
BESOK UDAH MALEM MINGGU AJA NIH. KAYAKNYA KALO CRAZY UP MANTUL DEHH. YUK BISA YUKK KOMEN NEMBUS 30 BIAR BESOK EMAK CRAZY UP BUAT MENEMANI MALAM MINGGUNYA KALIAN
***
"Nanti di sekolah Justin jangan nakal ya," pesan Renata sembari merapihkan seragam Justin. Mereka tengah menunggu kedatangan Bern di teras rumah.
"Iya, Bu." Patuh Justin menjawab. Matanya yang lucu berkedip-kedip seperti boneka, membuat orang dewasa di sekitarnya berdecak karena gemas.
Tak berselang lama orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Renata berserta kedua orangtuanya nampak tersenyum melihat Justin berjingkrak kesenangan ketika ayahnya datang. Bern yang mendengar suara heboh putranya bergegas menutup pintu mobil dan berjalan cepat menghampiri. Begitu sampai, dia langsung mengangkat tubuh kecil Justin ke udara.
"Hahahaha, Justin jadi layang-layang, Bu. Justin jadi layang-layang!" teriak Justin sambil terus tertawa. Rambutan tampak sedikit berantakan karena terkena sapuan angin.
"Jangan terlalu tinggi, Ayah. Justin baru saja makan. Nanti muntah," ucap Renata memberi kode pada Bern.
(Whaatt??? Renata memanggilku Ayah? Astaga, jantungku kenapa berdebar-debar begini. Jadi ingin punya anak perempuan)
Untung saja Renata tak bisa mendengar apa yang sedang Bern pikirkan tentangnya. Kalau dia mendengarnya, bisa dipastikan wajahnya akan langsung memerah karena malu. Bayangkan saja. Hanya karena dia memanggilnya dengan sebutan ayah, Bern sampai berpikiran mesum dengan menginginkan seorang anak perempuan. Apa hubungannya coba? Kan Renata hanya memposisikan diri sebagai Justin.
"Huuu, sedaaapp," seru Justin setelah didudukkan di pundak ayahnya. Dia lalu menggoyangkan badan saking bahagia dimanja sedemikian rupa. "Sekarang Justin sudah punya ayah. Justin sudah seperti teman-teman yang lain. Yeyyy!"
Ucapan Justin agak menyita pikiran semua orang yang ada di sana. Tak mau berlarut sedih, Bern segera mengalihkan perhatian dengan cara mendekati Renata kemudian mencium pipinya. Tak lupa juga dia menyapa kedua calon mertuanya, mencoba menahan diri agar tidak menanyakan soal apa yang sebenarnya terjadi pada Amora tiga tahun lalu.
"Bu, bagaimana kabar Ibu hari ini? Apakah sudah jauh lebih baik?" tanya Bern.
"Kabar Ibu baik, Bern. Hanya masih sedikit lemas saja," jawab Nandira sambil tersenyum kecut. Dia terlalu syok gara-gara kemunculan saudara kandung Renata hingga membuat kondisinya drop mendadak.
"Perlu ku panggilkan dokter lagi tidak?"
Nandira menggeleng. Diam-diam dia memperhatikan Renata yang sedang asik bercanda dengan Justin. Bukan dokter yang Nandira butuhkan, tapi keyakinan kalau putrinya tidak akan diambil oleh keluarga Shin. Hal inilah yang membuat kondisi Nandira menjadi tak menentu. Dia terlalu tak siap jika harus kembali kehilangan putrinya. Nandira tidak mau.
"Sayang, tolong bawa Justin masuk ke mobil dulu ya. Nanti aku menyusul," ucap Bern tanggap akan kekhawatiran di diri sang mertua. Dia lalu berinisiatif untuk menghiburnya dengan mengatakan alasan mengapa Ruth bisa datang ke kediaman mereka.
"Baiklah," sahut Renata tak banyak bertanya. Sebagai sesama orang dewasa, dia jelas tahu ada hal penting yang ingin dibahas oleh Bern dan kedua orangtuanya.
"Ayah, tapi nanti Ayah ikut mengantarkan Justin ke sekolah 'kan?"
Tiba-tiba Justin dilanda perasaan gelisah. Bocah ini takut sang ayah enggan menemaninya pergi bersama sang ibu.
"Tentu saja Ayah akan mengantarkan Justin ke sekolah. Kan Justin anaknya Ayah. Masa iya Ayah akan membiarkan Justin pergi bersama Ibu saja. Tidaklah dong," jawab Bern sambil mengusap kepala Justin yang sudah berpindah ke gendongan ibunya. Gemas, dia pun mencium pipinya dan membujuknya. "Ayah ingin berbincang dulu dengan Kakek dan Nenek. Nanti kalau sudah selesai Ayah akan langsung mengantarkan Justin ke sekolah. Ya?"
"Janji ya?"
