
"Sayang, kenapa wajahmu terlihat murung. Ada apa?" tanya Gabrielle sembari menatap Elea yang hanya diam saja begitu masuk ke dalam mobil. Dia heran.
"Aku sedang memikirkan Renata." Elea menoleh. "Saat ini dia memang lupa dengan jati dirinya yang asli. Aku penasaran kira-kira apa yang akan terjadi jika ingatan Renata kembali? Akankah semuanya tetap baik-baik saja seperti sekarang? Atau malah hubungannya dengan Bern akan mengalami masalah?"
"Tentu saja semuanya akan baik-baik saja, sayang. Mau itu dulu ataupun sekarang, Bern adalah orang yang sama di hidup Renata. Entah dia akan ingat masa lalunya atau tidak, dia tetaplah pemeran utama di dalamnya. Mungkin yang akan membedakan adalah dia yang akan mengingat kenangan menyedihkan saat dirinya masih seatap dengan ayah dan ketiga saudaranya. Kau tidak lupa itu, kan?"
"Bagaimana caraku melupakan kalau aku sendiri sudah lama mengetahuinya? Amora sudah lama muncul di dalam mimpiku. Hanya saja Tuhan tidak mengizinkan aku melihat wajahnya. Anda saja tahu lebih awal, aku pasti sudah melakukan sesuatu agar Bern dan Karl tidak terlibat masalah!"
Saat Gabrielle dan Elea membahas tentang kelebihan itu, Flow tengah asik mendengarkan musik. Jadi mereka bebas ingin membicarakan apapun meski sebenarnya Flow telah mengetahui kemampuan Elea. Tapi semenjak mengalami kecelakaan bersama Amora tiga tahun lalu, Flow kehilangan semua ingatannya. Bahkan kemampuannya juga hilang tiba-tiba. Aneh.
"Sudah, jangan bahas lagi masa lalu pahit yang pernah terjadi di keluarga kita. Kini semua telah baik-baik saja. Tak ada guna jika terus mengingatnya. Oke?"
"Hmmm, baiklah."
Iseng, Elea membuka earphone yang dipakai Flow. Dia kemudian tersenyum saat gadis cantik ini menatapnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Flow.
"Tidak ada apa-apa. Ibu hanya ingin mengobrol saja denganmu."
"Mengobrol tentang apa?"
"Tentang kakak ipar dan keponakanmu." Elea menghela nafas. "Menurutmu hadiah apa yang cocok kita berikan saat kakakmu menikah nanti?"
"Hadiah ya?"
Flow menempelkan jari telunjuk ke dagunya. Dia berpikir, menimang hadiah apa yang sekiranya tak membuat kakaknya marah.
Rumah, Kak Bern sudah punya. Saham perusahaan pun sudah ada. Apa ya yang belum?
"Kalau ingin memberi hadiah, lebih baik ditujukan ke Justin saja. Mereka pasti tidak bisa menolak jika kita memberikannya lewat pria kecil itu. Benar tidak?" ucap Gabrielle memberi saran.
"Ayah benar, Bu. Kita berikan hadiah untuk Justin saja!" sahut Flow heboh. Dia lalu teringat dengan celotehan Justin yang menyebut ingin membuka peternakan dinosaurus. "Karena Justin sangat suka dengan dinosaurus, bagaimana kalau kita bangun kebun binatang saja untuknya. Dengan begitu dia bisa bersenang-senang di sana sekaligus membuka ladang bisnis yang baru. Bagaimana? Ayah dan Ibu setuju tidak dengan ideku?"
Gabrielle dan Elea saling pandang. Benar juga. Cucu mereka beberapa kali selalu menyebut ingin membuka peternakan dinosaurus. Sepertinya ide ini sangat cocok dijadikan sebagai hadiah pernikahan Bern dan Renata nanti.
"Ya sudah kalau begitu. Nanti Ayah akan bicara dengan kakakmu untuk membahas soal ini. Semoga saja kakakmu mau membantu!"
"Kak Karl maksudnya?"
"Iyalah. Yang mau menikahkan kakak sulungmu. Masa iya Ayah mengajaknya membahas masalah kebun binatang? Tidak lucu lah."
"Flow, bagaimana hubunganmu dengan Oliver?" tanya Elea tiba-tiba memikirkan calon mantu yang sudah mendapat sertifikat resmi sejak masih menjadi embrio.
"Cukup baik," jawab Flow singkat. "Kenapa memangnya, Bu?"
"Oliver bilang dia ingin segera meminangmu. Apa tanggapanmu?"
"Bu, aku tidak mencintai Oliver. Yang aku suka itu Russell. Tolong jangan terima pinangan darinya ya?"
"Tapi sayang, kalian itu sudah bertunangan sejak kecil. Masa iya kau mau melepasnya begitu saja. Kasihan Oliver lah."
Flow menarik nafas panjang. Jujur, dia tak mengerti kenapa semua orang di keluarganya selalu menyebut kalau Oliver adalah tunangannya. Padahal sangat jelas sekali kalau dia menyukai Russell. Heran.
