
Nandira kaget sekali saat pelayan memberitahunya kalau Justin semalam demam. Masih dengan mengenakan piyama tidur, dia langsung berlari menuju kamar Renata. Sesampainya di depan kamar Nandira mengetuk pintu dengan pelan sebelum membukanya.
"Ren, pelayan bilang Justin demam. Apa benar?" tanya Nandira seraya melangkah menuju ranjang. Matanya terlihat sedih mendapati sang cucu yang tertidur dengan obat penurun panas menempel di kening.
"Jam empat dini hari tadi tubuh Justin tiba-tiba demam tinggi, Bu. Tapi Ibu jangan khawatir, aku sudah melakukan penanganan pertama untuk membantu menurunkan panas tubuhnya," jawab Renata sambil terus menatap wajah putranya yang terlihat pucat.
"Aneh sekali. Akhir-akhir ini kenapa Justin jadi sering sakit ya. Apa mungkin kita sudah salah memberinya makan. Makanya daya tahan tubuhnya jadi melemah,"
"Untuk masalah ini aku kurang tahu juga, Bu. Entah karena ada yang salah dengan makanannya atau karena Justin terlalu kelelahan bermain, salah satu dari kedua faktor ini bisa saja menjadi penyebabnya. Tapi ya sudahlah, masalah ini masih bisa di cari jalan keluarnya. Yang terpenting keadaan Justin tidak terlalu parah."
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Nandira setelah mendengar perkataan Renata. Dia kemudian duduk, mengelus kaki cucunya yang memang cukup panas.
"Kasihan. Padahal sebentar lagi Justin mau ulang tahun, tapi dia malah sudah dua kali sakit. Ibu yakin berat tubuhnya pasti banyak berkurang," ucap Nandira terenyuh. Ingin rasanya dia menangis karena tak tega melihat keadaan cucunya seperti ini. Kalau saja bisa, Nandira sangatlah bersedia untuk menggantikan penyakitnya. Sungguh.
"Mau bagaimana lagi, Bu. Namanya juga penyakit. Mereka datang dan pergi sesuka hati," sahut Renata pasrah. "Oya, Bu. Hari ini aku mau pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan Justin. Aku khawatir ada penyakit lain yang tidak di ketahui. Bukannya berpikiran buruk. Dengan kondisi Justin yang mudah sakit membuatku jadi merasa khawatir. Bisa sajakan kondisinya sekarang merupakan gejala dari penyakit yang lain? Jadi tidak ada salahnya kalau aku membawa Justin untuk diperiksa lebih lanjut."
"Ibu setuju denganmu. Nanti Ibu akan meminta izin pada Ayahmu untuk menemani kalian pergi ke rumah sakit. Oke?"
"Baik, Ibu, Terima kasih,"
Setelah itu Renata dan ibunya sama-sama terdiam sambil memandangi Justin. Kasihan sekali. Belum pernah sekalipun anak ini merasakan kasih sayang seorang ayah setiap jatuh sakit. Jika memikirkan ketidakberuntungan Justin, rasanya hati Nandira dan Renata seperti di iris-iris. Perih dan sangat menyakitkan. Namun mereka bisa apa. Sampai detik ini saja Renata masih belum bisa mengingat masa lalunya. Jadi mau sesedih apapun mereka, tetap tidak ada jalan untuk bisa menemukan siapa ayah kandung Justin.
"Renata, apa kau sudah memikirkan perkataan Ibu baik-baik?" tanya Nandira saat teringat dengan keinginannya melakukan tes DNA pada Justin dan Bern.
"Tolong jangan bahas masalah ini lagi, Ibu. Justin adalah putraku, dan Bern adalah orang asing yang tidak sengaja bertemu dengan kami. Mau di pikir sekeras apapun rasanya sangat mustahil kalau Bern adalah ayah kandungnya Justin. Sekalipun aku lupa ingatan, harusnya aku bisa merasakan sedikit getaran saat melihatnya. Tapi itu sama sekali tidak terjadi. Itu artinya Bern bukan seseorang dari masa laluku. Dia bukan pria yang telah menghamiliku!" jawab Renata dengan tegas menolak keinginan sang ibu. Dia tak mau berharap lebih pada sesuatu yang bukan miliknya. Bern orang asing, dan akan selalu seperti itu meski semalam sempat terbersit niat untuk menikah dengannya demi Justin.
"Iya Ibu tahu, tapikan tidak ada salahnya untuk mencoba. Jangan egois, Ren. Semakin hari Justin tumbuh semakin besar. Apa kau tidak kasihan melihatnya yang tidak memiliki ayah? Pikirkan juga dengan kondisi mentalnya. Ibu takut dia akan mendapat bully jika teman-temannya tahu kalau Justin terlahir tanpa mempunyai seorang ayah. Pikirkan ini baik-baik!"
