Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 78


"Hai, Nak. Kau manis sekali." Kimberly berjongkok di samping anak kecil yang sedang asik bermain kuda-kudaan. "Siapa namamu?"


"Namaku Justin,"


Sadar ada orang asing mendekati, Justin segera menatap bibi karyawan yang berdiri tak jauh darinya. Selama ini ibunya selalu mengajarkan agar tidak bicara dengan seseorang yang baru dikenal. Dan Justin baru saja melakukannya. Dia merasa berdosa karena tak patuh aturan.


"Permisi, Nona. Maaf, apa Anda mengenal tuan muda Justin?" tanya salah satu karyawan penuh selidik. Yang sedang dia jaga adalah cucu besar keluarga Ma. Bisa mati di gantung dia jika anak menggemaskan ini sampai celaka.


"Oh, tidak. Aku tidak mengenal siapa anak lucu ini. Dari jauh aku memperhatikannya. Dan ya, aku terpesona," aku Kimberly jujur.


"Maaf jika sikap saya terkesan lancang. Saya hanya tidak ingin terjadi hal buruk padanya."


"Tak apa, tak masalah. Kalian jangan khawatir. Aku sama sekali tidak memiliki niatan buruk untuk melukai anak asuh kalian. Sungguh!"


Kimberly segera berdiri. Tangannya bergerak mengusap kepala si bocah menggemaskan yang bernama Justin. Sungguh, ketampanan anak ini benar-benar menyilaukan mata.


"Kalau begitu Bibi pergi dulu ya, Justin. Kau lanjutkan saja bermainmu. Oke?" pamit Kimberly.


"Oke, Bibi. Dadah," sahut Justin seraya melambaikan tangan.


Karena bosan sendirian di apartemen, Kimberly memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke mall. Sekalian dia ingin membeli perhiasan untuk dipakai menghadiri pesta salah satu kliennya.


"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?"


"Emm aku ingin membeli satu set berlian. Tolong berikan yang terbaik yang dimiliki oleh toko kalian ya," ucap Kimberly dengan sopan meminta karyawan toko mengambilkan perhiasan.


"Maaf, Nona. Untuk sekarang semua perhiasan terbaik sedang dicoba oleh tamu VVIP kita. Jika Anda berkenan, silahkan menunggu sebentar. Namun jika tidak, Anda bebas ingin membeli di toko yang lain. Sekali lagi kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Nona!"


Tak ada sahutan yang keluar dari mulut Kimberly. Dia hanya menghela nafas seraya menatap satu ruangan yang kabarnya hanya boleh dimasuki oleh keluarga pemilik toko perhiasan tersebut.


Siapa mereka? Apa jangan-jangan itu adalah Nyonya Elea dan Tuan Gabrielle? Ah sudahlah. Lebih baik aku tunggu mereka selesai memilih perhiasan saja. Hanya toko perhiasan ini yang menjual berlian dengan kualitas terbaik. Aku malas membeli dari toko lain.


"Jadi bagaimana, Nona. Apa Anda akan menunggu?"


"Iya, aku menunggu mereka saja. Kualitas berlian yang dijual di toko ini belum ada yang bisa menandingi. Aku takut kecewa jika membeli di toko lain."


Karena penasaran, Kimberly memutuskan bertanya tentang siapa tamu yang sedang berada di ruang VVIP itu.


"Apa itu adalah Tuan dan Nyonya Ma?"


"Bukan, Nona. Yang sedang memilih perhiasan adalah Tuan Bern dan calon istrinya. Kabarnya mereka akan segera menikah."


"Owh, jadi Bern sudah mau menikah ya?"


Seulas senyum kecut menghiasi bibir Kimberly setelah karyawan memberitahunya kalau Bern tengah memilih perhiasan bersama calon istrinya. Jujur, sejak pertama kali mereka menjadi teman bisnis, sejak saat itu tumbuh perasaan tak biasa di hati Kimberly. Akan tetapi perasaan itu bertepuk sebelah tangan karena sikap Bern yang begitu dingin. Hingga tak lama kemudian terdengar kabar kalau Bern pindah ke luar negeri. Entah apa sebabnya, Kimberly tidak tahu.


"Nona, saya permisi ke dalam dulu. Anda silahkan duduk dengan tenang di sini. Nanti saya akan membawakan perhiasan yang Nona mau jika Tuan Bern sudah selesai memilih."


"Oh iya silahkan,"


"Permisi,"


Sembari menunggu, Kimberly membaca majalah yang berada di atas meja. Dia mencoba tak memikirkan kesedihan hatinya karena lagi-lagi terkena sindrom cinta tak bersambut. Mau bagaimana lagi. Bern terlalu sulit untuk digapai. Kimberly sudah lebih dulu kalah sebelum bertempur. Menyedihkan.