"Dulu kau itu begitu bucin pada Oliver. Tapi semuanya berubah setelah kau mengalami kecelakaan. Kau melupakan semua kenangan manis kalian berdua. Sedangkan Russell, hubungan kalian hanya sebatas saudara. Coba ingat-ingat lagi tentang ini, Nak. Ya?" ucap Elea berusaha membujuk Flowrence agar tidak salah memilih orang. Russell adalah anak yang baik, tapi Oliver adalah yang terbaik.
"Bu, sudahlah. Jangan paksa aku menerima seseorang yang tidak kusukai. Entah ada apa dengan masa laluku, yang jelas aku hanya akan menyukai Russell saja. Dia begitu baik. Juga sangat sabar merawatku yang cacat ini. Tolong mengertilah!"
Gabrielle segera menggenggam tangan Elea saat melihatnya ingin bicara. Dia lalu menggelengkan kepala, mencoba memberi pengertian agar tidak memaksa putri mereka. Takut kondisinya drop.
"Ekhhmm, Flow. Kalau boleh tahu hubunganmu dengan Russell sudah sejauh mana? Dia tidak pernah melakukan hal yang tidak senonoh padamu, kan?" tanya Gabrielle mencairkan keadaan. Istri dan anaknya pasti akan bertengkar jika sudah membahas soal Oliver.
"Hubungan kami sangat baik, Ayah. Dan sejauh ini kami merasa saling nyaman dengan hubungan yang ada," jawab Flow dengan mata berbinar terang. Ayahnya memang yang paling tahu tentang apa yang disukainya. "Ayah, Russell adalah pemuda yang sangat sopan. Belum pernah sekalipun dia berbuat hal mesum terhadapku. Dia mencintaiku begitu dalam. Bahkan untuk sekedar menciumku saja dia sungkan. Itupun hanya sebatas kening saja. Russell pria yang tahu bagaimana cara menjaga kehormatan pasangannya. Ayah dan Ibu tidak perlu merisaukan hal ini!"
Jelas Russell tak berani macam-macam pada Flowrence. Jika berani, maka dia akan berhadapan dengan seluruh keluarga besar Ma. Belum lagi dengan ayah dan ibunya. Russell bisa dicincang sampai halus oleh mereka berdua.
"Apapun itu Ayah akan tetap khawatir. Kau adalah anak gadis Ayah satu-satunya. Walaupun kau duduk di kursi roda, kecantikan dan keanggunanmu sama sekali tak berkurang. Sebagai orangtua jelas Ayah akan selalu merasa was-was. Ayah dan Ibu takut kecolongan!"
"Ketakutan Ayah dan Ibu tidak akan pernah terjadi. Percaya saja. Russell mencintaiku dengan tulus, bukan karena n*fsu."
"Seyakin itu?"
"Aku pernah membuktikan sendiri. Seusai terapi aku pura-pura tertidur dan membiarkan bajuku tersingkap. Lalu saat Russell datang dia sama sekali tak melakukan hal buruk padaku. Dia merapikan bajuku kemudian menyelimutiku. Tindakan ini sudah cukup menjaga bukti kalau dia bukan pria b*jingan. Russell-ku sangat baik!"
Gabrielle hanya diam saja saat Flowrence dengan riangnya terus memuji Russell. Di sini posisinya serba salah. Russell dan Oliver sama-sama keponakan terdekatnya. Walaupun di antara kedua pria ini tidak ada yang memiliki hubungan darah dengan Flowrence, tetap saja sulit untuk Gabrielle menerima Russell sebagai menantunya. Karena di masa lalu Jackson dan Elea adalah saudara sekandung, yang mana hubungan ini masih terbawa hingga sekarang.
Mungkin dari kalian ada yang bertanya-tanya mengapa Russell dibiarkan menjalin hubungan dengan Flowrence. Dan jawabannya adalah karena kondisi Flowrence yang sangat lemah. Kecelakaan tiga tahun lalu membuat gadis ini selalu terancam bahaya. Flowrence mudah drop, juga sering hilang kesadaran secara tiba-tiba. Itulah mengapa semua orang tidak berani memaksanya untuk mengingat kembali hubungannya dengan Oliver. Takut membahayakan nyawanya.
Tuhan, kapan kisah sedih ini akan berakhir. Aku jelas mengetahui kalau Flowrence dan Oliver terikat tali jodoh, tapi mengapa kau menghancurkan memori kebersamaan mereka? Mungkinkah akan ada hari di mana kisah memilukan itu dipatahkan oleh takdir? Di masa lalu Oliver memang telah melakukan kesalahan besar dengan menyia-nyiakan Flowrence, tapi sekarang dia telah menerima balasannya. Tolong berbelas kasihlah sedikit pada mereka. Aku sedih melihat keadaan putriku, Tuhan. Tolong, rubahlah garis takdir mereka. Aku mohon ....
***