Bern terkekeh. Dia lalu menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Justin yang teracung ke depan. Manis sekali.
"Dahh Kakek, dahh Nenek. Justin mau masuk ke mobil dulu ya," pamit Justin sambil melambaikan tangan pada kakek dan neneknya.
"Dahhh juga, sayang. Pintar-pintar ya di sekolah," sahut Nandira ikut melambaikan tangan.
"Iya, Nek."
Setelah bersama, Renata segera membawa Justin masuk ke mobilnya Bern. Di sana dia mengajaknya bermain sembari menunggu Bern dan orangtuanya selesai bicara. Walau tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi Renata menebak itu ada hubungannya dengan kedatangan wanita yang bernama Ruth.
"Ibu jangan banyak pikiran lagi. Aku pastikan Renata tidak akan pernah kembali lagi ke keluarga Shin. Terserah Tuhan apakah ingin mengembalikan ingatannya atau tidak. Yang jelas aku tidak akan pernah membiarkannya kembali pada keluarga kejam itu!" ucap Bern sembari menutupi tubuh ibu mertuanya agar tidak ketahuan Renata kalau sedang menangis.
"Tapi bagaimana dengan Tuan Kendra?" tanya Nandira sambil memegangi dadanya yang sesak. Dia serasa mati ketika Bern mengatakan kalau kemunculan Ruth adalah karena ingin membawa Renata menemui ayah kandungnya yang sedang sakit.
"Masalah itu biar aku yang urus. Yang paling penting di sini adalah kesehatan Ibu. Aku tidak mau melihat Justin dan Renata sedih karena melihat keadaan Ibu yang seperti ini. Tolong jaga kondisi demi mereka ya?"
"Ibu sangat takut Renata dibawa pergi, Bern. Perasaan ini sulit untuk dibohongi."
"Iya aku tahu, tapi tetap saja aku tidak akan membiarkan anak dan istriku sedih karena masalah ini. Pokoknya Ibu harus percaya padaku kalau Renata selamanya akan menjadi anak kalian. Oke?"
"Bern benar, sayang. Lebih baik kita berpikir positif saja daripada menyiksa diri seperti ini. Toh yang Renata tahu kita adalah orangtuanya. Biarpun ingatannya kembali, dia tidak mungkin tega membuang kita begitu saja. Dia tidak sekejam itu," imbuh Max ikut membujuk Nandira supaya lekas tenang.
Bern dan ayah mertua tak henti menenangkan kekalutan yang sedang terjadi di diri ibu mertuanya. Baru setelah kondisinya sedikit tenang, Bern berpamitan untuk mengantar Justin ke sekolah. Sesampainya di dalam mobil dia berusaha bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Ibu baik-baik saja kan, Bern?" tanya Renata setengah berbisik.
"Aku tidak bisa menganggap baik-baik saja sepenuhnya. Entah karena faktor usia atau karena gelisah kita mau pindah rumah, tiba-tiba Ibu ketakutan berpisah denganmu. Makanya tadi aku berusaha menjelaskan kalau kau tidak akan mungkin meninggalkannya. Hanya pindah rumah saja," jawab Bern beralasan. Sebelah tangannya kemudian terangkat membelai pipi lembut Renata. "Ibu sangat menyayangimu. Kau tahu itu 'kan?"
"Sampai sebegininya?"
"Dia orang yang telah merawat dan membesarkanmu, sayang. Wajar jika merasa demikian."
Renata terdiam beberapa saat. Mencoba untuk tidak mendebat perkataan Bern yang terkesan sedang menutupi sesuatu, Renata mengalihkan pembicaraan dengan membahas soal Justin. Dari group sekolah, para orangtua siswa diberitahu kalau sebulan lagi sekolah aka mengadakan acara jalan-jalan ke luar negeri. Dan diminta kedua orangtua untuk ikut serta mengawasi jalannya acara di sana.
"Jangan khawatir. Aku pastikan sebelum acara itu dilaksanakan kita sudah akan menikah. Bahkan kalau kau mau, besok pun aku sangat siap untuk meresmikan hubungan kita," ucap Bern menangkap kekhawatiran dibalik perkataan Renata barusan.
"Kau ini ya. Mana bisa mengatur pernikahan hanya dalam waktu semalam. Ada-ada saja," sahut Renata agak syok mendengar ucapan Bern. Yang benar saja.
"Selama punya uang, apapun bisa kita lakukan, sayang. Jangan lupa. Uang adalah takdir kedua setelah pengaturan Tuhan. Tidak percaya? Mau bukti tidak?"
Perjalanan menuju sekolahnya Justin diisi dengan canda tawa yang sangat hangat. Renata yang terus digoda oleh Bern sampai salah tingkah sendiri ketika putranya ikut melayang-layang godaan. Padahal bukan ayah kandung, tapi kelakuan Justin sangat mirip dengan Bern. Sangat aneh.
***