
"Yeyyy, Ayah dan Paman sudah pulang. Ayah dan Paman sudah pulang!" teriak Justin sambil melompat-lompat kegirangan. Dia yang kala itu hanya mengenakan celana d*lam saja terlihat seperti tuyul yang siap mencuri uang. Sangat menggemaskan.
Melihat kepulangannya di sambut oleh sang putra membuat Bern tak kuasa untuk tidak tersenyum. Segera dia datang mendekat kemudian mencium pipi gembul Justin yang terlihat begitu lucu. Namun, senyum itu langsung meredup tatkala menyaksikan luka membiru di pipi bocah ini.
"Lukanya masih sakit tidak?" tanya Bern sembari menatap lekat bekas lebam di perut, pinggang, dan juga pipi putranya. Sakit sekali. Rasanya dia ingin kembali mengamuk setelah melihat luka-luka tersebut. Hmmm.
"Tidak, Ayah. Kan tadi lukanya sudah di obati oleh Ibu. Tapi dingin," jawab Justin.
"Dingin?"
"Iya. Dingin sekali seperti es."
"Benarkah?"
Justin mengangguk-anggukkan kepala. Dia lalu bertepuk tangan melihat paman-pamannya datang.
"Paman datang. Paman datang!"
"Hei tuyul kecil. Kenapa kau tidak pakai baju? Nanti perutmu penuh angin lo," tanya Reiden usil. Dia gemas sekali melihat keponakannya ini. Sungguh. Serasa ingin menculiknya.
"Ibu dan Nenek bilang Justin jangan pakai baju dulu supaya obatnya tidak menempel, Paman. Dan Kakek bilang perut Justin tidak akan penuh angin karena tadi Justin sudah minum obat," jawab Justin dengan lucunya menjelaskan penyebab mengapa dirinya tidak pakai baju.
"Iyakah? Sudah bertemu dengan Tora belum?"
(Maaf ya gengs kemarin emak salah masukin harimau. 😆)
"Sudah, Paman."
"Takut tidak?"
"Tidak dong. Kan Justin pria yang hebat. Jadi Justin tidak takut pada Tora."
"Benarkah?"
Reiden menatap Bern. Dia speechless karena bocah ini ternyata tidak takut pada harimau peliharaan keluarga ini.
"Putraku bahkan sudah duduk di atas punggungnya Tora. Binatang itu seperti tidak ada harga dirinya di tangan Justin," ucap Bern penuh bangga membelai rambut putranya.
"Wahhh, hebat sekali. Mau main dengan Tora lagi tidak? Kalau mau Paman akan menemanimu bermain. Bagaimana?" tanya Reiden hendak mengajak keponakannya bermain dengan Tora. Dia benar-benar gemas pada bocah ini. Sungguh.
"Emm Ayah, boleh tidak aku bermain bersama Paman?" tanya Justin penuh harap. Sejak tadi dia hanya berlarian bersama kakek dan neneknya sampai mereka kelelahan. Jadi sekarang adalah kesempatan untuk bermain dengan teman yang baru. Tora. Yeyy.
"Boleh kok. Tapi harus berhati-hati ya karena lukanya Justin kan belum kering semua. Nanti Ibu marah kalau Justin tidak mendengar perkataan Ayah," jawab Bern.
"Baik, Ayah. Justin tidak akan nakal,"
"Ya sudah pergilah bermain dengan Pamanmu. Sana."
"Ayo Paman kita bermain dengan Tora. Dia lucu sekali loh."
"Kau juga lucu," sahut Reiden sembari menggandeng tangan mungilnya Justin. Di belakangnya ada para sepupunya yang mengikuti. Kecuali Karl.
Bern dan Karl saling pandang setelah sepupu yang lain pergi bersama Justin. Keduanya hanya diam saja, kikuk saat ingin memulai percakapan.
"Kapan kau akan menikahi Renata?" tanya Karl akhirnya mengawali untuk bicara.
