Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 20


Eh, apa yang sedang mereka lakukan di sini? Tidak pulangkah?


Karena merasa haus, tepat pukul empat dini hari Bern terbangun. Bern lalu mengernyit bingung saat mendapati ada dua orang yang tidur di sofa kamar. Tak lama setelah itu dia mendesis pelan saat kepalanya berdenyut nyeri ketika akan bangun.


"Infus?" Bern bergumam pelan. Heran. "Kapan-kapan infus ini terpasang di tanganku? Apa yang terjadi?"


Sambil terus bertanya-tanya, Bern mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dia lalu menghela nafas panjang begitu mengetahui siapa yang telah memasang infus di tangannya. Tak mau mengganggu istirahat Andreas dan Russel, dengan sangat hati-hati Bern melangkah turun dari atas ranjang. Dia lalu membawa infus bersamanya juga saat akan keluar dari kamar.


"Apa semalam aku demam ya? Makanya Andreas memanggil Russel kemari," ucap Bern sambil berjalan menuju dapur. Dia membuka kulkas, mengeluarkan air minum kemudian meletakkannya di atas meja. Setelahnya Bern kembali mendesis saat denyutan itu semakin kuat terasa. Tak mau memaksakan diri, dia memilih untuk duduk sebentar sebelum kembali berjalan untuk mengambil gelas.


Seorang Bern Wufien Ma, putra sulung di keluarga Ma, terlihat sangat amat menyedihkan di mana tidak ada satupun pelayan yang menemani di kala sakit. Miris memang. Namun, semua itu bisa terjadi karena atas kemauan Bern sendiri. Sejak pindah ke luar negeri, Bern sama sekali tak mau mengenal siapapun. Hari-harinya hanya dia habiskan sendiri untuk mengingat kenangannya bersama Amora. Mau itu sakit, mau kelaparan, atau saat sedang pingsan sekalipun, Bern menahannya seorang diri. Dia pernah percaya pada seseorang, tapi orang itu membuatnya kecewa hingga menembus tulang. Itulah sebabnya Bern tak bisa lagi mempercayai siapapun, terkecuali Andreas dan Cio. Hanya kedua orang inilah yang mampu mengetuk hatinya. Terkesan egois memang. Tapi jika kalian ada di posisinya Bern, masih bisakah kalian mempercayai orang terdekat yang dulu kalian anggap sebagai sosok yang paling harus di percaya? Bern rasa tidak.


"Kuat Bern, jangan lemah. Kau pasti bisa melewati rasa sakit ini seperti yang sebelum-sebelumnya. Oke?" ujar Bern menyemangati dirinya sendiri. Setelah itu dia bangun dan mengambil gelas. Karena rasa hausnya sudah hilang setelah meneguk dua gelas air dingin, Bern memutuskan untuk kembali lagi ke kamar. Dia butuh banyak istirahat supaya tubuhnya bisa segera pulih.


Sementara itu di kediaman keluarga Goh, Renata yang sedang terlelap samar-samar seperti mendengar suara rintihan pelan. Dia lalu berusaha membuka mata untuk melihat suara siapakah itu.


Apa Justin sudah bangun ya? Pagi sekali.


Namun begitu Renata membuka mata, betapa terkejutnya dia melihat putranya yang sedang menggigil hebat. Segera dia menempelkan punggung tangan untuk mengukur suhu di tubuh Justin.


"Awhh, panas sekali. Kau demam, sayang!" pekik Renata kaget begitu kulit tangannya menempel di kulit kening Justin.


Karena selalu siaga, Renata segera bangun dari pembaringan kemudian mengambil alat pengukur panas yang selalu tersimpan di laci meja. Buru-buru dia meletakkan alat tersebut di ketiak Justin kemudian menunggu hasilnya beberapa saat.


"Hah, tiga puluh sembilan derajat? Astaga, kenapa panasnya bisa setinggi ini sih. Bukannya tadi Justin baik-baik saja ya? Kenapa mendadak sekali?" kaget Renata. Matanya sampai terbelalak lebar saking syoknya dia melihat angka yang muncul di dalam alat pengukur panas.


"Ummm, panas," ....


Justin mengigau. Bibirnya tampak gemetar akibat suhu tubuhnya yang kelewat tinggi. Renata yang melihatnya pun hanya bisa terdiam sedih. Belum juga ada satu bulan Justin sembuh, sekarang putranya sudah sakit lagi. Padahal sebentar lagi Justin akan berulang tahun. Berat badannya pasti berkurang banyak karena terlalu sering demam seperti ini.


"Apa mungkin dia kelelahan setelah bermain di toko bunga ya? Makanya dia jadi demam begini sekarang," gumam Renata merasa bersalah begitu teringat kalau siang tadi Justin begitu heboh berlarian ke sana kemari di toko bunga. "Tapi di rumahpun Justin sangat aktif. Masa iya dia sakit karena hal ini?"


Renata tidak tahu saja kalau di tempat lain ada seorang pria yang juga sedang sakit. Kemungkinan Justin ikut sakit karena tahu kalau bagian dari hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin.


"Nak, cepat sembuh ya. Ibu sedih sekali jika harus melihatmu sakit begini. Ibu janji nanti setelah kau sembuh Ibu akan kembali mengajakmu pergi jalan-jalan. Oke?" ucap Renata dengan mata berkaca-kaca.


Sekuat apapun Renata berusaha tenang, tetap saja hati ini tak bisa bohong. Dia takut putranya kenapa-napa. Renata kemudian teringat kalau beberapa hari terakhir Justin selalu menanyakan soal ayahnya. Dia jadi berpikir apa jangan-jangan putranya sakit karena terlalu ingin bertemu dengan ayahnya atau bagaimana. Tapi jikapun dugaan ini benar, kemana Renata harus mencari sosok ayah yang di inginkan oleh Justin? Semalam saja dia sampai membuat repot seisi rumah saat ingin mengingat sesuatu di masa lalu, masa iya dia harus membuat orang lain repot lagi demi bisa mengetahui siapa ayah Justin sebenarnya. Kan tidak lucu.


"Apa aku menikah saja ya? Tapi dengan siapa? Statusku tidak jelas, bukan gadis dan juga bukan janda. Aku belum pernah menikah, tapi sudah mempunyai seorang anak. Semua laki-laki pasti akan berpikir berulang kali jika ingin menikah dengan wanita tidak jelas sepertiku," ucap Renata lagi. Sedih sekali. Gara-gara hilang ingatan Renata sampai tidak berani menjalin hubungan dengan pria manapun. Dia cukup tahu diri dengan statusnya, jadi selalu merasa takut setiap kali ada pria yang ingin mendekati.


"Apa aku minta Bern menikahiku saja ya. Kan dia bilang wajahku mirip dengan wajah kekasihnya. Anggaplah pernikahan itu sebagai sesuatu yang bisa saling menguntungkan. Dia bisa menganggapku sebagai kekasihnya, lalu aku bisa memberikan sosok ayah pada Justin. Tapi apa dia mau?"


Renata menggelengkan kepala ke sana kemari untuk menepis pikirannya yang semakin melantur. Entah angin apa yang membuatnya bisa terpikir ke arah sana. Andai Bern mendengar perkataannya barusan, di jamin pria itu pasti akan langsung menertawakannya dan menyebut dirinya sebagai wanita tidak tahu malu. Ya ampun.


"Apa-apaanlah aku ini. Bagaimana bisa aku terpikir untuk menikah dengan Bern. Sepertinya aku sudah gila. Iya aku gila!" ucap Renata merutuki kebodohannya sendiri yang sudah berpikiran asal. Haihh.


***