Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 64


"Apa tidak lebih baik menunggu sampai Justin bangun saja? Kasihan. Tidur dengan di pangku pasti membuatnya merasa tidak nyaman," ucap Elea merasa berat sekali saat cucunya hendak dibawa pulang. Hatinya merasa tak rela, tapi dia tidak berani melarang.


"Ini sudah sangat sore, Bibi. Takutnya Ayah dan Ibu mencari kami karena belum pulang dari toko," jawab Renata agak tak enak hati mendengar perkataan ibunya Bern. Dia tahu wanita ini tak rela Justin dibawa pulang. Tapi mau bagaimana lagi. Rumah ini bukan rumahnya. Renata sungkan.


"Kan kau bisa menghubungi mereka lewat telepon,"


"Memang bisa, tapi tetap saja aku dan Justin harus pulang ke rumah. Ayah dan Ibu bisa menangis jika tidak bertemu dengan Justin."


"Oh begitu. Ya sudahlah tidak apa-apa kalau kalian memang harus pulang. Tapi kapan-kapan datang ke sini lagi ya. Rumah ini jadi terasa ramai sejak Justin datang. Iyakan, sayang?"


Gabrielle mengangguk. Tangannya bergerak merapihkan rambut sang cucu yang tengah terlelap di pelukan ibunya. Manis sekali.


"Rumah ini jadi terasa seperti rumah sejak kedatangan kalian. Sering-seringlah mampir kemari jika ada waktu," ucap Gabrielle mencoba menahan diri agar tidak mencegah Renata pergi.


"Baik, Paman. Nanti jika ada waktu luang kami pasti akan kembali datang kemari," sahut Renata. "Kalau begitu kami pulang dulu ya. Selamat tinggal."


Elea dan Gabrielle menganggukkan kepala. Mereka terus memperhatikan Bern yang dengan penuh perhatian membantu Renata masuk ke dalam mobil dan memakaikan seatbelt ke tubuhnya.


"Ayah, Ibu. Aku pulang dulu ya. Tolong sampaikan salamku pada Flow. Katakan padanya jika ingin datang ke apartemen maka datanglah saja. Tidak usah sungkan," pamit Bern pada ayah dan ibunya.


"Bern, nanti jangan lama-lama ya mengajak Justin dan Renata ke rumah ini. Ibu sebenarnya masih ingin bersama mereka. Ibu sayang sekali pada Justin," ucap Elea setengah merengek. Biarlah. Nuraninya tak bisa di bohongi lagi.


"Iya, Ibu. Aku janji akan sering-sering mengajak mereka untuk datang kemari. Atau jika tidak Ayah dan Ibu datanglah saja ke toko bunga milik Renata. Justin selalu ada di sana setiap pulang dari sekolah."


"Benarkah?"


"Iya. Nanti aku akan mengirimkan alamat toko bunga Renata ke ponsel Flow. Kalian bisa datang kapan saja dan bermain dengan Justin sepuasnya."


"Baiklah. Ibu janji besok akan mengunjungi Justin di sana."


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Kasihan Justin. Takutnya dia rewel karena kelelahan bermain dan tidak tidur dengan benar."


"Hati-hati ya,"


Bern mengangguk. Dia buru-buru masuk ke dalam mobil kemudian pergi meninggalkan rumah orangtuanya. Sambil menyetir, sesekali Bern menoleh ke samping memperhatikan Justin yang sedang terlelap.


"Kenapa kau menatap Justin sampai seperti itu, Bern?" tanya Renata heran.


"Putra kita begitu tampan dan juga lucu. Ayah dan Ibu sampai merasa berat berpisah dengannya," jawab Bern.


"Justin memang sangat lucu dan juga tampan. Itu sebabnya Ayah dan Ibu tidak bisa jauh darinya. Sekarang saja Ibu tak henti menanyakan kapan kami akan pulang. Sudah rindu cucunya kata Ibu."


Bern dan Renata saling pandang kemudian tersenyum. Andai saja Renata tahu kalau Bern adalah ayah kandungnya Justin, dia pasti tidak akan merasa kebingungan lagi. Sayangnya dia tidak tahu dan Bern juga tidak berniat memberitahunya. Jadilah dia hanya bisa bertanya-tanya di dalam hatihati saja.


"Oya, Renata. Aku rasa besok Justin jangan masuk ke sekolah dulu. Aku khawatir lukanya tidak lekas sembuh jika dia terlalu banyak beraktifitas. Tidak apa-apa, kan?" tanya Bern tiba-tiba dilanda khawatir akan keadaan Justin.


"Bern, kau tidak tahu saja betapa Justin sangat mencintai sekolahnya. Saat sakit saja terkadang dia masih merengek memaksa untuk tetap berangkat ke sekolah. Jadi kau jangan berharap banyak kalau Justin akan patuh dan menurut untuk istirahat di rumah. Aku jamin dia tidak akan mau," jawab Renata dengan halus menolak keinginan Bern yang tidak mengizinkan putranya masuk sekolah dulu. Pria ini tidak tahu saja kalau Justin akan merengek seharian penuh jika dilarang pergi ke sekolah tanpa sebab yang jelas.


"Tapi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, Renata. Aku khawatir dia kenapa-napa!"


"Iya aku tahu. Tapi kalau anaknya keukeuh ingin tetap berangkat ke sekolah bagaimana?"