"Sebenarnya aku ingin detik ini juga, tapi tidak mungkin kulakukan karena Renata sama sekali tak ingat tentang masa lalu kami berdua," jawab Bern lesu.
"Apa kau tak berniat untuk mengobatinya?"
"Tidak!"
"Why?"
"Karena dulu Amora pernah bilang kalau saja waktu bisa di putar kembali, dia tidak ingin hidup sebagai Amora Shin. Amora ingin hidup sebagai orang lain agar tidak merasakan kepahitan hidup yang begitu menyiksa. Dan aku rasa Tuhan telah mengabulkan keinginannya itu lewat cara ini!"
Setelah bercerita Bern langsung menarik nafas dalam-dalam. Tak mau pikirannya kembali di kuasai amarah dan kebencian akibat terkenang dengan kejadian buruk tiga tahun lalu, Bern memutuskan untuk mencari Renata saja. Dia masih harus menyesuaikan diri dengan keberadaan Karl. Jadi belum bisa mengobrol banyak dengan saudaranya itu.
"Kau sedang apa?"
Renata yang sedang duduk melamun sedikit berjengit kaget saat seseorang tiba-tiba bicara. Segera dia menoleh kemudian tersenyum kecil setelah mengetahui siapa orang tersebut.
"Sudah pulang?"
"Tidak. Aku hanya sedang berpikir saja."
"Berpikir soal apa?"
"Soal Justin."
Wajah Renita murung. Bern yang melihatnya pun merasa tak tega. Tangannya bergerak menarik bahu Renata kemudian memeluknya penuh sayang. Wanita ini terus dilanda sedih atas apa yang menimpa putra mereka. Hal ini membuat Bern merasa sakit hati sekali.
"Aku merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Justin, Bern. Gara-gara perbuatanku, sekarang dia jadi ikut terkena imbasnya. Mungkin jika dulu aku bisa sedikit lebih menahan diri, Justin pasti tidak akan terlahir tanpa seorang ayah dan harus menerima perlakuan seperti ini dari orang-orang. Aku bodoh. Tanpa sadar aku telah menghancurkan kebahagiaan anakku sendiri. Aku Ibu yang tidak berguna, Bern. Aku bodoh!" ucap Renata mengeluarkan penyesalan yang sejak tadi coba dia simpan sendiri.
"Tidak ada yang menghendaki ada kejadian seperti ini, sayang. Semuanya di luar kendali. Kau harus tahu itu. Di dunia ini bukan hanya Justin saja yang terlahir tanpa seorang ayah. Banyak. Hanya saja mereka tidak semenggemaskan putra kita, makanya mereka tidak di bully. Tolong jangan sedih lagi ya. Aku benci sekali melihatmu meneteskan air mata," sahut Bern ikut merasa menyesal karena bagaimana pun Justin lahir adalah sebab dia yang berbuat.
Dalam pelukan Bern, Renata mencoba untuk tidak berlarut dalam sesal dan kepedihan tersebut. Dia menyeka air matanya kemudian mendongak, menatap wajah tampan Bern yang entah mengapa selalu saja terlihat familiar.
"Kau sudah makan siang belum?"
"Belum. Kau sendiri?"
"Aku tidak n*fsu makan setelah melihat Justin menangis seperti itu," jawab Renata.
"Mau aku suapi tidak?" tanya Bern menawarkan. Dia teringat dengan perlakuan Amora ketika sedang membujuknya yang tidak berselera makan. Gadis itu pasti akan menawarkan diri untuk menyuapinya. Betapa manisnya kenangan itu. Hmm.
"Tidak usah. Nanti kalau aku lapar aku bisa mengambilnya sendiri."
"Ayah dan Ibu kemana?"
"Mereka sedang menemani Flow di kamar. Ada dokter yang datang kemari tadi,"
Bern mengangguk. Dia melepaskan pelukannya kemudian pergi menuju dapur. Kalau dibiarkan, sampai mereka pulang pun Renata pasti tidak akan makan. Jadi dia bermaksud mengambil makanan untuk mereka berdua karena kebetulan Bern juga mulai lapar setelah tenaganya sedikit terkuras karena menghajar para pembully putranya.