Mulut Renata terkunci rapat. Dia bukannya tidak tahu tentang hal ini, sangat tahu malah. Akan tetapi tetap tidak mungkin Renata membiarkan ibunya melakukan tes DNA pada anaknya dengan laki-laki yang sama sekali tak pernah Renata kenal.
"Ayah," ....
Lamunan Renata buyar saat dia mendengar suara gumaman Justin. Segera dia mengusap sudut mata bocah kecil ini yang tiba-tiba mengeluarkan cairan bening. Justin menangis.
"Sayang, Ibu di sini, Nak. Jangan sedih. Ya?" bisik Renata di samping telinga Justin. Dadanya sesak saat Justin menyebut nama ayah.
"Ayah," ....
Justin kembali menggumam. Tak lama kemudian matanya perlahan-lahan mulai terbuka. Dia lalu mengulurkan tangan menyentuh wajah ibunya.
"Ibu, Ayah sakit. Justin juga sakit. Kasihan Ayah,"
"Panasnya sudah turun, tapi kenapa Justin mengigau seperti ini ya, Bu?" tanya Renata resah. Dia lalu menunjukkan hasil tes pada sang ibu. "Menurut Ibu ini aneh tidak?"
"Agak aneh sih karena seharusnya dengan suhu ini Justin tidak mungkin mengigau. Apa jangan-jangan itu adalah bentuk hubungan batin antara Justin dengan ayahnya ya, Ren?" sahut Nandira balik bertanya. Dia sampai terheran-heran sendiri karenanya.
"Ibu, Nenek. Ayahnya Justin sakit. Kasihan lo," kesal Justin saat dirinya malah di abaikan oleh ibu dan neneknya. Dengan kondisi yang masih lemah, dia berusaha bangun sambil memeluk bantal guling. "Ayah sakit dan kakinya berdarah. Ayah juga menangis. Kasihan sekali,"
"Ummm sayang, apa tadi kau bermimpi?" tanya Renata sembari membelai rambut putranya yang sedikit berantakan. "Boleh tidak Ibu bertanya sesuatu, hm?"
Justin mengangguk. Wajahnya yang pucat terlihat pasrah menunggu pertanyaan dari sang ibu.
"Justin tahu dari siapa kalau orang itu adalah ayah Justin?"
"Ada yang bilang kalau itu adalah ayahnya Justin, Ibu. Ayah juga pernah kok menggendong Justin,"
"A-apa? Kapan itu terjadi, Nak?"
Ya Tuhan, pengakuan macam apa ini? Selama Justin hidup, hanya ada dua orang pria yang pernah menggendongnya. Ayah dan Bern. Ada apa ini? Apa jangan-jangan Justin berpikir seperti ini karena terlalu merindukan ayahnya ya? Tapi sebelumnya dia tidak pernah mengigau seperti ini. Aneh sekali.
"Nenek, kepala Justin sakit. Sakit," rengek Justin sebelum akhirnya dia mulai menangis.
"Cup cup cup cucu Nenek yang paling tampan, jangan menangis ya. Ayo sini Nenek gendong," ucap Nandira tak tega melihat cucunya kesakitan. Segera dia menggendongnya lalu membawanya berjalan-jalan di dalam kamar.
Suara tangisan Justin semakin lama semakin bertambah kuat. Bocah ini terlihat sangat kesakitan sambil memegangi kepalanya. Nandira yang melihat hal itupun menjadi panik sendiri. Dia lalu meminta agar Renata segera bersiap.
"Ren, ini sudah tidak benar lagi. Sekarang cepat bersihkan dirimu lalu kita berangkat ke rumah sakit. Sakitnya Justin tidak wajar. Ibu takut ada penyakit berbahaya di kepalanya. Cepat!" perintah Nandira sambil terus mencoba menenangkan tangisan Justin. Cucunya ini begitu kesakitan, membuat Nandira jadi ingin ikut menangis juga.
"B-baik, Ibu."
Dengan kecepatan turbo Renata langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Secepat mungkin dia memangkas waktu agar bisa bergantian bersiap dengan sang ibu. Dengan benak yang di hantui banyak pemikiran aneh, Renata mempersiapkan segala kebutuhan yang perlu di bawa ke rumah sakit. Setelah itu barulah dia mengambil Justin dari pelukan ibunya dan membawanya keluar dari kamar.
"Ibu tidak akan lama. Tunggu sebentar. Oke?"
Renata mengangguk. Dia mencoba mengalihkan kesakitan Justin dengan menawarkannya bermain ponsel, tapi cara ini tidak berhasil. Justin terus berteriak kesakitan hingga membuat seisi rumah berkumpul melihatnya. Bahkan ayahnya yang hanya memakai kolor sampai berlari keluar saking khawatirnya pada Justin.
Nak, tolong jangan menakuti Ibu seperti ini. Ibu mohon,
***