


"Please, Tuan Cio. Keluarlah. Datang dan temui aku yang sudah seperti pengemis ini. Tolong beritahu aku di mana saudara kembar Amora berada. Aku ingin bertemu dengannya," gumam Ruth sedih.


Setelah mengetahui fakta kalau Amora memiliki saudara kembar, Ruth segera memerintahkan orang untuk mencarinya. Akan tetapi nihil. Jalan Ruth untuk mencari tahu keberadaan adiknya seperti disengaja dipersulit oleh seseorang. Jangankan mendapat sedikit informasi tentangnya, yang ada orang-orang suruhan Ruth kembali dalam kondisi tak bernyawa. Dan sudah bisa di pastikan kalau hal tersebut adalah ulah dari anggota keluarga Ma.


"Bern, kau sudah pulang?"


Patricia yang kebetulan sedang rindu dengan suasana kantor, memutuskan untuk datang tanpa mengabari putranya terlebih dahulu. Dan betapa terkejutnya dia melihat keponakannya yang minggat sejak tiga tahun lalu sedang berdiri di depan pintu masuk perusahaan. Segera dia datang menghampiri kemudian menyapanya.


"Halo, Bibi Patricia. Apa kabar?" tanya Bern balas menyapa. Dia menarik nafas panjang saat menyadari kalau Ruth tengah memperhatikannya.


"Kabar Bibi sangat baik, sayang. Kau sendiri, bagaimana kabarmu? Kapan kau pulang? Dan apa yang sedang kau lakukan di sini. Kenapa tidak langsung masuk ke dalam?" cecar Patricia.


"Mulai hari ini aku resmi bergabung dengan Group Young."


"Oh, benarkah? Lalu kenapa kau tidak masuk?"


"Aku malas bertemu Cio."


Glukkk


Ini tidak benar. Pasti ada kesalah-pahaman yang terjadi antara anak dan keponakannya. Tak mau ada perselisihan, Patricia memikirkan cara untuk membujuk Bern. Beruang kutub ini lumayan keras kepala, jadi dia harus memilih kata yang tepat supaya anak ini tidak merasa tersinggung.


"Bern, bagaimana kalau kita ....


"Permisi, maaf mengganggu. Bolehkah saya bicara sebentar dengan Tuan Muda Bern?"


Begitu melihat saudara kembarnya Karl, tanpa pikir panjang Ruth datang menghampiri. Dia berharap sekali kalau Bern akan bersedia membantunya.


"Nona, kau siapa?" tanya Patricia seraya menatap lekat seorang wanita yang tiba-tiba menimbrung percakapannya dengan Bern. Agak lancang.


"Saya Ruth Shin, Nyonya. Putri sulungnya Tuan Kendra, dari Airan Group," jawab Ruth memperkenalkan diri.


"Airan Group?"


"Tuan Muda, maaf sekali. Saya tahu ini lancang dan tidak sopan, tapi saya benar-benar sangat berharap Anda akan bersedia memberitahu saya tentang keberadaan saudara kembar Amora. Ayah sakit, dan beliau terus-terusan memanggil adik saya yang telah diserahkan pada orang lain. Bisakah Anda memberitahu saya di mana keberadaannya? Saya mohon," ucap Ruth menghiba sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada. Dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang terlihat heran melihat sikapnya. Masa bodo.


"Bibi, aku pergi dulu. Ada urusan yang perlu ku selesaikan sekarang," sahut Bern mengabaikan permohonan Ruth. Kedua sisi rahangnya tampak mengerat, menandakan kalau dia sedang menahan amarah.


"O-oh baiklah. Silahkan," sahut Patricia terbata.


"Tuan Muda, tunggu dulu! Tolong jangan abaikan saya. Saya mohon!" ucap Ruth panik melihat Bern yang ingin pergi tanpa memberikan jawaban.


Bern abai. Dia berjalan melewati Ruth begitu saja tanpa ada niat untuk bicara apapun soal Renata. Kali ini amarahnya benar-benar tersulut. Dan orang pertama yang ingin dia beri pelajaran adalah Cio. Ya, sepupunya itu sepertinya memang sengaja membiarkan Ruth yang menyambutnya di perusahaan ini. Sialan sekali.