Sembari menunggu Bern kembali, Renata kembali melamunkan tentang sosok pria yang telah menghamilinya. Jauh semampu Renata mengingat, dia sama sekali tak melihat rupa pria itu dengan jelas. Terlalu berkabut. Dan lebih buruknya lagi yang muncul malah wajah Bern. Aneh sekali, bukan? Padahal mereka belum lama bertemu.
"Kau melamun lagi."
Bern kembali duduk di samping Renata sambil membawa sepiring nasi dan minum. Dia lalu tersenyum saat Renata menghela nafas.
"Jangan memikirkan hal lain saat sedang bersamaku. Aku tidak suka. Mengerti?"
"Apa aku wajib untuk menuruti perintahmu?" tanya Renata seraya meng*lum senyum. Pria ini kembali menunjukkan keposesifannya. Dan anehnya Renata merasa nyaman-nyaman saja.
"Sangat. Karena sebentar lagi kau akan segera menjadi istriku," jawab Bern tanpa ragu. Dia lalu menyodorkan sesuap nasi ke depan mulut Renata. "Aa ....
Patuh, Renata membuka mulut. Matanya terus memperhatikan raut wajah Bern yang terlihat santai setelah menyebut kalau dia akan segera menjadi istrinya. Ingin protes, tapi Renata takut pria ini marah dan mengamuk. Tidak protes, tapi benaknya menjadi tidak karu-karuan oleh perkataan itu. Haihh.
"Jangan terlalu di pikirkan. Aku akan menunggumu siap menerima pinanganku," ucap Bern tanggap kalau Renata sungkan untuk bicara.
"Membuat kaget saja," sahut Renata.
Bern terkekeh. Dia kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Meski satu sendok, Bern sama sekali tak merasa jijik. Yang ada dia malah merasa senang karena bisa berbagi sendok seperti yang sering dia lakukan bersama Amora tiga tahun lalu. Anggaplah sekarang Bern sedang bernostalgia. Hehe.
"Justin di mana, Bern? Suaranya tidak terdengar sejak tadi," tanya Renata agak panik karena tak mendengar suara putranya.
"Dia sedang bermain dengan paman-pamannya. Jangan cemas. Putra kita aman di tangan mereka," jawab Bern santai. Dia kembali menyodorkan makanan pada Renata. "Buka mulutmu. Kau harus makan yang banyak supaya terlihat semakin berisi. Dengan begitu aura kecantikanmu akan bertambah semakin bersinar."
Hening. Bern merasa ada yang salah dengan perkataannya. Kalau Renata terlihat semakin cantik, bukankah artinya itu akan membuat para bajingan semakin banyak berdatangan? Tidak bisa dibiarkan. Renata miliknya. Hanya dia seorang yang boleh menikmati kecantikannya.
"Ada apa, Bern?" tanya Renata bingung melihat ekpresi di wajah Bern yang tiba-tiba berubah masam.
"Jangan cantik-cantik. Aku tidak suka melihatmu menjadi pusat perhatian pria lain. Oke?" jawab Bern merajuk.
"Memangnya kapan aku pernah terlihat cantik? Penampilanku sangat sederhana. Jauh dari kata seksi ataupun menarik. Iya, kan?"
"Tidak. Selama ini kau terlihat sangat cantik dengan penampilanmu. Aku suka, tapi aku tidak suka saat orang lain memperhatikanmu."
"Lho, maksudnya bagaimana? Suka, tapi tidak suka. Apa maksudnya?"
"Pokoknya kau dilarang tampil cantik. Pakaianmu juga tidak boleh terbuka. Mengerti?"
Renata tertawa melihat Bern merajuk karena pemikirannya sendiri. Iseng, dia menoel dagunya. Bukannya tersenyum, pria ini malah terlihat semakin merajuk. Melihat hal itupun tawa Renata semakin pecah. Dia tergelitik menyaksikan Bern berkelakuan seperti anak-anak. Lucu sekali.
***