"Para pria di keluarga Ma tidak ada satupun yang tidak menarik. Semuanya sangat menonjol dengan kemampuan masing-masing. Tapi kenapa aku hanya tertarik pada Bern ya?" gumam Kimberly heran dengan dirinya sendiri.


Kurang lebih tiga puluh menit Kimberly menunggu Bern selesai memilih perhiasan dengan calon istrinya. Dia lalu mengalihkan pandangan ketika mendengar suara merdu pria itu.


"Tadikan kita sudah makan siang sebelum kemari. Jadi sekarang aku masih kenyang," jawab Renata.


"Siapa tahu kau lapar lagi setelah memilih perhiasan."


"Tidak kok. Nanti malam saja baru makan."


"Ya sudah kalau begitu. Sekarang mau langsung pulang atau ....


"Hai, Bern. Kita bertemu lagi!"


Perkataan Bern terpotong saat seseorang datang menyapa. Tatapan yang tadinya teduh seketika berubah dingin begitu mengetahui siapa wanita yang baru saja bicara.


"Kau mengenalnya?" tanya Renata dengan suara pelan. Dia lalu tersenyum saat wanita dihadapannya melambaikan tangan.


"Orang asing." Singkat Bern menjawab. Dia tentu saja ingat kalau wanita ini adalah tetangganya.


"Jangan kaku begitulah, Bern. Aku tidak bermaksud buruk dengan menyapamu. Kebetulan saja aku sedang menunggu kalian selesai memilih perhiasan. Jadi sekalian saja aku datang menyapa. Tolong jangan salah paham ya?" ucap Kimberly cepat-cepat menjelaskan saat mendapati raut wajah Bern yang begitu tidak bersahabat. "Oya, dengar-dengar kalian mau menikah ya?"


"Siapa yang memberitahumu?" tanya Bern penuh curiga. Feelingnya mengatakan kalau wanita ini bukan orang baik-baik.


"Karyawan di toko ini yang memberitahuku tadi. Katanya kau sedang memilih perhiasan bersama calon istrimu. Selamat ya. Nanti jangan lupa undang aku saat kalian menikah. Oke?"


Bern langsung tersenyum saat Kimberly memberikan ucapan selamat padanya. Kecurigaan yang sempat dia rasa hilang entah kemana. Berganti dengan rasa suka cita hingga membuatnya tak ragu mengecup bibir Renata di depan Kimberly.


Cup


"B-Bern, apa yang kau lakukan?"


Wajah Renata langsung merah padam setelah Bern menciumnya. Malu sekali. Pria ini apa tidak takut diolok-olok karena berbuat seperti itu di tempat umum? Astaga.


"Menyayangi milikku. Ada yang salah?"


"Ini tempat umum. Apa kata orang jika melihat kita seperti ini?"


"Persetan dengan omongan mereka. Kau calon istriku dan kita akan segera menikah. Hal seperti itu wajar dilakukan. Lagipula hanya sebatas kecupan. Benar tidak, Kim?"


"Benar sekali, Bern," sahut Kimberly agak gugup ketika ditanya. Dia berusaha sekuat mungkin menutupi kekecewaan yang tengah bergelayut di dalam hati. "Kau jangan khawatir. Hal seperti itu bukan sesuatu yang tabu di zaman sekarang. Apalagi kalian itukan sudah mau menikah. Jadi santai saja."


Renata hanya bisa tersenyum canggung mendengar ucapan wanita tersebut. Ingat belum memperkenalkan diri, dia segera mengulurkan tangan ke depan.


"Kenalkan. Aku Renata Goh,"


"Oh, putri dari keluarga Goh ternyata," ucap Kimberly dengan senang hati menyambut jabat tangan calon istrinya Bern. "Aku Kimberly. Kau bisa memanggilku Kim. Beberapa tahun yang lalu aku pernah menjadi rekan bisnisnya Bern. Itulah mengapa aku bisa mengenalnya."


"Rekan bisnis ternyata. Aku kira kalian teman dekat,"


"Aku tidak punya teman dekat berjenis kelamin wanita selain keluargaku, sayang. Dan dia ... aku bahkan tak ingat kalau kami pernah menjalin hubungan kerja!" ucap Bern menimpali percakapan antara Renata dengan Kim. Ada gurat tak suka di wajahnya.


"Yo see, Renata? Calon suamimu sangat menyebalkan. Kau harus banyak bersabar saat menghadapinya!" seloroh Kim sudah tak heran akan sikap dingin yang Bern tunjukkan.


Obrolan mereka masih terus berlanjut sampai akhirnya Kim pamit memilih perhiasan. Bern dan Renata pun pergi menghampiri Justin yang masih keasyikan bermain kuda terbang.


***