"Bagaimana ini. Bern sama sekali tak mau bicara padaku. Apa yang harus aku lakukan?" ujar Ruth sambil menahan tangis. Terbayang di wajahnya kondisi sang ayah yang sudah seperti mayat hidup di rumah. Tubuh tua itu tak henti-hentinya memanggil sang adik yang entah siapa namanya.


"Ekhmmm, Nona. Maaf, ini ada apa ya? Sejak kapan Amora memiliki saudara kembar?" tanya Patricia penasaran. Dia kaget sekali saat wanita ini meminta Bern agar memberitahu keberadaan saudara kembar Amora.


"Dulu saat Ibu melahirkan Amora, ternyata Ibu melahirkan anak kembar. Saya tidak tahu cerita pastinya, Nyonya. Akan tetapi dari penjelasan singkat yang Ayah ucapkan, beliau terus meminta maaf karena telah menyerahkan adik saya yang beliau anggap sebagai penyebab kematian Ibu kepada satu keluarga. Beberapa waktu yang lalu kebetulan Tuan Muda Karl dan Tuan Cio datang ke rumah saya. Mereka bilang kalau Amora itu mempunyai saudara kembar. Dan di saat itulah saya baru mengetahui kalau ternyata masih ada anggota keluarga lain di keluarga Shin," jawab Ruth menceritakan penyebab mengapa dia meminta Bern agar memberitahukan tentang keberadaan adiknya.


"Apa? Cio datang ke rumah kalian?!"


"Benar, Nyonya. Itu juga yang menjadi alasan saya bisa berada di sini."


(Dasar anak kurang ajar. Bagaimana bisa dia tidak menceritakan apapun padaku. Awas saja kau, Cio. Setelah ini kau akan berurusan dengan Ibu. Huh!)


"Nyonya, bisakah Anda menolong saya? Saat ini Ayah sedang sakit keras. Beliau sangat ingin bertemu dengan adik saya. Tolong bantu saya membujuk Tuan Muda Bern atau Tuan Cio agar mau memberitahukan di mana keberadaan saudara kembar Amora. Saya tidak tega melihat kondisi Ayah, Nyonya. Tolong!" ucap Ruth lagi-lagi menghiba sambil mengatupkan kedua tangan. Biarlah orang menganggapnya tak tahu malu. Dia hanya sedang berusaha mengabulkan keinginan sang ayah yang kemungkinan besar adalah keinginan terakhirnya sebelum menyusul sang Ibu ke alam baka.


"Emm bagaimana ya, Ruth. Masalah Amora adalah sesuatu yang sangat sensitif sekali bagi Bern. Sejak kematiannya tiga tahun lalu, baru sekarang dia menginjakkan kaki di negara ini. Takutnya kalau kau terlalu memaksakan diri, kau dan keluargamu akan mengalami masalah besar. Bern adalah orang yang paling terluka atas kepergian Amora. Aku harap kau bisa mengerti hal ini," sahut Patricia santai. Iba akan nasib Tuan Kendra? Tidak akan pernah. Siapapun orang yang berani memantik masalah dengan keluarganya, maka itu akan menjadi musuhnya juga. Termasuk si b*jingan tua yang menjijikkan itu.


Ruth terdiam. Harapannya pupus sudah. Sepertinya dia tidak akan pernah bisa mengabulkan keinginan sang ayah untuk yang terakhir kalinya. Terlalu sulit untuk Ruth bisa menembus perlindungan akan keberadaan adiknya. Karena keluarga Ma ... mereka adalah sekumpulan orang-orang yang mustahil bisa Ruth bujuk hanya dengan cara menghiba.


"Ruth, aku permisi dulu ya. Ada urusan lain yang ingin kukerjakan. Selamat pagi," ucap Patricia pamit pergi. Dia malas terlalu banyak bicara dengan anggota keluarga yang dulu telah bersikap sangat kejam terhadap Amora. Patricia benci.


"I-iya, Nyonya. Selamat pagi," sahut Ruth pasrah di tinggal pergi. Dia lalu berjalan gontai meninggalkan Group Young.


Patricia berjalan cepat menuju lift kemudian masuk. Tujuannya? Menemui Bern dan Cio. Dia bermaksud meminta penjelasan pada kedua pria tersebut


***