
Karena Justin yang terus merengek, terpaksa Renata menutup toko lebih awal. Dia lalu menghubungi sopir, meminta untuk mengambil mobilnya karena dia akan menumpang di mobil Bern.
“Sudah siap?” tanya Bern sembari melayangkan senyum pada Renata yang baru saja masuk.
“Sudah.” Renata balas tersenyum. Dia lalu menoleh ke belakang, memeriksa apa yang sedang dilakukan oleh putranya. “Nanti di sana jangan nakal ya. Janji jangan merepotkan Ayah. Oke?”
“Iya, Ibu,” sahut Justin patuh.
“Jangan terlalu keras padanya, Ren. Justin masih anak-anak. Biarkan dia menikmati semua permainan yang ada,” ucap Bern sambil menyalakan mesin mobil. “Masa kanak-kanak adalah masa yang tidak bisa terulang lagi. Izinkan Justin melakukan apa yang dia inginkan. Kau telah mendidiknya dengan sangat baik, aku yakin dia pasti tahu aturan.”
“Bukan perkara tahu aturan atau tidak. Aku hanya tidak ingin Justin tumbuh menjadi anak manja. Walaupun masa kanak-kanak adalah masa yang paling spesial, tapi Justin harus tahu kalau tidak semua anak memiliki hidup yang sama sepertinya. Banyak anak seusianya yang terlilit kesulitan hidup, belum lagi dengan mereka yang mengidap penyakit. Hal ini harus diterapkan sejak dini agar Justin tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati.”
Setelah berkata seperti itu Renata menoleh. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana. Dia merasa kalau Bern seolah tengah menempatkan dirinya sebagai sosok ayah kandung. Meski begitu, dia tak memiliki keberanian untuk sekedar bertanya. Renata takut hal tersebut akan membuat pria ini tersinggung.
Betapa baiknya jika Bern adalah benar ayahnya Justin. Hidup ini pasti … astaga, Renata! Apa yang kau pikirkan?
“Kita mau pergi ke mana dulu?” tanya Bern saat mobil berhenti di lampu merah. “Makan atau ke wahana bermain?”
“Makan Ayah, makan. Perut Justin lapar!” seru Justin dari kursi belakang.
“Makan? Baiklah. Em memangnya anak Ayah ingin makan apa? Susshi? Atau pizza?”
Terlihat Justin menempelkan jari ke dagu saat memikirkan makanan apa yang harus dibeli. Bern yang melihat kelucuan itu dari kaca spion tak tahan untuk tidak terkekeh. Putranya sangat menggemaskan. Mirip dengan Amora ketika sedang memikirkan sesuatu.
“Ibu, makan apa ya? Justin bingung.”
Renata menutup mulut karena menahan tawa mendengar Justin yang akhirnya bertanya padanya. Padahal tadi Renata sudah was-was kalau putranya itu akan langsung menyebutkan es krim, ternyata tidak.
“Apa makanan kesukaan Justin?” iseng-iseng Bern bertanya.
“Dia suka semua jenis makanan. Terutama … es krim,” jawab Renata setengah berbisik saat menyebut kata es krim. Dia takut Justin mendengarnya kemudian merengek meminta untuk dibelikan.
“Hmmm, benar-benar sama persis seperti ibunya.”
Tanpa sadar Bern menggumam. Namun sedetik kemudian dia menelan ludah, baru teringat kalau Renata sedang duduk di sebelahnya. Khawatir wanita ini mendengar gumamannya, Bern mengalihkan diri dengan cara bersenandung lirih. Sesuatu yang hanya dia lakukan saat sedang bersama Amora dulu.
Setelah Cio membawakan hasil tes DNA-nya dengan Justin, mendadak Bern berubah menjadi ayah yang sangat penyayang. Dia tak mau berjauhan dari putranya, terus menempel seperti permen karet. Mungkin karena tahu ada ikatan batin, Justin pun sebaliknya. Bocah tiga tahun ini senang-senang saja saat bermanja kepada pria yang di anggap sebagai ayahnya. Pokoknya selama berada di toko bunga tadi mereka menghabiskan waktu untuk terus bermain. Mengabaikan Renata yang diam-diam memperhatikan sambil memasang raut keheranan.