"Ya dibujuklah."


"Aku sudah tiga tahun merawat Justin. Masih meragukan perkataanku juga?"


Bern menarik nafas. Ternyata putranya keras kepala juga ya. Hmmm.


"Jangan marah. Nanti aku akan coba membujuknya agar istirahat di rumah. Justin masih anak-anak, Bern. Terlalu mengekang itu sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya," ucap Renata dengan sabar menasehati Bern agar tidak terlalu mengekang Justin. "Biarkan saja Justin melakukan apa yang di sukainya. Kita sebagai orangtua cukup mendukung saja. Kau mengerti maksud perkataanku, bukan?"


"Iya aku mengerti,"


"Jadi?"


"Besok pagi saat Justin bangun tidur segera hubungi aku. Penentuannya besok apakah dia boleh masuk sekolah atau tidak!"


"Ini demi kebaikan putra kita, sayang. Tolong mengertilah. Ya?"


Blusshhh


Semburat merah muncul di pipi Renata saat Bern lagi-lagi memanggilnya sayang. Ya malu, ya senang. Rasanya sungguh campur aduk sekali setiap pria ini memanggilnya dengan sebutan seperti itu.


"Kau cantik saat sedang malu-malu begitu!" puji Bern sambil meng*lum senyum. Pandangannya memang lurus ke depan, tapi hampir di setiap dua detik sekali dia selalu melirik ke samping. Di sebelahnya ada bidadari yang sangat luar biasa cantik. Bern mana mungkin bisa berpaling terlalu lama.


"Ck, bicara apa kau ini. Fokus menyetir saja. Jangan aneh-aneh," sahut Renata kian malu.


"Ini aku juga sedang menyetir,"


"Tapi kau terus saja melirik ke samping."


"Mau bagaimana lagi. Di sampingku ada seorang bidadari yang cantik sekali. Wajarlah kalau aku tak henti melirik ke arahmu."


"Bern, sudah. Jangan membual terus. Perhatikan jalanmu!"


"Siap, sayang!"


Perkataan Bern sukses membuat Renata menjadi salah tingkah sendiri. Rasa-rasanya mereka seperti pasangan yang sedang asik saling menggoda. Sayang sekali mereka belum resmi menikah. Kalau sudah, Bern pasti akan menggoda Renata dengan lebih gila lagi. Hahaha.


"Bern, Bibi Elea bilang sejak tiga tahun lalu kau sudah tidak lagi ikut campur dengan Group Ma. Setelah pulang ke negara ini apa kau tidak tertarik untuk kembali bergabung di perusahaan?" tanya Renata saat teringat percakapannya dengan ibunya Bern.


"Aku sudah terikat kerja dengan orang lain, Ren. Dan orang lain itu adalah Cio. Sepupuku," jawab Bern jujur.


"Kenapa begitu? Kenapa kau malah memilih bekerja dengan Cio ketimbang bergabung di perusahaan milik keluargamu?"


"Karena Cio sudah banyak membantuku. Jadi aku tidak bisa lepas tangan begitu saja. Dia bisa kerasukan setan kalau aku sampai kembali ke perusahaan."


Renata membulatkan bibir tanpa mengerti perkataan Bern. Sayang sekali. Padahal Group Ma begitu besar.


"Jangan takut. Meskipun aku tidak bekerja di Group Ma, aku bisa menjamin kalau kau dan Justin tidak akan pernah kekurangan. Aku masih memiliki banyak saham di beberapa perusahaan yang selama ini dikelola oleh Andreas. Jadi statusku masihlah taipan tampan yang kaya raya," ucap Bern berkelakar.


"Narsis sekali. Kalau Justin mendengarnya dia pasti akan mengikuti kata-katamu barusan. Haihh kau ini," protes Renata sambil menggelengkan kepala.


"Like father, like son."


Perbincangan keduanya semakin hangat saja selama dalam perjalanan ke rumah. Sementara Justin, bocah itu sama sekali tak merasa terganggu. Justin terlelap dengan begitu nyenyak di pelukan sang ibu tanpa harus merasakan sakit seperti tadi.


"Siapa?" tanya Bern langsung cemburu saat ponsel milik Renata berbunyi.


"Pesan dari Ibu. Sebentar ya," jawab Renata. Segera dia membaca pesan tersebut kemudian membalasnya.


"Iya, Ibu. Sebentar lagi kami sudah akan sampai di rumah. Ibu mandilah dulu. Justin sedang tidur sekarang."


Send.


"Apa katanya?"


"Ibu bertanya sekarang aku dan Justin ada di mana. Ibu meminta kami untuk segera pulang karena dia sudah sangat merindukan Justin."


"Benar hanya seperti itu?"


"Ya ampun, Bern. Masa iya kau cemburu pada Ibuku?"


"Aku cemburu pada semua orang yang menarik perhatianmu. Termasuk juga dengan keluarga kita. Aku ingin kau hanya fokus padaku dan pada Justin saja. Tidak dengan orang lain. Titik!"


Mulut Anaya ternganga lebar mendengar penuturan Bern yang sedikit tidak masuk akal. Kaget sekali dia mendengar keinginannya yang melarang dia dekat dengan orang lain. Astaga.


Semakin kesini tingkat keposesifan Bern semakin menggila saja. Ini normal atau tidak ya?


***