"Ayah, nanti malam Justin tidur di rumah Ayah ya?" tanya Justin yg tiba-tiba ingin tidur bersama sang ayah. Wajah bocah itu terlihat memelas, seolah ingin memberitahu orangtuanya kalau dia begitu ingin bermalam di sana.
"Bagaimana, Ren. Apa kau akan mengizinkan?" tanya Bern pada Renata.
"Entah Bern, aku bingung." Renata menghela nafas. "Aku takut nantinya Justin malah akan semakin bergantung padamu jika kalian terlalu dekat. Akan sangat sulit bagiku dan juga kedua orangtuaku jika nanti kau ingin membangun rumah tanggamu sendiri. Kau mengerti apa yang aku maksud, bukan?"
"Jangan dulu mengambil presepsi sebelum kau mendengar dari pihakku, Ren. Oke aku sangat mengerti akan kesulitan yang bisa saja di alami oleh kalian. Tapi di sisi lain aku sama sekali tak merasa keberatan jika Justin benar-benar menganggap aku sebagai ayahnya. Karena pada kenyataannya dia memang ... memang ....
Perkataan Bern terjeda. Mendadak lidahnya jadi terasa kelu saat hampir kelepasan bicara. Renata yang menyadari ada yang aneh dengan diamnya Bern pun segera menatapnya lekat. Dia penasaran akan lanjutan kata pria ini.
"Memang apa, Bern?"
"Em tidak apa-apa. Aku hanya terbawa suasana saja dengan menganggap kalau Justin adalah putra kandungku sendiri," jawab Bern berkilah.
"Kalau kau ingin menganggapnya seperti itu aku juga tidak keberatan. Malah aku senang karena artinya kau tidak terganggu dengan kerewelan Justin!"
"Aku mana mungkin terganggu oleh kerewelan anakku sendiri, Ren. Karena aku ....
Renata tertawa. Lagi-lagi pria ini menjeda perkataannya. Terdorong oleh rasa gembira yang sedang Renata rasakan, tiba-tiba saja tangannya bergerak menyentuh tangan Bern yang sedang memegang kemudi.
"Jangan ragu jika ingin menyebut Justin sebagai anakmu. Kau sudah mendapat izin dariku."
"Benarkah?"
Kenapa jantungku berdegup kuat sekali ya? Rasa ini sama persis dengan rasa yang kurasakan saat sedang bersama Amora dulu. Saat dia mengatakan cinta padaku, saat dia bilang merindukanku, juga saat Amora mengatakan terima kasih karena sudah memperlakukannya dengan baik. Rasanya sungguh tidak ada yang berbeda. Mungkinkah ini pertanda?
"Dan kau juga bebas jika ingin membawanya pergi bermain. Selama tidak melanggar batas yang selama ini ku sudah diterapkan, maka aku akan mengizinkan kalian bermain sampai puas!" imbuh Renata menyatakan kalau dirinya tak keberatan dengan anggapan Bern yang terus saja menyebut Justin sebagai anaknya. Agak ambigu memang, tapi ya sudahlah. Renata tak mau banyak berpikir. Asalkan bisa melihat putranya tertawa bahagia, maka Renata tidak akan melarang.
"Kau sungguh Ibu yang sangat baik, Renata. Beruntung sekali karena Justin terlahir dari rahim wanita sepertimu!" ucap Bern tak ragu melayangkan pujian. Dia kemudian melirik ke arah tangan Renata yang masih bertengger di atas tangannya. "Ngomong-ngomong mau sampai kapan kau memegang tanganku? Aku sih mau-mau saja di genggam sampai akhir zaman sekalipun."
Secepat kilat Renata menarik tangannya kembali. Wajahnya memerah, malu karena sekarang Bern sedang menertawakannya. Benar-benar jahil sekali.
"Santai, jangan malu. Iyakan, Justin?" olok Bern sambil menanyakan pendapat pada putranya.
Justin yang sedang sibuk memperhatikan kendaraan lain langsung memajukan tubuhnya ketika di tanya. Dia menatap ayah dan ibunya secara bergantian, lalu menganggukkan kepala tanpa tahu apa maksud perkataan sang ayah.
Gemas akan sikap putranya, Renata segera mencium pipinya berulang kali. Dia lalu menepuk pelan bahunya Bern saat pria ini meminta jatah cium juga darinya.
Aku baru tahu kalau Bern ternyata bisa membual juga. Ya ampun, kenapa perasaanku jadi tidak karu-karuan begini sih. Aneh.
***